Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 61



Malam harinya, Jevan sedang duduk diam di samping Ara tidur. Tangannya memegang erat tangan gadis itu. Pandangannya tidak lepas dari wajah damai Ara ketika gadis itu tertidur. Lalu, pandangan Jevan beralih kepada tangan Ara yang terluka. Dia mengusapnya pelan.


“Aku harus gimana, Ra? Aku harus gimana supaya kamu percaya sama aku?” bisiknya pelan sambil menjatuhkan kecupan ringan di tangan Ara yang terbalut perban.


“Aku bukan lelaki yang bisa dengan mudah mengucapkan. Tapi, terlepas dari itu semua, apa kamu nggak bisa melihat semuanya lewat tindakan yang aku lakukan? Aku nggak akan melakukan itu, kalau kamu nggak berarti untuk aku, Ara.”


Lagi-lagi Jevan hanya bisa mengatakan itu di saat Ara terpejam. Jevan terlalu pengecut. Dia tidak berani mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya kepada Ara. Jevan hanya takut. Dia takut kalau dia mengungkapkan perasaannya, maka Ara akan meninggalkannya.


“Selamat tidur, sayang.” Jevan mengecup kening Ara dalam dan lama, sebelum bangkit dan berjalan keluar kamar. Dia perlu menenangkan pikirannya.


Sedangkan tanpa sepengetahuan Jevan, Ara terbangun saat lelaki itu duduk diam di sampingnya, sambil memegang tangannya. Setelah Jevan kelaur dari kamarnya, Ara menangis dalam diam.


Apakah tindakan yang dia lakukan salah?


Memilih menyusul kepergian sang ibu adalah hal yang salah? Begitukah? Apa Jevan menyayanginya? Apa selama ini dirinya yang begitu bodoh dengan tidak bisa mengartikan sikap yang Jevan tunjukkan selama ini?


Ara melihat tangannya yang terbalut perban. Dia pikir, mengakhiri hidup adalah jalan satu-satunya untuknya. Dia sudah tidak mempunyai siapa pun di dunia ini. Tapi, ternyata dia salah. Masih banyak yang peduli dengannya.


Jevan menyayanginya. Bodohnya Ara yang tidak bisa mengartikan sikap yang ditunjukkan oleh lelaki itu. Ara juga masih mempunyai teman yang benar-benar peduli terhadapnya.


Sarah. Perempuan itu begitu peduli dengannya. Ara tahu Sarah menangis saat di rumah sakit. Ingin menenangkan, tapi Ara tidak punya banyak tenaga setelah Jevan marah kepadanya. Nicol juga diam-diam peduli dengannya. Begitu banyak yang peduli terhadapnya.


Ara terlalu peduli kepada mereka yang membuatnya terluka, sampai-sampai dia tidak menyadari banyak orang yang masih menyayanginya. Ara mengabaikan semua itu.


Kenapa setelah kehilangan sang ibu, Ara begitu rapuh dan terlihat mudah dikendalikan? Padahal, Ara yang dulu adalah sosok yang pantang menyerah untuk menghadapi dunia.


Ara harus bangkit. Dia harus kembali. Setidaknya untuk Jevan yang sama terlukanya dengan dirinya.


Sementara itu, Jevan berjalan ke arah dapur, dan mengambil sebotol wine dari sana. Lelaki itu duduk di sana sambil meneguk wine miliknya. Pandangannya menatap kosong ke depan. Kenapa akhir-akhir ini masalah sering kali menimpanya?


“Ara udah tidur?”


Jevan menoleh, dan menemukan Nicol yang tengah berjalan ke arahnya. Ya. Nicol dan Sarah masih tinggal di rumah Jevan. Untung saja orangtua Sarah di kampung. Jadi, tidak ada yang mempermasalahkan hal itu. Sedangkan Nicol, orangtua lelaki itu mana peduli. Mereka hanya akan peduli saat Nicol mau mengambil alih perusahaan.


“Hmm,” Jevan hanya berdeham singkat, sambil menggeser botol wine-nya ke samping, ke arah Nicol yang baru saja duduk.


Nicol meraih gelas, menuangkan wine ke dalam, lalu meneguknya. “Jadi, gimana?” tanya Nicol.


“Apa?” tanya Jevan balik.


“Natasya.”


Jevan mendengus mendengar nama itu disebut. Kalau saja Natasya adalah lelaki, maka sudah dari tadi Jevan akan menghampirinya, lalu menghajarnya habis-habisan. Sayangnya, perempuan itu sama seperti Ibunya. Sekeras-kerasnya Jevan, pantang untuknya memukul seorang perempuan.


“Lo mau bantu gue?”


