Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 72



Ara menjadi lebih diam setelah Jevan tidak memperbolehkannya bekerja. Sedangkan Jevan juga merasa kesal dengan gadis itu. Apa salahnya bekerja menjadi sekretarisnya? Bukannya itu hal yang menyenangkan untuk mereka berdua nantinya?


“Kalian berdua kenapa? Lagi marahan?” tanya Nicol sambil memandang heran kepada Jevan dan Ara yang duduk di depannya.


Hari ini, Nicol resmi membuka kedai kopinya yang berada tepat di depan kantor Jevan. Lelaki itu sedari tadi terlihat bangga dan senang atas keberhasilannya.


“Enggak, kok, Mas,” jawab Ara sambil menunjukkan senyumannya.


“Terus kenapa diam aja sedari tadi? Duduknya juga jauhan. Biasanya si Jevan kan nempelin lo mulu, Ra.”


Jevan mendengus mendengar itu. “Coba lo pikir, gimana gue nggak kesal kalau tawaran baik gue ditolak sama dia.”


Ara cemberut mendengarnya, sedangkan Nicol terkekeh pelan.


“Tawaran apaan emang? Nikah?”


“Lo gila?!” seru Jevan cepat dan keras, yang tanpa disadari, membuat Ara tersenyum miris. Jevan benar-benar tidak menginginkan pernikahan dalam waktu dekat.


“Sory-sory. Terus tawaran apa, dong?”


“Ara mau kerja lagi. Yaudah, jadi sekretaris gue aja, bantuin si Sarah. Tapi, dia malah nggak mau, dan ngediamin gue dari kemarin.”


“Aku nggak ngediamin kamu. Kamu yang nggak mau ngobrol sama aku,” sahut Ara tidak mau kalah, yang membuat Jevan memandangnya tajam.


“Oke, stop.” Nicol melerai tatapan keduanya. “Jadi, masalah kerjaan? Gue bisa bantu, kok. Cari jalan tengah.”


Jevan memandang Nicol waspada. Ide temannya itu biasanya selalu tidak sejalan dengan dirinya.


“Ara kerja di kedai aja.”


“Mau.”


“Enggak!”


Dua jawaban berbeda itu, membuat Nicol kembali terkekeh melihat keduanya. Sedangkan Jevan kembali menatap Ara.


“Nggak boleh, Ara. Kalau kamu kerja, kerja di tempatku. Beres, kan?”


“Je, aku cuman lulusan SMA. Aku nggak mau kerja di tempat kamu, kalau harus jadi sekretaris dua.”


“Terus kamu maunya apa? Jadi petugas kebersihan? Enggak. Aku nggak akan kasih kamu izin.” Lalu Jevan beralih memandang Nicol. “Lo juga sama. Kalau Ara kerja di sini, dia bakal jadi apa? Pelayan? Enggak. Gue menolak dengan tegas ide itu.”


Nicol kembali terkekeh. “Tenang, Je. Di sini Ara nggak bakal jadi pelayan, kok. Dia akan gue tempatkan di bagian kasir. Nggak jadi petugas kebersihan. Lo tenang aja. Lagi pula, kerjanya kasir juga cuman jaga duit, sama kalau ada yang bayar aja.”


Jevan mendengus mendengar itu. Dia menatap Ara yang tengah menatapnya penuh harap. Dia mengembuskan napasnya pelan. Dia tidak bisa saling berdiam diri terus menerus dengan Ara.


“Oke, kamu boleh kerja di sini.”


Ara tersenyum lebar mendengarnya. “Makasih, Je,” katanya senang.


Jevan menatapnya kesal, lalu dia kembali menatap ke arah Nicol. “Dan lo, bertugas jagain Ara selama dia kerja. Dan satu lagi, nggak ada shift malam. Dia kerja dari pagi sampai sore doang. Paham kan, lo?”


Nicol meringis, lalu mengangguk. Kenapa di sini terkesan Jevan adalah pemilik kedai, sedangkan dirinya hanya pesuruh saja?


***


Sudah dua hari semenjak Ara bekerja di tempat Nicol. Rasanya cukup menyenangkan. Sedikit demi sedikit, dia bisa melupakan masalahnya dengan Jevan. Masalah penundaan pernikahan mereka. Walau nanti di saat dia di rumah dan bertemu dengan lelaki itu, dia akan teringat kembali.


“Ra, ini tolong antar ke meja, dong. Si Asti ambil libur, gue jadi kewalahan gini.”


Ara mengangguk, dan mengambil nampan dari Nicol, lalu berjalan ke arah meja yang ditempati oleh anak-anak sekolah itu. Setelah Ara menyajikan kopi di depan mereka, gadis itu hendak kembali ke kasir, sebelum pintu kedai dibuka.


“Selama dat... Dokter Sean?!” serunya terkejut.


“Hai?” Sean menyapa dengan ramah. “Kamu apa kabar?” tanya Sean ketika dia sudah berdiri di depan Ara.


Ara tersenyum lebar. “Saya baik. Dokter sendiri gimana?”


“Kehilangan semangat saat kita nggak kerja bareng lagi. Tapi, aku senang lihat kamu di sini.”


Ara tersenyum canggung. “Saya kerja di sini. Lebih nyaman di sini,” katanya.


Ekhem.


