
Setelah mempersiapkan sarapan, kini Jevan, Ara dan kedua orangtua lelaki itu tengah berada di meja makan, dan sarapan bersama. Sedari tadi, Jevan melirik Ara yang terlihat lebih diam. Gadis itu juga makan dengan porsi yang lebih sedikit dari biasanya.
“Habisin,” ujarnya setelah mengambilkan ayam bakar ke piring gadis itu.
Ara menoleh ke arah Jevan, hendak protes tapi Jevan memandangnya dengan tajam. Akhirnya gadis itu menunduk, dan mulai makan kembali. Padahal, dia sedang tidak berselera makan setelah pembicaraannya dengan Ibu lelaki itu tadi.
Hal itu juga tidak luput dari pandangan kedua orangtua Jevan. Keduanya saling lirik, sebelum akhirnya ibu Jevan berdeham pelan, membuat Jevan menoleh ke arahnya.
“Ibu mau bilang sesuatu sama kamu dan Arana,” ujarnya.
Jevan masih mengunyah makan dalam diam, dan mengangguk dengan santai. “Bicara apa?”
“Pernikahan.”
Kali ini Jevan berhenti makan, setelah menelan kunyahan di mulutnya. Dia melirik ke arah Ara yang juga menghentikan acara makannya. Dia mengembuskan napas pelan, dan kembali memusatkan pandangan ke arah sang ibu.
“Jevan juga mau bicara sama Ibu dan Ayah,” katanya.
Ayah Jevan mengangguk. “Kamu bicara dulu, Nak,” ujarnya sambil mengelap mulutnya dengan tisu di sana.
“Jevan belum bisa menikah dengan Arana.”
“Kenapa?!” seru sang ibu dengan cepat. “Kamu nggak mau menikah sama Arana? Je, kamu dan dia sudah hidup bersama selama beberapa bulan. Kamu jangan jadi lelaki pengecut, dong. Jangan-”
“Bu,” sela Jevan sebelum Ibunya berbicara terlalu jauh. “Bukannya Jevan nggak mau menikah sama Arana. Tapi, ini terlalu mendadak. Kami belum siap, atau lebih tepatnya Jevan belum siap memulai pernikahan kembali,” ujarnya dengan tegas.
Ibunya berdecak tidak suka, dia melirik ke arah Ara yang hanya diam dan menunduk. “Kamu yakin nggak memaksa Ara untuk itu? Kamu udah bicara berdua sama Ara? Ini bukan cuman kemauan kamu pribadi, kan?” Pertanyaan itu terlontar lancar dari mulut ibu Jevan. Wanita itu curiga melihat Ara yang hanya diam, dan menunduk.
“Bu, Jevan sama Ara sudah bicara tentang ini. Kita berdua sudah sepakat.” Jevan beralih memandang Ara. “Iya kan, Ra?” tanyanya.
Merasa pertanyaan itu ditujukan untuknya, Ara mendongak dan bertatapan langsung dengan Jevan. Dia mengangguk sambil tersenyum tipis, karena orangtua lelaki itu juga tengah menatapnya.
Ibu Jevan mendengus kasar mendengarnya. Sedangkan ayah Jevan manggut-manggut mengerti.
“Ya sudah, Bu. Kalau memang itu kemauan Jevan dan Arana, kita bisa apa? Lagi pula, yang akan menjalani pernikahan ini adalah mereka berdua. Kalau dipaksakan juga percuman. Jadi, kapan kalian siap?” tanyanya.
Jevan terlihat berpikir. “Dalam waktu dekat ini belum, Yah. Kalau kami sudah siap, segera akan memberi kabar kepada Ayah dan Ibu,” jawabnya.
Ara tidak sengaja menatap ke arah ibu Jevan. Wanita itu tengah menatapnya dengan tatapan yang tidak Ara mengerti. Seperti ragu? Pasti karena penundaan pernikahan dan alasan yang Jevan berikan.
Selesai sarapan bersama, Ara memaksa untuk membantu membersihkan sisa makanan, dan mencuci piring, meski ibu Jevan sudah melarang. Gadis itu merasa sungkan dengan ibu Jevan.