Nicol mengangguk. “Kalau gue bisa, kenapa enggak?” Natasya memang sahabat mereka. Tapi, perempuan itu keterlaluan. Jika dia tidak digertak, maka perempuan itu tidak akan berhenti.


“Cari tahu mengenai agensi yang menaungi dia. Semuanya tanpa terkecuali.”


Jevan tersenyum sinis. “Itu nggak sebanding sebenarnya sama apa yang dia lakukan ke Arana. Tapi, seenggaknya dia akan tahu, siapa yang dia hadapi. Gue akan membuktikan ke dia, kalau gue nggak main-main sama perkataan gue,” katanya serius.


Nicol manggut-manggut mengerti. Karier tidak terlalu kejam menurutnya. Natasya masih bisa mencari rupiah lewat bidang mana pun.


“Oke. Besok gue akan ketemu sama kenalan gue di agensi-nya Natasya,” kata Nicol.


Jevan hanya mengangguk, dan kembali meminum wine miliknya.


“Tapi, Je, lo udah tahu alasan kenapa dulu Natasya memilih pergi ke luar negeri, dari pada nikah sama lo?”


Pertanyaan yang Nicol lontarkan, membuat Jevan kembali memusatkan pandangan ke arahnya, sambil menaikkan satu alisnya. “Memangnya itu penting sekarang? Gua bahkan udah nggak peduli sama masa lalu yang pernah ada di antara gue sama dia.”


Nicol mengangguk. Ini kehidupan Jevan. Jika lelaki itu tidak mau mencari tahu akar permasalahannya dulu, maka dia tidak akan memaksa. Lagi pula, Jevan memang terlihat sudah tidak peduli.


***


Pagi harinya, Ara sudah mandi dan berpakaian santai. Dia ingin sembuh. Ara ingin dirinya kembali menjadi seperti dulu. Walau Tuhan mengambil Ibunya, tapi dia masih mempunyai Jevan. Ya. Anggap saja begitu.


“Pagi, Mbok Ijah. Pagi, Mbak Sarah,” sapanya ketika dia sudah berada di dapur, dan melihat keberadaan Mbok Ijah dan Sarah yang tengah berada di sana.


Keduanya menoleh, sama-sama terkejut melihat kedatangan Ara. Selama ini, Ara tidak pernah keluar kamar. Setidaknya, setelah Ibunya meninggal.


“Ara, kamu ngapain di sini?” tanya Sarah sambil berjalan mendekat ke arah Ara. Gadis itu terlihat sangat terkejut.


“Mau bantuin buat sarapan,” jawab Ara sambil tersenyum tipis.


Sarah masih diam di tempatnya, dia memandang Ara dengan tidak menyangka. Tidak lama setelahnya, Sarah langsung memeluk Ara erat sambil menangis, yang membuat Ara sedikit terkejut. Dia terkekeh pelan, sebelum membalas pelukan Sarah.


“Maafin aku, Ra. Nggak seharusnya aku ninggalin kamu sendirian waktu itu. Aku takut banget waktu lihat kamu nggak sadar, dan banyak darah,” kata Sarah.


Ara mengelus pelan punggung Sarah. “Maaf, ya. Aku bodoh banget waktu itu. Aku nggak mikir gimana perasaannya orang yang peduli sama aku. Tapi, aku sekarang nggak apa-apa. Jadi, Mbak Sarah nggak usah merasa bersalah.” Ara melepas pelukannya dan menatap Sarah dengan senyuman tipis.


Sarah mengangguk, dan ikut tersenyum. “Tapi, kamu beneran nggak apa-apa? Nggak usah bantuin, deh. Urusan dapur biar aku sama Mbok Ijah aja. Aku takutnya tangan kamu belum bisa kena air,” ujarnya sambil meraih tangan Ara yang diperban.


Ara mengangguk setuju. Dia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dia tidak melihat keberadaan Jevan.


“Jevan di mana, Mbak?” tanya Ara pelan.


Sarah mengulum senyum mendengarnya. “Pak Jevan sama Pak Nicol kayaknya begadang main game, deh, di ruang tengah. Mereka ketiduran di sana.”


“Aku ke sana ya, Mbak,” kata Ara.


Sarah mengangguk. “Suruh Pak Nicol ke kamarnya aja sekalian. Kasihan, nanti dia masuk angin.”


Kali ini Ara yang mengangguk, dan berjalan ke arah ruang tengah. Sesampainya di sana, gadis itu meringis pelan. Ruang tengah yang tadinya rapi, mendadak seperti kapal pecah. Berantakan sekali. Botol minum di mana-mana. Bantal sofa yang sudah tidak pada tempatnya. Layar televisi yang masih menyala, dan juga bekas kulit kacang yang berceceran. Apakah semua lelaki jika bermain game akan seperti ini?


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-