Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 6



“Siapa laki-laki tadi?”


“Dokter Sean maksud kamu?”


“Jangan pernah menyebut nama lelaki lain saat denganku, Ara.”


“Maaf. Terus aku panggil siapa, dong?”


“Terserah.”


Ara mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban yang Jevan berikan. “Dia itu bagian dari perusahaan. Dia dokter di klinik.”


“Kenapa kamu bisa dekat dengan dia?”


“Aku nggak dekat, kok. Aku aja baru tahu dia juga kerja di sini. Dulu dia dokter yang meriksa Ibu waktu di rumah sakit lama.”


Jevan diam mendengarkan. Sekilas, tidak ada yang menarik dari pejelasan Ara tentang siapa itu Sean. Tapi, kenapa rasanya Jevan tetap belum tenang? Dia dan Sean sama-sama lelaki. Dia tahu Sean menyukai Ara. Semua tergambar jelas dalam pandangan yang diberikan Sean kepada Ara.


“Jangan dekat-dekat dengan dia.”


“Kenapa?” Ara melontarkan protesnya.


“Aku nggak mau dibantah, Ara.”


Ara akhirnya mengalah. Gadis itu menjawab dengan anggukan. Jevan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Ara. Sampai kapan pun, Jevan tidak akan rela membagi Ara dengan lelaki mana pun.


“Sekarang tidur. Nanti kalau udah jam pulang, aku bangunin.”


Sekali lagi, Ara hanya mengangguk. Dia mencari posisi ternyaman dalam pelukan Jevan dan mulai memejamkan kedua matanya.


 


***


Malam ini, Jevan dan Ara makan malam bersama. Akhir-akhir ini, dia lebih memilih memakan masakan Ara daripada masakan yang biasa dia pesan di salah satu restoran mewah kesukaannya.


Kenyataannya, makan malam dengan Ara sangat menyenangkan. Apalagi, ketika gadis itu terus memperhatikan Jevan yang tengah lahap memakan masakannya. Jevan merasa Ara sudah benar-benar jatuh ke dalam pelukannya.


Selesai makan malam, Ara membantu Mbok Ijah mencuci piring dan membersihkan meja. Walau Jevan sudah melarangnya, tetap saja Ara melakukannya.


Ara terkesiap ketika merasakan seseorang melingkarkan tangannya di pinggangnya dengan erat. Dia sedikit menoleh, mengerucutkan bibirnya ketika melihat Jevan-lah yang melakukannya.


“Je,” panggil Ara pelan.


“Hmm....” Jevan hanya bergumam sambil menutup kedua matanya. Menumpukan kepalanya di atas kepala Ara.


“Ada Mbok Ijah,” bisik Ara pelan.


“Udah pergi.”


Ara menoleh ke arah meja makan yang tadi sempat dibersihkan Mbok Ijah. Ara mendesah lega. Mbok Ijah memang sudah tidak berada di sana. Wanita tua itu pasti sudah pergi saat Jevan datang.


“Lepas dulu.”


“Nggak.”


“Je, aku susah cuci piringnya.”


“Yang suruh kamu cuci piring siapa? Kan ada Mbok Ijah.”


“Mbok Ijah udah tua. Dia beresin rumah segede ini sendirian. Kasihan.”


Jevan mengembuskan napas pelan. Dia akhirnya melepaskan pelukannya pada pinggang Ara. Jevan mengambil kaleng soda di dalam kulkas, lalu duduk di salah satu kursi di meja makan. Mengamati Ara sambil meminum soda.


Gadis itu cantik. Dengan dandanan sederhananya yang selalu bisa mengusik Jevan. Seperti sekarang, Ara tengah mengenakan kaus kebesaran dan celana pendek di atas lutut. Hanya dengan penampilan seperti itu saja, gadis itu sudah menarik perhatian Jevan.


Namun kalau dipikir-pikir, Ara tidak pernah memiliki baju yang kelihatan pantas dikenakan menurut Jevan. Jevan berdecak begitu menyadari bahwa selama tinggal bersama dengan Ara, dirinya memang tidak pernah mengajak Ara keluar jalan-jalan atau berbelanja. Dia hanya mengurung Ara di rumah ini. Pergi bekerja pun hanya agar Jevan bisa melihat Ara kapan pun dia ingin. Jevan mengembuskan napasnya kasar. Sepertinya dia harus mengajak Ara jalan-jalan keluar dan berbelanja.


“Kamu melamun?”


Pertanyaan itu membuat Jevan sadar. Rupanya Ara telah menyelesaikan kegiatan cuci piringnya.


