
Jevan dan Ara sampai di Bali saat hari sudah berganti malam. Lelaki itu membawa Ara ke salah satu vila miliknya di Lombok. Mereka disambut oleh beberapa orang yang ditugaskan Jevan untuk membersihkan vila itu.
“Kamu mandi di kamar. Aku mandi di kamar mandi luar. Setelahnya, kita makan malam bersama,” ujar Jevan kepada Ara, yang langsung dijawab anggukan oleh gadis itu.
Beberapa menit kemudian, Ara keluar kamar dan menghampiri Jevan yang tengah duduk santai di sofa ruang tengah.
“Udah?” tanya Jevan ketika Ara duduk di sampingnya.
Gadis itu mengangguk. “Aku lapar,” katanya.
“Iya, bentar lagi kita makan.” Jevan berdiri dari duduknya, dan menarik tangan Ara untuk ikut berdiri, lalu keduanya berjalan keluar dari vila.
“Kita mau ke mana, sih?” Ara bertanya kesal, karena Jevan malah mengajaknya berjalan sambil berpegangan tangan, menyusuri bibir pantai.
“Iya, ini kita memang mau makan,” jawab Jevan santai.
Tidak lama kemudian, setelah berjalan bersama, di depan sana terdapat sebuah meja dengan dua kursi yang sudah dihias, yang menimbulkan kesan romantis di mata Ara.
“Duduk,” suruh Jevan ketika dia sudah duduk di kursinya, sementara Ara masih berdiri dan memandang hal remeh itu dengan takjub.
Ara tersenyum tipis, lalu duduk di depan Jevan. Tidak lama kemudian, seorang koki menghampiri mereka dengan membawa beraneka jenis hidangan, kemudian meletakkannya di meja itu.
Mata Ara berbinar senang melihatnya. Ada kepiting, udang, ikan, kerang, cumi, dan masih banyak hidangan lainnya. Jangan lupakan dua buah kelapa yang terlihat segar itu.
“Selamat menikmati,” ujar koki itu ramah, sebelum pergi meninggalkan Ara berdua dengan Jevan.
Ara tersenyum lebar kepada Jevan. Sementara Jevan hanya tersenyum tipis melihatnya. “Makan,” katanya.
Ara mengangguk. “Makasih,” ujarnya senang, sebelum meraih piring, lalu mengambil makanan yang dia mau.
Jevan tersenyum melihat Ara yang terlihat senang itu. Apakah yang dia lakukan ini benar atau tidak, dia tidak tahu. Namun, Jevan hanya ingin bersenang-senang dengan Ara. Dia ingin sejenak melupakan masalah yang tengah dia hadapi.
Jevan kemudian ikut makan bersama Ara. Sesekali Ara berbicara dengan Jevan. Gadis itu banyak tersenyum malam ini, dan Jevan menyukai itu.
“Kenyang,” gumam Ara setelah dia dan Jevan menyelesaikan makan malam mereka.
“Kamu habisin dua kepiting gitu, gimana nggak kenyang,” cibir Jevan kepadanya.
Ara hanya menampilkan cengirannya. Dikasih makanan enak begitu, dan gratis. Siapa yang akan menolak?
“Makasih. Aku senang banget malam ini.” Ara tersenyum lebar. “Aku pikir, hari ini bakal jadi hari terberat buat aku. Tapi, kamu ubah hari ini jadi hari paling menyenangkan.”
Jevan tertegun. Dia bahkan tidak melakukan apa pun. Dia hanya mengajak Ara berlibur, lalu mentraktir gadis itu makan. Tapi, hal sederhana itu mampu membuat Ara sesenang ini. Jevan mengembuskan napasnya pelan. Katakan, bagaimana dia tidak dibuat jatuh ke dalam pesona gadis di depannya itu?
Jevan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Itu kotak perhiasan, lalu lelaki itu meletakkan kotak itu lebih dekat ke arah Ara.
Ara mengerutkan kening heran. “Itu apa?” tanyanya.
“Buka.”
Dalam diam, Ara mulai meraih kotak itu dan membukanya. Gadis itu terkejut begitu melihat cincin yang terlihat mahal di sana. Dia memandang Jevan yang menatapnya sedari tadi.
“Ini apa?” tanya Ara pelan.
