
Meski sambil berdecak kesal, Nicol tetap mengambilkan minum untuk Jevan dan dirinya sendiri. Setelah meletakkan dua kaleng minuman soda di meja, Nicol mulai menatap Jevan serius.
“Emangnya terjadi sesuatu?” tanyanya ragu.
“Lo pikir, sampai gue datang ke apartemen lo malam-malam, nggak terjadi sesuatu setelah Natasya datang ke rumah gue?” tanya Jevan sinis setelah meneguk minumannya.
Nicol hanya menampilkan cengirannya, walau sedikit terasa perih karena sudut bibirnya berdarah.
“Lo tahu Natasya, Nic. Dia ngancam bakal melakukan sesuatu setelah tahu Ara tinggal sama gue.”
Uhuk.
Nicol tersedak soda yang tengah dia minum. Lelaki itu menatap Jevan dengan terkejut. Tinggal bersama?
“Lo sama Arana tinggal bareng? Berdua?” tanyanya terkejut.
Jevan memandang Nicol datar. Lagi pula semua sudah telanjur, sebentar lagi Natasya juga akan bercerita dengan Nicol masalah ini. Jadi, Jevan berusaha bersikap santai saja ketika membicarakan hal ini.
“Hmm,”
“Wah! Lo udah gila, Men.” Nicol berkata dengan takjub. Dia sama sekali tidak menyangka Jevan akan melakukan hal semacam itu.
“Lo harusnya udah bisa nebak, saat pertama kali lihat kami berdua di ruangan gue waktu itu.”
Nicol masih memandang Jevan dengan tidak percaya. Mereka memang senang bermain perempuan. Namun, untuk tinggal bersama? Nicol merasa itu hal luar biasa. Jelas dia merasa ada yang berbeda dengan Jevan. Dan jelas bahwa Jevan cepat atau lambat pasti akan memiliki perasaan yang lebih terhadap Ara. Mereka toh tinggal bersama. Perasaan itu akan hadir di antara keduanya dengan cepat.
“Tunggu dulu. Natasya kan udah tahu kalian tinggal bareng. Kalau dia bilang ke kedua orangtua lo, gimana?”
Jevan mendengus. “Itu yang ada di pikiran gue sekarang. Dia pasti bakal melakukan itu.”
Nicol terlihat berpikir. “Tapi, gue rasa enggak, deh. Gue sih mikirnya dia cuma bakal gunain hal itu sebagai kelemahan lo. Dia akan manfaatin Ara, supaya lo tunduk sama dia. Kita bertiga temenan udah lama. Kita sama-sama tahu kebusukan dan kelicikan diri kita masing-masing. Dan Natasya bukan tipe pengadu.”
Jevan diam, tapi di dalam hati, dia ikut membenarkan perkataan Nicol. Memang bisa saja Natasya melakukan itu. Bukankah itu lebih mudah dilakukan, daripada harus melapor kepada kedua orangtuanya?
“Ya udah sana, lo pulang,” usir Nicol kepada Jevan, setelah beberapa menit keduanya hanya diam.
Jevan memandang Nicol lurus. “Lo ngusir gue?”
Nicol mengembuskan napas pelan. “Gue mau ada tamu.”
“Siapa? Cewek bayaran?”
Jevan menganggap diamnya Nicol sebagai iya. Lelaki itu berdecak. “Gue tidur di sini. Lo kalau mau main, sana pergi ke hotel.”
Nicol membulatkan matanya mendengar perkataan kelewat santai itu. “Jevan Smith. Ini apartemen gue kalau lo lupa.”
“Gue nggak lupa. Gue mau tidur, capek.” Jevan beranjak berdiri dan berjalan ke arah kamar Nicol.
“Lo mau ngapain?!” teriak Nicol kesal.
“Tidur.” Jevan membuka pintu kamar, masuk ke dalam, dan menguncinya.
“Je! Ini apartemen gue!” teriakan Nicol tidak lagi dipedulikan oleh Jevan.
***
Ara tahu dia salah. Namun, ini bukan kemauannya. Seandainya dia dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang berkecukupan, dia tidak akan melakukan ini. Dia tidak akan mau menyerahkan dirinya kepada lelaki yang bukan suaminya. Meski demikian, Ara bisa apa kalau takdir membuatnya memilih hal ini.
