Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 93



Sisa perjalanan itu Ara dan Jevan sama sekali tidak berbincang sama sekali. Ara asik melihat pemandangan di luar jendela. Sementara Jevan tampak fokus dengan ponselnya. Hal yang membuat Ara bertambah kesal.


Sesampainya di hotel. Ara berjalan mendahului Jevan untuk ke kamar mereka. Setelah masuk ke dalam kamar, Ara segera memasuki kamar mandi dan meninggalkan Jevan yang diam-diam tersenyum geli melihat sikap gadis itu.


Membuat Ara cemburu ternyata menyenangkan juga. Biasanya, hanya dia yang bisa merasakan cemburu. Tapi, kali ini karena kedatangan Stef, Jevan akhirnya bisa melihat bagaimana jika Ara cemburu.


Pasalnya, saat kedatangan Natasya, gadis itu terkesan biasa, dan tidak menunjukkan sikap cemburu atau hal yang lain. Jujur saja itu yang membuat Jevan sedikit ragu dengan Ara.


Benarkah gadis itu mencintainya? Jika memang iya, lalu kenapa Ara tidak pernah cemburu kepadanya? Padahal, melihat Ara berdua dengan lelaki lain saja, membuat Jevan hilang kendali.


Namun, setelah melihat bagaimana sikap gadis itu sekarang. Jevan jadi yakin jika gadis itu memang mempunyai perasaan yang sama dengannya, walau tidak ada kata yang terucap di antara mereka.


Pintu kamar mandi yang terbuka, membuat Jevan menoleh dan menemukan Ara yang sudah berganti baju dan segera berjalan ke arah ranjang, dan berbaring memunggungi Jevan di sana.


Jevan akhirnya ikut bergabung dengan Ara di ranjang dan memeluk gadis itu dari belakang.


“Lepas,” ujar gadis itu sambil berusaha melepaskan tangan Jevan, tapi lelaki itu malah mempereratnya.


“Nggak mau.”


“Lepas. Kamu nyebelin!”


Jevan terkekeh mendengarnya. Dia mengecup pelan leher Ara. “Maaf. Gimana rasanya cemburu?” bisiknya pelan.


Ara menoleh ke arah Jevan. “Maksud kamu?”


Jevan akhirnya membalikkan tubuh Ara ke arahnya. “Cemburu? Gimana rasanya? Nggak enak, kan? Hal itu sering banget aku rasain saat melihat kamu berdua dengan lelaki lain,” ujarnya sambil merapikan rambut Ara yang berantakan.


“Kamu ngerjain aku?”


Jevan tersenyum, dia mengecup pelan dahi Ara. “Aku cuman nge-tes kamu.”


“Sama aja,” ujar Ara kesal sambil memukul pelan dada Jevan. “Kamu ngeselin. Dari tadi puji-puji Mbak Stef terus. Aku tahu dia cantik, dia sexy, dia pintar, tapi-”


“Tapi kamu lebih menggoda,” sela Jevan cepat dengan senyuman lebarnya.


“Ih!” Ara kembali memukul dada Jevan kesal. “Kamu nyebelin banget,” ulangnya kembali.


Jevan kembali terkekeh, lalu meraih Ara ke dalam pelukannya. “Seperti apa pun gadis di luaran sana. Aku sudah punya kamu, Ara. Nggak ada alasan buat berpaling. Kamu harus mengerti itu.”


Ara hanya diam dan menyandar nyaman di dalam pelukan Jevan. “Tapi, nggak boleh gitu lagi.”


“Tergantung.”


Ara mendongak menatap Jevan dengan kening mengerut. “Tergantung apa?”


“Kamu bisa jaga jarak nggak sama lelaki lain?”


“Aku nggak pernah dekat-dekat sama lelaki lain.”


“Sean dan Adi itu perempuan?” tanya Jevan sinis yang membuat Ara tersenyum tipis.


“Mereka teman aku.”


“Dan aku nggak suka kamu punya teman laki-laki. Temenan sama aku aja. Aku bisa jadi suami kamu, bisa jadi teman kamu juga.”


“Posessif.” Ara kembali masuk ke dalam pelukan Jevan.


