Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 13



Pagi ini Ara bekerja seperti biasa. Kali ini, dia mengepel lantai di depan kamar mandi. Entah ini perasaan Ara saja atau memang kenyataannya, tapi sedari tadi Ara merasa diperhatikan oleh semua pegawai yang kebetulan berpapasan dengan dirinya.


Karena tidak terbiasa menjadi pusat perhatian, dia merasa risih. Namun, Ara hanya bisa pasrah. Dia tidak berani untuk sekedar bertanya mengapa semua orang memperhatikannya.


Selesai mengepel lantai, Ara hendak kembali ke tempat khusus pegawai kebersihan. Dia berpapasan dengan Desi yang sedang membawa sapu dan peralatan lainnya.


“Desi,” panggil Ara sambil mencekal lengan Desi.


“Ada apa, Ra?”


“Aku mau tanya sesuatu, boleh?”


“Boleh, lah. Tanya aja,” jawab Desi.


Ara terlihat bimbang. Dia memang ingin bertanya, tapi bukan di sini tempatnya. Kalau sampai ada yang mendengar, Ara akan merasa tidak nyaman.


“Ra, kenapa?” tanya Desi heran.


“Aku mau tanya, tapi nggak di sini,” kata Ara pelan.


“Terus di mana?”


“Di depan lobi, gimana?”


“Ya udah boleh, tapi nggak lama, ya. Gue masih ada kerjaan.”


Ara mengangguk mantap. “Iya.”


Beberapa saat kemudian, Ara dan Desi sudah berada di depan lobi tersebut.


“Jadi, apa yang perlo lo tanyakan ke gue?”


Ara meremas kedua tangannya gugup. “Sebenarnya dari tadi pagi, aku merasa semua pada lihatin aku. Aku nggak mau GR dulu, tapi aku merasanya memang kayak gitu,” ujar Ara pelan.


Desi mengembuskan napasnya. “Jadi, lo belum tahu?”


“Tahu apa?” tanya Ara heran.


“Ra, insiden di mana lo pingsan dan Pak Jevan yang gendong lo sampai klinik. Itu masih dibicarakan sampai hari ini,” jelas Desi.


“Kenapa?”


“Gimana lo nggak jadi bahan gosip, kalau yang gendong lo ke klinik itu anaknya pemilik perusahaan? Wajarlah mereka kayak gitu. Gue aja sempat heran sama lo. Kita semua menduga, lo ada hubungan sama Pak Jevan.”


Ara membulatkan matanya. “Mana mungkin,” ujarnya pelan. “Aku sama Pak Jevan itu beda jauh, Des. Nggak mungkin kami mempunyai hubungan,” cicit Ara pelan.


“Iya, gue percaya sama lo, Arana. Gue yakin, Pak Jevan melakukan itu cuman karena dia bos yang perhatian sama bawahannya. Meski selama ini Pak Jevan kayak anti banget sama pegawainya.”


Ara hanya diam mendengarkan. Kalau sudah begini, dia bingung harus bagaimana.


“Nah, udah ya, gue mau kerja lagi. Lo juga sana, nanti kalau ketahuan Mbak Dewi, bisa kena marah kita,” ujar Desi sambil menepuk pelan bahu Ara, lalu pergi meninggalkan gadis itu yang masih terdiam di tempatnya.


Setelah jam istirahat selesai, Ara masuk ke ruangan Marketing untuk membersihkan tempat-tempat di sana. Sudah Ara duga, banyak pegawai yang menatapnya dengan menilai. Ara mencoba mengabaikan, namun tetap saja dia merasa risih dipandangi begitu.


“Itu anaknya?”


Ara mendengar bisik-bisik itu lagi.


“Iya, dia office girl yang digendong Pak Jevan sampai ke klinik.” Suara lain mulai terdengar menyahuti.


“Biasa aja, sih. Nggak ada istimewanya.” Nada meremehkan terselip dalam suara itu.


“Heem, biasa aja. Gue pikir anaknya secantik apa sampai Pak Jevan mau gendong dia. Ternyata biasa aja.”


Ara berusaha tetap fokus pada pekerjaannya. Sejujurnya, Ara tidak ingin mendengar semua itu, namun tetap saja dia punya telinga yang bisa berfungsi dengan baik.


Lagi pula, tidak bisakah mereka berbicara kalau Ara sudah pergi dari hadapan mereka? Tidak perlu membicarakannya saat dirinya sendiri sedang di sini, bersama mereka.


Ara mempercepat pekerjaannya. Setelah dirasa semua selesai, cepat-cepat Ara pergi dari sana. Dia mengembuskan napasnya pelan setelah berhasil keluar dari ruangan Marketing yang membuat dadanya terasa sesak itu.


“Arana.”


Ara menoleh ke arah suara yang memanggilnya itu. Senyumnya merekah saat melihat Sean sedang berjalan ke arahnya.


“Kamu sudah sehat?” tanya pria itu. Tanpa merasa sungkan, Sean mengarahkan tangannya ke kening Ara, yang membuat gadis itu diam membatu.


