
Ara akhirnya menaiki angkot untuk pergi ke rumah Jevan. Soal pekerjaannya, Sarah bilang dia yang akan mengurus semuanya. Termasuk alasan kenapa Ara pulang cepat.
Rumah Jevan tampak sepi. Ara jadi ragu Jevan sudah berada di rumah. Dia memasuki rumah mewah dan besar itu, lalu mengedarkan pandangannya.
Dia tidak menemukan Jevan. Ara pun memilih berjalan ke arah dapur, berniat mencari Mbok. Namun, dapur itu sepi. Ara tidak menemukan siapa-siapa.
Ara berjalan ke arah kulkas, membukanya, dan mengambil sebotol air dingin di sana. Belum selesai meminum airnya, gadis itu dikagetkan oleh tangan yang melingkar di perutnya. Dia terbatuk-batuk tersedak air yang dia minum.
“Aku rindu,” gumam seseorang yang tengah memeluk Ara dari belakang itu.
Setelah mampu menormalkan pernapasannya, Ara menoleh sedikit ke arah belakang. Dia melihat Jevan yang bersandar di bahunya sambil memejamkan kedua mata.
“Kamu ngagetin aku,” kata Ara kesal.
“Kamu nggak rindu?” Jevan balik bertanya sambil tetap memejamkan kedua matanya.
“Rindu,” jawab Ara dengan pipi merona, meski Jevan tidak bisa melihatnya. “Kamu ambil cuti kenapa nggak bilang?”
Jevan terkekeh dan melepaskan pelukannya dari perut Ara, lalu membalikkan tubuh gadis itu untuk menghadap ke arahnya.
“Ibu yang minta, aku mana bisa menolak?”
Tangan kanan Jevan mengarah ke pipi Ara, mengusapnya pelan. Sedangkan tangan kirinya berada di pinggang Ara dan membawanya mendekat hingga menempel di tubuhnya.
Jevan menjatuhkan kecupan di dahi Ara, lalu kembali mengusap pipi gadis itu dengan sayang. “Aku mau kamu sekarang,” bisik Jevan di telinga Ara, lalu meninggalkan kecupan di sisi kepala Ara, sebelum membawa tubuh gadis itu ke dalam gendongannya dan berjalan ke arah kamar mereka.
***
Jevan dan Ara masih bergelung di dalam selimut setelah kegiatan mereka tadi. Lelaki itu masih memeluk Ara sambil sesekali menjatuhkan kecupan di kepala gadis itu.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Ara sambil mendongak menatap Jevan.
“Memangnya aku kenapa?” Jevan balik bertanya dengan heran.
“Di sini,” ujar Ara sambil menunjuk ke kening Jevan. “Kelihatan ada banyak masalah.”
Jevan tertawa, lalu meraih tangan Ara dan mengecupnya pelan. “Aku nggak apa-apa.”
“Pertemuan sama orangtua kamu lancar?”
“Ya, begitulah,” jawab Jevan terdengar tidak yakin.
“Kok, gitu jawabannya? Kamu senang ketemu sama orangtua kamu, kan?”
“Senang, hanya saja ada beberapa hal yang mengganggu kesenanganku.”
“Apa?”
Jevan diam sambil memandang lurus ke arah Ara. Dia merengkuh Ara ke dalam pelukannya dan kembali menjatuhkan kecupan di kening gadis itu.
Ara terdiam begitu Jevan memperlakukannya begitu. Dia tahu Jevan tidak ingin menjawab pertanyaannya, dan dia pun akhirnya hanya bisa membiarkan. Di saat dirinya sedang mencari posisi nyaman di pelukan Jevan, perkataan lelaki itu membuat Ara gagal memejamkan mata.
“Siapa bocah yang ikut kamu beli kopi tadi?”
Ara menatap Jevan terkejut. “Kamu tahu dari mana aku tadi beli kopi sama Adi?”
“Oh, namanya Adi,” gumamnya. “Dia siapa?” tanya Jevan serius.
“Dia pegawai baru kamu. Baru lulus SMA, dia kerja buat biaya kuliah tahun depan. Keren banget kan, Je?”
Jevan mendengus tidak suka. “Aku lebih keren dari dia,” katanya tidak terima.
“Kenapa dia nempel-nempel sama kamu?” tanya Jevan tidak suka.
