Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 94



Satu hari berlalu, siang ini Ara dan Jevan tengah makan siang bersama di rumah orangtua lelaki itu. Setelah menerima oleh-oleh dari Jevan, kedua orangtuanya itu pamit pergi jalan-jalan.


“Itu oleh-oleh buat Mbak Sarah besok kamu bawa sekalian ke kantor?”


Jevan memandang Ara yang duduk di depannya. “Aku belum bilang sama kamu. Sarah resign.”


Gadis itu memandang Jevan terkejut. “Kenapa? Sejak kapan, Je?”


“Hari pertama kita sampai di Indonesia, yang aku langsung ke kantor. Aku langsung ke sana karena Sarah kirim pesan kalau surat pengunduran dirinya udah ada di meja aku. Sesampainya di sana, Sarah udah nggak ada.”


“Terus kamu udah telepon?”


Jevan mengangguk sambil terus memakan makan siangnya. “Nggak dijawab. Aku juga udah kirim pesan, nggak dibalas juga.”


Ara mengembuskan napas pelan. “Mas Nicol?”


Jevan menggeleng. “Aku belum hubungi dia. Sekarang aku kalang kabut nggak ada Sarah, Ara.”


“Biar nanti aku yang hubungi Mbak Sarah. Siapa tahu aja dia mau angkat kalau aku yang telepon.”


“Sekalian suruh balik kerja. Aku butuh sekretaris cekatan kayak dia. Pekerjaanku, jadwalku, semuanya berantakan karena dia nggak ada.”


Ara mengangguk. “Iya, nanti aku coba bujukin juga.”


Setelah makan siang, Ara langsung menghubungi Sarah. Gadis itu menjawab panggilannya, dan ketika Ara mengajaknya bertemu, Sarah juga mau.


Jadi, di sinilah Ara berada sekarang. Di salah satu kafe tidak jauh dari rumah orangtua Jevan, tengah menunggu kedatangan Sarah. Awalnya Jevan memaksa untuk ikut. Tapi, Ara dengan tegas menolak. Dia merasa Sarah tidak akan mengungkapkan yang sebenarnya kalau Jevan ikut. Jadi, Jevan akhirnya membiarkan Ara berangkat sendiri diantar oleh sopir.


Ara melambaikan tangan dan tersenyum lebar kepada Sarah yang baru saja memasuki kafe.


“Hai,” sapa Sarah ketika dia sudah duduk di depan Ara.


“Mbak Sarah apa kabar?” tanya Ara sambil menatap ke arah Sarah dengan teliti. Tidak ada yang berbeda dari gadis di depannya ini. Tapi, tunggu dulu. Senyuman Sarah. Dia terlihat terpaksa melakukan itu. Kenapa?


“Baik. Kamu gimana? Duh, pertanyaanku salah, ya? Jelas kamu kelihatan bahagia sekarang,” ujarnya sambil tertawa.


Ara tersenyum tipis menanggapinya. Dia lalu meletakkan paper bag yang dia bawa, dan meletakkan di meja, lalu menggesernya ke arah Sarah.


“Jevan beli buat Mbak Sarah.”


Sarah langsung membuka isinya. Gadis itu melongo ketika melihat tas branded di sana. Dia menatap Ara terkejut.


“Ra, ini nggak berlebihan?”


Ara menggeleng. “Jevan bilang selama ini Mbak Sarah udah banyak bantu. Walau sikapnya Jevan ketus, tapi Mbak Sarah betah selama hampir lima tahun. Jadi, kata dia, tas ini nggak ada apa-apanya dibanding kerja Mbak Sarah sama Jevan selama itu.”


Sarah diam, meraih paper bag itu, dan menggesernya ke samping. “Kamu pasti udah tahu. Pak Jevan yang bilang, ya?”


“Mbak Sarah kenapa? Ada masalah?”


Sarah hanya menggeleng dan tersenyum kecut. “Aku nggak apa-apa. Untuk sementara waktu, tanpa alasan, aku cuman mau menghilang aja dari keseharianku.”


“Kenapa?” Ara menatap Sarah ragu. “Ada hubungannya sama Mas Nicol?” tanyanya hati-hati.


Kediaman Sarah menjawab pertanyaan Ara. Ya. Ini pasti ada sangkut pautnya dengan Nicol.


Ara meraih tangan Sarah, lalu menggenggamnya. “Nggak apa-apa kalau sekarang Mbak Sarah nggak mau cerita. Tapi, kapan pun Mbak butuh teman untuk cerita, aku selalu siap, kok,” ujarnya.


Sarah tersenyum mendengarnya. “Makasih ya, Ra. Kamu baik banget. Pak Jevan nggak salah pilih kamu jadi istri.”


Ara hanya tersenyum dengan pipi merona. “Mbak mau makan? Pesan aja.”


“Kamu?”


“Aku tadi udah makan siang di rumah. Masih kenyang.”


“Aku boleh pesan apa aja? Maklum lah Ra, aku sekarang pengangguran. Harus hemat sebelum dapat pekerjaan baru.”


“Pesan semuanya, saya yang bayar.”


