
Ara mempercepat gerakannya untuk memunguti pecahan gelas yang masih terasa panas itu. Dia bahkan tidak merasakan tangannya terluka karena tergores pecahan gelas. Ara tidak memedulikan apa pun, yang dia inginkan hanya pergi dari ruangan Jevan secepatnya.
“Astaga, Ara! Tangan kamu berdarah!” seru Jevan yang tiba-tiba saja sudah berada di depan Ara. Lelaki itu ikut berjongkok bersamanya dan meraih tangan Ara yang terluka.
Ara segera menjauhkan tangannya. “Saya nggak apa-apa, Pak,” katanya sambil memunguti pecahan itu lagi.
Jevan menggeram marah mendengarnya. Apalagi ketika Ara sudah berbicara formal dan memanggilnya dengan sebutan ‘bapak’.
Jevan meraih tangan Ara kembali. “Kita obati luka kamu dan aku nggak mau dibantah,” ujarnya terdengar dingin.
Lelaki itu menarik tangan Ara untuk ikut berdiri bersamanya, lalu membawa gadis itu ke sofa di ruangannya. Nicol menyandarkan punggungnya ke tembok sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Pertunjukan akan segera dimulai. Sedangkan Natasya, perempuan itu diam dan memandang lurus ke arah Jevan dan Ara. Bahkan setelah berciuman dengan dirinya, Jevan masih bisa terlihat begitu peduli kepada gadis itu, dan bersikap seolah ciuman mereka tidak berarti sama sekali.
“Sarah!” teriak Jevan memanggil nama sekretarisnya. “Sarah! Sialan! Ke mana perempuan itu. Sarah!” ulangnya kembali saat Sarah tak kunjung muncul di ruangannya.
“Sar—” teriakan Jevan terhenti ketika melihat Sarah yang tergopoh-gopoh memasuki ruangannya. Dia terkejut ketika melihat pecahan gelas di depan pintu.
“Bapak manggil saya?” tanyanya.
“Kamu dari mana saja! Ambilkan kotak P3K cepat!”
Tanpa banyak membantah, Sarah segera keluar mengambil kotak P3K dan secepatnya gadis itu kembali lalu menyerahkan itu kepada Jevan.
Jevan menerimanya dan segera mengobati luka di tangan Ara. Ara duduk dengan kikuk. Nicol, Natasya, dan Sarah masih berada di ruangan ini. Ara jadi tidak nyaman. Oleh karena itu, Ara menarik tangannya yang akan diobati oleh Jevan, yang membuat lelaki itu memandangnya tajam.
“Ara,” geramnya.
“Ini nggak apa-apa, kok, Pak. Saya bisa obatin sendiri,” katanya pelan.
Jevan masih memandang Ara tajam. “Sekali lagi aku dengar kamu panggil aku dengan sebutan ‘bapak’, kamu akan tahu sendiri akibatnya,” ujar Jevan serius.
Ara hanya bisa menunduk.
“Mana tangan kamu,” kata Jevan ketus.
Perlahan, Ara mulai menyerahkan kembali tangannya yang terluka ke arah Jevan. Lelaki itu kembali mengobati luka Ara dalam diam.
“Panggil OB, suruh mereka membersihkan itu,” ujar Jevan kepada Sarah setelah dia selesai mengobati luka Ara.
“Baik, Pak.” Sarah hendak beranjak dari ruangan Jevan, tapi Ara lebih dulu memanggilnya.
“Mbak Sarah.”
Sarah menoleh ke arah Ara. “Iya, Arana?”
“Jangan panggil siapa pun, Mbak. Biar aku aja yang beresin,” kata Ara.
“Ara.” Lagi-lagi Jevan memperingatkan Ara.
“Aku aja yang beresin, Je. Aku mohon. Aku cuman nggak mau mereka tanya yang macam-macam,” ujar Ara memohon kepada Jevan.
Jevan mengembuskan napasnya pelan. “Tangan kamu masih terluka.”
Ara menggeleng. “Aku nggak apa-apa. Lukanya nggak seberapa, kok.” Gadis itu berusaha meyakinkan Jevan.
“Terserah!”
Ara mengangguk dan bangkit dari duduknya untuk berjalan keluar dari ruangan Jevan. Dia harus kembali ke ruangannya untuk mengambil alat kebersihan.
