
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di dalam kamar mandi khusus karyawan, Ara tengah menangis tanpa suara. Hatinya terasa sakit ketika dia tadi melihat Jevan berciuman dengan perempuan lain.
Ara tahu, dia tidak berhak menangis seperti ini. Sejak awal, dia dan Jevan memang tidak memiliki ikatan apa pun. Mereka hanya saling menguntungkan. Jevan memberikan Ara tempat tinggal dan pekerjaan, lelaki itu juga bersedia membiayai perawatan ibunya. Namun imbalannya adalah tubuhnya. Dia harus bersedia jika kapan pun Jevan menginginkan tubuhnya.
Meski demikian, kenapa hati Ara terasa sakit saat dia menyadari fakta itu? Dia rupanya tidak rela melihat Jevan bersama perempuan lain.
“Woi, siapa, sih, di dalam? Lama banget, gantian dong.”
Ara buru-buru mengusap pipinya saat seseorang mengetuk pintu kamar mandi dengan tidak santai.
“Sebentar,” ujar Ara dengan suara serak.
Setelah memastikan dirinya baik-baik saja, Ara membuka pintu kamar mandi dan keluar dari sana. Di luar sudah ada dua orang pegawai.
Ara menunduk dan segera berjalan keluar melewati keduanya. Namun, Ara masih bisa mendengar ketika keduanya mulai bergosip.
“Dia cewek yang digendong Pak Jevan itu, kan?”
“Iya, dia orangnya.”
“Kelihatan habis nangis gitu.”
“Dibuang kali sama Pak Jevan. Denger-denger, model cantik tadi itu tunangannya Pak Jevan.”
“Oh, yang sempat mau nikah sama Pak Jevan itu?”
“Iya.”
“Panteslah si OG itu dibuang, mereka jelas nggak setara.”
***
Jevan sudah menunggu kedatangan Ara selama beberapa, tapi gadis itu belum juga terlihat. Lelaki itu berjalan mondar-mandir di ruang tamu rumahnya sambil sesekali menatap pintu rumahnya dengan perasaan khawatir.
Jevan takut Ara kenapa-napa. Dia bahkan takut Ara akan pergi meninggalkannya setelah melihat kejadian tadi.
Saat Jevan tidak bisa menahan dirinya lagi, lelaki itu meraih kunci mobil di meja, hendak pergi mencari Ara. Namun, langkahnya terhenti ketika pintu rumahnya terbuka dan menampilkan Ara dengan pakaian kerjanya. Gadis itu tengah menenteng keresek yang Jevan tak tahu apa isinya.
Segera saja Jevan melangkah ke arah Ara dengan langkah lebarnya. Sesampainya di depan Ara, Jevan segera membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
Dia tadinya ingin marah. Namun, saat melihat wajah Ara, amarahnya menghilang seketika. Ara benar-benar mengubah Jevan. Dia merasa bahwa dirinya bukan seperti dulu lagi. Lagi pula, sejak kapan Jevan merasa begitu panik hanya karena seorang gadis yang tidak kunjung pulang?
“Kamu dari mana aja? Ini udah lewat jam pulang kerja,” kata Jevan setelah melepas pelukannya dari tubuh Ara.
Ara memperlihatkan isi keresek yang dibawanya ke hadapan Jevan. “Aku pengen mie ayam, jadi aku beli. Tapi, gerobaknya ramai, antre dulu tadi.”
Jevan mengembuskan napasnya kasar. Dia panik dan khawatir, sementara Ara malah membeli mie ayam tidak berguna itu. Jevan membalikkan badan, memunggungi Ara. Dia harus menenangkan dirinya.
“Kamu udah makan, Je?” tanya Ara dengan nada lembut.
Jevan membalikkan badannya kasar. “Gimana bisa aku makan kalau aku panik kamu nggak pulang?!” sentaknya marah.
Ara diam dan menunduk. “Maaf, aku nggak bermaksud buat kamu khawatir,” ujarnya.
Jevan memandang Ara tajam, sebelum berjalan meninggalkan gadis itu begitu saja.
Ara diam setelah kepergian Jevan. Matanya mendadak memanas. Dia ingin menangis sekarang. Jevan tadinya sudah jarang berbicara dengan nada tinggi kepadanya, dan ketika Jevan kembali berbicara seperti itu, Ara merasa tidak suka.
“Mbak Ara,” panggil Mbok Ijah sambil berjalan mendekat ke arah Ara.
Ara mengusap pipinya yang basah karena air matanya jatuh tanpa dia sadari. “Kenapa, Mbok?” tanyanya.
“Mbak Ara jangan salah sangka dulu, tadi Pak Jevan memang sangat panik saat tahu Mbak belum pulang kerja.”
“Panik, Mbok?” ulang Ara. Walau dia sudah mendengar dari Jevan, Ara masih ragu dengan lelaki itu. Namun ketika Mbok Ijah yang mengatakannya, Ara pun sedikit percaya.
“Iya. Pak Jevan bahkan nggak minum atau ganti baju, dia cuman mondar-mandir di ruang tamu ini, menunggu Mbak Ara pulang.”
Ara tersentuh mendengarnya. Benarkah Jevan benar-benar mengkhawatirkannya?
Ara tersenyum ke arah Mbok Ijah. “Ini mie ayam kuahnya dipisah. Aku beli tiga, sama buat Mbok juga. Tolong taruh mangkuk ya, Mbok. Aku mau ke kamar dulu.”
