
Sementara itu, Jevan kini tengah fokus dengan layar komputer dan beberapa kertas yang berserakan di mejanya. Daripada pusing memikirkan ulah Natasya, lebih baik pikirannya dia fokuskan untuk bekerja.
Jevan sedang asyik membaca laporan di depannya, sebelum pintu ruangannya diketuk dan menampilkan Sarah yang berjalan ke arahnya.
“Ini laporan yang Bapak minta,” ujar Sarah sambil meletakkan map di meja Jevan.
“Ya. Terima kasih.” Jevan kembali fokus dengan pekerjaannya. Saat dia melihat Sarah yang tidak beranjak dari tempatnya berdiri, Jevan memandang sekretarisnya itu heran.
“Kamu tidak kembali bekerja?”
Sarah menampilkan cengirannya. “Selamat ya, Pak,” katanya.
Jevan mengembuskan napas pelan. “Saya sedang tidak berulang tahun.”
Sarah menggeleng. “Bukan itu, Pak.”
“Lalu?” tanya Jevan heran.
“Pertunangan Bapak dengan Mbak Natasya. Selamat ya, Pak. Saya ikut senang.”
“Tunggu dulu,” kata Jevan sambil melepas kacamatanya. “Kamu bilang apa? Pertunangan saya dengan Natasya? Kamu dengar dari mana?”
Sarah tersenyum. “Beritanya udah muncul, Pak. Kenapa Bapak nggak bilang ke saya? Saya tadinya mengira, Pak Jevan ada sesuatu sama Arana. Tahunya malah tunangan sama Mbak Natasya.”
Jevan tidak memedulikan perkataan Sarah. Dia segera meraih ponselnya dan memeriksanya. Dia mengumpat saat melihat sudah banyak artikel tentangnya dan Natasya.
Sial.
Natasya memang tidak bisa diremehkan. Ini bahkan belum genap satu jam setelah pertemuan mereka tadi. Lalu sekarang, gadis itu sudah membuat semua orang tahu mengenai pertunangan bodoh ini.
Jevan mengacak-acak rambutnya kesal.
“Bapak kenapa? Pusing, Pak? Mau saya ambilkan obat?” tanya Sarah begitu melihat kelakuan bosnya.
Jevan menggeleng. “Kamu keluar saja. Jika ada tamu, bilang saya sedang tidak ingin diganggu.”
Sarah mengangguk. “Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi.”
Setelah kepergian Sarah, Jevan merutuki dirinya sendiri. Kenapa dulu dia bisa jatuh cinta dengan perempuan licik seperti Natasya?
Pintu ruangannya kemudian dibuka secara paksa, membuat Jevan menatap marah ke arah sana. Nicol mencoba masuk dengan Sarah yang berusaha menyeretnya keluar.
“Maaf, Pak. Tapi, orang ini memaksa masuk,” ujar Sarah takut-takut. Dia tahu, mood bosnya sedang tidak baik. Dia tidak mau gajinya dipotong karena hal sepele seperti ini.
Jevan mengembuskan napas pelan. “Ya sudah, kamu keluar.”
Nicol menatap jengkel kepada Sarah. “Gue bilang juga apa,” katanya sambil membenarkan kemejanya yang lusuh karena ulah Sarah.
Sarah memberengut kesal, sebelum berjalan ke luar ruangan Jevan.
Nicol berjalan ke arah sofa dan duduk santai di sana. Dia menatap Jevan sambil menggeleng pelan.
“Setelah gue lihat, lo kayaknya udah tahu tentang pemberitaan tentang lo sama Natasya.”
Jevan bangkit dan ikut duduk bergabung dengan Nicol. “Gue nggak tahu dia bisa bergerak secepat ini,” kata Jevan jujur.
Nicol terkekeh. “Natasya emang gitu. Dia nggak setengah-setengah buat meraih hal yang dia mau.”
Jevan mengembuskan napas pelan. “Gue bingung. Gue nggak mau tunangan lagi sama dia. Tapi, dia pasti bakal bilang ke ibu gue kalau nanti gue nolak pertunangan ini.”
“Persis sama tebakan gue kemarin.”
Jevan diam dan memejamkan matanya.
“Arana gimana?”
Mendengar nama Ara disebut, Jevan kembali membuka matanya. Ara. Dia lupa dengan gadis itu. Apakah Ara sudah tahu mengenai berita ini, ataukah belum?
“Gue nggak tahu.” Jevan lalu berteriak memanggil Sarah. “Sarah!”
