Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 47



 


 


Setelah kepergian Sarah, Ara menatap Jevan dengan senyum yang seakan tak pernah luntur dari wajahnya. Dia senang. Gadis itu tidak menyangka bahwa Jevan akhirnya memberikannya izin untuk pergi berdua dengan Sarah.


“Kenapa?” tanya Jevan karena sedari tadi Ara terus saja menatapnya sambil tersenyum.


“Aku bahagia. Makasih ya, Je,” ujar Ara tulus.


Jevan termenung melihatnya. Lagi-lagi dia seolah tertampar dengan kesederhanaan yang dimiliki gadis di depannya ini. Tanpa suara, lelaki itu menarik Ara ke dalam pelukannya, yang membuat gadis itu terkejut.


“Jangan senyum.”


Masih di dalam pelukan Jevan, Ara mendongak menatap ke arah lelaki itu. “Kamu bilang apa?” tanyanya tidak mengerti.


“Jangan senyum.” Jevan kembali mengulang perkatannya.


“Kenapa?” tanya Ara heran.


“Kamu kelihatan tambah cantik kalau lagi senyum. Aku nggak mau lihat lelaki lain terpesona sama senyuman kamu.”


Ara mengulum senyum mendengarnya. Gadis itu membalas pelukan Jevan. “Termasuk kamu, kan?”


Jevan berdeham pelan. Dia tidak menjawab. Tapi, pelukannya di tubuh mungil Ara semakin erat. Ara tersenyum melihatnya. Itu saja sudah cukup. Hanya dengan begitu saja, Ara merasa bahwa Jevan memiliki perasaan yang sama dengannya. Murahan sekali kan, hati Ara?


Setelah makan siang bersama Jevan, Ara hendak kembali ke ruangan khusus petugas kebersihan. Tapi, sebuah suara yang memanggilnya, membuat gadis itu berhenti melangkah.


“Dokter Sean,” sapanya kepada lelaki yang berdiri beberapa langkah di depannya itu.


“Hai, udah makan siang?” tanya Sean ramah.


Ara mengangguk. “Udah. Dokter udah makan siang juga?”


Sean tersenyum dan mengangguk. “Em, kamu dengar pertunangan Pak Jevan dan Natasya?”


Ara mengangguk pelan.


“Kamu datang?”


Ara diam. Bagaimana dia menjawabnya? Kalau dia jawab datang, Jevan tidak memperbolehkannya. Kalau dia jawab tidak datang, dia kan akan datang diam-diam dengan Sarah.


“Saya nggak tahu, Dok,” jawabnya pelan.


Sean mengangguk mengerti.


“Dokter Sean datang?”


“Ya. Tapi, saya butuh teman untuk datang ke sana. Hadir ke pesta sendirian, rasanya kurang nyaman.”


Ara hanya mengangguk dan tersenyum mendengarnya. Dia tidak tahu harus bagaimana. Kalimat yang Sean katakan, lebih terdengar seperti ajakan untuk Ara. Tapi, dirinya tidak mau terlalu percaya diri dulu.


“Arana,” panggil Sean.


“Ya?”


“Saya boleh minta nomor HP kamu? Kalau seandainya kamu berubah pikiran, dan ingin datang. Saya bisa menjemput kamu,” katanya.


Ara diam mendengarnya. Dia harus bagaimana? Haruskah dia memberikan nomornya kepada Sean?


“Arana, bagaimana?” tanya Sean lagi.


Baiklah. Semoga keputusan yang Ara ambil, tidak akan mengakibatkan sesuatu yang buruk.


Gadis itu mengangguk dan mengulurkan tangannya kepada Sean, bermaksud meminta ponsel lelaki itu. Sean tersenyum melihatnya. Dia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, lalu menyerahkannya kepada Ara. Setelah memberikan nomor, Ara mengembalikan ponsel tersebut.


“Terima kasih,” kata Sean.


Ara mengangguk dan tersenyum. “Kalau gitu, saya balik kerja dulu ya, Dok,” ujar Ara.


“Iya.”


***


Saat jam pulang kerja, Ara sudah berdiri di depan kantor untuk menunggu kedatangan Sarah.


“Arana.”


Ara menoleh dan menemukan Sarah yang berdiri di belakang Jevan. Keningnya mengerut. Kenapa Jevan di sini? Jangan bilang lelaki itu akan ikut bersamanya dengan Sarah?


“Je, kamu mau ikut belanja?” tanyanya.


