Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 37



Ara tengah fokus pada pekerjaannya. Setelah membersihkan ruangan tempat para karyawan membicarakannya tadi, gadis itu beralih membersihkan kaca di lobi utama. Meski, rasanya Ara sudah tidak bersemangat melakukan apa pun. Tapi, ini tetap pekerjaan yang harus dia lakukan.


Ara masih membersihkan kaca di depannya tanpa semangat, sebelum seseorang meraih alat pembersih kacanya dengan kasar, yang membuat dirinya terkejut. Gadis itu menoleh dan menemukan Jevan yang tengah berdiri di depannya dengan ekspresi marah.


Ada apa dengan lelaki itu? Apakah Ara melakukan kesalahan lagi? Atau, apa mungkin Jevan mengetahui masalahnya dengan Sean tadi?


“Pak Jevan? Ada yang bisa saya bantu?” Ara masih ingat bahwa dia harus bersikap profesional sekarang. Banyak karyawan yang lewat dan memandang heran ke arahnya dan Jevan.


“Kita pulang. Ambil tas kamu sekarang,” kata Jevan marah, yang membuat Ara terkejut. Apalagi, kini lelaki itu menyeret Ara untuk menuju ruangan khusus petugas kebersihan.


Ara berjalan terseok-seok di belakang Jevan. Gadis itu mencoba melepaskan cekalan tangan Jevan di lengannya. Dia masih tahu tempat. Gosip akan semakin menyebar tentangnya. Ara tidak mau telinganya mendengar hal lebih menyakitkan dari tadi.


“Pak!” Gadis itu berseru keras sambil melepaskan cekalan tangan Jevan dengan kasar. Untuk sesaat, Ara lupa siapa yang tengah dia hadapi. Dia menatap marah kepada Jevan yang berdiri di depannya. Saat Jevan memberinya tatapan tajam memperingatkan, Ara mengembuskan napas pelan dan menunduk.


“Maaf. Tapi, saya terkejut Pak Jevan tiba-tiba memperlakukan saya seperti ini. Jam kerja saya masih ada setelah ini.” Ara berusaha menjelaskan apa yang dia mau.


“Ikut aku pulang sekarang,” ujar Jevan tegas.


Bahkan beberapa karyawan yang mendengar itu terkejut di tempatnya. Mereka semakin yakin dengan gosip yang beredar, bahwa Ara, sang gadis OG, tengah menjalin hubungan dengan pemimpin tertinggi perusahaan mereka.


“Pak—”


“Jangan buat aku lebih marah dari sekarang, Ara,” sela Jevan cepat, menghentikan kalimat yang akan Ara ucapkan. Dia sudah cukup dibuat emosi oleh keempat karyawan bodoh tadi. Tidak lagi dengan Ara.


“Maaf, Pak. Tapi, saya masih mempunyai jam kerja.” Ara hendak berlalu dari sana, tapi lagi-lagi Jevan menahannya.


“Lepas, Pak.” Ara mencoba melepaskan cekalan tangan Jevan. Gadis itu tidak berani menatap langsung ke mata lelaki itu. Jujur saja, dia takut ketika melihat tatapan tajam yang lelaki itu berikan.


“Pak—”


“Arana!” sentak Jevan keras.


Ara sempat terkejut di tempatnya, sebelum dia melepaskan cekalan tangan Jevan dengan kasar, lalu kembali menatap lelaki itu dengan marah.


“Apa lagi, sih, Je?!” Ingatkan Ara, bahwa ini adalah kali pertama dia berteriak kepada Jevan. Apalagi, sekarang mereka sedang berada di tempat umum. “Aku capek,” ujarnya pelan dengan mata yang sudah memerah, menahan tangis. “Dari pagi aku kerja. Tapi, apa masih harus aku dengar mereka ngomongin aku?” tanyanya lelah, mengusap kasar air mata yang meluruh di pipinya. “Nggak apa-apa mereka ngomongin aku. Tapi, seenggaknya jangan ada aku. Mereka pikir, karena aku kerjanya cuman jadi OG, aku nggak punya hati? Aku punya hati, Je. Aku punya harga diri. Tapi, apa? Mereka ngomongin aku, tanpa tahu permasalahan apa yang aku alami!”


Beberapa karyawan sudah bergerumbul menyaksikan itu. Dugaan mereka tidak salah. Jevan dan Arana memiliki hubungan. Tapi, jika memang begitu, bagaimana dengan kabar pertunangan Jevan dan Natasya? Siapakah yang menjadi orang ketiga sebenarnya? Arana, atau Natasya?


