Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 92



Jevan membuktikan perkataannya. Semalaman tidak ada yang turun dari ranjang. Bahkan pagi ini, Ara sebenarnya juga tidak diperbolehkan turun dari ranjang. Tapi, gadis itu menolak dan memaksa agar mereka berjalan-jalan saja.


“Aku lapar, Je. Kamu mau jadi suami yang kejam? Baru sehari menikah, istrinya nggak dikasih makan.”


Jevan mengembuskan napasnya pelan. Dia berjalan ke arah Ara yang tengah mengeringkan rambutnya di depan cermin. Lelaki itu menggantikan tugas Ara mengeringkan rambut.


“Kita pesan sarapan.”


Ara cemberut mendengarnya. Dia menatap Jevan dari pantulan cermin di depannya. “Tapi, aku mau jalan-jalan.”


“Nanti malam. Sekarang kita pesan makan, dan setelah itu lanjut kegiatan semalam.”


Mendengar itu, Ara membalikkan badan dengan kesal ke arah Jevan. “Kamu selalu gitu. Kalau tahu kayak gini, mending nggak usah jauh-jauh ke luar negeri.” Gadis itu melangkah kembali ke arah ranjang.


Jevan tersenyum tipis melihatnya. Segera saja lelaki itu menyusul Ara kembali ke ranjang. “Aku pesankan sarapan dulu,” katanya sambil mencuri kecupan di pipi istrinya, dan mulai meraih ponselnya untuk memesan makanan untuk mereka berdua.


Ara mendengus melihat itu. Dia benar-benar merasa kesal. Ini kali pertama dia ke luar negeri. Apa harus Ara menghabiskan waktu di dalam kamar hotel saja? Ini sangat membosankan.


“Udah. Sebentar lagi datang. Aku mau mandi dulu.”


Beberapa menit berlalu, Ara akhirnya menoleh ke arah Jevan, karena lelaki itu tidak beranjak dari sisinya. “Katanya mau mandi?”


Jevan meraih wajah Ara dengan kedua tangannya. “Kalau kamu cemberut terus. Kita mandi bareng. Aku serius kali ini.”


Mendengar itu, Ara akhirnya mengukir senyuman terpaksa di wajahnya. “Sana mandi,” suruhnya.


“Yang iklas, dong.”


Gadis itu mengembuskan napas kasar. Lalu, tersenyum dengan tulus. “Suamiku, mandi sana. Nanti kita sarapan bareng.”


Jevan tersenyum mendengarnya. Dia mengecup pelan bibir Ara, dan berjalan ke arah kamar mandi.


“Nyebelin,” gumam Ara sambil memandang punggung Jevan kesal.


“Aku dengar, sayang.”


Mendengar itu, Ara langsung merebahkan tubuhnya di ranjang dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Jevan menoleh, sebelum memasuki kamar mandi. Lelaki itu mengukir senyuman geli, lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Kali ini Jevan membuktikan janjinya. Saat malam menjelang, lelaki itu membawa Ara menuju menara eiffel. Padahal, kalau boleh jujur, dia lebih senang jika saat ini mereka menghabiskan waktu di kamar hotel saja. Lagi pula, suasana dingin seperti sekarang sangat mendukung untuk saling menghangatkan di sana.


Namun, ketika Jevan menoleh dan menemukan tatapan senang dan kagum Ara, lelaki itu tidak bisa untuk tidak merasa bahagia. Karena sejak resmi menjadikan Ara istrinya, Jevan sudah berjanji dengan dirinya, jika bahagia Ara, juga akan menjadi bahagianya.


Terdengar menggelikan, bukan?


“Je, ini kali pertama aku ke sini. Kamu sudah sering?” tanya Ara sambil menoleh ke arah Jevan yang duduk di sebelahnya.


Lelaki itu mengangguk santai. “Ini ketiga kalinya aku ke sini.”


Lagi-lagi Ara berdecak kagum mendengarnya, yang membuat Jevan merangkul gadis itu dengan gemas.


“Kalau kamu mau, aku bisa bawa kamu ke sini setiap bulannya,” katanya yang membuat Ara mencibir pelan.


“Itu namanya boros.”


Jevan menggeleng dan mencuri kecupan singkat di pipi istrinya. “Aku nggak keberatan. Semuanya demi kebahagiaan kamu.”


Ara menatap Jevan dengan senyuman lebarnya. “Menikah dengan kamu, udah buat aku bahagia. Makasih, Je.”


Jevan terenyuh mendengarnya. Dia menjatuhkan kecupan di bibir Ara pelan. “Lapar?” tanyanya yang dijawab anggukan oleh Ara.


Jevan bangkit berdiri dan beralih menggenggam tangan Ara. “Kita cari makan.”


“Tapi, nggak mau makan roti lagi. Bosan, Je,” keluh gadis itu.


Jevan tertawa mendengarnya. “Enggak. Kita makan daging sekarang.”


Lelaki itu mengajak Ara singgah di salah satu retoran didekat area menara eiffel. Jevan memesan steak dan pasta.


“Makan yang banyak,” ujarnya kepada Ara, selah dia memotong-motong steak, dan memberikannya kepada Ara.


Gadis itu mengangguk dengan semangat. “Makasih, Je.”


Jevan meminum air putihnya dan memandang Ara yang tampak makan dengan lahapnya. Dia mengukir senyum tipis. Bahkan hanya melihat gadis itu makan, bisa membuatnya bahagia. Ara memang membawa pengaruh besar untuk dirinya.


“Besok kita mau ke mana lagi, Je?” tanya Ara di sela-sela makannya.


