
Ara sudah berada di rumah Jevan saat ini. Tadi, dia izin pulang lebih dulu karena alasan tidak enak badan. Padahal sebenarnya dia tidak bisa bekerja setelah mendengar pemberitaan tentang Jevan dan Natasya.
Ara tidak menyangka, perempuan cantik yang dia temui saat berbelanja waktu itu membawa dampak yang cukup besar dalam hubungannya dengan Jevan.
“Kamu sakit apa?”
Gadis itu menoleh ke belakang dengan cepat. Matanya membulat melihat Jevan yang tengah berjalan ke arahnya. Saat ini, Ara memang tengah duduk santai di ruang tengah, jadi dia tidak mendengar deru mesin mobil Jevan.
“Kamu kenapa udah pulang? Memangnya sekarang jam berapa?” tanya Ara bingung ketika Jevan sudah duduk di sampingnya.
“Aku pulang lebih dulu. Tadi, waktu aku minta Sarah buat panggil kamu, teman kamu bilang, kamu izin pulang duluan karena sakit. Kamu sakit apa? Apa perlu aku panggilkan dokter?” tanya Jevan sambil memperhatikan wajah Ara dengan saksama.
Ara tersenyum dan menggeleng. “Aku nggak apa-apa, kok, Je. Aku cuman mau pulang aja.” Gadis itu memelankan suaranya dalam kalimat terakhirnya.
Jevan mengembuskan napas. Dia meraih Ara ke dalam pelukannya. “Aku khawatir sama kamu,” katanya pelan.
Perlahan, Ara mulai membalas pelukan Jevan. Dia ingin merasakan ketenangan lewat pelukan itu.
“Je,” panggilnya setelah beberapa menit.
“Hmm?”
“Aku baca berita tentang kamu dan Mbak Natasya. Kapan tanggal pertunangan kamu dengan Mbak Natasya?”
Jevan melepas pelukannya. Dia memberikan jarak antara dirinya dan Ara. Lelaki itu menatap gadis di depannya ini lurus-lurus.
“Aku akan cerita semuanya. Tapi, kamu harus dengerin aku tanpa memotong sedikit pun. Ngerti?”
Ara hanya menjawab dengan anggukan.
“Aku dan Natasya pernah hampir menikah.”
Ara membulatkan matanya mendengar itu. Dari berita yang dia baca tadi, dia tahu bahwa Jevan dan Natasya memang pernah memiliki hubungan. Namun, Ara tidak tahu bahwa mereka pernah hampir menikah.
“Tapi, pernikahan kita batal. Karena dia pergi satu minggu sebelum hari pernikahan kita.” Jevan tersenyum miris setelahnya. “Semua persiapan bahkan udah hampir selesai. Undangan udah disebar. Tapi, dia pergi gitu aja tanpa alasan yang jelas sampai sekarang.”
Ara hanya bisa diam, tangannya menggenggam tangan Jevan dan membawanya ke pangkuannya.
“Aku hancur, Ra. Aku nggak punya alasan buat hidup saat itu. Malu, kecewa, marah. Semuanya campur aduk. Aku benci banget sama dia, Ra, dan aku juga benci sama diriku sendiri. Karena kadang, hatiku masih bisa merasakan rindu untuk dia.”
Ara tidak suka mendengarnya. Namun, dia tetap harus mendengarkan segalanya dari Jevan.
“Kamu, kenapa nggak cari Mbak Natasya saat itu?” Ara memberanikan diri untuk menanyakan hal yang mengganjal dalam hatinya.
“Aku udah cari dia. Karena Natasya cuman punya ayahnya, aku datangi ayahnya saat itu. Tapi, Ayahnya nggak ada di rumah. Jadi, aku sewa seseorang buat cari keberadaan Natasya. Beberapa hari setelahnya, mereka menemukan dia. Natasya di Amerika. Aku langsung nyusul dia ke sana, tapi sampai sana, aku nggak berhasil ketemu Natasya. Dia ternyata bergabung dengan salah satu agensi di sana. Aku nggak bisa ketemu dia gitu aja, pihak keamanan di sana nggak kasih izin.” Jevan menggeleng pelan mengingat masa lalunya yang menyakitkan itu. “Dan hubungan kami pun berakhir gitu aja.”
Ara hanya bisa mengembuskan napasnya pelan. Kisah cinta Jevan seperti jalan cerita film. Penuh liku dan perjuangan. Di sini, Ara menyadari bahwa semua orang mempunyai masalah dalam hidupnya masing-masing.
“Yang aku tahu saat ini, dia pergi meninggalkan aku demi kariernya di luar negeri. Sekarang, setelah kontrak dengan agensinya habis, dia kembali dengan harapan aku akan menerimanya lagi.” Jevan tersenyum sinis. “Aku bahkan menyesal pernah menjalin hubungan dengan dia.”
“Dan sekarang kamu akan bagaimana?” tanya Ara pelan.
Jevan balik menggenggam erat tangan Ara. “Jangan pergi, Ra. Aku akan perjuangkan hubungan kita. Apa pun ini namanya, aku nggak bisa kehilangan kamu.”
Tidak seharusnya Ara seperti ini. Namun, hati Ara menghangat mendengar perkataan yang Jevan berikan. Apalagi, lelaki itu menatapnya dengan pandangan meneduhkan seperti saat ini.
