Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 31



Ara berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Gadis itu bingung memikirkan bagaimana sebenarnya reaksi ayah Jevan, ketika lelaki tua itu mendengar jawabannya tadi. Karena setelah Ara menjawab pertanyaannya, dia malah menyuruh Ara untuk beristirahat.


Apakah dia melakukan suatu kesalahan? Ataukah jawabannya tadi seharusnya tidak begitu? Apa tidak lebih baik jika tadi dia berbohong saja? Lagi pula, kenapa juga Ara menjawab segala pertanyaan ayah Jevan dengan jujur tadi?


Gadis itu dikejutkan dengan pintu kamar yang dibuka dengan keras. Ara menoleh dan melihat Jevan yang tengah berjalan masuk dengan ekspresi panik.


“Kamu udah pulang, Je?” tanya Ara mendekat ke arah Jevan.


Lelaki itu tidak menjawab pertanyaan Ara, dia meraih tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, yang membuat Ara bingung.


“Kenapa?”


Jevan hanya diam. Beberapa detik kemudian, lelaki itu melepaskan pelukannya.


“Kamu nggak apa-apa, kan? Kamu nggak terluka, kan? Ayah menyakiti kamu?” tanyanya beruntun, yang lagi-lagi membuat Ara bingung.


“Je, kamu tahu dari mana kalau ayah kamu ada di sini?”


Jevan mengembuskan napas pelan. “Mbok Ijah telepon aku. Katanya Ayah lagi bicara sama kamu. Dia nggak apa-apain kamu, kan?”


Ara menggeleng. “Ayah kamu memang bicara sama aku. Tapi, dia nggak apa-apain aku, Je. Ayah kamu kelihatannya baik.” Gadis itu mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.


Jevan menatap Ara lurus. “Sekarang Ayah di mana?”


“Tadi, ayah kamu nyuruh aku istirahat. Kayaknya dia ada di kamar tamu, deh.”


Jevan mengangguk. “Ya udah, aku mau menemui ayah dulu. Kamu istirahat duluan.”


Lelaki itu hendak melangkah keluar kamar, tapi Ara menahannya dengan memegang lengannya. Jevan menoleh dan menatap heran kepada Ara.


“Ada apa?”


Ara menggigit bibir bawahnya. “Tadi ayah kamu tanya masalah pertunangan kamu dengan Mbak Natasya. Dia tanya, apa aku keberatan dengan pertunangan itu?”


“Lalu, kamu jawab apa?”


Gadis itu menatap takut ke arah Jevan. “Aku nggak terbiasa bohong, jadi aku jawab jujur. Maaf, kalau gara-gara itu kamu bisa aja kena marah ayah kamu.”


Jevan tersenyum tipis. Tangannya tergerak mengusap kepala Ara pelan. “Nggak apa-apa. Aku bisa atasi semuanya.” Lelaki itu kembali mendekat ke arah Ara dan mengecup pelan pelipis gadis itu. “Istirahat.” Setelahnya dia kembali meneruskan langkah untuk keluar kamar, guna menemui sang ayah.


Jevan langsung masuk ke kamar tamu di rumahnya, tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Di ranjang, dia melihat sang ayah yang tengah membaca buku sambil menyandar di kepala ranjang. Jevan mendekat dan duduk di sampingnya.


“Ayah kenapa ke sini tanpa bilang lebih dulu ke Jevan?” tanyanya tanpa menutupi raut wajah tidak sukanya.


Sang ayah terkekeh, lalu menutup bukunya dan memusatkan pandangan ke arah anak satu-satunya itu. “Sengaja. Ayah ingin bertemu dengan gadis yang bisa mengubah kamu.”


“Ara nggak mengubah apa pun, Yah. Dia di sini karena kemauan Jevan.”


Ayah Jevan mengangguk. “Ayah tahu. Ayah hanya ingin bertemu dengan gadis itu tanpa ada kamu di antara kita. Sebenarnya ayah memang pulang hari ini, tapi karena ayah ingin mengunjungi rumah kamu ini, jadi ayah berbohong kepada ibumu.”


Jevan mendengus kasar mendengar perkataan sang ayah. “Lalu, apa yang Ayah dapatkan?”


“Dia gadis polos dan sederhana.”


“Cukup cantik.”


Kali ini Jevan berdecak. “Jevan serius, Yah.”


Ayah Jevan kembali terkekeh. “Dia menyukai kamu.”


Jevan mengembuskan napas pelan. Sudah dia duga, ayahnya pasti menyimpan maksud lain dengan datang ke rumahnya, tanpa memberitahunya lebih dulu.


“Setelah Ayah tahu itu, Ayah mau melakukan apa?”


Ayah Jevan menggeleng. “Ayah tidak akan ikut campur kali ini. Semuanya terserah kamu. Kalau kamu takut dengan ibumu, kamu memang harus melakukan pertunangan dengan Natasya. Tapi, kalau rasa sukamu lebih besar kepada gadis itu, temui ibumu dan perkenalkan dia. Kamu hanya perlu menerima risikonya.”


Tidak. Itu tidak semudah itu. Mengenalkan Ara kepada sang ibu? Sama saja dengan Jevan memasukkan Ara ke kandang singa. Bukan hanya dirinya yang belum siap tentang itu, Ara juga. Gadis itu tidak akan siap menghadapi ibunya. Lagi pula, Jevan juga belum memastikan perasaan apa yang dia miliki kepada Ara. Sukakah? Atau hanya karena tubuh Ara yang akhir-akhir ini menjadi candunya?


“Jevan nggak yakin suka sama dia,” ujar Jevan jujur.


Sang ayah manggut-manggut mengerti. “Kalau begitu, pastikan perasaanmu lebih dulu. Sekarang sana keluar, ayah mau istirahat.”


Jevan menatap sang ayah lurus, sebelum berdiri dan berjalan keluar kamar yang ditempati oleh ayahnya itu.


Jevan masuk ke kamar yang biasa dia tempati bersama Ara. Tapi, dia tidak menemukan keberadaan gadis itu.


“Ara!” Jevan memanggil Ara. Tidak ada jawaban.


Akhirnya lelaki itu memilih keluar dan menghampiri Mbok Ijah yang tengah membersihkan dapur.


“Mbok, Ara di mana?” tanyanya langsung.


“Mbak Ara sedang tidur, Tuan.”


“Dia nggak ada di kamar,” kata Jevan heran.


“Tidur di kamar saya maksudnya.”


“Ha?” Jevan terkejut di tempatnya berdiri. “Tidur di kamar Mbok? Kenapa?”


Mbok Ijah menatap Jevan takut-takut. “Saya tidak tahu, Tuan. Tapi, Mbak Ara bilang dia takut dengan ayah Tuan.”


Jevan tidak tahu apa yang ada di pikiran Ara. Kenapa gadis itu begitu takut kepada sang ayah? Padahal ayahnya saja bersikap biasa, tidak berlebihan seperti yang gadis itu takutkan.


Setelah memindahkan Ara ke dalam kamar yang biasa mereka tempati, Jevan masih diam dan berbaring sambil memandangi Ara yang tengah terlelap. Gadis itu bahkan tidak bangun saat Jevan menggendongnya sampai ke kamar mereka.


“Sebenarnya apa yang kamu takutkan Ara?” gumam Jevan pelan, lalu mencium pelan kening gadis itu, sebelum berlalu menuju kamar mandi.


***


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-