
Setelah makan malam bersama, kini Ara duduk berdua dengan Sarah di ruang santai. Sedangkan Jevan dan Nicol tengah berbicara di ruang kerja lelaki itu.
“Ra, kamu udah dengar belum, pegawai JS Group diundang di pertunangannya Pak Jevan sama Mbak Natasya?” tanya Sarah memulai pembicaraan.
Ara tersenyum miris, lalu mengangguk pelan. “Aku udah dengar, Mbak.”
Sarah menghela napas pelan. “Kamu datang, kan? Dari yang aku dengar, kalau sampai ada yang nggak datang, bisa dipecat.”
Ara terdiam. Dia juga tidak tahu akan datang atau tidak. Dia dan Jevan belum membicarakan ini. Kalau dia tidak datang, taruhannya adalah pekerjaannya. Namun, kalau dia datang, berarti dia harus melihat adegan menyakitkan di mana Jevan dan Natasya akan bertunangan.
“Aku nggak tahu, Mbak,” ujarnya jujur.
Sarah memandang Ara dengan kasihan. “Kamu belum ngobrolin ini sama Pak Jevan, ya?”
Ara menggeleng. “Belum, Mbak. Belum ada waktu.” Dia kembali tersenyum miris di akhir kalimatnya.
Sarah terlihat berpikir sesaat. “Gimana kalau kamu datang aja?”
“Datang tanpa persetujuan Jevan maksud Mbak Sarah?” tanya Ara memastikan.
Sarah mengangguk semangat. “Iya.”
Ara ragu. Haruskah dia melakukan itu?
“Tapi, kalau Jevan marah gimana, Mbak?”
“Tenang aja. Aku bakal dandanin kamu secantik mungkin, supaya Pak Jevan nyesal udah tunangan sama Mbak Natasya.”
Tawaran itu terdengar sangat menggiurkan. Tapi, lagi-lagi Ara merasa ragu. Haruskah dia melakukan itu? Kalau Jevan benar-benar marah besar, bagaimana?
“Mau ya, Ra?” tanya Sarah lagi. “Kamu itu cantik, lho. Tinggal dipoles dikit aja, udah perfect.”
Ara menatap Sarah dengan bimbang. “Tapi, aku nggak punya baju yang pantas dipakai buat ke pesta kayak gitu, Mbak,” katanya.
Sarah tersenyum. “Gampang itu, Ra. Nanti kita belanja dulu di butik langganan aku, baru kita poles wajah kamu. Kita buat Pak Jevan terpesona sama kamu.”
Ara kembali diam, memikirkan semuanya.
“Tapi, kita pergi diam-diam ya, Ra. Jangan bilang sama Pak Jevan.”
Ara kembali menatap Sarah. Akhirnya, gadis itu pun mengangguk. “Iya, Mbak,” jawabnya.
“Lagi ngobrolin apa?”
Kedua gadis itu tersentak. Mereka menoleh ketika melihat Jevan dan Nicol yang tiba-tiba sudah duduk di hadapan mereka. Ara dan Sarah saling pandang. Keduanya tampak gugup ditanya begitu oleh Jevan.
“Kenapa?” tanya Jevan lagi.
Ara tersenyum dan menggeleng. “Mbak Sarah ngajak aku ke pesta pertunangan kamu sama Mbak Natasya,” katanya takut-takut.
Jevan mengembuskan napas pelan. “Nggak. Kamu nggak boleh datang,” katanya tegas.
“Tapi, kalau pegawai JS Group ada yang nggak datang, mereka akan dipecat, Je.” Ara masih tidak mau menyerah.
Jevan menatap Ara tajam. “Aku pemimpin tertinggi di JS Group. Jadi, kamu nggak usah mengkhawatirkan hal tidak berguna begitu,” katanya menyombongkan dirinya.
Ara melirik ke arah Sarah yang kebetulan juga tengah meliriknya. Jevan, yang menyadari itu, segera berdeham dengan keras, membuat kedua gadis itu kembali terkejut.
“Jangan merencanakan sesuatu di belakangku, Ara.” Jevan lalu beralih kepada Sarah. “Dan kamu, Sarah. Kalau kamu melakukan kesalahan. Saya akan langsung memecat kamu,” katanya tajam.
Ara dan Sarah sama-sama menunduk, menghindari tatapan mata tajam Jevan. Sedangkan Nicol menggeleng pelan.
“Santai, Je. Mereka berdua ini gadis penurut. Mereka nggak akan melakukan hal yang bakal buat lo marah. Iya, kan?” tanya Nicol sambil memandang kedua gadis itu dengan ekspresi menggoda.
Ara dan Sarah saling pandang, sebelum mengangguk kuat-kuat. Jevan mendengus. Entah kenapa dia tidak percaya, baik terhadap ucapan Nicol maupun dua gadis di depannya itu.
Setelah kepergian Nicol dan Sarah, Ara duduk di ranjang kamarnya dan Jevan. Dia tengah menunggu Jevan yang masih berada di kamar mandi. Ada yang ingin dia tanyakan kepada lelaki itu.
Tidak berapa lama kemudian, Jevan keluar dengan kaus polos dan celana kainnya. Lelaki itu berjalan ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Ara.