Ara menggeleng pelan. “Tapi, ini nggak benar, Je. Kita nggak bisa terus bersama, apalagi saat ini kamu akan bertunangan dengan Mbak Natasya.”
Jevan mengembuskan napas pelan. “Aku akan cari jalan keluar. Yang perlu kamu lakukan sekarang hanya tetap bersamaku. Jangan pernah berpikir untuk pergi dari aku.”
Ara menghela napas. “Tapi, aku takut, Je. Aku juga nggak mau jadi orang ketiga di antara kamu dan Mbak Natasya.”
“Kamu bukan orang ketiga,” tegas Jevan. “Aku dan Natasya sudah nggak memiliki hubungan apa pun. Kamu hanya perlu tetap diam. Aku yang akan cari jalan keluar dari permasalahan ini.”
Ara menatap Jevan ragu. “Kalau orangtua kamu tahu bagaimana? Mereka pasti nggak akan suka dengan aku.” Ara tidak penah melupakan bahwa Jevan masih memiliki orangtua lengkap. Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya mendapatkan pasangan yang tepat. Apalagi, orangtua Jevan hanya memiliki Jevan sebagai anak mereka.
“Kita akan urus itu belakangan. Kamu tenang saja.” Jevan kembali membawa Ara ke dalam pelukannya. Walau dia sendiri ragu, Jevan tidak akan memperlihatkan itu kepada Ara.
Jevan tidak mau membuat Ara khawatir.
***
Saat malam tiba, Jevan segera berjalan ke arah Ara yang berada di dapur. Gadis itu tengah membantu Mbok Ijah mencuci piring bekas makan malam mereka. Malam ini, rencananya Jevan akan bertandang ke rumah orangtuanya. Dia akan bertemu dengan ibunya dan Natasya.
“Ra.” Jevan melingkarkan lengannya di perut Ara.
“Kamu udah mau berangkat?” tanya Ara sambil membalikkan badan ke arah Jevan, yang membuat pelukan Jevan terlepas.
“Iya.” Tangan Jevan mengusap pipi Ara pelan. “Kalau sampai malam aku nggak pulang, kamu tidur aja dulu.”
Ara manggut-manggut mengerti.
Jevan menghela napas pelan. Dia mengecup singkat dahi Ara. “Aku pergi dulu, ya.”
Ara mengangguk. “Hati-hati.”
Jevan hanya tersenyum dan berjalan keluar rumah.
Ara menghela napas pelan. Dia tidak tahu apa nama hubungannya dengan Jevan sekarang. Katakanlah Ara gadis tidak tahu malu, tapi dia tidak merasa merebut Jevan dari Natasya. Mereka bersama, ketika Jevan tidak terikat dengan siapa pun.
Biarkan ini berjalan sesuai alur yang terjadi. Ara hanya akan berusaha sebaik mungkin, karena dia merasa tidak akan bisa melepaskan Jevan begitu saja.
***
Mobil yang dikendari Jevan telah tiba di rumah orangtuanya. Keluar dari mobil, Jevan disambut oleh salah satu pegawai ibunya.
Tanpa banyak bicara, Jevan segera berjalan masuk ke rumah. Di ruang tamu, Natasya tengah duduk santai sambil membaca majalah fashion yang Jevan duga adalah milik ibunya.
Lelaki itu memilih menghampiri Natasya dan duduk di depan gadis itu. Jevan menatap Natasya lurus, dan mungkin karena merasa terus-menerus ditatap, Natasya menutup majalahnya dan balik menatap ke arah Jevan.
“Malam,” sapa perempuan itu santai.
“Aku nggak tahu kamu bisa secepat ini.”
Natasya terkekeh mendengarnya. “Aku nggak suka mengulur waktu, Je. Lebih cepat, lebih baik.”
Jevan masih menatapnya lurus. “Aku nggak akan diam aja, Aca. Aku akan segera menyelesaikan masalah ini.”
“Ya. Kamu memang harus melakukannya. Kalau kamu nggak mau bertunangan denganku, kamu cukup membuang Ara dari hidup kamu.”
Jevan tersenyum sinis. “Aku menyesal, pernah merasa begitu kecewa saat perempuan seperti kamu meninggalkanku.”
“Kalau kamu kecewa, itu artinya kamu pernah begitu mencintaiku, Jevan. Aku yakin, rasa itu tidak akan hilang begitu saja.”
“Kenapa kamu jadi lebih percaya diri begitu? Aku memang pernah mencintai kamu, tapi itu dulu. Melihat tingkah kamu yang sekarang, aku seakan lupa pernah mengatakan mencintai perempuan seperti kamu.”
Walau raut wajah Natasya terlihat biasa saja, kenyatannya perempuan itu terluka. Jevan yang dulu selalu mengeluarkan kalimat manis dan lembut kepadanya, berubah menjadi seperti sekarang, dan itu semua gara-gara gadis bernama Ara itu.
“Maka itulah gunanya pertunangan ini, Je. Aku akan membuat kamu sadar, kalau kamu masih sangat mencintaiku.”
Jevan mengumpat di dalam hati. Natasya terlihat biasa saja dengan hinaannya. Perempuan ini tampaknya tidak bisa dihentikan. Lalu harus dengan cara apa agar Jevan bisa berjauhan dengannya?
“Jevan, kamu sadah datang?” Sang ibu datang dengan diikuti dua pelayan di belakangnya.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-