“Kamu mau ke mana?”


Gadis itu terlihat berpikir, tapi akhirnya menggeleng. “Aku kan nggak pernah keluar negeri. Ini kali pertama. Jadi, aku ikut ke mana pun kamu pergi.”


Mendengar itu, Ara menatap Jevan jengkel yang membuat lelaki itu tertawa. “Kata kamu tadi, ikut ke mana pun aku pergi,” ujar Jevan.


“Iya. Tapi, nggak di kamar juga. Bosan, Je.”


“Oke. Em, gimana kalau besok kita-”


“Jevan!”


Suara yang memanggil nama Jevan, membuat keduanya menoleh. Seorang perempuan berpenampilan modis, berjalan menghampiri meja mereka, atau lebih tepatnya menghampiri Jevan.


“Hai.” Tanpa diduga, perempuan itu mengalungkan tangannya di leher Jevan dan mengecup pelan pipi lelaki itu, yang membuat Ara menjatuhkan garpu yang dia pegang.


“Udah lama banget kita nggak ketemu. Kamu apa kabar? Aku jarang pulang ke Indonesia,” kata perempuan itu. Rupanya dia masih belum menyadari keberadaan Ara.


Jevan yang tersadar dari keterkejutannya, segera melepaskan diri dari perempuan itu. Dia menoleh ke arah Ara yang menatapnya dalam diam. Jevan berdeham pelan.


“Stef, sepertinya kamu nggak boleh menyapa aku kayak tadi,” katanya.


Perempuan yang dipanggil ‘Stef’ oleh Jevan itu tampak mengerutkan keningnya. “Kenapa?”


Jevan mengarahkan tatapannya ke arah Ara yang duduk di depannya, yang membuat Stef ikut menoleh.


“She is my wife.”


“What? Are you kidding me? Jevan menikah?” Perempuan itu benar-benar terkejut tanpa dibuat-dibuat.


Jevan tertawa mendengarnya. “Aku serius. Namanya Arana, dan kami ke sini untuk berbulan madu.” Lelaki itu memandang Ara dengan tatapan menggoda. “Tapi, sepertinya kamu baru saja mengacaukan acara bulan madu kami.”


Stef memandang Ara dengan tatapan menyesal. “Hai, Arana. Maafkan aku. Aku benar-benar nggak tahu kalau Jevan sudah menikah. Sorry.”


Ara menggeleng dan tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Mbak Stef.” Ya. Memangnya apa lagi yang bisa dia katakan?


Stef kembali menoleh ke arah Jevan. “Kenapa kamu nggak mengundang aku?”


Jevan mengangkat bahunya. “Seperti yang kamu bilang tadi. Kamu jarang ada di Indonesia, dan aku nggak sepenting itu untuk membuat kamu pulang, hanya demi menghadiri pesta pernikahanku.”


Dan setelahnya, Jevan dan Stef lanjut berbincang, tanpa mengajak Ara ikut serta di dalamnya. Ara pun cukup tahu diri. Dia tidak paham dengan apa yang keduanya bicarakan. Jadi, dia lebih memilih melanjutkan makannnya, meski sebenarnya dia merasa kesal karena keberadaan Stef.


Selesai makan, Jevan mengajak Ara kembali ke hotel. Gadis itu diam sedari tadi. Masalahnya, dia marah kepada Jevan. Lelaki itu sama sekali tidak mengajaknya bicara dengan Stef. Perempuan itu juga ikut ada di sana sampai makan malam mereka selesai. Menyebalkan sekali.


“Kamu mau ke mana?”


Pertanyaan yang Jevan lontarkan, membuat Ara berhenti melangkah dan menoleh ke belakang. “Katanya mau balik ke hotel,” ujarnya dengan ketus.


Jevan mengangguk. “Itu mobil kita,” ujarnya sambil mengarahkan dagunya ke samping, di mana mobil mereka berada.


Tanpa berkata apa pun, gadis itu berjalan dengan langkah lebar ke arah mobil milik Jevan itu. Tidak berapa lama kemudian, Jevan menyusul Ara memasuki mobil. Lelaki itu juga menyewa sopir selama mereka berada di sini.


“Kamu kenapa?” tanya Jevan setelah mobil berjalan meninggalkan pelataran restoran.


“Nggak apa-apa,” jawab Ara singkat.


“Marah?”


“Enggak.”


Jevan manggut-manggut mengerti. “Stef cantik, ya?”


Mendengar itu, Ara menoleh ke arah Jevan yang tampak bermain ponsel. Apa barusan lelaki itu baru saja bertanya kepada Ara, mengenai Stef?


Ara mendengus, dan memilih memalingkan wajah ke arah jendela. “Iya.”


“Dia teman kuliahku dulu. Sekarang jadi model terkenal. Kerjaannya keluar negeri terus. Nggak nyangka aja ketemu dia di sini. Tambah cantik.”


Ara menulikan telinganya untuk semua perkataan yang keluar dari mulut Jevan. Dia tidak ingin rasa kesalnya semakin menjadi. Gadis itu memang cantik. Tapi, haruskah membicarakan itu dengan Ara sekarang?


“Dan sexy.”


Kali ini, Ara menoleh ke arah Jevan yang juga tengah menatapnya. Dia memandang kesal ke arah Jevan.


“Apa?” tanya Jevan dengan polosnya.


“Puji aja terus Mbak yang tadi. Dia emang lebih cantik, lebih sexy, dan lebih pintar dari aku. Terus, kenapa kamu nggak nikahin dia aja?”


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-