“Iya, makasih, Mbak.”
Ara mengangguk dan berjalan menuju kamarnya di lantai dua.
Sesampainya di depan kamar, Ara mengembuskan napas pelan sebelum memberanikan diri membuka pintu kamar itu. Kosong, Jevan tidak ada di sana. Ara hendak keluar kamar, sebelum pintu kamar mandi terbuka dan menampilakan Jevan yang hanya mengenakan celana pendek tanpa menggunakan atasan.
“Kenapa?” tanya Jevan sambil meraih kausnya dan memakainya.
“Aku mau ajak kamu makan. Mie ayam yang tadi enak, kok. Belinya di langganan aku,” ujar Ara pelan, berusaha untuk tidak membuat Jevan marah.
Jevan masih memberikan tatapan tajamnya kepada Ara. “Kamu mandi sama ganti pakaian dulu,” ujarnya.
Senyum di bibir Ara terbit. “Kamu mau makan bareng aku?”
“Hmm, kamu mandi dulu.”
Ara mengangguk dengan semangat. “Iya.”
Diam-diam tanpa sepengetahuan Ara, Jevan tersenyum tipis. Dia lega melihat senyuman Ara kembali. Awalnya dia takut Ara akan terlihat murung karena melihat kejadian di ruangannya tadi. Namun, tampaknya gadis itu baik-baik saja.
Meski demikian, entah mengapa dia tidak suka saat menyadari Ara terlihat tidak terganggu dengan kejadian di kantor tadi. Itu artinya, Ara tidak memedulikannya, bukan?
Beberapa saat kemudian, Ara dan Jevan sudah berada di meja makan dengan semangkuk mie ayam di depan mereka masing-masing. Jevan memperhatikan Ara yang makan dengan lahap.
Dia tersenyum. Gadis itu tampak menggemaskan.
“Kenyang,” gumam Ara setelah gadis itu menghabiskan mie ayam dan air putih miliknya.
“Kalau masih kurang, makan punyaku,” kata Jevan saat menyadari mangkuk Ara bersih dari sisa mie.
Ara menggeleng. “Kamu habisin aja, aku beneran kenyang, kok,” jawabnya sambil tersenyum.
Jevan berdeham pelan, sebelum memulai pembicaraan. “Tangan kamu nggak apa-apa?”
Ara menatap ke arah Jevan. Dia kemudian menatap tangannya yang tadi telah diobati oleh lelaki itu. Melihat lukanya ini, Ara jadi teringat lagi penyebab dirinya sampai memecahkan gelas tadi.
“Udah nggak apa-apa.”
“Yang tadi kamu lihat, itu nggak seperti yang kamu bayangkan.” Entah mengapa, walau Ara tidak bertanya, Jevan tetap ingin memberitahu gadis di depannya ini.
Ara terkekeh pelan. “Memangnya kamu tahu apa yang aku bayangkan?”
Jevan jadi salah tingkah sendiri mendengar pertanyaan Ara. “Maksudku, aku dan Natasya nggak ada hubungan apa-apa.”
“Aku malah nggak yakin sama apa yang kamu bilang. Bukannya kamu manggil Mbak Natasya dengan sebutan ‘Aca’?” Ara masih ingat dengan jelas kali pertama dia, Jevan, dan Natasya bertemu. Saat itu keduanya tampak terkejut. Dia juga masih ingat kalau waktu itu Jevan memanggil Natasya dengan panggilan ‘Aca’.
Jevan mengembuskan napasnya melihat itu. “Itu hanya sekadar nama panggilan, nggak ada artinya buat aku. Manggil dia dengan nama Natasya, terlalu panjang buat aku, jadi aku singkat aja jadi Aca.”
Tapi buat aku itu berarti, Je.
“Iya, aku ngerti, kok.” Ara tetap menampilkan senyuman tipisnya kepada Jevan.
“Kamu jangan berpikiran yang macam-macam. Jangan menebak-nebak atau mencari tahu tentang hubunganku dan Natasya. Aku nggak suka. Kamu paham?”
“Kenapa aku nggak boleh tahu?” tanya Ara penasaran.
“Ara, kamu masih ingat kan, aku bilang suka dengan gadis yang penurut?” tanya Jevan sambil memberikan tatapan tajamnya kepada Ara.
Ara hanya meringis dan mengangguk. “Iya, aku nggak akan cari tahu.”
“Bagus.”
Keduanya masih larut dengan percakapan mereka, ketika bel rumah Jevan berbunyi. Jevan berdecak saat menyadari tak ada yang membukakan pintu rumahnya.
“Mbok Ijah!” teriaknya. “Ke mana, sih? Mbok Ijah!” teriaknya lagi ketika Mbok Ijah tidak menampakkan dirinya.
“Je,” panggil Ara. “Udah, biar aku aja yang bukain pintu.” Dia beranjak berdiri dan berjalan untuk membukakan pintu.
Saat pintu sudah terbuka, Ara terkejut melihat siapa tamu yang datang. Tidak berbeda dengan Ara, tamu itu pun terkejut melihat keberadaan Ara.
Sementara itu, Jevan, yang merasa bahwa Ara terlalu lama membukakan pintu, akhirnya ikut melangkah ke arah pintu utama rumahnya.
Jevan bergeming beberapa langkah di belakang Ara, ketika melihat siapa tamu yang datang ke rumahnya.
“Kalian tinggal bersama?” tanya sang tamu. Natasya.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-