Tanpa suara, Jevan menarik Ara untuk duduk di pangkuannya. Walau terkejut, Ara akhirnya melingkarkan tangannya di leher Jevan. Dia menatap Jevan yang juga tengah menatapnya.


“Kenapa?”


Kening Ara mengernyit mendengarnya. “Ada, tapi nggak banyak. Memangnya kenapa?”


“Aku perhatikan, baju yang kamu pakai itu-itu aja.”


Ara meringis mendengarnya. Dia memang tidak terlalu memusingkan penampilan. Baginya, kesehatan sang ibu lebih utama dibandingkan dengan kain yang melekat di tubuhnya.


“Aku memang nggak punya banyak. Tapi semuanya masih layak pakai, kok. Nggak ada yang bolong-bolong.”


“Besok kita belanja.”


“Kamu?”


“Bukan aku, tapi kamu. Kita belanja baju buat kamu.”


“Nggak usah, Je. Baju aku—”


“Ara,” panggil Jevan dengan nada rendah. “Aku nggak mau dibantah.”


Ara akhirnya meletakkan kepalanya di perpotongan leher Jevan. “Terserah kamu.”


Lama mereka terdiam dengan posisi saling berpelukan itu, sebelum Ara kembali mengeluarkan suaranya dengan pelan.


“Je.”


“Hmm....”


“Besok setelah belanja, boleh aku jenguk Ibu?”


Ya. Sekarang, setiap kali Ara hendak pergi menjenguk ibunya di rumah sakit, dia akan terlebih dahulu meminta izin kepada Jevan. Sebenarnya dulu tidak seperti itu, tapi Jevan akhirnya berkata bahwa sebaiknya Ara meminta persetujuannya dulu. Karena, setiap kali Ara pulang setelah menjenguk sang ibu, gadis itu akan terlihat murung. Bahkan terlihat sedih sampai beberapa hari.


“Je,” panggil Ara lagi saat Jevan hanya diam.


“Nggak.”


“Nggak boleh?” tanya Ara sambil memandang Jevan dengan sedih.


“Bukan setelah belanja, tapi sebelum belanja. Aku ikut.”


“Kamu ikut?”


Jevan hanya mengangguk.


“Beneran, Je?” tanya Ara dengan senang.


“Kenapa kamu terlihat sesenang itu?”


Senyum mengembang di wajah Ara. “Dari dulu aku pengen banget bawa kamu ke Ibu. Aku pengen kasih tahu Ibu, wajah orang yang sudah menolong kami.”


Jevan tertegun melihatnya. Benarkah hal sesederhana itu membuat Ara sangat senang seperti sekarang? Lagi-lagi Jevan dibuat termenung dengan segala tingkah laku Ara yang dinilainya sangat sederhana. Meski begitu, gadis ini tetaplah begitu memukau di matanya.


Jevan membawa Ara ke dalam pelukannya. Tangannya tergerak untuk mengusap kepala Ara dengan sayang.


“Untuk seterusnya, kapan pun kamu mau pergi jenguk ibu kamu, kamu cukup bilang ke aku. Kita pergi bersama,” ujar Jevan.


Ara mengangguk senang dalam pelukan Jevan. “Terima kasih, Je.”


“Hmm....”


Ara menjatuhkan satu kecupan di pipi Jevan, yang membuat lelaki itu terkejut dengan sikap wanitanya. Dua kali. Ara dengan berani menyentuhnya lebih dulu. Sebelumnya, ketika di kantor pun Ara seperti ini. Ada apa dengan gadis di dalam pelukannya ini? Apakah Ara memang sengaja mau menggoda Jevan?


“Aku senang banget, Je. Semuanya berkat kamu. Terima kasih,”  bisik Ara lirih di telinga Jevan, yang membuat Jevan malah semakin bersemangat ingin menarik Ara ke kamar saja.


“Kamu menggodaku, Ara,” ujar Jevan dengan suara serak.


Ara mengangkat wajahnya menatap Jevan dan menatap lelaki itu dengan heran. “Menggoda? Aku nggak sedang menggoda kamu, Je,” ujarnya dengan bingung.


“Kamu menggodaku dan selamat, kamu berhasil.”


Jevan segera berdiri dan membawa serta tubuh Ara dalam gendongannya. Lihat saja, dia akan membawa wanitanya ini menuju kamar mereka.


Sedangkan Ara, gadis itu hanya menerima dengan pasrah apa yang akan dilakukan Jevan kepadanya. Anggap saja dia perempuan tidak tahu diri. Namun, Ara tidak pernah bisa melupakan bahwa Jevan-lah yang membantunya di tengah kesusahan yang dia alami. Entah apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka berdua nanti. Ara hanya ingin Jevan tahu bahwa dia senang bisa bertemu Jevan.


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-