“Kamu mau aku ikut?” tanya Jevan balik, yang langsung dijawab gelengan oleh Ara.


“Pak Jevan cuman mau bilang, kita belanjanya diantar sopirnya Bapak, Ra,” ujar Sarah.


Ara manggut-manggut mengerti. Gadis itu menampilkan cengirannya kepada Jevan.


“Kamu nggak akan melakukan hal yang nggak akan aku suka kan, Ara?” tanya Jevan memastikan.


Ara kembali menggeleng. “Enggak, kok. Aku kan cuman mau jalan-jalan sama Mbak Sarah,” katanya.


Jevan mendengus dan masih menatap Ara dengan tajam, tapi tangannya tergerak mengeluarkan dompetnya dan mengambil sebuah kartu dari sana.


“Ini,” ujarnya sambil menyerahkan kartu itu.


“Buat apa?” tanya Ara heran.


“Memangnya kamu punya uang buat belanja?”


Lagi-lagi Ara hanya menampilkan cengirannya. Gadis itu akhirnya menerima kartutersebut.


“Makasih,” gumamnya pelan.


“PIN-nya ulang tahun kamu.”


Kali ini Ara menatap Jevan yang tengah memalingkan wajahnya ke arah lain. Gadis itu tersenyum.


“Jangan pulang terlalu malam.”


“Iya.”


“Kalau ada apa-apa, segera telepon aku.”


“Iya.”


Jevan mendengus. Kenapa rasanya berat sekali walau hanya melepas Ara jalan berdua dengan Sarah?


“Ya sudah, sana.”


“Kamu pulang naik apa?” tanya Ara begitu mengingat dia akan pergi bersama sopir Jevan.


“Mobil jemputanku sebentar lagi akan datang.”


Ara kembali tersenyum dan mengangguk. “Kalau gitu aku pergi dulu, ayo Mbak Sarah.”


“Mari, Pak Jevan,” ujar Sarah sebelum menggandeng lengan Ara dan berjalan bersamanya menuju mobil lelaki itu.


***


 


 


Di sinilah Ara dan Sarah berada sekarang. Di salah satu pusat perbelanjaan di tengah kota. Ara sebenarnya merasa cukup canggung. Dia jarang berkunjung ke tempat ramai seperti ini. Namun, sepertinya itu tidak berlaku bagi Sarah. Gadis itu terlihat sangat senang dan menikmati suasana.


“Karena acara pertunangannya Pak Jevan besok malam, hari ini kita beli baju kamu aja dulu. Ke salonnya besok, supaya Pak Jevan nggak curiga,” kata Sarah.


“Terus bajunya ditaruh di mana, Mbak? Kalau aku bawa pulang, Jevan pasti curiga.” Ara berkata dengan bingung.


“Nanti baju pestanya aku bawa ke rumahku. Besok, aku bakal jemput kamu, terus antar kamu ke salon sebelum berangkat. Tenang aja.”


“Tapi, kalau pulang nggak bawa apa-apa, nanti Jevan juga bakal curiga,. Gimana dong, Mbak?” tanya Ara.


Sarah terlihat berpikir. “Iya juga, sih. Em, kamu kan udah dapat kartunya Pak Jevan. Gimana kalau kamu belanja aja. Kamu belum pernah belanja, kan?”


“Pernah sekali, sama Jevan.”


“Cuman sekali, kan? Ya udah, kita belanja terus makan-makan.” Sarah menyeret Ara untuk berjalan bersamanya.


Saat akan masuk ke toko baju khusus perempuan, Ara malah berhenti, yang membuat Sarah juga ikut menghentikan langkah.


“Kenapa?” tanya Sarah bingung.


“Kita ke sana aja ya, Mbak,” ujar Ara sambil menunjuk toko di seberang mereka—toko yang menjual baju dan perlengkapan laki-laki lainnya.


“Itu toko khusus cowok, Ra,” kata Sarah.


Ara mengangguk dan menoleh ke arah Sarah sambil tersenyum. “Justru karena itu, Mbak. Aku mau beli sesuatu buat Jevan.”


Untuk sesaat, Sarah termenung di tempatnya. Sebenarnya bos galaknya itu mendapatkan Arana di mana? Gadis itu tampak sangat rapuh, tapi pada saat bersamaan terlihat begitu baik dan tulus. Sarah jadi kasihan jika nantinya kisah Arana dan Jevan tidak berakhir


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-