
Setelah menyelesaikan urusannya dengan sang ibu, Jevan memilih kembali ke rumahnya. Walau kenyataannya hanya sebentar dia berada di rumah kedua orangtuanya, tetap saja rasanya dia sudah terlalu lama meninggalkan Ara.
Saat hendak berjalan ke arah kamarnya, Nicol yang berjalan menghampirinya sambil meminum cola, menghentikan langkahnya.
“Ara di mana?”
“Di kamar, sama Sarah. Dia nggak mau makan dari tadi, Je,” jelas Nicol.
Jevan membuang napas kasar. Dia sudah menduga hal itu akan terjadi.
“Ya udah, gue ke atas dulu.” Jevan kembali menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Nicol. “Lo nggak balik ke apartemen?”
“Lo ngusir gue?”
Jevan mengedikkam bahunya. “Keberadaan lo nggak dibutuhkan lagi di sini.”
“Sialan.”
Jevan tidak memedulikan itu, dia tetap melanjutkan langkah menuju kamarnya di lantai atas.
Sesampainya di depan kamar, Jevan kembali mengembuskan napas, sebelum membuka kenop pintu. Di samping ranjang, ada Sarah yang tengah memangku nampan berisi makanan dan minuman. Sedangkan Ara tengah duduk diam sambil bersandar di kepala ranjang. Pandangan gadis itu lurus ke depan.
Sarah bangkit dari duduknya, ketika melihat keberadaan Jevan. “Arana nggak mau makan dari pagi, Pak. Minum aja dia nggak mau.”
Jevan duduk di samping Ara, lalu dia beralih memandang Sarah. “Makanannya kamu taruh di meja. Sekalian kamu bilang ke Mbok Ijah, suruh buat susu aja untuk Ara.”
Sarah mengangguk. Setelahnya, gadis itu keluar dari kamar, dan meninggalkan Jevan dan Ara berdua.
“Ara,” panggil Jevan mencoba mencari perhatian gadis itu.
Perlahan, gadis itu menoleh. Pandangannya masih sama. Kosong, dan terkesan hampa. Jevan mengembuskan napas melihatnya. Tangannya yang besar menangkup wajah mungil Ara.
“Kenapa nggak mau makan?” tanyanya dengan lembut.
Ara hanya menggeleng sebagai jawaban.
“Kasihan Mbok Ijah udah masak buat kamu.”
“Aku masih nggak lapar.” Setelah sekian lama diam, Ara akhirnya mau membuka suaranya.
Jevan tersenyum tipis mendengarnya. “Kalau gitu, minum susu aja. Mau, ya?”
Ara masih diam dan memandang lurus ke arah Jevan. Setelahnya, gadis itu mengangguk pelan.
Jevan kembali tersenyum. “Ya udah, tunggu bentar, ya.”
Tidak beberapa lama kemudian, Sarah kembali datang ke dalam kamar sambil membawa segelas susu cokelat.
“Ini, Pak.”
Jevan menerimanya. “Makasih. Kamu boleh keluar.”
Sarah mengangguk, lalu keluar setelah melemparkan senyuman lebarnya kepada Ara.
“Nih, minum dulu.” Jevan membantu Ara meminum susu cokelat itu.
Ara meminumnya, tapi hanya sedikit. Hanya sekali teguk.
“Udah.”
Jevan ingin memaksa, tapi melihat keadaan gadis itu sekarang, membuatnya mengurungkan niatnya.
“Ya udah. Sekarang maunya apa?”
Lelaki itu terus saja mencoba mengajak Ara berbicara. Jevan hanya tidak ingin pikiran Ara kosong, yang malah mungkin berakibat gadis itu melakukan hal-hal buruk.
Ara kembali menggeleng pelan.
Jevan menarik tubuh Ara ke dalam pelukannya. Bibirnya memberikan kecupan di dahi gadis itu lama, setelahnya tangannya terus mengusap punggung gadis itu pelan.
“Nggak ada yang mau kehilangan, Ara. Apa lagi kehilangan orang tersayang,” bisiknya pelan. “Meski aku bukan orang yang taat agama, tapi aku percaya, Tuhan nggak akan pernah salah ketika dia memberikan takdir untuk umatnya.”
Bisa dirasakan Ara tengah menangis di dadanya. Jevan membiarkannya, daripada gadis itu terus diam, lebih baik dia menangis. Menangis memang tidak menyelesaikan masalah, tapi menangis membuat beban yang kita rasakan, sedikit berkurang.
“Aku memang nggak pernah merasakan apa yang kamu rasakan. Tapi, aku cuman perlu menegaskan lagi sama kamu, kalau kamu nggak sendirian, Ara. Ada aku yang akan selalu ada di samping kamu. Ada Sarah yang akan menjadi teman kamu. Ada Nicol juga yang terlihat peduli sama kamu. Kita semua di sini, Ara, sama kamu. Jangan pernah merasa sendirian lagi, ya?”