Kedua gadis itu menoleh dan menemukan Jevan yang sudah berdiri di dekat meja mereka. Lelaki itu mengambil tempat di antara Ara dan Sarah.


“Pak Jevan di sini?” tanya Sarah terkejut.


Jevan menatap Ara, lalu mengusap lembut rambut istrinya itu. “Aku nggak sabar, Ara. Aku pengen dengar sendiri dari mulut Sarah.” Lelaki itu kembali menatap Sarah yang memandangnya takut-takut. “Kamu kenapa? Gaji yang saya kasih kurang? Atau kamu udah bosan saya buat susah? Kenapa resign tiba-tiba? Kamu nggak tahu gimana pusingnya saya sekarang?”


Sarah hanya menyengir lebar. Dia menatap Ara yang duduk di depannya meminta bantuan.


“Je, jangan gitu. Ngomongnya yang bener,” ujar Ara ketika mengerti arti tatapan Sarah.


Jevan berdecak. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Maaf.”


Sarah menatap Jevan terkejut. “Kenapa Bapak minta maaf?” tanyanya.


“Maaf kalau saya sering buat kamu susah.”


Mendengarnya, Ara tersenyum tipis, sementara Sarah langsung menggeleng dengan cepat.


“Nggak, kok, Pak. Saya nggak merasa dibuat susah sama Pak Jevan. Kan itu memang tugas saya.”


“Jadi, kamu memaafkan saya?”


Gadis itu mengangguk, lalu menggeleng. “Nggak ada yang harus dimaafkan sebenarnya,” gumamnya pelan.


Jevan tersenyum lebar mendengarnya. “Karena kamu sudah memaafkan saya. Jadi, besok kamu mulai kerja kembali.”


“Nggak bisa gitu, dong, Pak!” seru Sarah keras. Lalu, gadis itu kembali diam saat melihat pelototan Jevan. “Maksud saya, saya maafin Bapak, bukan berarti saya mau kerja lagi.”


Jevan mendengus mendengarnya. “Begini saja, saya anggap kamu nggak pernah ngasih surat pengunduran diri itu. Saya anggap saya hanya memberikan kamu cuti.” Lelaki itu menatap Sarah dengan pandangan serius. “Kamu hanya jenuh, Sarah. Percaya dengan saya. Saya juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan sekarang. Jadi, saya beri kamu cuti satu minggu.”


Sarah diam mendengarnya. Masalahnya tidak sesepele itu. Ini perihal hati yang tidak bisa dia bicarakan secara langsung.


“Dua minggu,” kata Jevan lagi ketika melihat Sarah hanya diam.


Gadis itu menatap Jevan dan Ara secara bergantian. Tapi, keduanya begitu baik dengannya. Sarah juga sudah menganggap mereka seperti keluarga tanpa ikatan darah.


“Oke, sebulan.”


“Deal.”


Jevan melotot ke arah Sarah, sedangkan gadis itu hanya menyengir lebar. Ara tersenyum melihat interaksi keduanya. Seperti sepasang kakak adik. Terlihat lucu.


***


Setelah mengantar Ara pulang, Jevan mengatakan kepada gadis itu jika dia akan pergi ke kantor, meski kenyatannya dia malah menyebrang jalan dan memasuki kedai milik Nicol.


“Nicol di mana?” tanyanya langsung kepada salah satu pegawai lelaki itu yang tengah membuat kopi.


“Di ruangannya, Pak.”


Tanpa banyak kata lagi, Jevan segera menaiki tangga menuju lantai dua untuk sampai di ruangan pribadi milik Nicol. Tanpa mengetuk, Jevan segera masuk dan melihat Nicol yang tengah tiduran di sofa panjang yang ada di sana sambil menutup matanya menggunakan lengannya.


Jevan berjalan mendekati Nicol. Lelaki itu membangunkan Nicol menggunakan sepatunya. Mendorong-dorong kaki lelaki itu menggunakan kakinya.


“Bangun.”


Tak perlu menunggu lama, Nicol akhirnya menyingkirkan lengannya dari matanya. Perlahan, lelaki itu membuka matanya yang membuat Jevan terkejut. Lingkaran hitam di bawah mata lelaki itu terlihat sangat jelas?


“Lo nggak pernah tidur?”


Nicol hanya mendengus pelan. Dia berjalan ke arah kulkas mini yang ada di sana, mengeluarkan cola dingin dari sana, melemparkannya satu kepada Jevan, sebelum membuka miliknya, dan meminumnya.


“Ada apa?” tanya Nicol sambil berjalan menghampiri Jevan yang sudah duduk di sofa.


“Lo kenapa sama Sarah? Berantem?” tanya Jevan langsung.


Nicol diam dan meminum colanya hingga habis. Lalu, dia menatap ke arah Jevan. “Kenapa? Dia cerita sesuatu sama Ara?”


“Dia resign dari kantor, dan ini pasti penyebabnya adalah lo.”


Nicol mendengus. “Kenapa, sih, cewek selalu berpikir semaunya? Dan bertindak egois?


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-