
Keesokan harinya, setelah sarapan, Jevan bergegas pergi ke rumah kedua orang tuanya. Dan di situlah Jevan berada sekarang, tengah berjalan menuju pintu utama rumah kedua orangtuanya. Rasanya memang sudah lama Jevan tidak berkunjung ke sana. Sejak tinggal bersama Ara, Jevan merasa lebih ingin berada di rumah dan menghabiskan waktu berdua dengan gadis itu.
Saat Jevan membuka pintu utama rumahnya, lelaki itu bergeming begitu melihat siapa tamu yang tengah berbincang dan terkekeh bersama dengan ibunya.
“Jevan! Kamu sudah datang, ayo ke sini. Natasya sudah lama menunggu kamu,” kata ibu Jevan semangat.
Jevan tetap diam, pandangan matanya lurus menatap gadis yang sudah membuat perasaannya mati itu, yang membuat Jevan tidak lagi percaya adanya cinta.
“Je, jangan diam aja, dong. Ayo ke sini,” ujar sang ibu lagi.
Jevan mengembuskan napasnya pelan sebelum melangkah ke arah sofa tempat sang ibu dan Natasya duduk. Jevan lebih memilih duduk di sofa tunggal di sana, daripada bergabung dengan ibunya dan juga Natasya.
“Hai, Je. Apa kabar?” sapa Natasya ramah.
Jevan masih menatap Natasya dengan lurus. “Lebih baik dari saat kamu meninggalkan aku dulu,” ujar Jevan sambil mengedikkan bahunya.
“Jevan!” seru ibu Jevan kesal.
Natasya tersenyum menenangkan. “Nggak apa-apa, Tante. Jevan cuman bercanda.”
Ibu Jevan mengembuskan napasnya. “Kalian berdua ngobrol dulu, tante mau suruh pelayan untuk membuatkan minum,” ujarnya kepada Natasya.
Setelah ibu Jevan pergi meninggalkan mereka berdua, Natasya kembali mengalihkan pandangannya kepada Jevan.
“Kamu nggak berubah ya, masih sama kayak dulu,” ujarnya sambil memberikan senyuman manis kepada Jevan.
“Lalu kamu berharap aku harus bagaimana? Menjadi pria banci yang harus menangisi mantan tunangannya, yang pergi ketika hari pernikahan mereka akan digelar satu minggu lagi?” sarkas Jevan sambil memberikan tatapan tajam kepada Natasya, gadis yang pernah dia cintai dengan setulus hati.
Natasya tersenyum miris. “Maaf, Je. Aku nggak tahu, kalau ulahku beberapa tahun lalu, bisa membuat kamu seperti sekarang.”
“Aku baik-baik saja. Perempuan seperti kamu, bisa aku dapatkan dengan mudah,” ujar Jevan sombong.
“Ya. Kamu pasti bisa melakukannya,” jawab Natasya pelan.
“Kenapa kamu kembali? Sudah tidak laku menjual diri di negara orang?”
“Je,” panggil Natasya tidak menyangka. “Aku nggak menjual diri, aku kerja di sana.”
“Kerja apa yang mengharuskan kamu hanya memakai pakaian dalam? Bahkan hampir tanpa menggunakan busana?!” Jevan berdecih meremehkan.
Natasya menggeleng tidak percaya. “Kenapa kamu jadi sejahat ini, Je? Aku beneran kerja di sana, aku cari uang buat—”
“Buat apa, Ca!” sentak Jevan marah. Ya. Lelaki itu sudah tidak bisa membendung amarahnya. Dia dulu sangat mencintai gadis di depannya ini, tapi gadis itu juga yang menyebabkan Jevan merasakan kekecewaan yang luar biasa.
“Kamu tahu, kalau kamu menikah sama aku. Kamu nggak akan kekurangan apa pun! Aku bisa memberikan kamu kehidupan yang layak dan hidup bagai seorang putri raja! Aku bisa! Tapi, apa yang kamu lakukan? Kamu bahkan lebih memilih karier kamu dari pada hari pernikahan kita!” Jevan tersenyum sinis. “Aku harusnya sadar sejak awal, kamu memang nggak pernah benar-benar mencintai aku. Hanya aku yang mencintai kamu dengan tulus, Ca. Sedangkan kamu bahkan nggak pernah sedikit pun peduli bagaimana hancurnya aku saat itu.”
Natasya, atau yang lebih sering Jevan panggil dengan sebutan ‘Aca’ itu, kini tengah menangis di tempat dia duduk. Dia tidak bermaksud seperti itu, tapi takdir yang memaksanya begitu.
“Aku nggak gitu, Je. Aku mencintai kamu dengan tulus.”
