
Malam ini Ara tengah membantu Mbok Ijah mempersiapkan makan malam. Jevan belum pulang kerja, lelaki itu mengatakan bahwa ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini juga.
Saat Ara tengah fokus pada ayam kecap di depannya, tiba-tiba saja sebuah tangan melingkar di perutnya. Ara tidak lagi terkejut mendapati perlakuan barusan. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Jevan? Dia sering kali memeluk Ara secara tiba-tiba ketika Ara sedang memasak di dapur. Seperti sekarang.
“Kamu pasti capek, aku masak ayam kecap. Kamu mandi aja dulu, dikit lagi matang, kok,” kata Ara.
“Hmm,” Jevan hanya bergumam menjawab perkataan Ara.
Ara melepas pelukan Jevan di perutnya dengan sedikit memaksa. Dia meraih sendok dan mengambil sedikit masakannya, lalu meniupnya pelan sebelum mengarahkan sendok itu ke mulut Jevan.
“Cobain, deh,” ujar Ara.
Jevan menurut sambil membuka mulutnya, menerima suapan Ara. Setelahnya, lelaki itu mengangguk.
“Enak?” tanya Ara memastikan.
“Iya.”
Ara tersenyum puas dan kembali memandang ayam kecap yang dia masak, mengaduknya sekali sebelum mematikan kompor dan kembali memandang Jevan yang belum beranjak dari tempatnya berdiri dari tadi.
“Kenapa masih di sini?”
“Nunggu kamu.” Jawaban yang Jevan berikan, membuat Ara tersenyum tipis.
“Yaudah kamu ke kamar duluan, aku mau panggil Mbok Ijah buat siapin makan malam.”
Jevan mengangguk dan berjalan ke kamar yang dia tempati dengan Ara. Sesampainya di dalam kamar, Jevan hanya duduk diam di ranjang, menunggu kedatangan Ara.
Tidak lama kemudian, Ara datang, mengernyitkan kening melihat Jevan yang masih duduk diam. Ara menghampiri Jevan dan mengusap bahu lelaki itu pelan.
“Kamu kenapa? Ada masalah?”
Jevan menatap Ara lurus, sebelum akhirnya menarik tubuh gadis itu untuk jatuh ke pangkuannya. Ara melingkarkan tangannya di leher lelaki itu.
“Aku lelah, Ara,” ujar Jevan sambil meletakkan kepalanya di leher Ara.
“Ada masalah di kantor?” tanya Ara sambil mengusap pelan rambut hitam dan tebal milik Jevan.
“Tidak ada masalah serius, tapi aku merasa jenuh.”
Tangan Ara tidak berhenti mengusap rambut Jevan dengan sayang. Dia memang tidak pernah merasakan apa yang Jevan rasakan. Namun, Ara bisa mengerti kejenuhan Jevan. Menghadap komputer dan kertas-kertas di ruangan tertutup setiap harinya pasti membosankan.
“Coba lihat pekerjaan kamu sebagai sesuatu yang kamu senangi, bukan sesuatu yang memaksa kamu untuk terus menjalaninya. Karena saat kita melakukan sesuatu yang kita senangi, waktu rasanya cepat berlalu, Je.”
“Hmm, aku nggak menganggap pekerjaanku sebagai beban. Hanya saja, kadang aku ingin seperti orang-orang yang bisa bekerja di rumah dengan santai.”
“Setiap orang pasti merasa bosan, Je. Itu hal wajar. Kamu hanya perlu istirahat beberapa hari, lalu semangat kamu untuk bekerja pasti akan kembali. Sekarang, kamu mandi, makan dan istirahat. Supaya besok badan kamu siap lagi untuk bekerja.”
Kali ini Jevan menjauhkan wajahnya dari leher Ara. Dia memandang Ara lurus.
“Temani aku mandi,” katanya.
“Tapi, aku udah mandi.”
Ara mengembuskan napasnya saat Jevan memberikan tatapan tajamnya, seperti tadi saat Ara bersama dengan Sean.