Sedangkan Jevan sendiri termenung di tempatnya. Dia mengepalkan kedua tangan yang berada di sisinya. Hal yang paling tidak Jevan sukai adalah melihat Ara menangis. Tapi, kali ini Jevan malah harus melihat gadis itu kembali menangis gara-gara orang-orang tidak berguna seperti mantan karyawannya.


Jevan memandang Ara lurus. Ada apa juga dengan hatinya? Melihat Ara yang berdiri dan menatapnya dengan terluka, membuat hatinya berdesir tidak nyaman. Jevan mengumpat di dalam hati. Orang yang sudah membuat Ara-nya seperti sekarang, pantas mendapatkan hal lebih menyakitkan dari yang Ara rasakan.


“Aku bahkan nggak kenal mereka. Aku nggak pernah gangguin mereka. Tapi, kenapa mereka bisa sejahat itu sama aku? Kalau pun yang mereka katakan memang benar, lalu apa masalahnya sama mereka? Aku juga nggak merugikan mereka.”


Ara menangis di depan Jevan. Bukan hanya di depan Jevan, melainkan juga di depan seluruh karyawan yang kebetulan menyaksikan kejadian itu. Ara seakan tidak peduli bagaimana dia menempatkan diri setelah kejadian ini. Artis saja banyak yang melapor kepada polisi karena komentar jahat yang mereka terima lewat sosial media, lalu tidak bolehkah Ara bertingkah seperti sekarang, di saat telinganya mendengar secara langsung bagaimana beberapa orang menghinanya?


“Aku capek, Je. Aku—”


“Je.” Ara tidak bisa mengatakan apa pun setelah Jevan menjauhkan bibirnya dari bibir Ara.


“Maaf, karena belum bisa menjaga kamu dengan baik. Sekarang kita pulang, ya.” Jevan berucap begitu lembut, sambil meraih tubuh Ara ke dalam gendongannya.


Sedangkan Ara sendiri hanya diam. Tubuhnya kaku, dan mendadak tidak bisa digerakkan. Memang, mereka sering melakukan hal yang lebih dari sekadar menempelkan bibir. Tapi, kali ini situasinya berbeda. Mereka melakukan hal itu ketika hanya berdua. Meski begitu, hari ini Jevan melakukannya di antara banyaknya pegawai yang melihat.


***


 


 


Ara sesekali melirik Jevan yang berada di sampingnya. Mereka kini tengah berada di dalam mobil yang akan membawa keduanya pulang ke rumah. Baik Jevan atau Ara, mereka kompak diam dan tak bersuara setelah kejadian tadi.


Ara berpikir, mungkinkah Jevan terluka dan menyesal karena telah melakukan itu di depan karyawannya tadi? Mungkinkah Jevan akan marah kepadanya, karena telah secara tidak langsung telah mengakui hubungan mereka di depan umum?


Jika memang begitu, artinya Ara harus meminta maaf, bukan? Dia masih membutuhkan Jevan. Selain untuk biaya perawatan ibunya, Ara juga mulai menyukai setiap detik kedekatan yang terjalin di antara mereka.


“Je,” panggil Ara pelan, setelah dia berhasil mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya.


“Hmm,” Jevan hanya menyahut dengan dehaman. Lelaki itu bahkan tidak menoleh menatap ke arah Ara.


“Kamu menyesal?”


Kali ini Ara berhasil membuat Jevan menoleh ke arahnya. Mata lelaki itu menyorot tajam kepada Ara.


“Menyesal? Karena apa?” tanyanya.


“Kejadian tadi. Kalau memang begitu, aku minta maaf, Je. Aku nggak bermaksud kayak gitu. Aku tadi marah. Aku—”


“Jadi, kamu merasa aku menyesal karena kita sudah melakukan tadi? Kamu menyesal karena kita secara tidak langsung sudah memberitahu mereka tentang hubungan kita, begitu?”


Ara kembali diam begitu melihat tatapan tajam Jevan yang menyorot ke arahnya.


“Jawab pertanyaanku, Ara,” ujar Jevan tegas.


Perlahan, Ara mulai menatap tepat ke arah tatapan lelaki itu. “Habisnya kamu dari tadi diam aja. Aku pikir kamu memang menyesal.”


Jevan mengembuskan napasnya kasar. “Aku diam bukan berarti menyesal, Ara. Aku sedang memikirkan cara bagaimana membuat mereka yang menghina kamu mendapatkan balasan yang setimpal, atau mungkin lebih.”


“Jangan, Je.”


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-