Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 44



Jevan mengembuskan napas kesal, lalu berjalan lebih dulu ke arah mobilnya, diikuti Natasya.


“Ini ulah kamu, kan?” tanya Jevan langsung saat mobilnya melaju meninggalkan pelataran kantor agensi perempuan itu.


“Apa?” tanya Natasya polos.


Jevan tersenyum sinis. “Jangan pura-pura nggak tahu. Kamu yang bikin ulah kayak gini. Iya, kan?”


Natasya akhirnya tersenyum tipis. “Kalau iya, kenapa? Kamu marah? Nggak terima? Mau balas dendam?” tanya perempuan itu dengan santainya.


Jevan menggeram marah. “Kenapa kamu lakukan itu?”


“Kenapa kamu masih tanya?” Kali ini Natasya menghilangkan senyuman di bibirnya, menatap Jevan serius. “Kamu yang mulai semuanya, Je.”


“Aku nggak paham maksud kamu,” ujar Jevan.


“Kamu pergi liburan berdua dengan Arana, tanpa memberitahu aku lebih dulu.”


Jevan terkekeh mendengarnya. “Memangnya kamu siapa sampai aku harus meminta izin lebih dulu?”


“Kamu nggak lupa kan, kalau kita sebentar lagi akan bertunangan dan menikah? Kamu juga belum lupa kan, aku bisa aja bilang ke ibu kamu, kalau kamu tinggal bersama perempuan lain dalam satu rumah?”


Jevan diam dan memandang tajam ke arah Natasya.


“Je, kamu tahu aku. Ini bahkan belum ada apa-apanya. Aku bisa melakukan hal yang lebih dari ini.”


Jevan mengembuskan napas pelan, sebelum memilih membuang muka ke arah lain. Lelaki itu mengumpat pelan. Dia selalu dibuat tidak berdaya oleh perempuan di sampingnya itu.


“Berhenti di depan,” suruh Natasya kepada sopir Jevan.


Saat mobil itu berhenti, Natasya kembali menoleh ke arah Jevan. “Aku bukan jahat. Aku hanya mau mengambil apa yang seharusnya jadi milikku. Termasuk kamu.” Perempuan itu akan keluar dari mobil, tapi perkataan yang keluar dari mulut Jevan, membuat berhenti sesaat.


“Seharusnya kamu berkaca. Setelah kelakuan kamu dulu, apakah masih pantas kamu mendapatkan kembali apa yang kamu miliki?”


Natasya termenung, sebelum perempuan itu membuka pintu dan keluar begitu saja. Setelah Natasya keluar, mobil itu melaju.


“Aku hanya mau kita kembali seperti dulu, Je.” Natasya berucap sambil memandang ke arah mobil Jevan dengan terluka.


***


Sore harinya, sepulang bekerja, Ara mampir lebih dulu ke arah penjual makanan di jalan raya dekat rumah Jevan. Dia lapar dan ingin langsung makan sesampainya di rumah.


“Mbak, aku mau gado-gado satu, ya.”


“Kenapa cuman satu?”


Ara berjengit kaget. Dia menoleh ke belakang, menemukan Jevan yang tengah berdiri menjulang dengan jas yang sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang melekat sempurna di dada bidang lelaki itu.


“Jevan! Kamu ngapain?” tanya gadis itu terkejut.


“Kenapa beli cuman satu?” ulang Jevan sambil memandang Ara lurus.


“Gado-gado?” tanyanya memastikan.


Jevan hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Kamu mau?”


Jevan kembali mengangguk.


“Mbak, tambah satu, ya.” Setelahnya, Ara kembali memandang Jevan yang tampak mengedarkan pandangannya ke arah lain.


“Je—”


“Aku mau itu,” sela Jevan cepat sambil menunjuk ke arah rujak buah.


Ara memperhatikan Jevan dan pedagang rujak buah itu bergantian. “Mau beneran?”


Jevan mengangguk.


“Ya udah, aku beliin dulu.”


“Ara.”


Ara yang hendak berjalan, berhenti, dan kembali menatap lelaki itu. “Iya?”


“Sekalian es kelapanya.”


Ara terdiam di tempatnya. Jevan mau makan makanan pinggir jalan seperti ini? Memang Ara sempat membelikan Jevan beberapa makanan waktu itu, tapi dia tidak mengira Jevan akan kembali memakannya seperti sekarang.


“Iya.”


Di sinilah mereka sekarang, di meja makan yang sudah dipenuhi banyak makanan pinggir jalan yang Jevan minta tadi.


Ara memakan gado-gadonya dengan pelan sambil sesekali menatap heran ke arah Jevan. Lelaki itu makan dengan lahap. Padahal, dulu-dulu Jevan termasuk orang yang pemilih terhadap makanan.


“Kamu nggak kenyang?” tanyanya yang merasa heran dengan tingginya nafsu makan Jevan hari ini.


“Memangnya aku makan apa sampai merasa kenyang?”