Bukannya Ara pasrah dengan keadaan. Dia sudah berusaha selama ini. Dia bekerja siang malam hanya untuk memperoleh uang, agar perawatan ibunya bisa dilakukan. Namun, semuanya belum cukup. Lalu saat Jevan menawarinya seperti itu, dapatkah Ara menolak?
Gadis itu semakin menangis dengan keras. Seandainya ayahnya masih hidup, dia dan ibunya tidak akan hidup seperti ini. Keluarga mereka masih akan baik-baik saja.
Lelah karena menangis, Ara akhirnya tertidur.
Saat terbangun keesokan harinya, Ara menyadari bahwa sisi ranjangnya kosong. Apakah Jevan tidak pulang? Jika tidak, ke manakah laki-laki itu tidur semalam?
Ara memutuskan untuk membersihkan dirinya sebelum keluar kamar, bersiap untuk berangkat bekerja.
Dia kemudian menghampiri Mbok Ijah yang tengah memasak sarapan. “Mbok,” panggilnya pelan.
Mbok Ijah menoleh dan cukup terkejut melihat wajah Ara. Kedua mata gadis itu terlihat sembap.
“Iya, Mbak? Sarapannya sebentar lagi siap,” katanya.
Ara menggeleng, bukan itu maksudnya. “Jevan, nggak pulang?” tanyanya pelan.
Mbok Ijah menggeleng. “Dari bangun pagi tadi, saya belum lihat Pak Jevan, Mbak.”
Ara termenung mendengarnya. Jadi benar Jevan tidak pulang. Kenapa? Apakah dia kesal dengan Ara? Ataukah Jevan sudah mulai bosan dan Ara akan dibuang?
Gadis itu tiba-tiba menangis. Air matanya keluar tanpa bisa dia cegah. Mbok Ijah yang melihat itu, panik. Perempuan tua itu segera menghampiri Ara.
“Mbak Ara kenapa? Sakit? Mau saya panggilkan dokter pribadinya Pak Jevan?”
Ara hanya bisa menggeleng dan berusaha menghapus air matanya. Kalau Jevan sudah bosan dengan tubuhnya, lalu bagaimana dengan biaya perawatan ibunya?
“Ada apa ini?”
Mbok Ijah dan Ara menoleh. Melihat Jevan yang melangkah ke arah mereka, Mbok Ijah perlahan memilih meninggalkan keduanya.
“Ara, kamu kenapa?” tanya Jevan begitu menghampiri Ara.
Ara menatap Jevan masih dengan air mata yang keluar dari matanya. “Kamu tidur di mana?” tanyanya dengan suara serak.
“Aku tidur di apartemen Nicol. Kamu kenapa?” Tangan Jevan terulur, mengusap rambut Ara dengan pelan.
Ara hanya bisa menangis. Jevan menghela napas melihatnya, dia meraih kepala Ara dan memeluknya, menyandarkan kepala gadis itu di perutnya, karena posisinya sekarang sedang berdiri di samping Ara yang tengah duduk.
“Jangan tinggalkan aku, Je,” kata Ara pelan, yang mampu membuat Jevan termenung.
Dia tidak pernah menjanjikan apa pun kepada siapa pun. Dia tidak percaya akan hal itu. Setelah Natasya meninggalkannya, Jevan tidak percaya apa itu cinta dan janji. Karena, Natasya pun pernah mengatakan itu kepadanya, tapi akhirnya gadis itu sendiri yang mengakhiri semuanya.
Namun, entah kenapa Jevan malah ingin mengucapkan hal itu kembali. Jika memang itu bisa membuat Ara berhenti menangis, Jevan akan dengan senang hati mengucapkannya.
Ada apa dengan dirinya?
Apakah Ara sudah memiliki tempat tersendiri di dalam hatinya? Apakah dirinya sudah jatuh cinta dengan gadis sederhana itu? Namun, mengapa? Mengapa semuanya berjalan begitu cepat? Jevan belum yakin dengan perasaannya sendiri.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-