
Sambungan telepon Ara dan Nicol terputus, tepat saat Jevan menuruni tangga. Jadi, lelaki itu bisa melihat kalau Ara baru saja selesai bertelepon-an dengan seseorang.
Jevan melangkah mendekat, dan duduk di depan Ara. Seandainya hubungannya dan Ara baik-baik saja. Dia pasti sudah bertanya dengan siapa Ara bertelepon tadi, karena dia selalu dibuat penasaran dengan Ara.
“Kamu mau minum apa? Teh atau kopi?” tanya Ara sambil bangkit berdiri, hendak menuju ke dapur.
“Teh. Tanpa gula.”
Ara mengangguk, dan segera berlalu ke dapur, meninggalkan ponselnya di meja makan, yang membuat Jevan melihat ponsel itu dengan lurus. Tangannya benar-benar ingin meraih ponsel itu, dan memeriksa dengan siapa Ara bertelepon barusan. Tapi, sayangnya Jevan tidak bisa melakukan itu.
“Ini,” kata Ara sambil meletakkan teh dengan asap yang masih mengepul di depan Jevan. “Mau makan lauk apa?”
“Apa aja.”
Ara kembali mengangguk, tanpa suara gadis itu mengambilkan makanan untuk Jevan. Di pikirannya berputar-putar, bagaimana cara untuk memulai pembicaraan dengan Jevan mengenai pernikahan.
“Ini.” Setelah selesai mengambilkan makanan untuk Jevan, Ara memutari meja untuk kembali duduk di kursinya. Dia juga mengambil makanan untuknya, dan keduanya makan dalam diam.
Ara benar-benar fokus dengan makanan di piringnya. Bahkan gadis itu mengabaikan Jevan yang sesekali kedapatan mencuri pandang ke arahnya.
Selesai makan malam, Ara masih betah dengan diamnya. Hal itu justru membuat Jevan bertanya-tanya. Ada apa dengan gadis itu? Biasanya Ara akan selalu mengajaknya bicara, meski Jevan sering kali mengabaikannya. Tapi, malam ini, setelah menerima telepon, kenapa mendadak gadis itu berbeda?
“Aku tunggu di kamar. Ada yang perlu aku bicarakan sama kamu,” kata Jevan saat Ara tengah membereskan sisa makan malam mereka bersama Mbok Ijah.
“Iya,” jawab gadis itu sambil mengangguk, dan menyunggingkan senyuman tipis untuk lelaki itu.
Jevan mendengus melihatnya. Dengan langkah lebarnya, lelaki itu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Dia kesal. Karena Ara terlihat sedang mendiamkannya.
Sedangkan Ara, setelah kepergian Jevan duduk kembali di salah satu kursi. Dia benar-benar bingung bagaimana cara memulai pembicaraan, dan tidak membuat Jevan marah.
“Mbak Ara sakit?” tanya Mbok Ijah yang melihat Ara lebih banyak diam sedari tadi.
“Enggak, kok, Mbok,” jawab Ara sambil menggeleng. “Mbok bisa terusin ini? Aku mau nyusul Jevan ke kamar.”
“Iya, silakan, Mbak.”
Saat membuka pintu kamar, Ara bisa melihat Jevan yang tengah tengkurap di ranjang sambil bermain ponsel. Lelaki itu terlihat tidak peduli dengan kehadirannya. Jadi, Ara lebih memilih memasuki kamar mandi, dan membersihkan dirinya lebih dulu.
Beberapa menit setelahnya, Ara keluar dari kamar, dan melihat Jevan yang kini sudah duduk dan bersandar di kepala ranjang. Matanya menyorot tajam kepada Ara yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Aku mau bicara sama kamu.”
Ara mengangguk, dan berjalan ke sisi lain di samping Jevan, lalu duduk di sana.
“Apa?” tanyanya.
“Sabtu besok Ibu nyuruh kita ke rumah.”
Ara mengangguk. “Ada acara?”
Jevan memandang Ara lurus. “Masalah pernikahan,” katanya ketus.
Ara diam mendengarnya. Jika ini terus dibiarkan, Jevan bisa benar-benar menjauh darinya., dan Ara tidak menyukai itu.
Sekarang saja, setelah mengatakan itu, lelaki itu tidur sambil membelakanginya. Ara bingung sambil memandang punggung tegap Jevan. Perlahan, tangannya menyentuh pelan bahu lelaki itu.
“Je, sebenarnya aku juga ada yang mau dibicarakan sama kamu,” ujarnya pelan.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya, mengatakan kepada dirinya sendiri untuk tidak takut, dan harus mengatakan ini.
“Masalah Ibu kamu, dan tentang pernikahan kita.”
