Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 58



 Jevan telah sampai di tempatnya membuat janji dengan Natasya. Perempuan yang tadi meneleponnya itu ingin bertemu untuk membicarakan semuanya. Karena Jevan pun merasa harus menjelaskan bagaimana status keduanya sekarang, seperti apa yang dikatakan oleh sang ibu, dia akhirnya mengiakan ajakannya.


Saat melihat keberadaan Natasya di ujung kafe, tanpa banyak bicara, Jevan melangkah ke arah perempuan itu.


“Langsung aja, aku nggak punya banyak waktu,” katanya setelah duduk di depan Natasya.


Natasya tersenyum tipis melihatnya. Bahkan kata pertama yang terucap dari mulut Jevan, bukanlah kata maaf. Hal itu membuatnya kesal, tapi sebisa mungkin dia menahannya.


“Kamu nggak mau pesan kopi dulu?”


“Aku kenyang habis sarapan. Bisa kamu langsung berbicara ke intinya?” Jevan memandang Natasya malas. Dia enggan sebenarnya berhadapan lagi dengan perempuan di depannya ini.


Natasya mengangguk. “Aku mau minta maaf.”


Kening Jevan mengernyit melihatnya. Apa dia tidak salah dengar? Perempuan di depannya ini tadi berkata maaf? Kepada dirinya? Bagaimana bisa?


“Aku sadar, aku salah. Seharusnya aku nggak perlu memaksa kamu untuk kita bisa kembali seperti dulu. Aku egois banget. Aku tahu itu.”


Jevan masih memandang Natasya lurus. Dia tidak sepenuhnya percaya dengan perkataan Natasya. Dia tahu bagaimana ularnya perempuan itu. Jevan menduga, Natasya pasti sudah mempunyai rencana. Tidak mungkin dia bersikap lapang dada saat pertunangan yang dia inginkan berakhir begitu saja.


“Je, kamu mau kan maafin aku?”


Jevan mengedikkam bahunya. “Ya. Aku maafkan. Tapi, yang perlu aku tegaskan, setelah pertunangan kita berakhir, di antara kita nggak ada hubungan apa pun. Kamu harus tahu itu,” ujarnya tegas.


Natasya tersenyum tipis, dan mengangguk. “Ya. Aku tahu. Sebagai permintaan terakhir, boleh aku peluk kamu?”


Jevan kembali mengernyitkan kening. Ada apa dengan perempuan itu?


Dia akhirnya hanya mengulurkan tangannya. “Nggak ada pelukan. Aku punya Ara.”


Walau sedikit terkejut, Natasya tetap membalas uluran tangan Jevan. Lalu, tanpa diduga, perempuan itu memeluk tubuh Jevan.


Jevan yang terkejut, segera melepaskan pelukan perempuan itu. Dia menatap marah ke arah Natasya.


“Kamu apa-apaan?!” sentaknya marah.


“Aku cuman—“


“Udah!” Jevan menyela dengan cepat. “Aku mau pulang. Aku anggap di antara kita nggak ada hubungan apa pun lagi!” Setelahnya lelaki itu berjalan keluar kafe dengan kesal.


Sedangkan Natasya tersenyum penuh kemenangan melihat kepergian Jevan. Beberapa detik kemudian, seorang lelaki yang sedari tadi duduk di sudut kafe, menghampiri Natasnya.


“Beres, nih,” katanya sambil menunjukkan hasil jepretannya kepada Natasya.


Natasya mengangguk. “Bagus.” Dia mengeluarkan ponselnya. “Permainan dimulai, Arana,” gumamnya.


 


 


***


 


 


Jevan mengumpat saat ingat kelakuan Natasya tadi. Perempuan itu memang kurang ajar. Apa maksudnya memeluknya tadi? Padahal Jevan sudah tidak mau.


Dering telepon di ponselnya, membuat Jevan mengeceknya. Ada satu panggilan dari Nicol. Tanpa banyak kata, Jevan mengangkatnya.


“Ada apa?”


“Kenapa?” tanya Jevan yang kini perasaannya terasa waswas.


“Dia melukai tubuhnya!”


Jevan langsung mengerem mendadak mobilnya. Untung saja, jalanan sedang sepi.


“Apa yang lo bilang?! Gimana bisa?!” Jevan mengumpat pelan. Ini yang akhir-akhir ini dia takutkan. Jiwa gadis itu terguncang. Jevan tahu itu, karena Ara sangat menyanyangi ibunya. Dia bahkan rela menyerahkan tubuhnya kepadanya, hanya agar perawatan ibunya bisa dilakukan.


“Lo tenang. Langsung ke rumah sakit aja, gue shareloc sekarang.”


Setelah mendapat lokasi rumah sakit, Jevan segera mengemudikan mobilnya ke sana. Dalam hati lelaki itu terus berdoa, semoga saja Ara tidak apa-apa.


Beberapa menit mengemudi, Jevan akhirnya sampai di tempat parkir rumah sakit yang dimaksud oleh Nicol. Setelah memarkirkan mobilnya, Jevan segera berlari ke arah UGD, karena dari informasi yang Nicol katakan tadi, Ara masih berada di sana.


“Ara gimana?” tanya Jevan setelah dia berada di depan Nicol yang tengah berdiri di depan ruang UGD.


“Udah ditangani sama dokter. Dia sekarang lagi sama Sarah.”


Jevan mengangguk, hendak berjalan masuk, tapi Nicol menahannya.


“Ada apa?” tanyanya heran.


“Lukanya nggak seberapa parah, tapi gue yakin dia benar-benar cukup tertekan dengan keadaan ini.”


Jevan mengembuskan napas lega mendengarnya. “Ya udah, gue mau lihat Ara dulu.”


“Je.”


“Apa lagi?”


“Lo nggak mau tahu gimana bisa Ara sampai kayak gitu? Sementara saat lo tinggal tadi, dia baik-baik aja?”


Ya. Jevan sangat ingin tahu itu. Namun, dia harus melihat keadaan Ara dulu. Jevan benar-benar khawatir dengan keadaan gadis itu.


“Nanti. Gue mau lihat Ara dulu.”


“Natasya.”


Jevan menghentikan langkahnya ketika mendengar Nicol menyebut nama Natasya. Apa maksudnya?


“Maksud lo?”


Nicol diam, tapi dia mengeluarkan ponsel Ara dari dalam saku jaketnya, lalu menyerahkannya kepada Jevan. “Gue nemuin itu di ranjang. Gue pikir, itu penyebabnya.”


Jevan menerimanya dan mulai membacanya. Ada pesan dari nomor yang tidak dikenali. Jevan membaca pesan di sana, disertai dengan foto ketika Natasya memeluknya tadi.


Sial. Perempuan itu memang licik. Jevan akan menghancurkannya kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi kepada Ara.


“Lo simpan ini sebagai bukti. Gue mau temui Ara dulu.”


“Lo mau laporin Natasya ke polisi?” tanya Nicol terkejut.


“Ya. Kalau dia masih mau main-main sama gue.” Setelahnya Jevan berjalan ke dalam UGD untuk menemui Ara.


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-