Sepeninggal Ara, di dalam ruangan itu hanya tersisa Jevan, Nicol dan Natasya. Ketiganya masih tetap berada di posisi masing-masing.
“Jadi? Yang tadi gue lihat apa? Kalian balikan atau itu cuman ungkapan selamat datang?” tanya Nicol.
Jevan memijat pelipisnya yang mendadak pusing. Jujur saja, dia tadi terbawa suasana. Melihat Natasya yang tiba-tiba saja datang ke ruangannya dan langsung duduk di pangkuannya, lalu menciumnya. Dia tidak menyangka adegan itu bisa disaksikan oleh Ara.
“Je,” panggil Natasya sambil berjalan mendekat.
“Kamu mending keluar sekarang,” kata Jevan.
“Je, aku...” perkataan Natasya terhenti ketika Jevan mengarahkan tangan ke arahnya, pertanda jika lelaki itu enggan mendengarkannya.
“Keluar dari ruangan aku sekarang.”
Natasya tersenyum sinis. Jevan memperlakukannya seolah dia perempuan murahan, yang bisa dipakai dan dibuang sesukanya. Untuk saat ini, dia akan membiarkan, tapi Natasya bersumpah kepada dirinya sendiri bahwa dia akan membuat Jevan kembali kepadanya. Perempuan itu akhirnya mengangguk, lalu meraih tasnya yang tergeletak di lantai dan berjalan keluar dari ruangan Jevan.
Nicol berjalan ke arah sofa dan ikut duduk di sana. Dia memandang Jevan yang tengah memejamkan kedua matanya. Baru saja dia hendak memulai pembicaraan, pintu yang diketuk dari luar, membuat keduanya menoleh.
Sarah masuk ke ruangan. “Ada OB yang mau membersihkan, Pak.”
Jevan mengangguk. “Suruh masuk.”
“Baik, Pak.”
Bukan Ara, melainkan orang lain. Ya. Jevan sudah menduga itu. Gadis itu tidak mungkin kembali lagi ke sini setelah melihat kejadian tadi. Jevan mengembuskan napas dan kembali memejamkan matanya.
“Lo harus lihat gimana kagetnya Arana ketika lihat lo sama Natasya lagi ciuman mesra,” ujar Nicol setelah menunggu sampai OB itu menyelesaikan pekerjaannya.
Jevan diam mendengarnya. Dia tiba-tiba merasa begitu bersalah kepada gadis itu.
“Lo udah mulai menerima Natasya lagi?”
Jevan membuka matanya dan menatap ke arah Nicol. “Gue lepas kendali. Gue nggak sengaja ciuman sama dia.”
Nicol terkekeh. “Nggak sengaja tapi kelihatan menikmati.”
“Mending lo diam, Nic. Gue pusing.”
“Natasya kemarin ke apartemen gue. Dia tanya-tanya soal Ara.”
“Lo bilang apa?”
“Gue nggak ngomong aneh-aneh. Gue cuman menceritakan apa adanya, kalau lo sama Arana memang ada sesuatu, tapi gue nggak tahu apa.”
“Kalau dia tanya-tanya lagi, jangan ngomong apa pun. Gue nggak mau Ara dibawa dalam masalah ini.”
Nicol terdiam mendengar perkataan Jevan. “Lo jatuh cinta sama Arana?”
Mata Jevan membulat. “Lo gila!” serunya keras.
“Why? Gue cuman tanya.”
Jevan mendengus. “Pertanyaan lo nggak guna sama sekali,” katanya.
Nicol terkekeh. “Ayolah, Je. Kita udah kenal sejak lama. Gue tahu lo gimana, dan yang barusan lo tunjukkan ke gue, itu pertanda bahwa lo mulai jatuh cinta sama Arana. Jangan lupa, gue adalah saksi kisah percintaan lo sama Natasya. Lo pernah berperilaku kayak gitu ke Natasya sebelum akhirnya lo bilang ke gue, bahwa lo jatuh cinta sama dia,” jelasnya.
Jevan termenung. Benarkah hal itu? Benarkah perasaannya kepada Arana berubah menjadi cinta? Tapi, mereka belum lama bertemu dan tinggal bersama.
Tidak mungkin rasa itu timbul secepat itu di dalam hatinya.
***
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-