
“Kenapa kamu diam aja tadi?” tanya Jevan saat kedua orangtuanya telah kembali pulang ke rumah mereka. Meninggalkan Jevan dan Ara yang masih duduk di tempat mereka tadi.
Kedua orangtua Jevan itu, mengatakan jika mereka akan memberikan Jevan dan Ara waktu untuk bersama, sebelum Ara tinggal di rumah mereka. Rencananya, akhir minggu nanti, Ara sudah akan tinggal di rumah mereka.
“Memangnya aku harus gimana, Je?” Ara balik bertanya dengan pelan. Memangnya Jevan berharap apa dengan dirinya? Ara saja masih takut kalau harus berbicara berdua dengan ibu Jevan.
Jevan mendengus. “Kamu bisa bilang sesuatu. Kamu bisa menolak itu, Ara.” Lelaki itu menatap sepenuhnya ke arah Ara.
Gadis itu mengerucutkan bibirnya. “Aku mana berani bantah Ibu kamu di saat kayak tadi?”
“Aku harus gimana, Ara?” Jevan menjatuhkan kepalanya di pangkuan Ara. “Kamu mau tinggal di rumah Ayah dan Ibu?” tanyanya sambil menatap wajah Ara yang berada di atasnya.
“Aku mau-mau aja.”
Jevan memandang Ara tidak suka. “Mau? Kamu senang ya, pisah sama aku?”
Ara terkekeh pelan. “Bukan gitu. Lagi pula, aku juga nggak enak nolak Ibu kamu. Kita kan udah sepakat menunda pernikahan. Masa iya kita juga harus nolak ajakan Ibu lagi? Nggak mungkin, kan?”
Jevan mendengus. “Tapi, aku nggak bisa kalau kita tinggal di rumah yang berbeda.”
Tangan Ara mengusap lembut rambut Jevan. “Setiap pulang kerja, kamu bisa datang ke sana. Aku cuman nggak mau buat Ibu kamu kecewa lagi, Je.”
Jevan memejamkan matanya, tampak menikmati usapan tangan Ara di rambutnya.
“Apa aku bisa tidur tanpa kamu?”
Kekehan Ara meluncur begitu saja. “Kamu ngomong apa, sih? Cuman tidur, kalau ngantuk juga pasti tidur sendiri.”
Jevan membuka matanya, dan memandang Ara tajam. “Aku serius.”
Ara menghentikan tawanya. “Maaf. Kita telepon aja kalau kamu nggak bisa tidur. Gimana?”
“Telepon nggak bisa pegang.”
Sontak saja Ara memberikan pukulan di dada lelaki itu. Jevan terkekeh pelan, dan meraih tangan Ara, lalu membawanya ke bibirnya, dan mengecupinya pelan.
“Ara.”
“Hmm,”
“Kalau kamu tinggal di rumah Ayah, jangan nurut sama yang di bilang Ibu, ya?”
“Kenapa gitu?” tanyanya heran.
“Ibu suka jahil. Permintaannya pasti cuman buat aku susah.”
Ara terkekeh. “Iya,” jawabnya pelan.
Mereka kembali diam. Jevan terlihat menikmati usapan Ara di rambutnya sambil memejamkan kedua matanya. Sedangkan Ara diam sambil memikirkan apakah yang dia lakukan ini benar? Tinggal bersama orangtua Jevan, bukankah sama saja dengan menjauhkan mereka?
***
Hari itu pun tiba, saat ini Jevan tengah mengantar Ara untuk pergi ke rumah orangtuanya. Sedari mereka berangkat tadi sampai kini berada di mobil, Jevan sama sekali tidak melepaskan pegangan tangannya dengan tangan Ara. Beberapa kali Ara hendak melepaskan tangannya, tapi lelaki itu malah mempereratnya.
“Ra, aku serius sama perkataanku. Waktu di sana, kamu jangan nurut sama omongannya Ibu.” Lagi-lagi lelaki itu mengatakan hal yang sama, berulang kali.
“Iya. Kamu udah bilang itu tiga kali sama sekarang. Nggak bosan?”
Jevan berdecak. “Perasaan aku nggak enak kamu tinggal di sana.”
Ara tersenyum. “Memangnya kamu punya perasaan?”
Jevan menatap Ara dan memberikan gadis itu pelototan, yang disambut Ara dengan kekehan kecil.
“Maaf, aku bercanda,” kata Ara di sela-sela tawanya.
Jevan hanya diam, dan terus memainkan tangannya dan tangan Ara yang berada di dalam pangkuannya.
“Kamu tetap kerja, kan?”
“Iya, aku udah bilang Ibu kamu juga. Katanya nggak apa-apa, yang penting nggak buat aku capek, dan sabtu minggu libur. Padahal kan hari weekend gitu pelanggannya banyak, tapi Ibu kamu bilang gitu. Untung aja yang punya kedai Mas Nicol, jadi dia nurut-nurut aja.”