Tidak lama kemudian, Sarah masuk ke ruangannya. “Iya, Pak?”
“Tolong pastikan apakah kabar ini sudah menyebar luas ke seluruh penjuru kantor. Apakah semua pegawai mengetahui hal ini atau tidak? Termasuk OB dan OG.”
“Oh, kalau itu saya sudah tahu jawabannya, Pak. Saya tadi sempat turun ke lobi, di sana ramai pada ngomongin Bapak. Termasuk petugas kebersihan,” jawabnya santai.
Sarah mengangguk. “Iya, Pak,” jawabnya tegas.
Jevan kembali mengembuskan napas pelan. “Ya sudah, kamu boleh keluar.”
“Iya, Pak.”
“Jadi, gimana? Apa yang akan lo lakukan sekarang?” tanya Nicol setelah tinggal mereka berdua di dalam ruangan ini.
“Gue nggak tahu.”
Nicol terlihat berpikir. “Gimana kalau lo ikutin aja permainannya Natasya.”
Jevan memberikan tatapan sinis kepada Nicol. “Gue nggak tunduk gitu aja sama dia.”
Nicol berdecak. “Makanya dengerin gue dulu. Lo ikutin aja alurnya dulu, sambil cari cara supaya lo lepas dari Natasya. Lagi pula, kalau dipikir lagi, kalau lo nolak, Arana bakal ketahuan sama ibu lo. Lo nggak mau hal itu terjadi, kan?”
“Gue nggak bisa tunangan lagi sama Natasya.”
“Iya, Je. Gue tahu. Tapi, sekarang lo bisa apa? Gue tanya, deh, sekarang. Lo lebih mementingkan ego lo, atau keberadaan Arana?”
Jevan diam ketika Nicol bertanya seperti itu. Selama ini, Jevan selalu berusaha agar egonya tidak terluka. Namun, membiarkan keberadaan Ara diketahui oleh sang Ibu, juga bukan hal yang dia sukai.
“Lo tunangan sama Natasya, sambil cari cara buat menyelamatkan Ara dari semua ini. Beres, kan?”
Jevan kembali menatap Nicol. “Kalau kenyataannya nggak akan sesederhana itu gimana? Kalau masalah malah semakin rumit saat gue udah tunangan sama Natasya gimana?”
“Lo nggak akan tahu, kalau lo nggak coba hal itu.” Nicol berusaha mencarikan solusi.
Jevan masih sibuk dengan pikirannya, ketika ponsel di saku celananya berdering. Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat nama sang ayah di layarnya.
“Iya, Yah?” tanya Jevan ketika sambungan telepon mereka terhubung.
“Kamu bagaimana?”
Jevan tahu ke mana arah pembicaraan mereka kali ini. Apa lagi kalau bukan tentang berita pertunangannya dengan Natasya?
“Buruk,” jawab Jevan singkat.
Terdengar helaan napas dari seberang sana. “Maaf tidak bisa banyak membantu, Nak. Ayah tidak bisa menolak keinginan ibumu.”
Ya. Jevan tahu akan hal itu. Ayahnya sangat mencintai ibunya. “Tidak apa-apa. Ayah sekarang di mana?”
“Ayah di Jepang, mungkin besok sudah pulang ke Indonesia.”
“Jaga kesehatan.” Jevan hendak menutup sambungan telepon mereka, tapi sang ayah kembali berbicara.
“Gadis itu. Bagaimana dengan dia?”
Jevan terdiam. Tidak menyangka sang ayah akan menanyakan keadaan Ara. Selama ini, ayahnya memang tidak pernah menentang pilihan Jevan. Mungkin hal itu yang membuat Jevan merasa lebih dekat dengan sang ayah daripada ibunya.
“Nggak tahu. Mungkin sekarang dia lagi nangis karena kaget.”
Terdengar kekehan dari sana. “Lalu, kamu akan ikut menangis bersama dia?”
Jevan tersenyum mendengarnya. “Mungkin.”
“Kalau memang kamu mencintai gadis itu. Perjuangkan. Bukankah itu memang kodratnya seorang lelaki?”
Jevan termenung. “Ayah, merestui?” tanyanya ragu.
“Selama itu bisa membuat kamu bahagia. Ayah akan selalu mendukung itu. Anak ayah cuman satu, kamu. Apalagi yang ayah mau selain melihat kamu bahagia?”
Jevan kembali tersenyum. “Terima kasih, Yah.”
“Jangan menyerah, Nak. Kadang memang ada beberapa hal yang butuh diperjuangkan untuk bisa dimiliki.”
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-