Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 54



“Bilang sama Sarah untuk nggak biarin Ara sendiri dulu buat saat ini. Gue takut dia melakukan sesuatu yang buruk.”


Nicol kembali mengangguk. “Gue paham. Sarah juga udah pasti ngerti.”


Saat keduanya hendak berjalan masuk, sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumah Jevan, membuat keduanya menoleh. Mereka menunggu sampai pengemudi mobil itu turun.


Betapa terkejutnya Jevan ketika melihat Sean yang turun dari mobil, dan berjalan ke arah rumahnya.


Dari mana lelaki itu tahu rumahnya?


Sean menunduk sesaat kepada Jevan dan Nicol. “Saya mendapat kabar bahwa ibunya Arana meninggal.”


Jevan memandang lelaki itu tidak percaya. Dari mana dia tahu? Jevan menoleh ke arah Nicol yang tersenyum tipis kepada Sean. Tidak mungkin dia, mereka berdua tidak saling mengenal dekat.


Lalu, saat pikirannya menyimpulkan satu nama yang dia duga memberikan kabar kepada Sean, lelaki itu menoleh ke dalam rumah, dan melihat Sarah yang berlari tergopoh-gopoh ke arahnya sambil menampilkan cengirannya.


Jevan memandang Sarah sambil memaksakan senyumnya, lalu berganti menoleh kepada Sean yang masih berdiri di depannya.


Gadis itu kemudian menampilkan cengirannya. “Maaf, Pak. Tadi dokter Sean telepon saya, tanya ada apa sama Ara. Karena saya orangnya emang nggak jago bohong, jadi saya bilang yang sebenarnya.”


Jevan manggut-manggut mengerti. “Terus kenapa dia bisa tahu rumah saya?” desisnya kepada Sarah.


Sarah kembali menampilkan cengirannya. “Kalau itu, saya juga yang kasih alamatnya, Pak. Saya yang shareloc sama dokter Sean.”


Jevan menghela napas mendengarnya, sementara Nicol yang mendengar itu terkekeh pelan. Sarah memang perempuan unik.


“Urusan kamu dengan saya belum selesai. Kalau kita sudah bekerja seperti biasa, kamu harus mempertanggungjawabkan ini.” Seolah kembali teringat sesuatu, Jevan menatap Sarah dengan tajam. “Kamu tinggalin Ara sendiri?”


Sarah buru-buru menggeleng. “Saya titipin Ara ke Mbok Ijah sebentar, kok, Pak. Ini saya mau balik lagi ke sana.” Setelahnya Sarah hendak kembali berlari kecil memasuki rumah Jevan, tapi sebuah suara menghentikannya.


“Malam, Pak Jevan.”


Sarah menoleh. Dia membulatkan matanya begitu melihat beberapa petugas kebersihan yang hadir di sana. Jevan menoleh ke arahnya, tapi Sarah buru-buru menggeleng. Dia sama sekali tidak memberitahu teman-teman Ara di tempat kerja.


“Maaf, Pak Jevan. Saya yang memberitahu mereka. Saya rasa mereka harus tahu, keadaan Ara sekarang.”


Jevan menoleh kepada Sean yang berucap kepadanya. Ingatkan Jevan kalau sekarang Ara tengah bersedih. Jika tidak, sudah dipastikan dia akan mengamuk di sini sekarang.


***


Pemakaman ibu Ara baru saja selesai dilaksanakan. Kini, gadis itu masih diam di samping kuburan sang ibu. Air mata terus saja menetes di kedua pipinya. Jevan, Nicol, Sarah, dan beberapa teman dekat Ara dan juga Sean, masih setia mendampingi gadis itu.


“Je, udah malam banget ini. Kayaknya juga mau hujan. Ajak Ara pulang aja,” bisik Nicol kepada Jevan yang berdiri di sampingnya.


Jevan mengangguk, dan ikut berjongkok di samping Ara, tangannya meraih kedua bahu Ara. “Udahan, ya. Besok kita ke sini lagi. Sekarang kita pulang dulu,” ujarnya lembut kepada Ara.


Ara masih menangis, dia menoleh ke arah jevan. Lelaki itu terlihat sangat lelah. Jadi, mau tidak mau, Ara mengangguk.


