
Sepanjang perjalanan pulang, Jevan hanya diam. Ara juga diam, dia tahu kalau sekarang Jevan tengah berada di mode marah. Gadis itu menggeleng pelan. Semakin ke sini, Jevan memang semakin mudah merasa cemburu. Ara akan membiarkan, nanti ketika Jevan sudah tidak tahan, dia akan mengomel kepada Ara.
Setelah sampai rumah, lelaki itu segera berjalan ke arah kamar. Ara hendak menyusulnya, tapi berhenti ketika berpapasan dengan ibu Jevan yang berada di ujung tangga.
“Tante,” sapanya.”
“Baru pulang?”
“Iya.”
“Itu Jevan kelihatan marah. Kenapa?”
Ara menyengir. “Ketemu teman lama, Tante.”
Ibu Jevan menggeleng. “Ya sudah, kamu susul sana.”
Ara mengangguk dan melanjutkan langkahnya ke arah kamar. Gadis itu membuka pintu kamar dan tidak menemukan Jevan di sana, tapi bunyi air di kamar mandi, membuat Ara mengerti jika Jevan tengah berada di sana.
Ara memilih menunggu di balkon sambil menikmati angin malam yang terasa dingin, tapi menyejukkan. Siapa yang menyangka dia akan berada di sini sekarang?
Seandainya dulu dia tidak dipertemukan dengan Jevan. Mungkin dia sekarang tidak tahu harus berteduh di mana. Tidak mempunyai orangtua. Tidak mempunyai tempat tinggal. Dia akan luntang-lantung tidak jelas.
Beberapa menit kemudian, lengan melingkari tangannya, dan sebuah kepala yang berada di atas kepalanya. Ara tersenyum ketika tahu jika pemilik tangan ini adalah Jevan.
“Aku cemburu, Ara,” ujarnya.
Ara mengusap pelan tangan Jevan di perutnya. “Aku tahu, Je.”
Terdengar helaan napas berat di atas kepalanya. “Aku nggak tahu sejak kapan, tapi melihat kamu berinteraksi dengan lelaki lain, adalah hal yang paling tidak aku sukai sekarang.”
Ara membalikkan badan ke arah Jevan. Tangan gadis itu mengusap pelan pipi Jevan. Lelaki itu hanya memakai celana kainnya dan kaos polos berwarna hitam.
“Maaf. Tapi, aku nggak bermaksud lain, kok. Tadi bosan aja dengar pembicaraan kamu sama Bapak yang tadi. Terus, aku nggak sengaja lihat dokter Sean, jadi aku samperin dia.”
Jevan kembali mengembuskan napas pelan. Dia menyatukan keningnya dengan kening Ara. “Aku nggak tahu sihir apa yang udah kamu berikan ke aku. Kenapa pengaruh kamu begitu besar ke aku?”
Ara tersenyum tipis. “Aku bukan penyihir. Kamu berlebihan.”
Jevan menjauhkan wajahnya dari wajah Ara. Dia menatap gadis itu dengan lembut. “Janji jangan pernah bertemu lelaki lain tanpa aku di samping kamu?”
Gadis itu mengangguk. “Janji. Lagi pula, tadi aku ketemu sama dokter Sean ada kamu. Jadi, nggak ada alasan kamu marah.
Lelaki itu mendengus. “Kamu memang paling bisa cari alasan.”
Ara terkekeh dan melepaskan diri dari pelukan Jevan. “Udah, aku mau mandi.”
Langkah Ara terhenti ketika Jevan memegang lengannya. “Apa?” tanya Ara.
“Mau mandi?” tanya Jevan yang hanya dijawab anggukan oleh gadis itu. “Aku ikut.”
Ara mengenyit. “Kamu udah mandi.”
“Mandi dua kali siapa yang nggak ngebolehin?” tanyanya sambil meraih tubuh Ara dalam gendongannya, dan berjalan ke arah kamar mandi.
***
Setelah permasalahan di antara mereka terselesaikan. Satu minggu ini Ara disibukkan dengan urusan pernikahannya dan Jevan. Gadis itu sebenarnya menginginkan pesta pernikahan yang sederhana aja. Tapi, jelas ibu Jevan tidak setuju. Calon mertua Ara itu menginginkan pesta pernikahan yang mewah karena mengingat Jevan adalah anak satu-satunya.
“Ara, kamu nanti di acara pernikahan mau makanan apa yang dihidangkan ke tamu?” Setelah mengurus tema undangan dan konsep pernikahan, hari ini ibu Jevan mengajaknya berdiskusi masalah makanan.
“Kalau masakan nusantara gimana, Bu?”
Ya. Setelah menentukan tanggal pernikahan yang akan dilakukan dua bulan dari sekarang, ibu Jevan menyuruh Ara mengubah panggilannya menjadi sebutan ‘Ibu’ sama seperti Jevan memanggilnya.