“Kamu nggak tidur?” tanyanya kepada Ara yang masih duduk.
“Sebenarnya, ada yang mau aku tanyakan sama kamu,” ujar Ara terdengar ragu.
“Em, kenapa kamu nggak kasih izin aku pergi ke pesta pertunangan kamu?” Ara memandang Jevan takut-takut.
Sementara Jevan yang mendengarnya mengembuskan napasnya pelan. “Kenapa kamu mau tahu? Kamu mau pergi ke sana diam-diam tanpa sepengetahuan aku?”
Ara buru-buru menggeleng. “Enggak, kok, Je. Kamu kan udah bilang jangan, aku mana berani bantah perkataan kamu.” Dalam hatinya, Ara sudah berucap maaf kepada Jevan karena telah membohongi lelaki itu.
Jevan memandang Ara sesaat, sebelum menarik tubuh gadis itu jatuh ke dalam pelukannya.
“Aku cuman nggak mau kamu lihat itu,” katanya pelan.
Ara mendongak menatap Jevan. “Kenapa?”
Jevan menunduk. Untuk sesaat mereka memandang satu sama lain dalam diam. Mereka menikmati keheningan yang terjadi.
Karena aku nggak mau melihat kamu terluka.
“Hanya tidak mau, dan pembahasan ini sampai di sini.” Jevan semakin mempererat pelukannya di tubuh Ara.
Meski Ara merasa kurang puas dengan jawaban Jevan, gadis itu tetap menurut. Dia mencari posisi nyaman di dalam pelukan Jevan, kemudian memejamkan matanya.
Lelaki itu memberikannya kecupan di kening, dengan tangan yang terus mengusap punggungnya dengan lembut. Ara terbuai dengan kelembutan dan kenyamanan itu, sebelum akhirnya gadis itu benar-benar terlelap di pelukan Jevan.
“Good night, beautiful smile,” bisiknya pelan, sebelum ikut menutup mata bersama Ara.
***
Pagi ini Ara sudah berada di kantor dan bekerja seperti biasa. Rencananya siang nanti dia akan pergi berbelanja bersama Sarah, meski Ara masih bimbang tentang Jevan. Dia belum meminta izin kepada lelaki itu. Kalau bicara jujur, takutnya Jevan malah tidak memperbolehkan. Jadi, Ara harus memikirkan terlebih dahulu, alasan yang tidak akan membuat Jevan curiga.
“Adi, kamu baru sampai?” sapa Ara kepada Adi yang berjalan melewatinya begitu saja.
Anak itu masih terkesan menjauh dari Ara. Ara sendiri tidak tahu kenapa. Padahal, dia merasa tidak melakukan kesalahan.
Adi diam dan memandang Ara sesaat, sebelum mengangguk. Dia hendak kembali melanjutkan langkah, tapi Ara lebih dulu menahan lengannya.
“Kamu kenapa?” tanya Ara.
“Nggak apa-apa,” jawabnya singkat.
Ara tersenyum tipis melihatnya. “Nggak apa-apa, tapi menghindar dari aku. Ada apa?”
Adi menatap Ara lurus, sebelum mengembuskan napasnya pelan. “Sebenarnya ada yang mau aku sampaikan sama Mbak Ara.”
Ara mengangguk. “Bilang aja, nggak apa-apa, kok.”
“Aku suka sama Mbak Ara.”
Ara membulatkan matanya mendengar kalimat yang terucap dari bibir Adi. Dia tidak salah dengar, kan? Adi bilang menyukainya? Bagaimana bisa? Mereka kan tidak sedekat itu, sampai-sampai Adi bisa mempunyai rasa suka kepadanya.
“Tapi, ternyata Mbak Ara punya hubungan sama Pak Jevan. Kalian bahkan berciuman di kantor. Aku kecewa sama Mbak,” kata Adi lagi.
Pipi Ara bersemu merah saat Adi mengungkit kejadian di kantor Jevan beberapa waktu lalu itu.
“Maaf.” Akhirnya hanya kata itu yang terucap dari Ara. Dia memandang Adi sambil tersenyum tipis. Jujur saja, Ara hanya menganggap Adi sebagai adiknya sendiri. Perbedaan umur mereka sangat jauh.
“Kamu udah aku anggap adikku sendiri,” kata Ara.
Adi menatap Ara. “Tapi, aku bukan adiknya Mbak Ara.”
Ara mengembuskan napasnya. “Iya, aku tahu. Tapi, mau gimana pun, aku nggak bisa suka sama kamu. Walau seandainya aku nggak ada hubungan sama Pak Jevan pun, aku tetap nggak bisa. Selisih umur kita jauh, dan aku nggak pernah berniat mencari pasangan yang umurnya di bawahku.”
Adi tampak kecewa mendengar itu. “Aku tahu.”
Ara menepuk pelan bahu Adi. “Kita masih bisa berteman. Kamu jangan menghindar gitu. Mau, kan?”
Adi masih menatap Ara lurus, sebelum mengangguk. “Ya.”
Ara tersenyum. “Ya udah, sana kerja.”
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-