Dehaman cukup keras yang berasal dari Nicol itu, membuat Ara menoleh ke arah lelaki itu, lalu kembali menatap kepada Sean.


“Pesannya di sebelah sana. Saya lanjut kerja dulu, dok.” Ara mengangguk singkat, dan kembali ke meja kasir.


Sedangkan di lain tempat, Jevan tengah menatap kosong ke mejanya. Padahal, dia sekarang sedang berada di rapat bulanan bersama petinggi perusahaan, tapi Jevan seperti kehilangan fokus.


Jevan berdecak, yang membuat semua terdiam, dan menoleh takut ke arahnya. Begitu pun Sarah yang mengerti jika fokus bosnya itu tidak ada di ruang rapat.


“Pak, ada apa?” tanya Sarah yang tidak dijawab oleh Jevan. Sarah menghela napas. “Pak Jevan,” panggilnya kembali. Tapi, lagi-lagi Jevan mengabaikannya. Sarah memandang jengkel ke arah Jevan, sebelum dia berdeham pelan, dan menaikkan nada suaranya. “Bapak Jevan!”


“Ya?” Jevan tersadar dari lamunannya, dan menatap penuh tanya kepada Sarah. “Ada apa? Rapatnya sudah selesai?”


Sarah mencoba menampilkan senyumannya. “Rapat belum selesai, Pak. Tapi, tadi Bapak berdecak. Mungkin ada yang kurang pas dengan apa yang baru saja dijelaskan?”


Jevan mengalihkan pandangannya kepada semua orang yang berada di sana. Dia mengembuskan napasnya kesal. Karena Ara dia jadi tidak fokus bekerja.


“Rapat ditunda. Sarah akan menjadwal ulang, dan akan segera memberitahu kalian.” Setelahnya, Jevan berdiri dari duduknya dan berjalan keluar ruang rapat.


Sedangkan Sarah memandangnya kesal. Tapi, gadis itu tetap buru-buru membereskan catatannya, dan berjalan menyusul Jevan.


Gadis itu masih mendumel di belakang Jevan, sebelum lelaki itu berhenti secara tiba-tiba, yang membuatnya hampir saja menabrak punggung tegap Jevan.


“Sarah,” panggil Jevan sambil berbalik badan ke arah Sarah.


“Ya, Pak?” Gadis itu tersenyum penuh keterpaksaan kepada Jevan.


“Saya mau kopi.”


Sarah mengangguk. “Sesampainya di ruangan nanti, saya akan langsung membuatkan kopi untuk Bapak.”


Jevan menggeleng. “Saya mau kopi dari kedai milik Nicol.”


Sarah kembali mengangguk. “Kalau begitu, saya akan langsung membelikannya sekarang.” Gadis itu berbalik badan, dan hendak melangkah sebelum suara Jevan kembali menghentikannya.


“Sarah.”


Sarah berbalik badan masih dengan senyum keterpaksaannya. “Ada lagi, Pak?”


“Saya ikut.”


“Ya?”


“Saya ikut kamu. Lebih cepat sedikit, saya menginginkan kopi saya.” Jevan berjalan mendahului Sarah untuk berjalan ke arah lift.


Sarah menghentakkan kakinya kesal. “Pengen kopi, atau pengen lihat Arana,” dumelnya kesal.


“Saya bisa mendengar itu, Sarah!”


Sarah meringis mendengarnya. “Saya nggak ngomong apa-apa, kok, Pak,” ujarnya sambil berlari kecil menghampiri Jevan.


Di sinilah mereka berada sekarang, di depan kedai kopi Nicol yang terlihat ramai pengunjung di jam makan siang seperti sekarang. Jevan masih mengamati Ara dari luar, sedangkan Sarah berdecak kesal melihatnya. Dia sudah sangat lapar, tapi Jevan malah membawanya untuk minum kopi.


“Pak, sekarang jam makan siang, kebetulan saya lapar, Pak,” ujar Sarah memberanikan diri.


“Pesan apa pun yang kamu mau nanti.”


Mata Sarah berbinar mendengarnya. “Bapak yang bayarin?”


Kali ini Jevan menatap Sarah sinis. “Kamu meragukan saya?”


Buru-buru Sarah menggeleng. “Bukan gitu maksud saya, Pak. Saya hanya ingin memastikan. Saya tahu Pak Jevan uangnya banyak.”


Jevan mendengus mendengar itu. Dia melangkahkan kakinya mendekat, hendak membuka pintu kedai, tapi pintu itu terbuka lebih dulu.


Jevan diam dan menatap tidak suka kepada seseorang yang baru saja keluar dari kedai.


“Lo ngapain?!”


Sedangkan sosok itu tersenyum manis, sambil mengangkat kopinya. Dia berjalan keluar, tapi saat berada di samping Jevan, dia berhenti.


“Sambil temu kangen sama Arana,” bisiknya pelan, lalu kembali meneruskan langkahnya.


“Sean sialan!” Jevan hendak berjalan menyusul Sean, tapi Sarah menahannya dengan merentangkan kedua tangannya.


“Pak, ini di keramaian. Bapak nggak mau jadi tontonan, kan? Malu, Pak,” katanya.


Jevan mendengus, dia membuka pintu dengan kasar, dan masuk ke dalam kedai.


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-