
Ara bangun pagi-pagi sekali. Dia cukup terkejut ketika terbangun di ranjang yang sama dengan Jevan. Sepertinya lelaki itu memindahkannya kemari semalam. Setelah mandi dan berganti pakaian, gadis itu hendak keluar dari kamar ketika suara serak milik Jevan bertanya kepadanya.
“Kamu mau ke mana?”
Ara menoleh dan menampilkan cengirannya. “Aku mau berangkat kerja.”
Jevan mengembuskan napasnya pelan. “Setelah kemarin pakai acara tidur di kamar Mbok Ijah, kamu sekarang mau berangkat kerja tanpa menunggu aku bangun?”
Ara menunduk. “Maaf,” gumamnya pelan.
Jevan bangun dari tidurnya, lelaki itu duduk sambil bersandar di kepala ranjang. “Sepagi ini? Mbok Ijah juga belum selesai masak sarapan.”
“Aku sarapan di kantor aja,” katanya pelan.
“Kenapa sarapan di kantor? Biasanya juga sarapan di rumah?”
“Nggak apa-apa.” Ara lagi-lagi hanya menampilkan cengirannya. Semoga saja Jevan tidak tahu bahwa dirinya sekarang sedang berbohong.
Jevan memandang Ara penuh selidik. “Kamu tunggu aku di meja makan. Kita sarapan bersama.” Jevan hendak berjalan ke arah kamar mandi, sebelum Ara kembali menghentikannya.
“Ada ayah kamu,” cicitnya pelan.
Jevan mengembuskan napasnya pelan. “Memangnya kenapa kalau ada ayahku? Dia nggak akan keberatan dengan keberadaan kamu. Sekarang, jangan banyak bicara dan tunggu aku di meja makan.”
Dengan bibir dikerucutkan, Ara hanya menatap tubuh Jevan yang hilang dari pandangannya. Dia takut dengan ayah Jevan, tapi sepertinya lelaki itu biasa saja. Dia bahkan tidur bersamanya semalam, tidak takut kalau-kalau ayahnya akan melihat mereka berdua tidur sekamar.
Ara duduk dengan kikuk di meja makan. Di depannya, ayah Jevan tengah duduk dengan santainya, sementara Jevan belum juga datang. Ara ingin menangis rasanya, dia sekarang benar-benar takut.
“Pagi, Yah.”
Ara mendesah lega di dalam hati ketika melihat kedatangan Jevan. Lelaki itu memilih duduk di sampingnya, yang membuat Ara bertambah lega dibuatnya.
“Pagi,” balas ayah Jevan sambil terus membaca koran di tangannya.
“Silakan, Tuan.” Mbok Ijah datang sambil menyajikan menu sarapan mereka.
Ayah Jevan mulai melipat korannya, dan mengambil nasi goreng yang ada di meja. Sedangkan Ara lagi-lagi hanya diam, merasa takut dan bingung.
“Ara,” panggil Jevan yang membuat Ara menoleh ke arahnya.
“Apa?” tanya Ara.
“Kamu nggak mau ambilin aku sarapan?”
“Oh, iya.” Ara segera meraih piring dengan cepat dan mengambilkan nasi goreng untuk Jevan.
“Kamu nggak makan?” tanya Jevan saat Ara kembali diam setelah mengambilkannya.
“Makan,” jawab Ara pelan sambil meraih piring dan mulai mengisinya dengan nasi goreng.
Sedari tadi gadis itu tidak berani bertatapan langsung dengan ayah Jevan. Sedangkan ayah Jevan yang menyaksikan itu hanya mengulum senyum tipis. Gadis di depannya ini benar-benar lucu.
“Dikit banget?”
Ara kembali menoleh ke arah Jevan. Gadis itu meringis pelan. “Ini udah banyak, kok, Je.”
Jevan berdecak dan mulai mengambilkan nasi goreng ke piring Ara. “Makan yang banyak, aku nggak mau lihat kamu pingsan lagi.”
Ayah Jevan menatap dalam diam. Sudah lama dia tidak melihat Jevan memperhatikan seseorang seperti itu. Padahal, anaknya itu terlihat dingin dan tak tersentuh setelah batalnya acara penikahannya beberapa waktu lalu.
Jika memang gadis sederhana di depannya ini mampu mengembalikan Jevan menjadi seperti dulu, ayah Jevan pun akan membantu sang anak untuk memperoleh restu dari istrinya. Meski, risikonya dia dan sang istri akan bertengkar. Itu tidak masalah. Asalkan di masa tuanya ini, dia bisa melihat anak satu-satunya berbahagia dengan orang yang dia sayangi.
***
Kini Ara sudah berada di kantor tempatnya bekerja. Gadis itu seperti merasa terbebas dari kurungan ketika sudah bisa keluar dari rumah Jevan. Dia tidak berbohong ketika mengatakan bahwa dia takut dengan ayah Jevan.
“Pagi, Mbak Ara.”
Ara menoleh dan menemukan Adi yang tengah berjalan ke arahnya sambil tersenyum. Ara ikut tersenyum, sebelum membalas sapaan Adi.
“Pagi juga. Kamu baru sampai?”
“Iya, nih, Mbak. Nanti Mbak Ara beresin ruangan apa?” Keduanya kini berjalan berdampingan menuju ruangan khusus petugas kebersihan.
