
Natasya memandang Jevan dengan terluka. Jevan di hadapannya sekarang sungguh berbeda dengan Jevan yang dulu masih menjadi kekasihnya. Jevan yang sekarang terasa sangat jauh dari Natasya. Bersikap dingin dan ketus. Itu bukan Jevan yang dulu Natasya kenal.
“Kamu kenapa, sih, Je? Segitu bencinya kamu sama aku?” tanya Natasya marah dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
Jevan menyentak tangan Natasya kasar hingga terlepas. “Aku nggak suka bersentuhan dengan perempuan nggak tahu malu kayak kamu!”
“Jevan!” seru Natasya marah. “Tega kamu bilang kayak gitu ke aku? Aku punya alasan, Je, kenapa aku melakukan itu semua!”
“Apa alasannya?! Kamu bahkan nggak pernah berusaha buat bilang ke aku. Kalau memang kamu punya masalah yang harus kamu selesaikan waktu itu, harusnya kamu bilang ke aku, Ca. Kamu pikir aku akan jadi laki-laki bodoh yang hanya diam ketika calon istrinya terkena masalah?” Jevan memandang Natasya marah.
Natasya memilih membuang muka dengan wajah yang sudah berlinang air mata. Dia tidak bisa mengungkapkan hal itu sekarang. Natasya tidak sanggup mengatakannya.
Jevan tersenyum sinis melihat Natasya menangis. Kalau dulu, air mata gadis itu adalah kelemahannya. Namun, kali ini Jevan mencoba untuk tidak goyah.
“Kalau kamu pikir dengan pura-pura menangis bisa membuat aku luluh seperti dulu, kamu salah! Air mata kamu nggak berpengaruh apa pun sama aku sekarang!”
“Aku nggak berpura-pura, Je!” teriak Natasya sambil kembali memandang Jevan. “Kamu pikir sekarang aku pura-pura? Bagaimana bisa aku pura-pura menangis saat hati aku benar-benar kecewa gara-gara perlakuan lelaki yang aku cintai?”
“Omong kosong tentang cinta, Ca!” Jevan balas meneriaki Natasya. Keduanya kini sudah menjadi tontonan beberapa orang yang berada di pantai itu. Karena yang bisa masuk ke pantai ini hanyalah orang yang menginap di resort, tidak banyak orang di sini. Apalagi, orang yang menginap di resort adalah orang-orang kaya yang tidak terlalu suka mencampuri urusan orang lain. Jevan bersyukur untuk itu.
“Cinta yang kurasakan udah mati waktu kamu lebih memilih pergi meninggalkan aku!”
Natasya terus menangis dan menggeleng.
“Karena itu aku kembali, Je. Aku mau memperbaiki semuanya. Aku mau kita mulai dari awal lagi, aku mau kita kayak dulu,” ujar Natasya pelan sambil menunduk.
Jevan kembali tersenyum sinis mendengarnya. “Apa kamu bilang? Memulai semuanya dan kita yang seperti dulu? Kamu memang nggak tahu malu, Ca. Bagaimana bisa kamu mengatakan itu dengan begitu mudah kepada laki-laki yang telah kamu hancurkan hidupnya?!”
“Aku juga nggak mau itu terjadi, Je!”
“Tapi kamu melakukan itu.”
Jevan mengembuskan napasnya kasar. Dia berusaha mengontrol dirinya yang terasa begitu panas, dan ingin meluapkan semua amarahnya kepada gadis yang pernah dia cintai ini.
Jevan membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah resort, meninggalkan Natasya yang akhirnya jatuh terduduk di pasir sambil menangis dan menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Ketika sudah tiba di resort, dia melihat kedua orang tuanya tengah bersantai sambil menikmati kelapa muda yang disediakan di sana.
“Je, udah pulang? Cepet banget jalan-jalannya, Natasya di mana?” tanya sang ibu ketika Jevan hanya melewatinya dan berjalan masuk ke kamarnya.
Tidak lama kemudian, Jevan kembali keluar kamar sambil membawa koper miliknya. Kedua orangtuanya bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Jevan.
“Ada apa ini, Jevan? Kamu mau ke mana?” tanya sang ayah.
“Pulang,” jawab Jevan singkat.
“Pulang? Kenapa, Je? Kita baru aja tadi malam sampai di sini,” ujar sang ibu protes.
“Kalau begitu, Ayah dan Ibu tetap di sini aja. Jevan akan pulang hari ini juga,” ujar Jevan sambil kembali meneruskan langkahnya.
“Je, tunggu dulu,” ujar sang ayah sambil menarik lengannya. “Ada apa?”
Jevan mengembuskan napasnya, lalu beralih menatap sang ibu. “Ini bukan liburan, Bu. Ini neraka buat Jevan. Bagaimana bisa Ibu menyatukan Jevan dengan perempuan yang sudah menghancurkan hidup Jevan beberapa tahun yang lalu? Jevan tidak bisa terus berada di lingkungan yang sama dengan perempuan itu.” Setelah mengatakan itu, Jevan segera meneruskan langkahnya yang sempat terhenti.