“Oke.”
***
Satu jam kemudian, Jevan dan Ara sudah berada di meja makan dengan masakan yang tadi Ara masak. Jevan menatap Ara yang tampak memakan makanannya dengan lahap. Sepertinya gadis itu sangat lapar.
“Aku nggak suka kamu dekat-dekat sama dokter di klinik itu,” kata Jevan yang membuat Ara menghentikan sendok yang akan masuk ke dalam mulutnya.
“Dokter Sean?” tanya Ara memastikan.
“Dan aku nggak suka dengar kamu sebut nama dia.” Jevan memberikan tatapan tajamnya kepada Ara. “Harus berapa kali, aku ingatkan kamu itu?”
“Maaf, Je,” jawab Ara sambil menunduk.
“Kenapa juga kamu harus makan siang dengan dia? Kalau Nicol tidak memberitahu aku, kamu pasti hanya akan berdua dengan dia. Iya, kan?”
Setelah hampir dua bulan tinggal bersama dengan Jevan, Ara memahami beberapa hal tentang lelaki itu. Salah satunya adalah ini, memilih diam ketika Jevan sibuk mengeluarkan amarahnya. Karena setelah Ara perhatikan, diamnya akan membuat amarah Jevan surut.
Jevan berdecak sinis di tempat dia duduk. “Apa tadi dia bilang? Aku lupa sama kamu? Bagaimana bisa lupa, kalau setiap hari kita tidur bersama? Dia tidak tampan dan tidak ada apa-apanya dibanding dengan diriku, Ara. Jadi, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku dan lebih memilih bersama dia. Kamu mengerti?”
Ara, yang sedari tadi tengah menatap makanan di piringnya dengan lapar, hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah menunggu beberapa menit dan Jevan tidak lagi mengeluarkan amarahnya, Ara mulai kembali meraih sendok dan memakan makanannya.
“Aku hampir lupa sesuatu.”
Ara menatap Jevan yang sudah selesai makannya.
“Kapan hari aku sudah sempat bilang. Besok aku nggak akan pulang, aku harus ke rumah Ayah.”
Entah mengapa, topik itu selalu membuat Ara dilanda perasaan tidak suka. Bukan karena Ara tidak suka Jevan bertemu dengan keluarganya, melainkan lebih karena hal lain. Tapi, Ara sendiri tidak tahu apa itu.
Ara mengangguk. “Kamu mau aku siapin baju ganti buat di sana?”
Jevan menggeleng. “Baju aku banyak di sana.”
Ara kembali melanjutkan makannya yang tersisa sedikit. Jevan terus saja memperhatikan cara Ara makan. Gadis itu memang sederhana. Namun, kesederhanaan yang dia perlihatkan justru membuat Jevan tidak bisa lepas darinya.
Jujur saja, Jevan merasa berat untuk berpisah dengan Ara, meski itu hanya dua hari dan mereka masih di kota yang sama. Namun, tetap saja Jevan merasa seakan tidak rela meninggalkan Ara begitu saja.
“Besok kamu jangan ke mana-mana. Kalau pun harus pergi, pastikan kamu menghubungi aku lebih dulu.”
“Iya,” jawab Ara pelan.
“Kamu sudah selesai?”
Ara mengalihkan pandangannya ke arah Jevan. “Memangnya kenapa?”
“Aku lelah, aku ingin tidur sambil memeluk kamu.”
Pipi Ara merona mendengarnya. Sering kali, ucapan jujur Jevan membuat perasaan Ara berbunga-bunga. Ara rasa dia mulai menyukai Jevan.
“Sudah,” kata Ara pelan setelah dia menghabiskan air putih di dalam gelasnya.
“Ya sudah, ayo.” Jevan berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Ara duduk. Lelaki itu mengambil tangan Ara dan menggenggamnya, lalu membawanya berjalan ke lantai atas, di mana kamar mereka berada.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-