“Iya, Dok. Terima kasih,” kata Ara sambil tersenyum ramah.


“Kamu masih kerja?”


“Udah selesai. Tinggal nunggu jam pulang nanti.”


“Bagus, dong. Ikut saya saja.”


“Ke mana?”


“Temani saya makan siang di kantin.”


“Dokter belum makan siang?”


“Belum, tadi banyak pegawai yang memeriksakan diri mereka dan ujung-ujungnya minta surat istirahat.”


Ara terkekeh mendengarnya. “Tapi saya harus balikin ini dulu,” ujar Ara sambil mengangkat peralatan yang dia bawa.


Sean mengangguk. “Kalau gitu, saya tunggu di kantin.”


“Iya.”


Setelah meletakkan peralatannya, Ara pergi ke kantin perusahaannya dan menghampiri Sean yang sudah menunggu. Sejujurnya Ara merasa kurang nyaman berduaan saja dengan lelaki selain Jevan. Namun, memperbanyak teman, apa salahnya? Lagi pula, Sean kelihatan baik dan ramah.


Sesampainya di kantin, Ara mengedarkan pandangannya. Dia melihat Sean yang sedang duduk di tengah-tengah kantin sambil melambaikan tangan ke arahnya. Ara tersenyum dan berjalan ke arah Sean.


“Mau pesan apa?” tanya Sean begitu Ara sudah duduk di depannya.


Ara menggeleng. “Tadi katanya cuman menemani Dokter Sean.”


Sean terkekeh. “Nggak apa-apa kamu makan juga. Saya nggak mungkin ngajak orang cuman buat menemani saya makan,” ujarnya.


“Tapi, saya sudah makan, Dok.”


“Nggak apa-apa makan lagi. Kamu perlu banyak tenaga.”


Ara menatap Sean bimbang. Dia ragu menjawab perkataan Sean. Ara khawatir kalau-kalau Jevan sampai melihat dia dan Sean bersama. Beberapa waktu yang lalu, Jevan bahkan sangat marah kepada Ara karena berbincang dengan Sean. Apalagi kali ini mereka akan makan bersama.


“Saya yang traktir, Arana,” Sean kembali berkata saat Ara hanya diam.


Ara akhirnya mengangguk pelan. Toh, ruangan Jevan berada jauh dari kantin. Mungkin saja tidak apa-apa. Lagi pula, Jevan jarang makan siang di kantin, dan ini juga sudah lewat jam makan siang.


Sean ternyata orang yang menyenangkan. Dia tidak seperti orang kaya pada umumnya, dan begitu ramah kepada Ara. Ara merasa Sean akan menjadi teman yang baik untuknya.


Tanpa Ara sadari, Nicol, yang sedari tadi sudah berada di kantin, tengah memperhatikan mereka dengan senyum misterius yang tersungging di bibirnya. Dia mulai mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


Gue lihat Ara lagi sama cowok, mereka lagi makan berdua.


“Send,” gumam Nicol sembari tersenyum senang. Membuat Jevan marah dan kesal adalah kesenangannya.


Tidak berapa lama kemudian, pesan balasan muncul di layar ponsel Nicol.


Gue sibuk! Nggak ada waktu buat balas pesan nggak penting lo.


Nicol terkekeh. Dia mengarahkan kamera ponselnya ke arah Ara dan Sean yang tengah tertawa bersama. Nicol tersenyum puas pada gambar yang dia hasilkan. Segera saja Nicol mengirim gambar itu kepada Jevan. Saat muncul tanda bahwa pesannya sudah dilihat oleh Jevan dan laki-laki itu tak kunjung membalas pesannya, Nicol kembali terkekeh.


Sambil terus tersenyum, Nicol menatap ke arah jalan masuk ke kantin. Benar saja, tidak lama kemudian, Jevan tampak berjalan ke arah kantin dengan langkah lebarnya.


“Bos Jevan!” seru Nicol keras, yang membuat Ara menjatuhkan sendoknya begitu saja.


Sean menatap Ara dengan bingung. Dia menyentuh pelan punggung tangan Ara. “Arana, kamu kenapa?”


Ara segera menjauhkan tangannya dari Sean. “Maaf, Dok. Tapi, saya harus kembali bekerja,” ujar Ara gugup sambil berdiri dari duduknya.


Namun, saat membalikkan tubuhnya, Ara dikagetkan dengan keberadaan Jevan yang sudah berdiri beberapa langkah darinya. Ara menunduk saat Jevan memberikannya tatapan tajam.


Nicol kembali terkekeh melihat kejadian di depannya itu. Dia pun berdiri dan berjalan ke arah Jevan. Nicol merangkul bahu Jevan yang terus saja memberikan tatapan tajamnya pada Ara.


“Udah makan, Bos? Kalau belum, gimana kalau kita makan bareng sama karyawan lo,” ujar Nicol santai tanpa beban.


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-