Ibu Jevan sudah akan menghentikan Jevan kembali, tapi sang suami menahannya.
“Sudah, Bu. Mungkin Jevan perlu waktu. Lagi pula, kenapa Ibu tidak bilang dulu kalau Natasya akan ikut bersama kita?”
“Ibu hanya mau mereka kembali seperti dulu, Yah,” jawab ibu Jevan sambil berdecak. Rencananya untuk menyatukan Jevan dan Natasya kacau. Dia tidak tahu, bahwa anak satu-satunya itu memendam rasa marah yang begitu besar terhadap Natasya.
***
Jevan menyuruh salah satu sopir untuk mengantarnya ke bandara. Dia akan kembali pulang menggunakan jet pribadinya. Dia sudah tidak betah berlama-lama di Bali, jika bersama dengan gadis itu.
Begitu duduk di dalam jet pribadinya, Jevan mengembuskan napas lelah. Hari ini tidak ada hal berat yang dia lakukan. Tidak ada rapat untuk memenangkan tender besar. Tidak ada juga rapat keuangan perusahaan. Namun, Jevan merasakan tubuhnya sangat lelah.
Karena lelah berpikir, Jevan akhirnya lebih memilih memejamkan matanya. Dia perlu mendinginkan hati dan pikirannya.
Sementara di lain tempat, Ara baru saja menyelesaikan tugasnya untuk membersihkan ruangan Jevan. Gadis itu hendak kembali ke ruangan khusus pegawai kebersihan.
Di dalam ruangan tengah ramai. Setelah bertanya, Ara baru mengetahui bahwa akan ada petugas kebersihan yang baru. Seorang lelaki yang baru saja lulus SMA, masih terlihat sangat muda.
Anak itu terlihat mencuri-curi pandang kepada Ara. Saat Ara memergokinya, dia malah menunduk malu. Ara terkekeh, dia sangat lucu sekali.
“Ra, beliin kopi buat rapat di kafe biasa, ya,” ujar Dewi sambil memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada Ara.
“Iya, Mbak.”
Ara hendak beranjak dari duduknya sebelum anak baru itu berdiri dan tiba-tiba berjalan ke arahnya.
“Biar aku aja Mbak, yang beli,” ujarnya cepat.
“Nggak usah, kamu kan belum tahu daerah sini,” balas Ara sambil tersenyum.
“Nggak apa-apa, Mbak. Sambil belajar.”
“Nggak apa-apa, deh, Ra. Ajak si Adi aja, supaya dia belajar. Dia belum mulai kerja, baru besok,” ujar Dewi.
Ara pun akhirnya hanya mengangguk dan kembali tersenyum kepada anak baru yang bernama Adi itu.
“Ayo,” ajaknya.
“Iya, Mbak.”
Ara dan Adi mengobrol di tengah perjalanan mereka menuju kedai kopi langganan JS Group. Dari ceritanya, Ara mengetahui bahwa Adi bekerja untuk bekal kuliahnya. Rencananya cowok itu akan kuliah tahun depan.
“Bagus itu, kuliah pakai uang sendiri lebih penuh tantangan. Lebih kerasa perjuangannya.”
“Mbak Arana kuliah juga?”
Ara tersenyum pahit. Bagaimana dia bisa kuliah kalau selama ini dia terlalu fokus pada kesembuhan ibunya?
Ara menggeleng. “Nggak ada biaya plus nggak ada waktu. Aku ngurusin ibuku yang lagi sakit.”
Adi menampilkan ekpresi tidak enak. “Maaf, Mbak. Aku nggak tahu.”
Ara terkekeh melihatnya. “Nggak apa-apa, santai aja lagi. Itu kopi pesanan kita udah selesai.”
Ara beranjak berdiri untuk membayar kopi pesanannya. Setelah selesai, Ara menitipkan kopi itu kepada Adi, karena cowok itu yang memaksa.
Saat sudah berada di kantor, tepatnya di ruangan khusus petugas kebersihan, Ara mengernyit heran saat melihat keberadaan Sarah di sana. Untuk apa sekretaris Jevan itu ke mari?
“Itu Arana!” seru Dewi ketika melihat keberadaan Ara.
“Ada apa, Mbak?” tanya Ara kepada Sarah yang berjalan menghampirinya dengan panik.
Sarah maju dan membisikkan sesuatu di telinga Ara. “Kamu harus pulang sekarang, Pak Jevan menunggu kamu di rumah. Kalau dia belum menemukan kamu di rumah setelah dia pulang, gaji saya taruhannya.”
Mata Ara membulat seketika. Jevan sudah pulang? Kenapa tiba-tiba sekali? Bukankah pria itu mengambil cuti sampai hari Rabu?
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-