
Keesokan harinya, Jevan pergi ke rumah kedua orangtuanya, setelah menitipkan Ara yang masih tidur kepada Sarah dan Nicol yang menginap di rumahnya. Jevan berpesan agar keduanya menjaga Ara, selama dia pergi.
Dan di sinilah Jevan sekarang. Berada di dalam mobil yang sudah terparkir di depan pintu masuk rumah kedua orangtuanya. Mengembuskan napas pelan, sebelum memilih turun dari mobil, dan berjalan masuk ke rumah.
Di ruang tamu, Jevan bisa melihat sang ayah yang tengah duduk sambil membaca koran, dengan kopi yang masih mengepul di meja. Lelaki itu menghampiri sang ayah lebih dulu.
“Yah,” sapanya sambil duduk di depan sang ayah.
Ayah Jevan melipat korannya, memandang anaknya yang berada di depannya.
“Ibu kamu ada di kamar,” katanya.
“Ibu masih tidur?”
Ayah Jevan mengedikkan bahunya. “Dia nggak mau bangun. Katanya malu sama teman-temannya. Pertunangan kamu batal, dan media sedang gencar-gencarnya memberitakan itu.”
Jevan mengembuskan napas pelan. “Ayah sama Ibu bertengkar semalam?”
Ayah Jevan hanya menjawab dengan anggukan. “Dia marah, katanya ayah selalu belain kamu.”
“Maaf,” ujar Jevan pelan.
Kekehan keluar dari mulut sang ayah. “Kapan lagi ayah bisa bertengkar dengan ibumu karena membela kamu?”
Mau tak mau Jevan ikut terkekeh pelan. Selama ini, Jevan tahu ayahnya selalu mendukung apa pun keputusannya. Selama ini juga, Jevan tahu bahwa sang ayah selalu membantunya diam-diam.
“Bagaimana gadis itu?”
“Arana?” tanya Jevan memastikan yang dijawab anggukan oleh sang ayah. “Hancur.”
Ayah Jevan manggut-manggut mengerti. “Ya. Semua orang juga pasti akan seperti itu. Tidak ada yang mau kehilangan orang yang dia sayang.”
Jevan hanya diam mendengarkan.
“Lalu, setelah ini bagaimana?” tanya ayahnya lagi.
Jevan memberikannya tatapan heran. “Bagaimana maksud Ayah?”
“Hubunganmu dengan gadis itu. Kalian bersama karena ibu gadis itu, bukan? Lalu, sekarang setelah ibunya meninggal, apa yang akan kamu lakukan? Bukankah artinya kamu dan dia sudah tidak memiliki keterikatan lagi?”
Jevan termenung mendengarnya. Dia sama sekali tidak memikirkan itu dari semalam. Yang ada dipikirannya, hanya keadaan Ara. Karena Jevan benar-benar takut gadis itu akan melakukan hal buruk.
“Kamu akan melepas dia?”
Kali ini Jevan kembali menatap sang ayah. Entah kenapa dia tidak suka mendengar pertanyaan yang dilontarkan sang ayah kepadanya.
Jevan tidak suka ada yang membahas masalah perpisahannya dengan Ara.
“Jevan nggak tahu,” katanya. “Tapi, untuk sekarang, apa pun yang terjadi, Jevan nggak akan melepas Ara pergi.”
Ayahnya manggut-manggut mengerti. “Kalau begitu, bilang kepada ibumu seperti itu.”
Jevan diam sambil memandang sang ayah lurus. “Ya. Jevan akan bilang itu ke Ibu.” Setelahnya, lelaki itu bangkit berdiri, dan berjalan ke arah kamar ibunya yang berada di lantai dua.
Sepeninggal Jevan, diam-diam sang ayah meraih ponselnya dan menghubungi salah satu pengawalnya.
“Urus media. Jangan biarkan dia mengganggu Jevan, atau gadis yang bersamanya malam itu.”
Sementara itu, Jevan sudah berdiri di depan pintu kamar sang ibu. Dia mengembuskan napas pelan, membuka kenop pintu, dan masuk.
Di ranjang, ibunya tengah tidur membelakanginya, sambil memeluk guling. Wanita itu pasti mengira yang masuk tadi adalah ayahnya. Jevan duduk di ranjang, di dekat sang ibu.
“Ini Jevan, Bu,” katanya pelan.
