
Beberapa jam sebelum Ara melukai dirinya sendiri.
Beberapa menit setelah Jevan keluar dengan alasan ada sedikit urusan, Sarah masuk sambil membawa piring berisi apel dan pisau untuk mengupas buah.
“Aku bawa buah. Kamu mau?” tanya Sarah yang masih berdiri di pintu kamar.
Ara mengangguk, dan tersenyum sebagai jawaban. Melihatnya, Sarah langsung berjalan dan duduk di samping Ara yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang.
“Aku kupasin bentar, ya,” katanya sambil mengupas buah apel di piring itu.
Ara memandang Sarah dengan senyuman yang tipis yang tersungging di bibirnya. Bagaimana bisa gadis itu begitu baik kepadanya? Sarah dan dirinya belum berteman sebaik itu. Tapi, gadis itu sudah mau menemaninya, dan menjaganya selama beberapa hari ini.
“Mbak Sarah,” panggilnya pelan, yang membuat Sarah menoleh ke arahnya.
“Apa?” tanya gadis itu.
“Makasih udah mau nemani aku di sini dan jaga aku. Makasih, Mbak,” ujar Ara dengan tulus.
Sarah balik tersenyum kepada Ara, lalu gadis itu menggeleng pelan. “Bukan apa-apa, kok, Ra. Aku emang mau bantu kamu. Kamu gadis baik. Lagi pula, siapa tahu aja setelah aku bantu kamu, Pak Jevan bakal naikin gaji aku.” Gadis itu terkekeh pelan di akhir kalimatnya, yang membuat Ara juga ikut terkekeh. Sarah adalah teman yang paling menyenangkan yang pernah Ara kenal.
“Nih, makan.” Sarah menyerahkan beberapa potong buah yang sudah dia kupas kepada Ara.
“Makasih,” balas Ara sambil meraih satu potong apel, dan memakannya.
“Sama-sama.”
Saat keduanya asik mengobrol, atau lebih tepatnya Ara yang mendengarkan Sarah bercerita, tiba-tiba saja Nicol masuk ke kamar.
“Hai, Ra. Lebih baik dari kemarin?” sapanya kepada Ara.
Ara tersenyum mendengarnya. “Iya, Mas,” balasnya pelan.
Nicol mengangguk, dan beralih kepada Sarah. “Sar, HP kamu bunyi terus,” katanya.
“Dari siapa?”
Nicol mengendikkan bahunya, pertanda tidak tahu. “Tapi dari yang aku intip, kayaknya dari salah satu bawahan kamu di kantor.”
Sarah meletakkan piring dan pisau buah itu di meja kecil di samping ranjang Ara. Lalu gadis itu beralih memandang Ara.
“Ra, sebentar, ya. Aku angkat telepon dulu. Siapa tahu penting,” katanya, lalu setelah mendapat anggukan dari Ara, segera saja gadis itu berjalan keluar kamar.
Sepeninggal Sarah, Nicol berjalan masuk dan duduk di samping Ara. Dia tersenyum tipis kepada gadis itu.
“Lo harus kuat, Ra. Karena dari yang gue perhatikan beberapa hari ini, bukan cuman lo yang butuh Jevan. Tapi, Jevan juga butuh lo. Kalian itu udah kayak simbiosis mutualisme, saling membutuhkan. Jadi, tolong saling menguatkan. Jangan rapuh,” ujarnya sambil terus memamerkan senyumnya kepada Ara.
“Ra,” panggil Nicol lagi, karena Ara hanya diam selama beberapa saat.
Ara tersadar, dan kembali memandang ke arah Nicol. Gadis itu balik tersenyum ke arah lelaki itu.
“Maaf, masih sering melamun, Mas. Tapi, aku janji bakal jadi kuat. Seenggaknya buat Jevan,” ujarnya.
Nicol mengangguk, dan tersenyum puas. “Ya udah, lanjutin makan buahnya. Gue mau ngopi di bawah.” Lelaki itu berlalu setelah menepuk pelan kepala Ara.
