
Ara terkejut melihat kedatangan lelaki itu dan ingin pergi dari sana. Namun, Jevan seolah tetap tenang di posisinya, meski kemudian sekretaris Jevan ikut berjalan masuk dan terkejut melihat apa yang dilakukan oleh bosnya itu.
“Maaf, Pak Jevan. Saya sudah bilang bahwa Bapak tidak mau diganggu. Tapi, orang ini memaksa masuk,” ujar sekretaris Jevan sambil menunjuk tamu Jevan dengan kesal.
Jevan mengembuskan napasnya kasar. “Biarkan dia. Apa yang kamu lihat sekarang, anggap kamu tidak pernah melihatnya. Kalau sampai saya dengar berita ini menyebar, kamu orang pertama yang saya cari. Kamu paham?” tanya Jevan dengan serius.
“Iya, Pak. Kalau begitu, saya permisi.” Setelah sekretaris itu pergi, Jevan kembali memejamkan matanya.
Sedangkan Ara. Gadis itu bingung harus bagaimana. Apalagi kini lelaki itu tengah memandangi Ara dengan begitu intens, yang membuat Ara gugup.
“Lagi, Ra. Aku belum selesai.”
Ara mengetuk pelan kening Jevan, yang membuat lelaki itu membuka matanya.
“Apa?”
Ara hanya menunjuk lelaki yang duduk diam di seberangnya itu.
Jevan mengembuskan napasnya kesal. Dia akhirnya bangkit berdiri, menatap tamunya itu dengan pandangan sebal.
“Ada perlu apa lo kemari?”
“Rencananya mau ngajak lo makan siang. Tapi, kayaknya lo sibuk banget, ya,” ujarnya menggoda sambil menatap Ara dengan alis naik turun.
Ara yang melihat itu menundukkan kepalanya. Dia tidak nyaman melihat bagaimana cara tamu Jevan memandangnya. Jevan menyadari tatapan tamunya itu dan berdecak sebal.
“Ra, kamu keluar dulu ya. Aku mau ngomong sama dia.” Tanpa mengeluarkan suara lagi, Ara berlari kecil ke arah pintu dan keluar dari sana. Tamu Jevan yang melihat itu terkekeh pelan.
“Lucu.” Ucap sang tamu membuat Jevan jengkel hingga melemparkan bantal sofa ke arah wajah tamunya.
“Kenapa, sih?” rengutnya serta memandang Jevan dengan sengit.
“Dia punya gue,” ujar Jevan serius.
Teman dekat Jevan yang bernama Nicol itu memandang Jevan dengan mengejek. “Selera lo turun?”
“Sialan, Nic,” umpat Jevan marah. “Lo berniat merendahkan Ara?”
“Oh.” Nicol manggut-manggut mengerti. “Namanya Ara,” gumamnya pelan.
“Cuman gue yang boleh panggil dia begitu. Lo nggak boleh. Namanya Arana.”
Nicol terkekeh pelan melihat tingkah sahabatnya. Apalagi, sahabatnya itu marah hanya gara-gara nama panggilan saja. Nicol menggeleng. Jevan sungguh kekanak-kanakan.
“Siapa dia? Mainan baru?”
“Bukan urusan lo,” ketus Jevan.
“Bukan mainan lo, ya? Terus siapa, dong? Cewek baru?”
“Nic,” panggil Jevan memperingatkan. “Kalau lo nggak ada urusan, mending lo keluar dari ruangan gue.”
“Nggak asik. Gue kan ke sini mau ngajak lo makan siang bareng.”
“Gue nggak minat makan bareng lo.”
“Oke, gue keluar sambil kasih pengumuman kalau lo baru aja bermesraan sama pegawai lo yang namanya Arana.” Nicol berjalan ke luar ruangan Jevan dengan santai.
Jevan menggeram marah. Dia sangat mengenal Nicol. Apa yang diucapkan lelaki itu pasti sungguh-sungguh. Jevan akhirnya bangkit dari duduknya dengan kesal.
Nicol terkekeh pelan saat Jevan melewatinya begitu saja. Kadang, di saat masalahnya sedang banyak begini, menggoda Jevan adalah hiburannya.