Tanpa keduanya sadari, Jevan melihat kejadian itu. Lelaki itu tersenyum sinis melihat bagaimana Adi berusaha mendekati Ara. Jevan tidak bodoh, dia jelas tahu bahwa bocah itu menyukai Ara-nya. Adi terlihat berusaha mendekati Ara, dan Jevan tentu saja tidak akan membiarkannya. Dan sepertinya dia pun juga harus memberikan hukuman kepada Ara. Kenapa gadis itu bersikap ramah kepada lelaki lain selain dirinya?
Jevan menaiki lift untuk sampai di ruangannya. Sarah yang sudah berada di mejanya berdiri ketika melihat Jevan yang tengah berjalan ke arahnya.
“Selamat pagi, Pak.”
“Pagi, apa jadwal saya hari ini?” tanya Jevan tidak berbasa-basi.
“Hari ini hanya ada meeting dengan petinggi perusahaan, Pak.”
Kening Jevan mengerut mendengar jawaban Sarah. “Hanya itu?”
Sarah mengangguk dan tersenyum. “Ibu-Bapak menyuruh saya mengosongkan jadwal Pak Jevan saat makan siang dan seterusnya.”
“Kenapa?” tanya Jevan terkejut.
“Nanti siang Pak Jevan ditunggu di restoran jepang, untuk makan siang bersama orangtua Bapak dan Mbak Natasya. Untuk alamatnya, saya sudah tulis memo di meja Bapak.”
Jevan memejamkan mata, mencoba mengatur emosinya. Dia memandang tajam ke arah sekretarisnya itu.
“Kamu tahu siapa bos kamu di sini?”
Sarah menatap Jevan heran. “Pak Jevan.”
“Kamu juga pasti tahu siapa yang memberikan gaji kamu?”
“Pak Jevan.”
“Kalau kamu sudah paham, kenapa kamu melakukan perintah dari orang lain selain bosmu?!” sentaknya marah.
Sarah terkejut dan buru-buru menunduk. “Maaf, Pak,” cicitnya pelan.
Jevan mengembuskan napasnya kasar. “Kali ini kamu saya maafkan. Kalau kamu mengulanginya untuk kedua kali, saya pecat kamu.”
“Maaf, Pak.”
Jevan berjalan dengan langkah lebar ke dalam ruangannya, meninggalkan Sarah yang mengumpat pelan di dalam hati. Mana dia tahu Jevan akan terlihat begitu marah hanya karena ibunya menyuruh dirinya untuk mengosongkan jadwal bos galak itu?
Baru saja duduk di kursi kebesarannya, dering telepon di saku jas Jevan membuat lelaki itu teringat orang yang menambah kekesalannya hari ini. Jevan mengumpat pelan saat melihat nama Natasya. Pasti perempuan itu yang membuat rencana menyebalkan ini.
“Bagaimana? Kamu sudah tahu dari sekretarismu? Jangan sampai terlambat. Hari ini kita akan membahas rencana pertunangan kita. Aku sangat menantikan itu, Je.”
Suaranya terdengar sangat senang. Jelas. Dia mungkin merasa menang dari Jevan sekarang.
“Ya. Aku tahu, ini semua pasti ulahmu.”
Terdengar tawa dari seberang sana, yang membuat kekesalan Jevan semakin bertambah.
“Ini bukan apa-apa, Je. Kamu bahkan tahu aku bisa melakukan lebih dari ini.”
“Tidak apa-apa. Kamu bisa merasa senang sekarang. Tapi, aku akan memastikan bahwa rencanamu tidak akan berjalan lancar.”
Jujur saja, Jevan masih belum tahu bagaimana cara menghadapi perempuan itu sampai sekarang. Namun, dia tidak boleh kelihatan lemah di depan Natasya. Sudah cukup gadis itu mempermalukan dirinya beberapa tahun lalu. Sekarang, dia tidak akan mengalah kepada gadis itu.
“Aku tunggu. Tapi, dari yang aku lihat kamu masih tidak melakukan apa pun. Tidak apa-apa, terus saja begitu, Je. Karena saat waktu kamu habis untuk berpikir, pertunangan kita sudah dilaksanakan, dan kita akan kembali seperti dulu.”
Jevan menggeram marah mendengarnya. Perempuan itu tengah mengejeknya.
“Dengar, Natasya, kamu memang bisa merebut hati ibuku. Tapi, jangan harap kamu bisa merebut hatiku kembali. Karena pada hari kamu memutuskan untuk pergi meninggalkan aku, di saat itu juga hatiku mati untuk kamu. Kamu boleh merasa senang sekarang, tapi aku nggak akan diam aja.
“Seperti yang kamu bilang, aku memang belum mempunyai cara untuk membalas kamu. Tapi, saat waktunya telah tiba, aku pastikan kamu tidak akan bisa tertawa seperti sekarang. Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan. Kamu harus merasakan bagaimana sakitnya ditinggal pergi oleh orang yang kita cintai.”
Setelahnya, Jevan mematikan sambungan telepon begitu saja. Dia melempar ponselnya ke meja dengan marah. Perempuan itu benar-benar menguji kesabarannya.
Di seberang sana, Natasya termenung setelah sambungan teleponnya dimatikan begitu saja oleh Jevan. Dia memang sempat tertawa dan terlihat senang, tapi dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Dia takut segala sesuatunya akan terbalik.
Dia takut Jevan akan meninggalkannya, seperti dia meninggalkan lelaki itu dulu.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-