Jevan tersenyum dan membantu Ara berdiri. Saat hendak meninggalkan pemakaman, Sean berjalan menghampiri keduanya.


“Arana,” panggilnya.


Ara menatap ke arah Sean. Dia kembali menangis. Tidak percaya bahwa ada banyak orang yang masih peduli padanya. Apalagi, dia juga melihat keberadaan Desi di sana. Ara pikir, setelah kehilangan ibunya, dia sudah tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini.


“Saya turut berduka. Tetap semangat, ya. Saya pamit pulang dulu.”


Ara mengangguk. Bahkan untuk mengucapkan terima kasih saja, rasanya tidak bisa. Lidahnya kelu.


Sean tersenyum tipis kepada Ara, tangannya menepuk bahu Ara pelan. “Saya tahu kamu perempuan kuat.” Setelah berpamitan pada yang lain, lelaki itu pun pergi dari sana.


Jevan berusaha mati-matian untuk tidak berteriak kepada Sean tadi. Berani sekali lelaki itu menyentuh miliknya, bahkan di saat dirinya ada di depannya.


Jevan yang mengerti, segera melepas rangkulannya dari tubuh Ara. Memberikan waktu kepada dua gadis itu.


Ara makin menangis di pelukan Desi.


“Ra, gue tahu lo kuat. Jadi, jangan nangis terus, ya. Ini mungkin yang terbaik buat ibu lo,” kata Desi.


Ara hanya mengangguk dalam pelukan Desi. Setelah beberapa menit mereka berpelukan, Desi melepaskan pelukannya.


“Gue pulang dulu, ya. Besok sepulang kerja, gue usahain jenguk lo lagi. Jangan nangis terus, ya?”


Ara hanya kembali mengangguk.


“Yang kuat,” ujarnya sebelum pergi meninggalkan area pemakaman itu.


Saat Jevan hendak kembali merangkul Ara, seseorang yang menghampiri Ara, membuat dirinya berhenti. Itu Adi. Bocah sok yang mencoba mendekati Ara-nya.


“Mbak Ara, turut berduka, ya. Mbak yang sabar. Semua memang ada waktunya.”


Ara kembali mengangguk.


“Aku pulang dulu ya, Mbak.” Adi mengulurkan tangannya ke hadapan Ara. Ara menjabat uluran tangan itu. “Mbak Ara itu kuat. Aku percaya itu, Mbak.”


Jevan benar-benar diuji hari ini. Pertunangannya batal, memang dirinya senang akan hal itu. Tapi, penyebab batalnya pertunangan itu membuatnya tidak suka. Gara-gara hal itulah Ara terlihat sangat rapuh sekarang.


Belum lagi ibunya yang datang dan marah-marah kepadanya tadi. Itu benar-benar mengganggu pikirannya. Setelahnya, seolah Tuhan belum selesai mengujinya, dia harus dihadapkan dengan keberadaan dua orang yang sudah dia anggap musuh, karena sudah berani mendekati Ara.


Apalagi, kedua orang itu seolah tidak takut kepadanya. Mereka menyentuh Ara di depannya. Mereka seolah mengibarkan bendera perang kepada Jevan. Sial sekali, bukan?


“Je, tenang. Lo harus bisa ngontrol emosi. Ara lagi sedih, lo nggak akan nambah kesedihannya dia, kan?” tanya Nicol sambil berbisik kepada Jevan.


Jevan hanya mendengus mendengar itu. Lalu, setelah semuanya sudah berpamitan kepada Ara, Jevan mulai merangkul Ara untuk kembali berjalan ke arah mobil Nicol yang terparkir di sana.


“Kamu lagi ngapain?” tanya Jevan saat melihat Sarah yang terus fokus dengan ponselnya.


“Saya mau pesan taksi online, Pak.”


“Nggak usah.”


Sarah menatap Jevan dengan senang. “Bapak mau nyuruh sopirnya Bapak buat antar saya?”


“Kenapa kamu percaya diri sekali?”


Sarah cemberut mendengarnya.


“Hari ini kamu menginap di rumah saya.”


“Saya?” tanya Sarah terkejut.


Jevan hanya mengangguk. “Ara perlu teman.”


 


 


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-