“Bukan nempel-nempel, Je. Dia cuman mau latihan, supaya pas waktu kerja, dia udah hafal di mana tempat beli kopi langganan JS Group.” Ara berusaha menjelaskan kejadian sebenarnya kepada Jevan. Karena jika tidak begitu, lelaki itu akan salah sangka dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
“Aku nggak suka, Ara. Apa pun itu namanya, aku nggak suka melihat kamu dekat-dekat dengan lelaki lain, selain aku. Kamu mengerti?” Kali ini Jevan memberikan Ara tatapan tajam, agar gadis itu menurutinya.
Ara mengangguk. “Maaf, aku janji nggak akan gitu lagi.”
Jevan hanya diam dan menjatuhkan kecupan di dahi Ara. Setelah beberapa hari tidak bertemu dengan gadis di dalam pelukannya ini, Jevan merasa sangat merindukan Ara. Kecupannya adalah bentuk ketidakpuasannya, karena rindu di dadanya belum juga mereda.
“Tunggu dulu, kamu tahu dari mana aku tadi pergi beli kopi sama Adi? Kamu kan nggak ada di kantor. Jangan-jangan kamu nyuruh orang buat mata-matain aku?” tanya Ara sambil menyipitkan matanya ke arah Jevan.
Jevan berdeham, lalu melepaskan pelukannya dari tubuh Ara. Dia lebih memilih membalikkan badan dan memunggungi Ara. Diam-diam Ara tersenyum tipis melihatnya. Jevan tampak menggemaskan.
“Je,” panggil Ara sambil menggoyangkan lengan kekar Jevan.
“Berisik, Ara! Aku mau tidur.”
“Kenapa kamu mata-matain aku? Kamu nggak percaya sama aku?” Ara masih tidak mau menyerah. Apalagi, akhir-akhir ini Jevan sudah sangat melunak kepadanya.
“Aku capek, kamu diam saja.”
Ara terkekeh, kini dia tidak lagi menggoyangkan lengan Jevan. “Kamu kalau gini, kayak anak kecil, Je. Lucu.”
Jevan hanya membiarkan Ara berbicara semaunya. Dia berpura-pura tidur. Sejujurnya Jevan malu, karena dia memang menyuruh orang untuk memata-matai kegiatan Ara selama dia tidak ada.
Bukan berarti Jevan tidak memercayai Ara. Hanya saja, dia tidak percaya dengan laki-laki yang sering kali mencuri pandang ke arah gadisnya. Apa pun posisi Ara sekarang, tidak bisa dipungkiri bahwa gadis itu memiliki perawakan yang sempurna. Tinggi tubuhnya rata-rata wanita Indonesia, kulitnya kuning langsat. Senyum Ara begitu manis, sehingga setiap kali gadis itu tersenyum, Jevan merasa dunianya hanya berputar pada gadis itu. Jevan telah tersihir, oleh semua yang dimiliki Ara.
***
Malam ini, rencananya Jevan akan mengajak Ara makan malam bersama di sebuah restoran milik salah satu rekan bisnisnya. Setelah Jevan ingat-ingat kembali, dia memang tidak pernah mengajak Ara makan malam di luar. Bahkan, untuk berbelanja saja hanya satu kali. Itu pun saat Jevan baru ingat bahwa dia sebelumnya tidak pernah membelikan Ara pakaian.
“Aku pakai ini? Memangnya kita mau ke mana? Kamu yakin ini nggak akan berlebihan?” tanya Ara sambil memperlihatkan gaun berwarna merah yang Jevan belikan khusus untuk malam ini.
Jevan berdecak. “Aku tadi udah bilang, Ara. Jangan buat aku marah.”
Ara mengerucutkan bibirnya dan kembali ke dalam kamar untuk berganti pakaian sesuai kemauan Jevan. Wajah Ara sudah dilapisi make-up, yang sebenarnya membuat Ara kurang nyaman. Namun, Ara hanya bisa menurut saat Jevan menyuruh seseorang untuk datang dan merias wajahnya.
Setelah beberapa menit berganti pakaian, Ara keluar dari kamar, menghampiri Jevan yang tengah duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan tablet di tangannya.
“Je,” panggil Ara.
Jevan mengalihkan pandangannya ke arah Ara. Untuk sesaat, Jevan terpesona dengan penampilan gadis itu. Jevan pun berjalan ke arah Ara dan mengamati gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Sempurna.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-