Setelah kepergian Nicol, Ara kembali memakan apel yang sudah dipotongkan oleh Sarah. Namun, dering ponselnya membuatnya terganggu. Akhir-akhir ini Ara sama sekali tidak memegang ponselnya, tapi karena merasa keadaannya jauh lebih baik, Ara akhirnya meraih ponsel di meja kecil itu.
Ada sebuah pesan dari nomor yang tidak dia kenal. Keningnya mengernyit, siapa yang mengiriminya pesan?
Karena penasaran, Ara akhirnya memilih membuka pesan itu. Ada sebuah foto, dengan beberapa pesan di sana. Ara melihat foto itu dengan saksama. Itu foto Jevan, dengan baju yang dipakai lelaki itu hari ini. Dia tengah bersama Natasya yang terlihat berada di sebuah kafe. Mereka berdua berpelukan.
Arana, saya nggak mau bilang ini sama kamu. Tapi, saya rasa kamu harus tahu. Jevan tidak bahagia dengan kamu. Dia masih mempertahankan kamu, karena dia kasihan melihat ibu kamu. Lalu, ketika ibu kamu sudah meninggal, Jevan akan meninggalkan kamu, dan kami akan kembali bersama seperti dulu.
Selama ini, Jevan hanya berpura-pura bersikap tidak peduli kepada saya di depan kamu. Itu semua dia lakukan, karena dia masih membutuhkan tubuh kamu. Ingat Ara, dia butuh tubuh kamu, bukan kamu. Kami bertemu untuk membicarakan kamu. Bagaimana cara mengusir kamu dengan halus, agar kamu tidak terluka. Tapi, saya rasa semuanya terlalu lama. Jadi, lewat pesan ini, bisa kamu tinggalkan Jevan untuk selamanya?
Ara terpaku setelah membaca pesan yang dia duga dikirim oleh Natasya. Tanpa sadar, air mata meluruh di pipinya. Benarkah selama ini Jevan hanya membutuhkan tubuhnya, bukan dirinya? Benarkah semua sikap lelaki itu hanya kepura-puraan? Tapi, kenapa lelaki itu tega?
Ara menghapus kasar air mata di pipinya. Dia marah. Dia terluka. Kenapa nasibnya harus seperti ini? Dia hanya ingin bahagia. Tapi, salahkah Ara jika dia berharap bahwa Jevan-lah sumber kebahagiannya kini?
Lalu, benarkah Jevan akan kembali dengan Natasya sebentar lagi? Ara tidak ingin percaya itu. Tapi, ketika mengingat ibu Jevan yang terlihat sangat marah dan tidak suka dengannya, membuat Ara sedikit percaya. Natasya, perempuan itu memperoleh dukungan dari ibu Jevan.
Pandangan Ara tidak sengaja terarah kepada pisau buah di meja kecil di sebelahnya. Jika Jevan sudah tidak membutuhkanya, lalu untuk apa dia ada di dunia ini?
Ara mau nyusul Ibu, gumamnya di dalam hati, sebelum kesadarannya benar-benar terenggut.
***
Beberapa detik kemudian, Sarah masuk sambil membawa beberapa kertas, sembari berucap. “Ara, maaf ya lama. Aku habis—“ Gadis itu menjatuhkan kertas dan ponselnya ketika melihat Ara tergeletak dengan banyak darah di tangannya.
“Ara!” seru Sarah terkejut sambil berlari menghampiri gadis itu. Dia mencoba membangunkannya. “Ara, bangun. Ara, bangun. Tolong! Pak Nicol! Tolong!” Sarah berteriak dengan air mata yang turun di kedua pipinya. Dia takut dan bingung.
“Ada ap—? Ara! Ya Tuhan, Ara kenapa, Sar?” Nicol bertanya dengan panik sambil berjalan menghampiri Ara.
“Saya nggak tahu, Pak. Saya sampai sini, Ara udah kayak gini.” Sarah masih mencoba menjawab pertanyaan Nicol, meski kini tubuhnya terasa bergetar.
“Kita bawa ke rumah sakit.” Setelahnya, Nicol langsung menggendong tubuh Ara, dan setengah berlari untuk menuruni tangga.
***
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-