
Tanpa banyak bertanya lagi, Jevan segera berlari menuruni tangga. Dia masih bisa melihat Sarah yang berjalan mendekati kerumunan.
“Pak, ada apa?”
Pertanyaan yang Sarah lontarkan, Jevan abaikan begitu saja. Lelaki itu membelah kerumunan, dan di sanalah Jevan dan Sarah bisa melihat Ara yang memejamkan matanya, dan juga Nicol yang memegangi kelapanya.
“Ara! Ara kamu kenapa? Bangun, Ra.” Jevan mendekat dan mencoba membangunkan Ara.
“Kita bawa ke rumah sakit, Je.”
Jevan hanya mengangguk, dan meraih Ara ke dalam gendongannya. Saat hendak keluar resto, Nicol mengumpat saat menyadari kalau dirinya tidak membawa mobil.
“Sar, kamu bawa mobil?”
“Ada mobilnya Pak Jevan, Pak. Lewat sini.” Sarah segera memberikan arahan jalan kepada Nicol dan Jevan yang menggendong Ara.
Nicol menyuruh sopir Jevan keluar, dan menggantikannya dengan dirinya. Sementara Jevan sudah masuk ke dalam pintu belakang dengan Ara, lalu Sarah yang duduk di samping kursi kemudi.
Sepanjang jalan Jevan diam, dan menatap Ara yang masih terus memejamkan kedua matanya. Pikirannya kosong. Bahkan untuk sesaat tadi, dia tidak bisa berpikir apa pun.
Jevan mengeratkan pelukannya di tubuh Ara. Lelaki itu mendekatkan mulutnya ke arah telinga gadis itu.
“Aku nggak mau kehilangan kamu, Ra,” gumamnya.
Nicol dan Sarah diam. Keduanya sama-sama terkejut dan panik. Masalahnya adalah, mereka sama-sama tidak tahu, apa penyebab Ara sampai terjatuh seperti itu.
Sesampainya di rumah sakit. Ara segera dibawa ke ruang UGD, dan sedang diperiksa dokter. Sedari tadi Jevan masih belum mengeluarkan suaranya, sampai dokter selesai memeriksa.
“Pasien tidak apa-apa. Dia hanya syok karena itu pingsan. Tapi, untuk pemeriksaan lebih pasti, kami harus melakukan rongsent terhadap pasien.”
Jevan hanya mengangguk dan berhasil bernapas lega. Sedangkan Nicol menggumamkan kata terima kasih, lalu ikut mendekat ke arah Ara yang masih terpejam.
“Gimana bisa?” Setelah sekian lama, akhirnya Jevan membuka suaranya.
“Gue nggak tahu. Pas gue datang, keadaan di bawah udah ramai. Saat gue lihat, ternyata Ara jatuh dari tangga.”
Jevan mengembuskan napasnya kasar. “Sarah, suruh orang untuk mengurus CCTV di sana. Saya harus menemukan pelakunya.”
“Baik, Pak.”
Tidak lama kemudian, tangan Ara yang berada dalam genggaman tangan Jevan bergerak. Gadis itu mengerjab pelan, sebelum memandang dengan benar keadaan di sekelilingnya.
“Jevan,” panggilnya pelan.
Jevan diam dan memandang Ara dengan perasaan lega.
“Aku di rumah sakit?” tanyanya sambil meringis pelan.
“Kamu kenapa? Ada yang sakit?” tanya Jevan panik.
Ara menggeleng pelan. “Aku cuman pusing, Je.”
Jevan kembali mengembuskan napasnya lega. Ara menatap ke arah Nicol dan Sarah yang ada di sana. Gadis itu meringis pelan ketika lagi-lagi dia membuat keributan.
“Maaf. Aku ngerepotin terus,” katanya pelan.
Jevan menggeleng. “Jangan ngomong gitu, Ara. Kamu sama sekali nggak merepotkan,” ujarnya sambil mengusap lembut rambut Ara.
“Gimana bisa, Ra? Lo nggak hati-hati waktu turun tangga?” Kali ini Nicol yang bertanya.
“Tadi apa, Ara?” tanya Jevan penasaran.
Ara menggigit bibir bawahnya. Haruskah dia mengatakan? Kalau dia mengatakan, Jevan pasti akan memperbesar masalah ini.
“Nggak apa-apa kalau kamu nggak mau jujur. Aku udah punya bukti CCTV-nya.”
Ara memandang Jevan cepat. “Mungkin orang itu juga nggak sengaja, Je,” katanya cepat.
“Nggak sengaja gimana?” tanya Jevan terus.
“Ngedorong aku. Mungkin dia nggak sengaja, Je. Nggak udah diperpanjang, ya,” katanya.
Sementara Jevan dan yang lain terkejut mendengar perkataan Ara.
“Jadi, ada yang ngedorong kamu? Siapa?”
Ara menggeleng pelan. “Aku nggak tahu,” jawabnya.
“Kamu lihat ciri-cirinya nggak, Ra?” tanya Sarah penasaran.
Ara mencoba mengingat. “Dia pakai pakaian serbah hitam, terus pakai topi hitam juga.”
“Bentar, deh. Pakai pakaian serba hitam sama topi hitam?” tanya Nicol mencoba mengingat.
“Kenapa? Lo tahu sesuatu?” tanya Jevan.
“Gue sempat tabrakan sama dia pas mau masuk resto. Dia lari ke arah yang berlawanan dari kantor lo, Je.”
Jevan mengumpat pelan. Kesimpulan sementara adalah ada yang mendorong Ara hingga jatuh. Jevan melirik ke arah Nicol yang juga tengah melirik ke arahnya.
“Je, kita keluar bentar.”
Jevan mengangguk dan berdiri dari duduknya. “Sarah, kamu jagain Ara.”
“Iya, Pak.”
“Tebakan kita sama?” tanya Nicol saat dirinya dan Jevan sudah berada di luar ruang UGD.
“Mungkin. Bisa aja dia Natasya.”
“Tapi, dari yang gue ingat. Dia pendek, Je. Sementara Natasya tinggi, jadi nggak mungkin dia.”
Jevan mengacak rambutnya kesal. “Gue nggak peduli. Siapapun orangnya, gue pasti akan tangkap dia. Gue bakal temuin siapa orang yang udah berani main-main sama gue. Apalagi, menyentuh milik gue.”
Nicol diam melihat kesungguhan Jevan. Ya. Dia pasti juga akan marah di saat orang yang dia sayangi sengaja dilukai oleh seseorang.
“Kita harus temuin CCTV itu, sebelum keduluan orang lain,” kata Nicol.
Jevan mengangguk. “Lo sama Sarah urus masalah ini. Gue akan bawa Ara pulang.”
“Ke rumah orangtua lo, kan? Menurut gue, di sana lebih aman dari pada rumah lo.”
“Ya.”
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-