Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 77



Ayah Jevan mencoba menghubungi nomor sang anak, tapi setelah beberapa detik menunggu, Jevan masih belum mengangkatnya. Ara meringis melihat itu. Dia masih ingat kalau Jevan mengatakan jika ponselnya tertinggal di meja ruangannya, tapi untuk kali ini, dia memilih diam.


“Itu tehnya kamu minum dulu,” ujar ibu Jevan setelah pelayan memberikan Ara teh hangat.


“Makasih, Tante,” jawab Ara sambil menyesap pelan teh manis itu.


“Masih belum diangkat, Bu,” ujar ayah Jevan kepada istrinya.


Ibu Jevan terlihat berpikir. “Coba Ayah telepon sekretarisnya. Siapa tahu dia masih di kantor.”


Ara tersedak teh yang tengah dia minum. Dia tidak mau memperbesar masalah ini. Tapi, kalau kabar ini sampai terdengar oleh Jevan. Lelaki itu pasti akan sangat berlebihan.


“Pelan-pelan kalau minum,” kata ibu Jevan yang dijawab Ara dengan anggukan pelan.


“Hallo, kamu sekretarisnya Jevan, kan?”


“Sampaikan ke Jevan, kalau Ara baru saja diserempet motor. Suruh pulang cepat.”


Sementara di lain tempat, Sarah berjalan ke arah Jevan duduk dengan tergesa. Dia bahkan tidak peduli kalau Jevan baru saja marah kepada manager-manager di sana.


“Pak Jevan, saya baru saja mendapat telepon dari Ayah Bapak,” katanya yang membuat Jevan mengalihkan pandangan ke arahnya.


“Ada apa?”


“Ara baru saja diserempet motor, Pak.”


“Apa?!” Jevan berdiri dengan cepat. “Sekarang dia di mana?” tanyanya sambil berjalan keluar ruangan. Sarah yang menyadarinya, langsung buru-buru meraih catatannya dan menyusul langkah Jevan.


“Di rumah orangtua Bapak.”


“Ambilkan ponsel saya di ruangan saya cepat.”


“Baik, Pak.” Sarah setengah berlari ke arah lift menuju ruangan Jevan.


Dan di sinilah Jevan berada sekarang. Di dalam mobil yang dikemudikan sopirnya, untuk menuju ke rumah orangtuanya. Sedari tadi lelaki itu diam, dia benar-benar berharap tidak terjadi sesuatu hal yang buruk kepada Ara.


“Cepat sedikit!” katanya sedikit membentak kepada sang sopir.


“Baik, Pak.”


Andai saja dia tidak ada meeting penting, dan bisa mengantar Ara pulang. Kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Aranya tidak akan terluka. Nama Natasnya tiba-tiba terlintas di pikirannya. Dia bersumpah, kalau Natasya yang melakukan ini, dia benar-benar akan melakukan hal yang sama kepada perempuan itu.


Saat baru saja tiba di rumah kedua orangtuanya. Jevan segera berlari memasuki rumah. Dia berlari ke ruang tengah, dan melihat Ara yang tengah duduk di sofa, ditemani sang ibu.


“Ara,” panggilnya yang membuat kedua perempuan berbeda generasi itu menoleh kepadanya.


“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya sambil mendekat ke arah Ara. Jevan meneliti tubuh Ara dan menggeram marah begitu melihat siku tangan Ara terluka, tapi telah diobati.


“Gimana bisa?” gumamnya pelan.


“Aku nggak apa-apa, kok, Je,” ujar Ara pelan.


“Dia dari tadi bilang gitu terus, Je.” Ibu Jevan berucap dengan sedikit ketus.


Jevan menghela napas pelan. Dia menatap wajah Ara yang tampak tidak nyaman. Lalu, dia menoleh ke arah sang ibu.


“Jevan lapar, Bu.”


“Ya sudah sebentar, Ibu akan menyuruh pelayan untuk siapin makan malam buat kita semua.” Setelah kepergian sang ibu, Jevan duduk di samping Ara.


“Aku beneran nggak apa-apa, Je. Jadi, tadi aku udah beli es buah. Terus pas mau nyebrang ada motor cepet banget. Hampir aja aku keserempet kalau bapak-bapak yang jualan mainan narik aku. Ini cuman karena aku jatuh kena aspal. Tapi, aku baik-baik aja, kok, Je,” jelas gadis itu panjang lebar. Berharap Jevan tidak memperpanjang masalah ini lagi.


Ara menggigit bibir bawahnya ketika melihat Jevan hanya diam. Apakah lelaki itu tidak percaya dengan ceritanya?


“Je,” panggilnya pelan. “Kamu nggak percaya sama aku?”


Tangan Jevan mengelus pipi Ara perlahan. “Ini semua karena aku.”


Kening Ara mengernyit bingung. “Bukan, Je. Kenapa kamu ngomong gitu?”


“Andai aja aku tadi antar kamu pulang. Kamu nggak akan terluka kayak sekarang.”