Jevan bangkit duduk mendengarnya. “Katakan, ada apa?” suruhnya.
Ara menatap Jevan. “Kamu nggak mau pernikahan itu dilaksanakan, kan?” tanyanya memastikan.
Sedangkan Jevan tampak terkejut mendengarnya, tapi lelaki itu buru-buru menyembunyikannya. “Kenapa kamu ngomong gitu?”
“Terus apa kalau bukan itu? Kamu nggak mau menikah sama aku?”
Raut wajah tidak suka, Jevan tunjukkan kepada Ara. “Kenapa jadi ke sana?! Siapa yang ngerecokin kamu?”
“Je, aku nggak akan tahu, kalau kamu nggak bilang apa-apa,” kata Ara sambil memberanikan diri menggenggam tangan Jevan, dan membawanya ke pangkuannya.
“Kamu nggak mau pernikahan itu terjadi, atau kamu nggak mau menikah sama aku?” tanya gadis itu lagi.
Jevan menatap Ara lurus, sebelum mengembuskan napasnya kasar. “Aku nggak tahu, Ara,” ujarnya jujur. “Aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan sama kamu.” Dia terlihat frustasi, dan akhirnya Jevan menunjukkan perasaan yang sesungguhnya kepada Ara.
“Aku belum siap menikah,” ujarnya sambil balik menggenggam erat tangan Ara. “Aku takut, Ara. Aku belum siap berkomitmen. Aku belum siap menjadi suami, atau nantinya akan menjadi ayah. Aku belum memikirkan semua itu.”
Ara diam mendengarnya, tangannya mengusap lembut pipi Jevan, yang membuat lelaki itu terpejam untuk sesaat.
“Kalau memang itu yang terjadi, harusnya kamu bilang, Je. Kita bisa cari jalan keluarnya sama-sama. Jangan cuman diam aja. Aku nggak akan tahu apa yang kamu rasakan, kalau kamu cuman diam.”
Jevan membuka matanya, dia menatap Ara penuh penyesalan. Tangannya mengusap kepala Ara lembut. “Maaf, aku bikin kamu bingung beberapa hari ini,” bisiknya pelan.
Ara menggeleng sambil tersenyum. “Nggak apa-apa, aku senang kamu bisa jujur sama aku sekarang. Sabtu besok, kita akan coba kasih pengertian ke Ibu kamu sama-sama, ya. Kita bilang, kalau kamu belum siap. Aku yakin, Ibu kamu pasti bisa ngerti itu.”
Jevan membalas senyuman Ara, dan mengangguk. “Iya.” Lelaki itu merebahkan kepalanya di pangkuan Ara, yang membuat gadis itu mengusap rambut Jevan lembut.
Kenapa rasanya hatinya tetap tidak tenang. Bahkan setelah gadis itu tahu kejujurannya, Jevan tetap tidak tenang. Ada apa? Bukannya masalah sebentar lagi akan selesai? Sabtu besok dia dan Ara akan membicarakan pernikahan dengan Ibunya. Meminta pengertian sang ibu untuk tidak mempercepat pernikahan mereka. Lalu, kenapa hati Jevan masih tidak tenang.
Jevan mencoba tidak memedulikan itu. Dia terus menikmati usapan Ara di rambutnya. Seolah tersadar akan sesuatu, Jevan membuka kembali matanya yang sempat terpejam tadi.
“Aku mau lihat hp kamu,” ujarnya saat mengingat seseorang yang menghubungi Ara tadi.
“Hp? Buat apa?” tanya Ara heran.
“Nggak boleh?” tanya Jevan dengan pandangan menyelidik.
Ara menggeleng, dia meraih ponselnya yang dia letakkan di meja kecil di samping ranjang, lalu menyerahkannya kepada Jevan. “Tumben aja. Biasanya kamu nggak pernah lihat hpku,” ujarnya.
Jevan mengabaikan itu, dan mengotak-atik ponsel Ara. Setelahnya, dia memandang wajah Ara yang berada di atasnya.
“Kamu tadi telepon-an sama Nicol?”
Ara hanya mengangguk sebagai jawaban. “Mas Nicol yang kasih tahu aku, alasan kamu berubah. Kalau dia nggak bilang, aku mana bisa tahu. Aku kan bukan peramal, Je,” katanya sambil terkekeh pelan.
Sedangkan Jevan juga ikut terkekeh. Dia menertawakan dirinya sendiri. Jadi, tadi dia sedang curiga dengan Nicol? Sahabatnya sendiri. Jevan menggeleng pelan. Dia sudah mulai tidak waras, dan penyebabnya adalah gadis yang tengah mengusap lembut rambutnya itu.
***
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-