“Tapi, kamu sayang,” balas Jevan.


“Kamu juga.”


Jevan mengecup pelan kepala Ara. “Ya, dan rasa sayangku memang lebih besar.”


***


“Kok, ada dua mobil?” Gadis itu menyuarakan keheranannya.


“Aku harus langsung ke kantor.”


Ara menatap Jevan tidak setuju. “Tapi, kamu baru aja sampai lho, Je. Istirahat aja di rumah dulu.”


Jevan tersenyum dan mengecup dahi Ara pelan. “Ada beberapa hal penting yang nggak bisa ditunda, Ara. Kamu pulang sendiri, ya. Selesai ini, aku akan langsung pulang. Sebentar, kok.”


Mau tak mau akhirnya Ara mengangguk pasrah. “Hati-hati, ya. Jangan capek-capek.”


“Iya. Sana masuk.”


Ara akhirnya menurut dan mulai memasuki mobil yang akan mengantarnya pulang ke rumah.


“Jangan terlalu ngebut,” ujar Jevan kepada sopir yang akan mengantar Ara. Setelahnya, mobil yang ditumpangi istrinya itu pergi meninggalkan bandara.


Jevan masuk ke dalam mobilnya, dan menyuruh sopir itu untuk langsung menuju kantornya. Sarah tiba-tiba saja memberitahu Jevan, kalau gadis itu sudah memberikan surat pengunduran diri di mejanya


Tentu saja Jevan merasa terkejut. Selama dia berbulan muda dengan Ara, Sarahlah yang mengatur jadwalnya, dan mengurus keperluan lainnya. Lalu, kenapa gadis itu resign secara tiba-tiba?


Apakah gadis yang diberikan Jevan kurang?


Jevan memejamkan matanya, berusaha untuk tidur. Sejujurnya dia lelah, dan ingin segera tidur memeluk Ara. Tapi, kabar mengejutkan dari Sarah, membuatnya tidak bisa bersantai-santai.


Kenyataannya, sesampainya Jevan di kantornya, Sarah sudah tidak berada di sana. Mejanya bersih. Gadis itu hanya meninggalkan surat pengunduran dirinya di meja Jevan.


Ke mana gadis itu pergi? Ditelepon pun, tidak bisa.


Dengan perasaan kecewa, Jevan akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Setidaknya hari ini dia harus beristirahat, sebelum mengurus kekacauan ini.


Sesampainya di rumah, hanya sang ibu yang menyambutnya. Berbincang sebentar dengan Ibunya, sebelum Jevan pamit ke kamar mandi karena tubuhnya butuh istirahat.


“Je, kok, sebentar banget?” Ara yang baru saja keluar dari kamar mandi, merasa heran dengan kehadiran Jevan yang sudah berbaring di ranjang.


“Hmm,” Jevan hanya bergumam menjawab pertanyaan Ara.


“Kamu mau mandi?”


Jevan menggeleng. “Tidur aja.” Lelaki itu melirik Ara yang tengah menyisir rambutnya, lalu menepuk pelan sisi kosong di ranjangnya. “Sini,” katanya.


Selesai dengan rambutnya, Ara menghampiri Jevan dan ikut berbaring di samping lelaki itu.


“Masalahnya udah selesai?” tanya Ara.


Jevan menggeleng, dan memeluk Ara erat. “Belum.”


“Terus?”


“Besok aja. Sekarang aku capek.” Pandangan Jevan tidak sengaja mengarah pada koper yang sengaja mereka isi dengan oleh-oleh. “Kenapa nggak dibuka?”


“Hmm?” Ara lalu menoleh ke arah Jevan memandang. “Oh, itu. Aku nggak berani buka soalnya kamu nggak ada,” jawabnya sambil menyengir lebar.


Jevan berdecak. “Ara, jangan gitu. Sekarang, apa yang aku punya, juga punya kamu. Jadi, kamu mau mempergunakan atau menyentuh apa pun barang milik kita, nggak usah izin aku dulu.”


Ara tersenyum lalu mengangguk. “Iya.”


Jevan akhirnya kembali membawa gadis itu ke dalam pelukannya, dan menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu.


***


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-