
Dua hari setelahnya, Jevan mengadakan makan malam yang hanya mengundang Nicol dan Sarah. Lelaki itu mengatakan jika makan malam kali ini, anggap saja sebagai pertanda awal hubungannya dan Ara.
Ara dan Jevan sudah sampai di salah satu restoran mewah yang Jevan pesan. Tidak lama kemudian, Nicol datang sendirian, yang membuat keduanya merasa heran.
“Mas Nicol sendiri?” tanya Ara ketika Nicol sudah duduk di depannya.
“Enggak, sama bayangan gue, jadi berdua,” jawabnya sambil tertawa yang membuat Ara ikut tertawa.
“Bukan itu, maksudnya nggak sama Mbak Sarah?”
Mendengar nama Sarah, Nicol tidak menjawab. Lelaki itu malah menyeruput air putih yang ada di depannya. Hal itu membuat Jevan mengernyit, tapi tetap diam.
Beberapa menit kemudian, Sarah datang dan tersenyum ke arah Jevan dan Ara. “Maaf Pak, tadi cari taksi online susah banget,” katanya sambil duduk di samping Nicol. “Sory ya, Ra. Udah nunggu lama?”
Ara menggeleng. “Enggak, kok, Mbak. Mas Nicol juga baru datang. Kenapa nggak bareng aja tadi?”
Sarah melirik ke arah Nicol yang hanya diam sambil bermain ponsel. Gadis itu berdeham pelan. “Sendiri lebih enak, Ra.” Dia beralih menatap Jevan. “Pak, saya udah lapar, nih.”
Jevan mendengus mendengarnya, dia segera memanggil pelayan dan menyuruh untuk menyajikan pesanannya.
Suasana kali ini cukup berbeda, terasa cukup canggung. Padahal, biasanya tidak pernah seperti ini jika mereka berempat makan bersama. Nicol asyik dengan makanannya, sementara Sarah sesekali berbicara dengan Ara.
Saat Sarah pamit ke kamar mandi, tidak lama setelahnya Nicol juga mengatakan bahwa dia akan ke kamar mandi juga.
Ara mengembuskan napas lega ketika dia hanya berdua dengan Jevan, hal itu membuat Jevan menoleh ke arahnya. “Kenapa?” tanyanya.
Ara menoleh ke arah Jevan. “Kamu merasa ada yang aneh nggak dari Mas Nicol dan Mbak Sarah?”
“Sejujurnya iya.”
“Tuh, kan. Berarti bukan cuman aku yang merasa aneh sama mereka berdua. Kamu juga. Mereka berantem, Je?” tanya Ara penasaran.
Jevan mendengus dan kembali memakan makanannya. “Nggak tahu. Kamu nggak perlu ikut campur urusan mereka, Ara.”
Ara cemberut mendengarnya. “Mana mungkin aku nggak ikut campur. Mbak Sarah sama Mas Nicol udah banyak banget bantu kita. Aku kan bukan kamu, orang yang nggak tahu terima kasih.” Ara menggigit bibir bawahnya ketika kelepasan berbicara.
Dia kembali menoleh ke arah Jevan takut-takut. Dan benar saja, Jevan tengah memandangnya dengan senyum mengerikan yang terpantri di wajahnya. Ara menyengir lebar ke arah lelaki itu.
“Maaf, aku tadi cuman bercanda,” katanya.
Jevan menggeleng. “Aku nggak dengar nada bercanda di kalimat kamu barusan,” ujarnya.
Jevan mendekatkan wajahnya dengan wajah Ara. Belum sempat lelaki itu berbisik, Nicol datang dengan napas terengah-engah.
“Sory, gue sama Sarah pulang duluan,” ujarnya sambil berlari ke arah pintu keluar.
Ara mendorong pelan wajah Jevan yang sangat dekat dengan wajahnya itu. “Mas Nicol kenapa, Je?”
Jevan memandang kepergian sahabatnya itu dalam diam. Ada yang tidak beres antara keduanya.
“Nggak tahu,” jawabnya sambil mengendikkkan bahu. “Lanjut makan kamu. Habis itu kita pulang. Ada hukuman spesial buat kamu,” ujar Jevan sambil tersenyum misterius.
Ara mengembuskan napas pelan. Salahnya sendiri mengatai Jevan tiba-tiba begitu. Jadi, dia harus pasrah menerima hukuman lelaki itu.
Setelah menghabiskan makan malam mereka, kini Jevan dan Ara berjalan keluar ke arah tempat parkir. Malam ini, Jevan tidak membawa sang sopir, lelaki itu memilih mengemudikan mobilnya sendiri.
“Pak Jevan.”
Keduanya berhenti melangkah ketika melihat seseorang pria berumur menyapa Jevan dengan ramah.
“Pak Bustom?”
“Iya,” jawab Jevan sambil menatap Ara dan memberikan senyuman tipisnya.
Kedua lelaki berbeda generasi itu asyik berbincang-bincang. Ara yang merasa bosan menoleh ke kanan dan kiri. Matanya menyipit melihat seseorang yang tidak asing di penglihatannya.
Tanpa disadari oleh Jevan, Ara berjalan menghampiri seseorang yang sedang fokus dengan ponsel di genggamannya itu.
“Dokter Sean?” panggilnya ragu, tapi setelah sosok itu menoleh di antara remang-remang cahaya, Ara tersenyum lega ketika orang itu memang Sean.
“Arana,” sapa Sean terkejut, pria itu segera mengantongi ponselnya dan mengalihkan pandangan sepenuhnya kepada Ara.
“Kamu dengan siapa?”
Ara menoleh ke belakang, melihat Jevan yang masih asyik berbincang. Sean mengikuti ke mana Ara menoleh. Lelaki itu mengangguk ketika melihat Jevan.
“Sedang makan malam romantis?”
Ara terkekeh, lalu menggeleng. “Tadi ada Mbak Sarah dan Pak Nicol juga, Dok. Tapi, mereka pulang lebih dulu.”
Sean manggut-manggut mengerti.
“Dokter Sean di sini dengan siapa?”
“Bersama orangtua saya.”
“Ada acara keluarga?”
Sean tersenyum kecut dan mengendikkan bahunya. “Semacam acara perjodohan?”
Mata gadis itu membesar, cukup terkejut mendengar perkataan Sean. “Dokter Sean dijodohkan? Dengan siapa?”
“Seorang gadis.”
Ara memberengut mendengarnya. “Itu saya juga tahu. Masa Dokter Sean dijodohkan sama cowok, sih.”
Sean terkekeh. “Mama saya udah pengen gendong cucu, padahal anaknya masih cari yang cocok.”
Ara mengangguk. “Kayak mama-mama di sinetron ya, Dok. Kalau anak bujangnya belum nikah juga, suka dicariin pasangan,” katanya sambil tertawa pelan.
Belum sempat Sean menjawab, seseorang lebih dulu datang lalu melingkarkan tangannya di pinggang Ara dengan possesif.
“Ngapain lo di sini?!”
Ya. Siapa lagi yang bisa berbicara sekasar itu kepada orang lain di tempat umum begini, kecuali Jevan?
“Menemui Ara?”
“Sial!” Jevan hendak maju ke arah Sean, tapi Ara lebih dulu menahan lengannya.
“Je, katanya mau pulang?”
Jevan mendengus, dia menoleh ke arah Ara, lalu menarik tangan gadis itu, dan pergi meninggalkan Sean begitu saja. Tanpa berpamitan.
Sean hanya terkekeh melihat kepergian Jevan dan Ara. Lelaki itu tetap sama. Terlihat lucu saat sedang cemburu.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-