Ara meringis pelan. “Tapi, aku beneran nggak apa-apa, Je. Kamu harus percaya aku.”


“Maafin aku, ya.”


Ara menggeleng. “Kamu nggak salah. Jangan mendadak melow gini, deh.”


Jevan diam, tapi sesaat kemudian lelaki itu membenturkan kepalanya dan kepala Ara, yang membuat gadis itu mengaduh.


“Makanya kalau aku ngomong, jangan bandel. Disuruh naik taksi, malah turun di pinggir jalan buat beli es buah.”


Ara menampilkan cengirannya. “Maaf. Habisnya aku pengen yang segar-segar.”


Jevan berdecak. “Tapi, kamu beneran nggak apa-apa, kan?”


Ara mengangguk kuat. “Aku nggak apa-apa. Karena itu aku minta kamu bilang ke orangtua kamu, kalau mereka nggak usah bawa aku ke lab. Aku cuman jatuh kena aspal. Aku nggak apa-apa.”


Jevan terkekeh melihat ekspresi Ara yang hampir menangis. Dia mengacak rambut Ara pelan.


“Tapi, janji habis ini beneran nurut sama yang aku bilang. Kalau pulang kerja, langsung pulang ke rumah, jangan mampir ke mana-mana dulu.”


“Iya. Aku janji.”


Jevan menjatuhkan kecupan di dahi Ara. “Aku bilang ke Ayah sama Ibu dulu.” Setelahnya lelaki itu bangkit berdiri, dan meninggalkan Ara yang mengembuskan napas lega mendengarnya. Dia tidak sedang sakit, jadi tidak perlu dibawa ke lab.


***


Keesokan harinya, Ara dilarang berangkat bekerja oleh ibu Jevan. Setelah menyetujui permintaan Ara untuk tidak pergi ke lab. Kini, ibu Jevan kembali menyuruh Ara untuk beristirahat.


“Kamu jangan ke mana-mana, istirahat aja di rumah,” ujar ibu Jevan saat mereka tengah sarapan bersama.


“Iya, Tante.”


“Besok kalau masih nggak enak badannya, kamu tetap harus di rumah.”


Ara meringis pelan. Dia benar-benar tidak apa-apa. Tapi, ibu Jevan sangat menganggap itu hal yang serius.


“Ayo, Bu. Kita sudah terlambat sekarang,” ujar ayah Jevan sambil melihat jam di pergelangan tangan kirinya.


“Iya. Ayah duluan saja ke depan, nanti Ibu menyusul.”


“Ingat Ara pesan saya. Kamu jangan ke mana-mana. Sepertinya saya dan Ayahnya Jevan akan pulang malam.”


“Iya, Tante.”


Ketika ibu Jevan hendak berjalan keluar, Ara menghentikannya dengan memanggilnya.


“Ada apa? Kamu perlu sesuatu?”


Ara bangkit berdiri dan berjalan mendekat ke arah ibu Jevan. “Saya boleh peluk Tante?”


Ibu Jevan tidak menutupi keterkejutannya.


“Melihat Tante yang begitu khawatir dengan keadaan saya. Saya jadi ingat Ibu saya. Mungkin hal serupa akan dilakukannya, ketika saja terluka,” ujar Ara jujur.


Ibu Jevan terlihat diam, tapi kemudian tangannya terbuka. “Kemarilah.”


Ara tersenyum lebar dan berhambur ke dalam pelukan ibu Jevan. Gadis itu bahkan sampai meneteskan air matanya. “Terima kasih, Tante.”


Ibu Jevan hanya mengangguk dan mengusap punggung gadis itu pelan. “Kalau ada apa-apa, telepon saya segera.”


Jevan yang baru saja masuk dan memerhatikan itu diam. Tapi, di dalam hatinya dia merasa sangat bahagia hanya dengan menyaksikan pelukan kedua perempuan yang berarti untuknya itu.


Lelaki itu memang tidak diperbolehkan menginap. Jadi, kemarin malam dia pulang, dan sekarang sebelum bekerja, Jevan menyempatkan untuk melihat keadaan Ara.


Ara melepas pelukannya. “Iya, Tante.”


“Saya pergi dulu.” Saat berbalik badan, ibu Jevan melihat sang anak yang tengah berjalan ke arahnya sambil tersenyum lebar. “Kamu nggak ke kantor?”


“Bentar lagi berangkat. Ibu sudah ditunggu Ayah di depan,” jawab Jevan setelah mengecup pelan pipi sang ibu.


“Ya sudah, Ibu berangkat. Sarapan dulu sana.”


“Iya.”


Jevan menghampiri Ara dan memeluk gadis itu. “Ada yang masih sakit?” tanyanya setelah pelukan mereka terlepas.


Ara menggeleng. “Kamu udah sarapan?” tanyanya sambil menarik Jevan untuk duduk di meja makan.


“Belum.”


“Sarapan dulu, ya.”


Jevan hendak memakan sarapan yang telah diambilkan oleh Ara, sebelum seruan keras mengganggu telinganya.


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-