Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 30



“Jevan, kamu sadah datang?” Sang ibu datang dengan diikuti dua pelayan di belakangnya.


Jevan menghampiri ibunya dan memberikan pelukan singkat, sebelum kembali duduk di tempatnya.


“Kamu letakkan di meja,” suruh ibu Jevan kepada dua pelayannya, lalu perempuan itu beralih kepada Jevan. “Kamu sudah makan atau belum?”


“Sudah, Bu.”


Ibu Jevan mengangguk. “Ibu senang lihat kamu sama Natasya sering bersama seperti ini. Ibu jadi nggak sabar lihat anak kalian lahir nantinya.”


Jevan tertawa. “Pertunangannya saja belum dilaksanakan, Bu. Bagaimana bisa Ibu bicara soal anak? Itu pun kalau jadi pertunangannya.”


Natasya tersenyum tipis mendengarnya. Kalimat terakhir Jevan terdengar seperti sebuah peringatan untuknya.


Sedangkan ibu Jevan, perempuan tua itu tidak berpikir macam-macam mendengar kalimat sang anak. Dia merasa itu hanya bagian dari kalimat candaan. “Ya, pasti jadilah. Kita menentukan tanggal menunggu Ayah kamu pulang saja. Sekarang, kita pilih-pilih tempat dulu. Kira-kira enaknya diadakan di mana, ya?” tanyanya sambil mulai meraih tablet dan memeriksanya.


“Natasya ke sini, deh. Ayo kita pilih-pilih tempat, kamu sukanya di mana,” ujarnya.


Natasya mengalihkan pandangannya dari Jevan dan mendekat ke arah ibu lelaki itu. Keduanya hanyut dalam pembicaraan mereka, yang sesekali melibatkan Jevan di dalamnya.


Jevan muak sebenarnya. Namun, dia harus melakukan ini. Setidaknya untuk saat ini, di saat dia belum tahu harus apa dan harus bagaimana. Walau sulit, dia terpaksa harus berpura-pura menerima pertunangan ini di depan ibunya.


 


 


***


Sedangkan di lain tempat, Ara tengah membaca novel koleksinya di perpustakaan milik Jevan. Walau Jevan menyuruhnya untuk tidak menunggu, Ara tetap memilih menunggu sambil membaca novel barunya ini sampai selesai.


“Mbak Ara.” Mbok Ijah memanggil sambil mengetuk pintu perpustakaan.


“Masuk aja, Mbok!” teriak Ara sambil kembali membaca.


Tidak lama kemudian, Mbok Ijah masuk ke perpustakaan dan menghampiri Ara yang tengah bersantai di sofa dengan novel di pangkuannya.


Ara mengernyit melihat ekpresi Mbok Ijah yang tampak panik. Dia pun bangun dari rebahannya dan duduk tegak.


“Ada apa, Mbok?” tanyanya heran.


“Itu, Mbak. Di luar ada tamu.” Lagi-lagi Mbok Ijah menampilkan ekspresi risau.


“Siapa?” tanya Ara sambil mengenakan sandal dan bangkit berdiri.


“Mbak Ara langsung temui aja.” Mbok Ijah keluar perpustakaan diikuti Ara yang melangkah dengan heran.


Mbok Ijah membawa Ara ke ruang tengah. Walau sempat heran kenapa tamu mereka berada di ruang tengah, Ara memilih tidak banyak bertanya.


“Itu, Mbak, tamunya.”


Ara melihat sosok lelaki yang duduk membelakanginya itu. Gadis itu menghampirinya. Untuk sesaat, dia terdiam setelah melihat wajah orang itu.


“Anda siapa?” tanya Ara sambil duduk di depan tamunya.


Lelaki itu memandangi Ara dengan seksama. “Kamu yang bernama Arana?”


Lelaki itu mengangguk. “Saya Jonathan. Ayahnya Jevan.”


Kedua mata Ara membulat. Ayahnya Jevan? Badan Ara rasanya tidak bertulang, bagaimana bisa dia bertemu dengan ayah Jevan saat dirinya sedang sendirian?


Ara menunduk sambil memilin kedua tangannya gugup. Dia tidak harus bersikap bagaimana sekarang.


Sedangkan, ayah Jevan yang melihat itu hanya tersenyum kecil. Gadis sederhana di depannya ini membuatnya mengingat sosok seseorang beberapa tahun yang lalu.


Beberapa kali Ara terlihat ingin membuka mulutnya, tapi gadis itu menutup mulutnya kembali.


“Ada apa? Bicara saja,” ujar ayah Jevan yang membuat Ara menatapnya takut-takut.


“Saya, saya hanya mampir tadi, Pak. Saya tidak tinggal di sini.” Ara terpaksa berbohong. Dia tidak mungkin berbicara jujur kepada ayah Jevan, bahwa kini dia dan anaknya tinggal bersama tanpa ikatan apa pun.


Mendengar itu, ayah Jevan tertawa. “Kamu pikir saya percaya? Mana ada mampir tapi mengenakan piama seperti kamu sekarang?”


Ara menatap ke bawah. Dia lupa tadi sudah mengenakan piama. Ara semakin menunduk dan tidak berani menatap ayah Jevan.


“Saya sudah tahu semuanya, tenang saja.”


Kali ini Ara kembali menatapnya. Sudah tahu semuanya? Benarkah semuanya? Atau lelaki tua di depannya ini hanya ingin mengetes dirinya saja?


“Kamu dan Jevan tinggal bersama. Kamu di sini karena Jevan yang membiayai perawatan Ibu kamu. Yang terakhir, kamu kerja sebagai petugas kebersihan di kantor JS Group. Ada yang kurang?” tanya ayah Jevan santai.


Ara semakin merasa tubuhnya tidak bisa digerakkan. Dia bingung harus bagaimana. Apalagi kini Jevan sedang tidak bersamanya. Ara takut salah bersikap, yang nantinya malah menimbulkan kekacauan yang lain.


“Arana.”


Perlahan Ara menoleh ke arah ayah Jevan.


“Kamu mencintai anak saya?”


Ara terkejut. Dia tidak percaya ayah Jevan bisa menanyakan itu kepadanya. Pasalnya, Jevan bahkan tidak pernah menyinggung masalah itu sebelumnya.


“Saya, saya—”


“Jangan kaku begitu. Kamu hanya perlu menjawab pertanyaan saya.”


Ara mengembuskan napas pelan. “Saya tidak tahu, Pak,” jawabnya jujur.


Ayah Jevan menghela napas mendengarnya. “Berarti kamu tidak keberatan kalau Jevan bertunangan dengan Natasya?”


Ara diam, wajahnya terlihat tidak suka ketika ayah Jevan bertanya seperti itu. Namun, gadis itu hanya diam dan menunduk.


“Arana, jawab pertanyaan saya,” kata ayah Jevan lagi.


Ara menggeleng. “Sebenarnya saya tidak rela melihat Jevan dengan orang lain, tapi saya bukan siapa-siapa untuk bisa mengatakan itu kepada Jevan? Kami bahkan tidak memiliki hubungan apa pun, Pak. Saya tidak berhak merasa keberatan.”


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-