
Waktu berlalu begitu cepat, sabtu pagi yang mendung ini, membuat Jevan malas keluar rumah, jika saja dia tidak mempunyai janji dengan sang ibu. Dia lebih baik menghabiskan waktunya di ruang kerja, atau bermain game seharian dari pada keluar rumah.
“Je, kok, kamu belum siap-siap?” tanya Ara yang memasuki kamar dengan penampilang yang sudah rapi. Sedangkan Jevan masih memegang tabletnya, sambil berbaring di ranjang.
“Aku malas. Cuacanya mendung, sebentar lagi pasti hujan. Lebih enak di rumah.”
Ara berjalan menghampiri Jevan. “Tapi, kamu udah janji sama Ibu kamu. Sekarang dia pasti nungguin kamu. Buruan, Je. Masakan aku juga udah selesai. Nanti kita sarapan bareng di sana.”
Jevan berdecak, dia meletakkan tabletnya, lalu berdiri dari ranjang. Lelaki itu berjalan ke arah kamar mandi, setelah mencuri kecupan singkat di pipi gadis itu.
Di sinilah Jevan dan Ara berada sekarang. Di dalam mobil yang sedang menuju ke rumah ibu Jevan. Lelaki itu melirik Ara yang tampak tenang di sampingnya.
“Kamu nggak takut ketemu Ibu?” tanya Jevan ingin tahu.
Ara menoleh, dan menggeleng sambil tersenyum tipis. “Ibu kamu nggak sekejam itu, kok.”
“Ibu bersikap baik sama kamu?” Jujur saja, Jevan tidak bertanya bagaimana percakapan singkat antara sang ibu dan Ara waktu itu. Karena dirinya sudah telanjur kesal dengan permintaan sang ibu untuk menikah.
“Nggak baik juga, sih. Kalau bicara masih sering ketus, sama kayak kamu.” Lalu, seolah tersadar dengan perkataannya. Gadis itu menatap Jevan yang tengah mengangkat alisnya mendengar perkataannya barusan, dengan eskpresi takut. “Maaf, Je, aku nggak bermaksud bilang gitu. Jangan bilangin ke Ibu kamu, ya,” katanya.
Jevan mengendikkan bahunya. “Ada syaratnya,” ujarnya berusaha terdengar angkuh. Padahal, Jevan sudah ingin tertawa mendengar perkataan jujur yang terucap dari mulut Ara.
Gadis itu mengangguk kuat mendengarnya. “Apa syaratnya?”
“Cium aku. Di sini. Sekarang.”
Ara merasa dejavu. Mereka pernah mengalami ini. Di dalam mobil yang sama, dan disaksikan orang yang sama, yaitu sopir Jevan. Ara meringis pelan, kenapa lelaki di sampingnya ini seperti kehilangan urat malunya?
“Kalau nggak mau juga nggak apa-apa. Aku cuman tinggal bilang ke Ibu, kalau tadi kamu-”
Perkataan Jevan terhenti ketika Ara mengecup cepat bibirnya. Saat Jevan hendak meraih wajah Ara, dan mencium gadis itu kembali, dering ponselnya yang berisik menghentikannya.
Jevan berdecak, dia melihat nama yang terpampang di layar ponselnya. Sang ayah. Ara yang ikut mengintip tersenyum tipis melihatnya. Jevan tidak mungkin mengabaikan telepon Ayahnya.
Jevan menatap sinis ke arah Ara. “Lihat aja kalau udah sampai rumah nanti,” katanya, sebelum mengangkat panggilan sang ayah.
Dan sepanjang perjalanan itu, Jevan terus berbicara dengan ayahnya lewat telepon. Ara tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Sepertinya membicarakan masalah perusahaan.
Saat Ara tanya, mengapa Jevan tidak membicarakan itu saat sampai nanti? Jevan mengatakan tidak akan ada waktu. Lagi pula, Ibunya tidak suka jika mereka berkumpul, dan tetap membahas masalah pekerjaan. Lalu, Ayahnya yang sangat mencintai sang ibu itu, tidak akan berani melawan.
“Turun,” ujar Jevan saat mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan pintu masuk rumahnya.
Ara turun dan mengikuti langkah Jevan. Ini kali pertama dia berkunjung ke mari. Dan dia dibuat kagum dengan rumah yang amat mewah dan megah ini.
Di ruang tamu, Ara melihat ayah Jevan tengah duduk sambil membaca koran. Jevan menghampiri sang ayah, diikuti Ara di belakangnya.
“Ibu kamu ada di dapur,” kata ayah Jevan.