***
Nicol ternyata mengajak Jevan makan siang di kantin perusahaan. Jevan sedari tadi terus saja berwajah masam. Dia pikir, Nicol akan mengajaknya makan di restoran. Tapi, ternyata dia salah.
“Gue selalu seneng makan di kantin perusahaan lo,” ujar Nicol sambil memandang sekelilingnya dengan senyum yang sedari tadi tak pernah luntur dari bibirnya.
“Hmm,” Jevan hanya menyahut seadanya. Dia tidak suka makan di tengah orang banyak seperti ini.
Apalagi makan di kantin perusahaan. Itu bukan Jevan sama sekali. Sebagai pemimpin perusahaan, Jevan jarang sekali berbaur dengan pegawainya. Pantas saja, banyak pegawai yang memilih menjauh dari meja yang sedang Jevan dan Nicol tempati sekarang.
“Kriteria perusahaan lo, yang mengharuskan pegawainya berpenampilan menarik. Bener-bener buat gue cuci mata di sini.” Lagi, Nicol berujar dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.
“Eh, itu bukannya gadis yang sama lo tadi?”
Kali ini Nicol berhasil mencuri perhatian Jevan. Laki-laki itu menoleh ke arah pandang Nicol, mencari keberadaan gadis yang Nicol sebutkan. Namun, Jevan lupa bahwa sahabatnya ini adalah orang paling menyebalkan yang pernah dia kenal.
Jevan memberikan tatapan tajam kepada Nicol. Nicol hanya terkekeh menanggapinya. Dia menggeleng pelan. Rupanya Jevan sudah tidak tertolong.
Pantas saja Nicol merasa satu bulan ini Jevan tampak berbeda. Dia sudah jarang ikut berkumpul bersamanya dengan yang lain di klub langganan mereka. Jevan juga sudah terlihat tidak tertarik dengan para gadis yang biasa melayani mereka. Kalau pun ikut, Jevan hanya minum dan buru-buru pulang.
Rupanya ada gadis cantik yang dia sembunyikan di rumahnya. Licik sekali.
“Jadi, dia alasan lo jarang main bareng kita?”
“Bukan urusan lo.”
“Ayolah, Je. Lo nggak mau gue ngomong hal itu ke semua pegawai lo, kan?”
Jevan mengembuskan napasnya kasar. “Apa yang mau lo tahu?”
Senyuman terbit di bibir Nicol. “Dia siapa?”
“Arana.”
“Gue udah tahu namanya. Yang gue tanya, posisi dia di hidup lo?”
Jevan terdiam. Sebenarnya dia juga tidak tahu posisi Ara dalam hidupnya. Ara bukan kekasihnya. Hubungan mereka bukan seperti pasangan kekasih pada umumnya. Gadis yang dia cintai? Ayolah. Jevan bahkan tidak yakin apakah yang namanya cinta itu benar-benar ada.
“Je,” panggil Nicol lagi. “Dia siapa? Jajanan lo?!”
“Sialan, Nic!” Jevan mengumpat kesal sambil menggebrak mejanya dengan keras, yang membuat seluruh pegawai di kantin itu terkejut. “Sekali lagi gue dengar lo bilang kayak gitu, gue nggak akan segan-segan buat mukul lo,” ujar Jevan dengan marah.
Tanggapan Nicol? Lelaki itu hanya terkekeh pelan. Selama sebulan ini dia mencoba mencari tahu alasan mengapa Jevan terlihat sedikit berubah. Kedatangannya di kantor Jevan siang ini rupanya membuahkan hasil.
Nicol bisa melihat bagaimana perilaku Jevan terhadap gadis bernama Arana itu. Nicol menduga, gadis itu bukan hanya teman di ranjang bagi Jevan. Temannya yang angkuh itu sepertinya menyimpan perasaan lebih kepada gadis cantik yang kelihatan sederhana tersebut.
“Sekarang mending lo balik! Gue banyak kerjaan.” Jevan berdiri dari duduknya dan berlalu meninggalkan Nicol begitu saja.
Jevan tidak yakin bisa menahan dirinya jika terus duduk dengan Nicol. Sahabatnya itu pasti akan terus memancing emosinya. Nicol tidak akan berhenti sebelum dia mendapatkan apa yang dia mau.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-