Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 43



Ini sudah hari kedua semenjak Ara dan Jevan pulang liburan dari Lombok. Mereka menjalani aktivitas seperti biasa. Berangkat bekerja bersama dan pulang bersama.


Sekarang, Jevan seperti tidak malu-malu lagi menunjukkan hubungannya dengan Ara. Bahkan kemarin lelaki itu memanggil Ara ke ruangannya untuk makan siang bersama.


Jevan juga menawari Ara untuk bekerja sebagai sekretarisnya bersama dengan Sarah. Tapi, Ara menolak. Dia masih tahu diri. Sarah lulusan sarjana, sedangkan dia hanya SMA. Ara merasa tidak pantas bekerja di samping gadis cantik itu.


Jadi, Ara tetap memutuskan untuk bekerja sebagai OG seperti biasa. Ara juga tidak mengetahui apa yang terjadi. Tapi, tidak ada satu pun orang yang bertanya mengenai kejadian beberapa hari yang lalu kepadanya.


Bukankah itu terasa aneh?


Ara akui, dia nyaman dengan keadaannya sekarang. Tidak ada yang bertanya, tidak ada yang melihatnya dengan tatapan menilai, dan yang terpenting, teman-temannya masih memperlakukan Ara seperti dulu. Tapi, tetap saja Ara heran kenapa semuanya menjadi seperti itu.


Ada satu yang berubah, yang membuat Ara merasa heran. Adi. Cowok itu tampak menjauh darinya, dan dia juga selalu menghindar saat tidak sengaja berpapasan dengan Ara. Dia ingin bertanya kenapa, tapi mereka tidak punya waktu untuk sekadar mengobrol. Jadi, Ara membiarkannya sampai sekarang.


“Arana.”


Ara menoleh saat seseorang memanggilnya. Sean. Sudah berapa hari dia tidak melihat Sean? Lelaki itu tampak berbeda. Dia tampak kurang sehat.


“Dokter Sean sakit?” tanya Ara langsung ketika sudah berdiri di depan Sean.


Sean tersenyum tipis, dan menggeleng. “Jangan begitu, nanti saya semakin tidak bisa melupakan kamu.”


Mata Ara membulat mendengarnya. “Maksud Dokter apa?” tanyanya bingung.


Sean kembali tersenyum tipis. “Saya yakin kamu mengerti. Saya suka kamu, Arana.”


Ara menatap Sean terkejut, sebelum kemudian memilih menunduk. “Dokter tahu itu nggak boleh,” bisiknya pelan.


“Ya. Maka dari itu, jangan terlalu baik kepada saya. Nanti saya sulit melupakan kamu.”


Ara memandang Sean dengan tidak enak. Mau bagaimana pun, selama ini lelaki itu baik kepada dirinya. Ara hanya tidak mau kehilangan seorang teman.


“Ternyata dugaan saya benar, ya. Kamu menjalin hubungan dengan Pak Jevan?”


Ara hanya bisa diam.


“Saya kalah cepat,” ujarnya pelan.


“Ini bukan perkara siapa cepat, Dok.” Ara ikut berucap dengan pelan.


Sean tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Saya akan berusaha melupakan perasaan saya terhadap kamu. Tapi, kamu masih mau kan berteman dengan saya?”


Kali ini Ara mengangguk cepat. “Mau. Saya mau jadi temannya Dokter Sean. Lagi pula, saya nggak pantas untuk menjadi lebih dari itu. Dokter Sean bisa mendapatkan yang sepadan dengan Dokter.”


“Saya tidak memandang calon jodoh saya seperti itu. Selagi saya suka dan dia baik. Saya tidak mempermasalahkan yang lain.”


Ara tersenyum tidak enak. Sepertinya dia salah bicara. Kenapa juga dia mengatakan itu? Kalau dia tidak pantas untuk Sean yang seorang dokter, apalagi untuk Jevan yang seorang pemilik perusahaan besar?


“Maaf, Dok. Saya tidak bermaksud bilang gitu,” ujar Ara.


Sean kembali tersenyum. “Saya tahu. Kalau sudah mendengar jawaban kamu, saya lega. Saya rasa, saya sudah bisa menelan makanan dengan baik dan juga tidur cukup.”


“Dokter kurang tidur? Kenapa?”