Jevan duduk di samping Ayahnya, dan menoleh ke arah Ara yang masih berdiri. “Sana ke dapur, bantuin Ibu.”
“Dapurnya di sebelah mana?”
Ayah Jevan terkekeh mendengarnya. “Kamu jalan masuk aja terus. Dapurnya ada di ujung.”
Ara meringis pelan, dia mengangguk. “Makasih, Om. Saya permisi ke dapur dulu.”
Gadis itu terus melangkah sesuai perkataan ayah Jevan tadi. Rumah ini begitu mewah dan besar. Bahkan lebih besar ini dari rumah yang Jevan tinggali saat ini.
Di sana, di dapur rumah besar ini. Ibu Jevan tengah berkutat dengan peralatan di sana, dengan beberapa orang yang Ara duga adalah pembantu rumah tangga di sini.
Ibu Jevan menoleh. “Kalian sudah sampai? Jevan di mana?”
Ara berjalan mendekat. “Ada di ruang tamu. Lagi ngobrol sama Om.” Gadis itu meletakkan wadah bawaannya ke depan ibu Jevan yang sibuk mengiris bawang. “Ini, saya buat ayam bakar tadi,” ujarnya pelan.
Ibu Jevan berhenti mengiris bawang. Dia mencuci tangannya di wastafel, dan membuka wadah ayam bakar itu. Bau ayam bakar yang terlihat lezat itu, membuat wanita itu menatap Ara.
“Masak atau beli?”
“Masak, Tante. Nggak seenak di restoran, sih. Tapi, layak dimakan, kok, Tante.”
Ibu Jevan terkekeh pelan mendengarnya. “Yaudah, kamu masuk sini. Bantuin saya masak.”
Ara mengangguk dengan semangat, dan berjalan memasuki dapur. “Saya bantu apa, Tante?”
“Bantu potong sayuran aja.”
Ara mencuci tangannya, dan mulai memotong sayuran yang ada di sana. Tanpa gadis itu sadari, ibu Jevan memerhatikannya sedari tadi. Bahkan, wanita itu diam-diam sudah menyuruh pembantunya untuk meninggalkan mereka berdua.
“Ayah kamu meninggal waktu kamu usia berapa?”
Ara diam, dan menatap ke arah ibu Jevan di sampingnya. “Waktu saya masih sekolah, Tante,” jawabnya pelan.
“Dan setelah itu kondisi ekonomi keluarga kamu hancur?”
Perlahan, gadis itu mengangguk. “Iya.”
“Ibu kamu kerja keras, dan akhirnya sakit. Kamu kerja, tapi masih belum bisa bayar uang rumah sakit. Kamu akhirnya ketemu Jevan, dan nasib kamu berakhir seperti sekarang, begitu?”
Ara kembali mengangguk. “Iya, Tante.”
“Saya juga pernah mengalami hal yang sama dengan kamu.”
“Ya?” Ara menoleh terkejut.
Ibu Jevan menghentikan kegiatannya, dia menatap ke arah Ara yang juga tengah menatapnya.
“Saya waktu remaja, juga mengalami hal yang tidak jauh berbeda dengan kamu. Saya yatim piatu. Ibu saya meninggal waktu melahirkan saya, lalu di saat saya masih duduk di bangku SMP, Ayah saya meninggal. Hidup saya berantakan. Sampai suatu hari, saya bertemu dengan Ayahnya Jevan yang saat itu sudah berkuliah. Kami mengenal dengan baik. Dia membantu membiayai sekolah saya. Sama seperti Jevan. Tapi, yang membedakan kami tidak melewati batas.”
Kali ini Ara menunduk, karena merasa malu atas kalimat terakhir yang diucapkan oleh ibu Jevan.
“Dan Ayahnya Jevan tidak seburuk anaknya saat ini.”
Ara menatap ke arah ibu Jevan lagi.
“Dia benar-benar menjaga saya. Sampai saat saya lulus SMA, dia bilang ingin menikahi saya. Karena saya tidak punya apa-apa, tidak punya keluarga juga. Jadi, saya mau, dan kami berakhir seperti sekarang.” Ibu Jevan menatap Ara sembari tersenyum tipis.
“Arana,” panggilnya.
“Ya?”
“Kamu harus bahagia. Kamu harus bisa membuktikan kalau anak seperti kita, tidak boleh dipandang rendah. Menikahlah dengan Jevan.”
Bagaimana ini? Ara mau menikah dengan Jevan. Tapi, lelaki itu belum siap untuk itu. Lagi pula, dia dan Jevan ke mari, untuk mengatakan masalah pernikahan itu, bukannya malah mempercepat.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-