Mata Ara membulat. Makan apa katanya? Sebungkus gado-gado itu apa kalau bukan makanan? Ara menggeleng pelan. Dia hendak kembali memakan gado-gadonya, tapi kemudian bel rumah berbunyi.


“Mau ke mana?” tanya lelaki itu ketika Ara bangkit berdiri.


“Buka pintu. Mbok Ijah lagi cuci baju di belakang.” Setelah mendapat anggukan Jevan, Ara berjalan ke depan untuk membukakan pintu.


Untuk sesaat, Ara terdiam melihat tamu yang datang.


“Hai, Jevan udah pulang, kan?”


Ara mengangguk. “Udah.”


“Ya udah, kita masuk, ya.”


Seseorang yang tak lain adalah Nicol itu, masuk ke rumah, meninggalkan Ara berdua dengan gadis yang datang bersama lelaki itu.


“Em, ini nggak seperti yang Mbak Sarah pikir. Aku sama Pak Jevan—”


“Nggak apa-apa, kok, Ra. Sebelum ke sini, Pak Nicol udah cerita semuanya tentang kamu dan Pak Jevan. Sebenarnya aku malah yang nggak enak sama kamu. Kamu kelihatan nggak nyaman sama kedatangan aku,” sela Sarah memotong perkataan Ara.


Ara buru-buru menggeleng. “Bukan gitu, Mbak.” Dia tidak ingin ada orang yang salah paham dengan dirinya. “Aku cuman kaget lihat Mbak Sarah sama Pak Nciol berdua ke sini.”


Mendengar itu, Sarah cemberut. “Aku sebenarnya nggak mau datang ke sini, tapi Pak Nicol maksa. Jadi, terpaksa, deh, aku ikut.”


Ara tersenyum membalas senyuman Sarah.


“Ya udah, Mbak. Ayo masuk,” ajaknya sambil mempersilakan.


Ara menggiring Sarah untuk sampai ke meja makan, karena Nicol pun di sana. Sarah memandang canggung ke arah Jevan yang sedang makan rujak. Lelaki itu tetap menatapnya tajam.


“Malam, Pak. Saya sebenarnya—”


“Saya sudah dengar dari Nicol. Asal kamu bisa jaga mulut, saya nggak masalah,” ujar Jevan.


Sarah mengangguk semangat. “Aman pokoknya, Pak.”


Jevan mengangguk puas. “Bagus. Kamu bawa apa?”


Sarah melihat tangannya sendiri yang membawa dua kantong keresek. “Saya sama Pak Nicol tadi berhenti sebentar buat beli ayam bakar sama ikan bakar, Pak. Bapak mau?”


“Mau.”


“Oh, ya udah,” kata Ara. “Mbak Sarah duduk aja. Biar aku yang ambil nasi sama taruh ini di piring.”


Sarah hendak menyerahkan bungkusan keresek itu kepada Ara, tapi terhenti ketika Jevan kembali berucap.


“Kenapa jadi kamu yang kayak pembantu di sini?” tanya Jevan yang sama sekali tidak menyembunyikan nada tidak sukanya.


Sarah meraih kembali keresek itu. “Nggak apa-apa, Ra. Biar aku aja, di mana dapurnya?”


“Nggak usah, Mbak. Aku—”


“Kenapa sekarang jadi kamu yang kayak pembantu, Sar?” Kini giliran Nicol yang bertanya.


Jevan meletakkan garpunya, menatap tajam ke arah Nicol. “Maksudnya, lo nyuruh Ara menyajikan semua itu?”


Nicol mengangguk tanpa beban. “Gue sama Sarah tamu. Tamu adalah raja kalau lo lupa.”


Jevan tersenyum sinis. “Sayangnya istilah itu nggak ada di rumah gue.”


“Kalau gitu, lo harus gunain istilah itu sekarang. Layani tamu kayak raja.”


Jevan terlihat ingin mendebat perkataan Nicol, tapi Ara lebih dulu menyelanya.


“Je, udah. Kalau gitu, biar aku sama Mbak Sarah aja yang nyiapin itu,” katanya, lalu beralih menatap Sarah. “Mbak Sarah mau, kan?”


Sarah, yang masih cukup terkejut dengan perdebatan antara dua lelaki itu, mengangguk cepat. “Mau. Ayo, di mana dapurnya?”


Malam itu, keempat orang itu makan, diselingi perdebatan yang masih terjadi di antara Jevan dan Nicol. Keduanya melontarkan hal-hal sepele yang tidak berguna menurut Ara dan Sarah.


Diam-diam Ara sangat menikmati makan malam ini. Suasana kali ini terasa hangat. Dia ingin merasakan ini seterusnya. Bisakah?


“Makan yang banyak.”


Ara menoleh ketika Jevan memindahkan ayam bakar ke piringnya. Gadis itu tersenyum ke arah Jevan yang kembali sibuk makan dan berdebat dengan Nicol.


Ara ingin seperti ini, selamanya.


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-