Masih sambil menangis, Ara mengangguk dalam pelukan Jevan. Gadis itu tidak mengeluarkan suaranya sama sekali, tapi pelukannya di badan Jevan mengerat.
Sementara di luar kamar yang ditempati oleh Jevan dan Ara, Sarah tengah menempelkan telinganya di pintu berbahan kayu jati itu. Gadis itu cukup penasaran apa yang dilakukan Jevan dan Ara jika sedang berdua. Dengan kata lainnya, Sarah penasaran bagaimana sikap Jevan jika hanya berdua dengan Ara.
“Kamu ngapain?”
“Pak Nicol kenapa, sih? Ngagetin saya aja,” dumelnya kesal.
Ya. Pemilik suara yang tidak lain adalah Nicol itu memandang Sarah acuh tak acuh. Dia ikut mendekatkan telinganya ke pintu.
“Kamu lagi dengerin suara-suara aneh, ya?”
“Aneh gimana?” tanya Sarah heran.
“Suara plus-plus.”
Langsung saja satu pukulan diberikan Sarah ke pundak Nicol. “Bapak harus banget bersihin otak. Dasar mesum!”
Bukannya tersinggung, Nicol malah terkekeh mendengarnya. “Habis kamu aneh. Ngapain coba nguping di kamarnya Jevan sama Ara? Kalau memang mau melakukan hal dewasa, sama saya aja. Saya siap, kok.”
“Bapak gila?!” seru Sarah marah.
Nicol kembali terkekeh. Tangannya tergerak mengacak rambut Sarah gemas.
“Kamu ngapain tadi?” tanyanya lagi.
“Saya nguping,” jawabnya jujur.
“Kedengaran apa?”
“Nggak kedengaran apa-apa.”
Nicol kembali terkekeh mendengar jawaban gadis di depannya itu. Kenapa dia sangat lucu?
Pintu terbuka, membuat keduanya terkejut. Jevan keluar kamar, dan menatap heran kepada Sarah dan Nicol.
“Kalian ngapain?” tanyanya setelah menutup pintu kamarnya.
“Sarah nguping.”
Sarah memelotot tidak terima kepada Nicol. Dia buru-buru memandang Jevan sambil menggeleng pelan.
“Bohong, Pak. Saya enggak-”
“Dosa. Masuk neraka,” kata Nicol sambil memandang ke arah lain.
Sarah memberengut sebal mendengarnya.
Ekhem.
Dehaman Jevan membuat Sarah kembali memandang ke arah bosnya itu. Gadis itu menampilkan cengirannya.
“Kamu nguping saya?” tanya Jevan sambil memandang Sarah heran.
“Nggak sengaja, Pak.”
Jevan berdecak mendengarnya. “Ara tidur. Saya mau makan dulu. Kamu udah makan?”
“Belum, Pak.” Sarah menggeleng dengan cepat.
“Ya sudah, ayo makan bersama.”
Jevan hendak melangkah turun, tapi cekalan tangan Nicol di lengannya membuatnya berhenti.
“Ada apa?” tanya Jevan heran.
“Lo nggak lagi suka sama Sarah, kan?” tanya lelaki itu sambil menatap Jevan dengan menyelidik.
Sarah melongo mendengarnya. Dia menatap Jevan penuh tanya. Jevan berdecak melihat kedua pasangan menyebalkan di depannya ini.
Dia menoleh ke arah Sarah. “Kamu nggak berpikir saya akan membenarkan pertanyaan Nicol, kan?”
Sarah hanya tersenyum lebar.
Jevan berdecak mendengarnya. “Bahkan dalam mimpi pun, saya nggak akan suka sama kamu!” ketusnya.
Sarah memberengut mendengarnya. Sedangkan diam-diam Nicol menghela napas lega mendengarnya. Dia hanya tidak mau terjadi perselisihan di antara dirinya dan Jevan.
Jevan berdecak melihat tingkah keduanya. “Nic, gue ngajak Sarah makan, sebagai bentuk terima kasih gue buat dia. Ara nggak punya teman dekat, dan dari yang gue amati, Sarah akhir-akhir ini dekat sama dia. Cuman itu doang. Lagi pula, kalau emang lo suka sama Sarah, bilang aja. Nggak usah berlebihan dengan alasan belum bisa bilang itu. Lo cowok, kan? Gentle, dong.” Setelahnya, Jevan berjalan menuruni tangga, untuk pergi ke arah dapur. Lelaki itu mengabaikan Sarah dan Nicol yang masih terperangah mendengar perkataannya.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-