Perlahan, ibunya bangun dan menatap Jevan dengan tajam. “Ibu pikir, kamu sudah lupa kalau punya ibu, gara-gara gadis kemarin,” ujarnya sinis.
“Maaf,” ujarnya dengan tulus. “Maaf udah bohong sama Ibu.”
Untuk sesaat ibunya memandang Jevan lurus, sebelum memilih membuang muka.
“Jevan sudah tidak mencintai Natasya lagi, Bu.”
“Lalu, kenapa kamu setuju dengan pertunangan ini?!”
“Jevan terpaksa. Karena Natasnya bilang, dia akan memberitahu Ibu tentang Ara. Waktu itu Jevan belum siap mengenalkan Ibu dengan Ara. Karena Jevan tahu, Ibu pasti tidak akan suka alasan kenapa akhirnya kami memutuskan tinggal bersama.”
Ibunya kembali membuang pandangan dari Jevan. Sedangkan Jevan kembali mengembuskan napas pelan. Kini tangannya meraih tangan sang ibu, dan menggenggamnya.
“Ara. Gadis itu sudah membawa banyak perubahan ke dalam hidup Jevan, Bu. Dia mampu membuat Jevan sembuh dari luka Jevan yang dulu. Lalu, di saat Natasya datang, dan mengancam. Jevan tidak punya pilihan lain, selain menuruti kemauan perempuan itu. Jevan nggak mau kehilangan Ara, Bu,” jelasnya.
Ibu Jevan mulai menatap ke arah sang anak, yang tengah memandangi genggaman tangan mereka.
“Alasan kami bersama memang tidak dibenarkan. Karena itu juga, Jevan belum bisa bilang ke Ibu.”
“Menurut kamu, setelah ibu tahu seperti sekarang, itu baik? Je, pertunangan kamu hancur hanya dalam beberapa detik. Ibu malu sama teman-teman ibu,” katanya kesal.
“Maaf,” gumam Jevan pelan.
Ibunya mendengus sebal. “Di mana dia sekarang?”
Jevan menatap sang ibu. “Siapa?”
“Siapa lagi kalau bukan gadis itu!”
“Dia di rumah. Dia masih terpukul karena kepergian ibunya.”
“Ayahnya di mana?”
“Sudah meninggal.”
Ibu Jevan termenung mendengarnya. Sesaat dia merasa kasihan dengan gadis itu, tapi segera dia samarkan dengan ekspresi kesalnya.
“Saudara, atau keluarganya?”
Jevan menggeleng. “Dia anak tunggal. Keluarganya yang lain, nggak mau mengurusi Ara. Dia sendirian, Bu.”
Ibu Jevan diam mendengarnya. Dia seperti sedang berkaca pada masa lalunya. Dia juga kehilangan kedua orangtuanya saat masih muda. Dia juga dilahirkan tanpa saudara.
“Maaf, Bu. Tapi, setelah kejujuran ini, dan Ibu masih saja mau memisahkan Jevan dan Ara, Jevan terpaksa nggak akan tinggal diam.”
Ibunya memandang Jevan sengit. “Memangnya ibu bilang akan memisahkan kalian?!”
Kali ini Jevan menampilkan senyumannya. “Dia gadis baik. Ibu harus ketemu Ara lain kali.”
“Lalu Natasya bagaimana?”
Jevan mengedikkan bahunya. “Jevan nggak mau mengurusi dia lagi. Setelah pertunangan kami batal, Jevan anggap di antara kami sudah nggak ada hubungan apa pun.”
Ibunya masih menatap Jevan dengan lurus. Yang ada di depannya ini adalah anak tunggalnya. Bagaimana pun Jevan membuatnya kecewa, sebagai seorang ibu, dia tidak bisa marah terlalu lama.
Ibu Jevan mengembuskan napas pelan. “Tidak apa-apa walau kamu dan Natasya sudah tidak memiliki hubungan lagi. Tapi, kamu harus menemui dia, dan menyelesaikan apa pun itu yang ada di antara kalian. Mungkin kamu senang dengan batalnya pertunangan ini. Tapi, Je, kamu harus menghormati perempuan, siapa pun itu. Kamu paham, kan?”
Jevan ingin membantah, tapi setelah melihat tatapan serius dari sang ibu, akhirnya lelaki itu mengangguk.
“Iya. Jevan paham,” jawabnya.
***
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-