Belum sempat Sean menjawab, seruan yang lagi-lagi memanggil nama Ara, membuat gadis itu menoleh.


“Arana!”


Desi tengah berlari ke arah Ara dengan semangatnya.


“Ada apa, Des?”


Desi mengatur napasnya lebih dulu. Dia hendak menjawab pertanyaan Ara, tapi tidak jadi karena melihat keberadaan Sean.  Sean yang sadar akan pandangan Desi, segera berucap kembali kepada Ara.


“Kalau gitu, saya pamit dulu.”


Setelah kepergian Sean, Ara kembali menatap ke arah Desi.


“Ada apa, Des?” ulangnya.


“Lo udah dengar kabar terbaru belum?”


Ara menggeleng. “Kabar apa?”


“Pertunangannya Pak Jevan sama Mbak Natasya ternyata bulan depan.”


“Lo nggak kaget?” tanya Desi.


Ara kembali menggeleng. “Aku udah tahu kalau soal itu,” cicitnya pelan.


“Terus kalau masalah seluruh pegawainya Pak Jevan diundang tanpa terkecuali, lo juga tahu?”


“Semuanya?” tanya Ara terkejut.


Desi mengangguk. “Iya. Sampai-sampai, kalau ada yang nggak datang di pesta pertunangan itu, bakal dipecat.”


“Ha?” Ara semakin terkejut di tempatnya. “Siapa yang buat pengumuman kayak gitu?” tanyanya.


“Ibunya Pak Jevan. Ibu Helena.”


Ara mengembuskan napas pelan. Natasya pasti ikut andil dalam permasalahan ini. Tapi, lagi-lagi Ara sadar akan posisinya. Memangnya dia siapa? Dia tidak punya hak untuk melakukan apa pun.


“Ra, kok, diam aja,” ujar Desi ketika Ara hanya diam selama beberapa saat.


“Aku—”


Ara berhenti berucap ketika melihat Jevan yang berjalan ke luar dengan tergesa-gesa. Dari yang Ara lihat, Jevan tampak marah. Rahangnya mengetat, tatapannya mengarah tajam ke depan. Ara menduga, ini semua karena berita yang baru saja dia dengar.


“Itu Pak Jevan kan, Ra? Mau ke mana ya dia?” tanya Desi.


Ara hanya menggeleng pelan sebagai jawaban. Diam-diam dia menghela napasnya. Masalah seolah tidak berhenti menggoda lelaki itu.


***


Di lain tempat, Jevan baru saja tiba di kantor tempat Natasya bekerja. Itu adalah tempat agensi Natasya yang berada di Indonesia.


Lelaki itu hendak masuk, sebelum dua orang satpam mencegahnya dan bertanya.


“Ada keperluan apa, Pak?”


Jevan mengembuskan napas pelan, mencoba menahan emosinya. Dia tidak boleh melampiaskan emosi kepada orang yang salah.


“Saya mau bertemu dengan Natasya Cyntia,” katanya.


“Bapak sudah membuat janji?”


“Janji?” ulang Jevan heran. “Saya hanya mau bertemu dengan Natasya, tapi harus membuat janji?”


“Memang begitu peraturannya, Pak.”


“Saya—”


“Jevan.”


Jevan menatap ke dalam. Natasya tengah berjalan keluar dengan asisten dan manajernya di belakang perempuan itu.


“Dia tunangan saya,” kata Natasya kepada dua orang satpam tersebut, sebelum beralih memandang Jevan. “Ada apa?”


“Kita perlu bicara.”


Natasya mengangguk, meraih tasnya yang berada di tangan asistennya. “Tunda satu jam, ya. Aku mau keluar sama Jevan sebentar.”


“Perlu kami antar?”


Natasya menggeleng. “Nanti kalian akan aku hubungi.” Perempuan itu beralih memandang Jevan. “Ayo, kita nggak mungkin bicara di sini, kan?”


Jevan mengembuskan napas kesal, lalu berjalan lebih dulu ke arah mobilnya, diikuti Natasya.


“Ini ulah kamu, kan?” tanya Jevan langsung saat mobilnya melaju meninggalkan pelataran kantor agensi perempuan itu.


“Apa?” tanya Natasya polos.


Jevan tersenyum sinis. “Jangan pura-pura nggak tahu. Kamu yang bikin ulah kayak gini. Iya, kan?”


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-