“Em, masakan nusantara, ya? Tapi, tamu Ibu, Ayah, sama Jevan banyak yang dari luar negeri. Takutnya mereka malah nggak cocok sama rasa masakan nusantara. Gimana kalau masakan western aja?”
Ara meringis pelan. Kalau memang sudah ada ide, kenapa harus tanya lagi kepadanya?
“Kalau gitu, Ara terserah sama Ibu aja.”
“Ih, kamu dari kemarin bilangnya terserah terus.”
Ara diam. Memangnya dia bisa apa selain menurut?
“Yaudah, Ibu mau telepon restoran langganan dulu,” ujarnya sambil sambil beranjak ke arah kamarnya.
“Ara.”
Gadis itu segera duduk tegap ketika ibu Jevan kembali datang ke arahnya. “Ya, Bu?”
“Kamu masih ingat sama desain undangan kita kemarin?” tanyanya yang dijawab anggukan oleh Ara.
“Ini Ibu ada undangan lagi, coba kamu tanya Jevan, undangan kamu sama dia, modelnya mau disamain aja sama undangannya Ayah dan Ibu?”
Gadis itu mengangguk sambil menerima desain undangan dari ibu Jevan. Setelah kepergian calon mertuanya itu, Ara segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi Jevan yang masih berada di kantor.
“Hallo, Ara. Ada apa?”
“Je, aku kirim foto desain undangan ke kamu, coba kamu lihat dulu.”
“Buat apa?”
“Ibu tanya, undangan kita sama undangan Ibu dan Ayah disamai desainnya atau enggak?”
“Ara, aku sebentar lagi ada meeting. Gimana kalau kamu aja yang pilih. Aku ikut kamu aja.”
“Tapi, Je, Ibu suruhnya kamu yang pilih.”
“Ara, itu cuman masalah undangan, kan? Nggak ada masalah besar kalau kamu yang pilih. Udah, ya. Aku nggak bisa lama-lama, aku tutup dulu telepon-nya.” Setelahnya, sambungan telepon ditutup begitu saja.
Ara mengembuskan napas pelan. Tanpa sadar, air mata meluruh di pipinya. Gadis itu mengusap kasar menggunakan punggung tangannya. Dia lelah. Tapi, Jevan seolah tidak melihat itu. Ini kan pernikahan mereka. Lalu, kenapa rasanya hanya Ara mempersiapkan segalanya di sini?
“Nyebelin banget,” gumamnya sambil terisak pelan.
Pukul delapan malam, di saat Ara baru saja menyantap makan malamnya dengan orangtua Jevan, lelaki itu baru pulang. Terlihat kelelahan dengan penampilan yang berantakan.
“Malam, Bu, Yah,” sapanya dengan kedua orangtunya yang duduk di ruang tengah.
“Baru pulang, Je?”
“Iya.” Jevan melihat ke sekelilingnya. “Ara mana, Bu?”
“Oh, tadi dia lagi bantuin pelayan cuci piring di dapur.”
Lelaki itu mengangguk, lalu berjalan ke arah dapur. Sesampainya di dapur, dia melihat Ara yang tengah berdiri di wastafel.
“Ara.”
Gadis itu berjengit kaget dan tanpa sengaja menjatuhkan piring yang dia genggam. Jevan terkejut melihatnya, dia segera berjalan ke arah Ara yang tengah memunguti pecahan kaca itu.
“Ara, udah, itu tajam. Nanti tangan kamu terluka,” ujarnya sambil menahan tangan Ara yang hendak menyentuh kembali pecahan kaca itu.
“Aku nggak apa-apa.”
“Udah. Mbak! Mbak!” teriak Jevan memanggil pelayan sang ibu.
“Je, aku aja. Aku bisa, aww...”
Jevan terkejut melihat tangan Ara yang berdarah. Lelaki itu segera menarik tangan untuk berdiri, lalu mengarahkan jari gadis itu ke wastafel dan mencucinya di sana.
“Aku kan udah bilang, jangan. Tangan kamu terluka jadinya,” kata Jevan dengan eskpresi panik yang berlebih. Sementara Ara hanya diam dan menurut saja ketika Jevan membasuh tangannya.
Tidak lama kemudian, dua orang pelayan datang. Jevan menatap tajam keduanya. “Kalau nggak becus kerja, lebih baik kalian berhenti!”
“Maaf, Tuan,” kata keduanya sambil menunduk.
“Jangan gitu, Je. Aku nggak apa-apa.” Ara berucap ketika melihat bagaimana takutnya dua pelayan itu.
Jevan mendengus. Dia menarik tangan Ara menjauhi pecahan piring itu. Lalu, mengambil kotak P3K, dan mengambil hansaplast untuk membalut jari Ara yang terluka.
Setelahnya, lelaki itu memandang Ara tajam. “Lain kali, kalau aku bilang, nurut. Semuanya demi kebaikan kamu.”
Gadis itu hanya diam yang membuat Jevan menggeram dan memanggil namanya sekali lagi. “Arana.”
“Iya,” jawab Ara dengan suara lirih.
***
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-