“Nicol takut sama Ibu aku,” kata Jevan meremehkan.
“Kamu juga.”
“Sakit.” Ara berucap sambil melepaskan tangannya dan tangan Jevan, lalu menggunakannya untuk mengusap bekas gigitan Jevan.
“Nyebelin, sih.”
Saat ini mereka telah sampai di rumah kedua orangtua Jevan. Ara tengah menyusun bajunya di walk in closet, sementara Jevan tengah asyik memerhatikan memainkan ponsel sambil tiduran di ranjang.
“Ini kamar siapa sebenarnya? Kenapa banyak baju cowok di dalam sana?” tanya Ara sambil duduk di samping Jevan.
“Kamar aku,” jawab Jevan singkat sambil tidak terus fokus pada ponselnya.
“Kenapa Ibu nyuruh aku tidur di sini? Nggak ada kamar lain di rumah ini?”
“Banyak.”
“Terus kenapa aku disuruh tidur di sini?” Gadis itu kembali menyuarakan keingin-tahuannya.
Jevan berdecak, dan bangkit duduk di depan Ara. “Cerewet,” ujarnya setelah menjatuhkan kecupan singkat di bibir gadis itu.
“Aku penasaran, Je.”
“Ini kamar aku, dan aku memang bilang ke Ibu, supaya kamu tidurnya di kamar aku aja.”
“Kenapa gitu?” tanyanya heran.
“Kalau kamu rindu berat sama aku. Menempati kamar ini, akan membuat rindu kamu sedikit berkurang.”
Ara terkekeh. “Sombong banget. Aku ramal yang akan rindu berat itu kamu, Je.”
Jevan mengendikkan bahunya, lalu menarik Ara ke dalam pelukannya. “Kalau kamu merasa nggak nyaman di sini, cukup bilang sama aku Ara. Aku yang akan bilang itu ke Ayah dan Ibu,” ujarnya sambil mengusap pelan rambut serta punggung gadis itu.
Ara membalas pelukan Jevan. Entah seperti apa akhir kisah mereka. Ara hanya ingin menikmati kebersamannya dengan Jevan sekarang. Dia tidak ingin menduga, juga tidak ingin berharap. Jika memang Jevan adalah lelakinya, maka mereka pasti akan segera dipersatukan. Apa pun caranya.
***
Sore ini di kedai kopi milik Nicol tidak terlalu ramai pengunjung karena memang ini sudah lewat jam makan siang. Hanya ada beberapa anak sekolah yang berada di sana.
Jevan berjalan masuk bersama Sarah di belakangnya. Tanpa menyapa Ara yang berada di meja kasir, lelaki itu langsung naik menuju lantai dua. Tempat di mana ruang pribadi Nicol berada.
Sedangkan Sarah berjalan ke arah Ara yang tampak heran melihat sikap Jevan.
“Hai,” sapa Sarah ramah.
“Hai juga, Mbak. Itu Jevan kenapa?”
Sarah menggeleng. “Nggak tahu. Selesai meeting, Bapak ada telepon dari Pak Nicol, katanya disuruh ke sini. Ada yang penting. Paling masalah kerjaan.”
Ara manggut-manggut mengerti. “Mbak mau minum apa?”
“Ada air es nggak? Aku lagi mengurangi kopi, nih.”
Ara tersenyum. “Ada. Sebentar, aku ambilin dulu.”
“Makasih, Ara.”
Sementara di lain tempat, tepatnya di ruang pribadi milik Nicol. Jevan tengah duduk dengan gusar. Nicol mengiriminya pesan mengenai Natasya, perempuan yang lama tidak terdengar kabarnya itu, kini muncul kembali.
Jujur saja, selama beberapa minggu terakhir. Jevan memang tidak memikirkan perempuan itu sama sekali. Dia di pusingkan dengan permintaan Ibunya untuk menikah dengan Ara. Jadi, dia sama sekali tidak mengurusi masalah Natasya.
“Jadi, kenapa dia muncul lagi?” tanyanya langsung ketika Nicol berjalan ke arahnya, sambil membawa dua cangkir berisi kopi panas, yang terlihat karena asapnya yang mengepul itu.
“Dia tahu gue buka kedai,” jawab Nicol sambil duduk di depan Jevan, lalu menyesap kopinya perlahan.
“Gimana bisa? Lo kasih tahu dia?!”
Nicol berdecak saat melihat tatapan menuduh yang diberikan oleh sahabatnya itu. “Enggak. Dia tahu karena lihat instagram gue. Gue lupa kalau masih saling follow sama dia.”
“Terus?” tanya Jevan tidak sabaran.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-