“Omong kosong, Ca! Kalau kamu memang mencintai aku dengan tulus, kamu nggak akan meninggalkan aku begitu saja! Seharusnya hari ini kita sudah menjadi sepasang suami istri yang berbahagia dengan anak-anak yang lucu. Tapi, kenyataannya kamu menghancurkan mimpiku, Ca. Kamu hanya peduli dengan diri kamu sendiri!”
Natasya menggeleng. Itu semua tidak benar. Natasya juga mempunyai mimpi yang sama dengan Jevan. Hanya saja, waktu itu dia memang harus pergi. Itu bukan keinginannya, tapi semua sudah telanjur terjadi.
“Jevan, ada apa ini? Kenapa Natasya menangis?” tanya ibu Jevan sambil berjalan ke arah Natasya dengan dua pelayan di belakangnya.
Ibu Jevan duduk di samping Natasya dan meraih tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Matanya menyorot tajam ke arah sang anak.
“Kamu apakan Natasya?!”
“Jevan, kamu mau ke mana?!” teriak ibunya dengan kesal.
“Kamar, Bu. Jevan capek mau istirahat,” jawab Jevan cuek sambil terus meneruskan langkahnya ke arah kamar.
Jevan memang lelah dan ingin beristirahat, namun alasan sesungguhnya adalah karena Jevan tidak bisa melihat Natasya menangis lebih lama lagi. Karena mau bagaimana pun, gadis itu masih memiliki tempat tersendiri di hatinya.
Jevan membuka pintu kamarnya lalu menutupnya. Kakinya melangkah ke arah ranjangnya, kemudian dia menjatuhkan tubuhnya di sana. Jevan memejamkan kedua matanya, bayangan Natasya yang tengah menangis masih terus berputar-putar di kepalanya.
Akhirnya, lelaki itu memilih mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menelepon seseorang yang mungkin saja bisa membuat perasaannya yang tidak enak ini menghilang.
“Ara,” sapa Jevan saat Ara baru saja mengangkat panggilannya.
“Je, ada apa? Ada yang ketinggalan? Atau baju kamu di sana nggak ada? Aku suruh Pak Sopir anter aja, ya,” kata Ara mendahului Jevan.
Senyum di bibir Jevan terbit. Bahkan hanya dengan mendengar suara gadis itu, perasaannya yang terasa diimpit beban itu menghilang. Jevan merasa lega.
“Je,” panggil Ara lagi ketika Jevan hanya diam, tidak memberikan respons apa pun kepadanya.
“Aku hanya mau mendengar suara kamu,” kata Jevan.
Ketika Ara tak kunjung membalas suaranya, Jevan terkekeh pelan. Bisa Jevan pastikan, saat ini gadis itu tengah tersenyum dengan rona merah di pipinya. Pasti sangat menggemaskan jika Jevan bisa melihatnya secara langsung.
“Kenapa diam?” tanya Jevan.
“Kamu, sih,” balas Ara pelan.
“Kamu sedang apa?” tanya Jevan berusaha mengalihkan pembicaraan, karena kalau tidak, Ara pasti tidak akan mau berbicara dengannya.
Jevan sangat menikmati berbicara dengan Ara melalui telepon begini. Rasanya sangat menyenangkan.
“Aku di perpustakaan, lagi baca novel yang kamu beliin tapi belum sempat aku baca.”
“Oh ya? Ceritanya yang mana? Aku lupa?”
“Yang genre-nya romance. Yang tentang suami, istri dan masalah dalam pernikahan mereka.”
Jevan mangut-mangut mengerti. “Baca dan pahami ceritanya.”
“Memangnya kenapa?” Ara menyuarakan rasa penasarannya.
“Siapa tahu kita bisa mempraktikkan yang ada dalam novel itu,” jawab Jevan santai.
Ara kembali diam mendengarnya. Adegan yang dimaksud Jevan adalah adegan yang pastinya menjurus pada iya-iya. Sementara Ara baru mengerti mengapa Jevan membelikan novel itu untuknya. Sungguh! pria ini benar-benar membuat Ara...
“Blushing lagi?” tanya Jevan menebak sambil terkekeh pelan. “Kamu kenapa lucu banget, sih, Ra?”
“Jangan ngomongin itu lagi, Je. Kamu buat aku malu,” jawab Ara pelan dari seberang sana.
“Aku bahkan belum bilang di halaman berapa kamu bisa menemukan yang aku maksud.”
“Je, sudah, ah! Aku tutup, kamu nyebelin!"
Jevan memandang layar ponselnya dan terkekeh pelan. Sambungan telepon dimatikan begitu saja oleh Ara. Gadis itu pasti tengah malu karena godaannya. Jevan meletakkan ponselnya di sisi kanannya. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Setidaknya mendengar suara Ara bisa membuat Jevan melupakan pertengkarannya tadi dengan Natasya.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-