“Arana.”
Ara menoleh saat seseorang memanggilnya. “Ada apa, Tante?” tanyanya begitu melihat ibu Jevan berdiri beberapa langkah di belakangnya.
“Jevan beneran nggak memaksa kamu untuk menunda pernikahan?”
Ara tertegun mendengarnya. Jevan memang tidak memaksa, Ara sendirilah yang berusaha mengerti kemauan lelaki itu, meski harus menekan keinginannya. Akhirnya, gadis itu menggeleng sambil tersenyum tipis.
“Enggak, kok, Tante.”
“Tapi, kenapa dari yang saya lihat, kamu malah terlihat tertekan karena masalah itu.”
Ara mematikan kran setelah dia selesai membilas piring dan gelas. Kali ini gadis itu sepenuhnya menatap ke arah ibu Jevan.
“Saya nggak apa-apa, kok, Tante.”
Sekali lagi Ara mengangguk dan tersenyum. “Iya, Tante.”
Setelah beberapa jam berada di rumah kedua orangtuanya, menjelang sore, Jevan dan Ara dalam perjalanan pulang ke rumah mereka. Sesekali Jevan melirik ke arah Ara yang mendadak diam sedari tadi.
“Kamu kenapa?”
Ara menoleh ke arah Jevan. “Kamu tanya sama aku?”
Jevan mendengus. “Memangnya siapa lagi yang akan aku tanyai begitu?!”
Ara meringis pelan. “Aku nggak apa-apa, kok, Je.”
Jevan berdecak. “This woman.” Dia memandang Ara tajam. “Katakan jujur. Kamu kenapa?”
“Aku kerja lagi, boleh?” Ara menggigit bibir bawahnya setelah mengajukan pertanyaan itu. Apalagi, ketika melihat kening Jevan yang mengerut setelah mendengarnya.
Sebenarnya bukan itu yang sedang Ara pikirkan, meski kadang kala hal itu terpikirkan di kepalanya. Dia hanya mencari alasan agar Jevan tidak curiga. Lagi pula, jika Ara mengatakan kalau dia tengah memikirkan penundaan rencana pernikahan mereka, lelaki itu pasti marah.
“Kenapa?”
“Ya?”
“Kenapa mau kerja lagi? Aku lebih suka kamu diam aja di rumah.” Jevan memandang Ara lurus.
“Aku cuman bosan aja kalau di rumah lama-lama. Kalau kerja kan, aku ketemu banyak orang. Senang aja gitu.”
Lama Jevan memandang Ara yang membuat gadis itu salah tingkah, sebelum akhirnya lelaki itu mengangguk.
“Yaudah.”
Ara memandang Jevan bingung. “Yaudah apa?”
“Kamu boleh kerja.”
Senyuman Ara terbit mendengarnya. Untung saja kali ini Jevan tidak marah, dan malah menyetujui keinginannya.
“Sebagai sekretaris keduaku.”
“Apa?!” seru Ara terkejut. “Sekretaris kedua kamu?” ulangnya tidak percaya. “Je, aku cuman lulusan SMA. Aku juga nggak akan ngerti tugas sebagai sekretaris itu apa aja.”
Jevan memandang Ara tidak suka. “Gampang tugasnya. Kamu cuman perlu duduk diam di samping mejanya Sarah. Bikinin aku kopi, dan temani aku makan siang.”
Ara memberengut mendengarnya. “Itu bukan kerja namanya, tapi melayani kamu. Aku kerja yang kayak dulu aja. Jadi office girl.”
Sorot mata Jevan memandang Ara tajam. “Nggak!”
“Je.”
“Sebagai sekretarisku, atau tetap di rumah!”
Ara diam dengan bibir dikerucutkan. Dia menyadar ke sandaran mobil dengan kesal, dan memilih membuang muka ke jendela di sampingnya. Dia tidak mungkin menerima tawaran lelaki itu. Tujuannya bekerja supaya Ara punya waktu untuk memikirkan hal lain, bukan hanya lelaki itu saja.
***
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-