Dia pernah melihat ini di televisi. Jika seorang lelaki memberikan perempuan cincin, bisakah Ara menyebutnya lamaran?
“Cincin. Untuk kamu.” Jevan memandang Ara lurus.
“Aku tahu ini cincin. Tapi, dalam rangka apa kamu kasih aku ini?” Ara tidak ingin berharap, tapi kenyataannya hatinya melakukan itu. Dia berharap kalimat romantis itu akan keluar dari mulut Jevan.
“Aku hanya mau kasih kamu tanda. Dengan kamu pakai cincin itu, itu artinya kamu milikku. Nggak ada yang boleh ganggu kamu, atau berusaha merebut kamu dariku,” ujarnya tegas.
Pipi Ara bersemu merah mendengarnya.
“Pakai,” suruh Jevan.
“Makasih,” katanya pelan.
Jevan tersenyum. Cincin itu terlihat sangat pas untuk Ara. Sepertinya dia harus memberi uang lebih kepada salah satu pegawainya yang sudah membantunya membeli cincin tersebut.
Ya. Tentu saja bukan Jevan sendiri yang membelinya. Dia tidak punya cukup waktu untuk melakukan itu. Jevan menyuruh salah satu pegawainya yang berada di sini, untuk memilihkan cincin yang cocok untuk Ara. Jevan juga ikut memberikan foto Ara kepada pegawainya itu.
“Tapi, aku nggak tahu kalau kamu sempat beli ini,” ujar Ara.
“Bukan aku. Salah satu pegawaiku yang membelinya,” jawab Jevan jujur.
Ara mengangguk. Baginya, tidak masalah siapa yang membeli ini. Lagi pula, Jevan memang sudah niat memberinya cincin. Itu sudah lebih dari cukup untuk Ara.
“Sekarang kamu ikut aku,” ujar Jevan sambil berdiri dan melangkah mendekati pantai.
Walau merasa heran, Ara akhirnya berdiri dari duduknya dan berjalan menyusul Jevan.
“Kata kamu, waktu kamu dan ibumu punya masalah, kalian akan berteriak di tepi pantai. Walau masalah tidak akan terselesaikan, kamu bilang, setidaknya kalian merasa lega karena sudah mengungkapkan kemarahan kalian.” Jevan menoleh kepada Ara yang berdiri di sampingnya. “Aku mau mencobanya,” katanya.
Jevan mengembuskan napas pelan, sebelum berteriak cukup kencang, yang membuat Ara terkejut di tempatnya. Ada apa dengan Jevan? Apakah lelaki itu mengalami masalah yang cukup besar? Atau ini ada hubungannya dengan pertunangannya dengan Natasya?
Jevan kembali berteriak sampai puas. Sedangkan Ara hanya bisa diam dan menemani Jevan sampai lelaki itu selesai dengan teriakannya.
***
Pagi ini, Natasya sudah bersiap dan berdandan cantik untuk mengunjungi Jevan di kantornya. Dia harus membuktikan kepada Ara bahwa gadis itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya. Gadis itu harus tahu, di mana tempatnya seharusnya.
Natasya sampai di kantor Jevan dan berjalan penuh percaya diri ke arah ruangan lelaki itu. Dari lobi, hingga memasuki lift, semua pandangan tertuju ke arahnya.
Natasya tersenyum penuh kemenangan. Seharusnya gadis itu melihat bagaimana semua orang tengah memandangnya kagum. Memang sudah seharusnya begitu.
Perempuan itu sampai di ruangan kerja Jevan. Dia berjalan menghampiri Sarah yang tengah fokus dengan layar komputer di depannya.
“Selamat pagi,” sapanya ramah.
Sarah mendongak, dan terkejut melihat kedatangan Natasya. Gadis itu buru-buru berdiri dari duduknya, lalu tersenyum kikuk ke arah Natasya.
“Selamat pagi, Mbak,” balasnya.
“Jevan ada di dalam?”
Sarah menggeleng pelan.
“Nggak ada? Tumben jam segini dia belum datang? Apa Jevan ada meeting di luar?”
Sarah menggigit bibir bawahnya gugup. Haruskah dia mengatakan yang sejujurnya?
“Itu, Mbak, Pak Jevan memang tidak datang ke kantor hari ini,” katanya pelan.
Kening Natasya mengerut. “Kenapa?”
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-