
“Pertunanganku dengan Natasya akan dilaksanakan bulan depan.”
Ara menatap Jevan terkejut. “Bulan depan?” ulangnya dengan suara pelan.
Jevan menatap Ara lurus, lalu mengangguk. Matanya menyorot tajam kepada Ara. Lelaki itu sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari gadis di depannya itu.
“Ara,” panggil Jevan lagi ketika Ara hanya diam dan termenung di tempatnya.
Ara tersadar dari lamunannya. Dia kembali memandang Jevan, kali ini dengan senyuman tipis yang coba dia tunjukkan kepada lelaki itu.
“Iya?”
Jevan mengembuskan napas pelan. “Aku akan bertunangan bulan depan,” ujarnya.
Kali ini Ara mengangguk pelan. “Aku dengar, kok,” katanya.
“Terus kenapa diam aja?”
“Memangnya aku harus gimana? Aku kan nggak bisa melakukan apa pun.” Ara tersenyum miris di akhir kalimatnya.
Jevan kembali mengembuskan napas. Jujur saja, dia merasa kasihan dengan Ara. Gadis itu terlihat sangat rapuh dan memiliki banyak masalah. Bahkan sebelum bertemu dengan dirinya, Ara sudah banyak memiliki beban. Dan saat bersama Jevan, dia malah harus merasakan beban tambahan lagi.
“Aku mau siap-siap buat ke pantai,” ujar Jevan sambil beranjak berdiri dan pergi dari hadapan Ara.
Sepeninggal Jevan, Ara duduk lemas di kursinya.
Kenapa nasibnya jadi seperti ini? Baru saja Ara berpikir bahwa mungkin saja pertemuannya dengan Jevan akan membawa kebahagiaan untuk hidupnya. Tapi, kenapa semuanya malah jadi begini?
Beberapa menit kemudian, Jevan keluar kamar dengan pakaian pantainya. Sepertinya lelaki itu akan berselancar. Ara sering melihat itu di televisi.
“Je, kamu mau ke pantai?” Ara bertanya sambil berdiri dari duduknya.
Jevan menatap Ara sekilas, sebelum menghela napas pelan, melangkah ke arah gadis itu, dan langsung membawa tubuh mungilnya ke dalam pelukannya.
Walau cukup terkejut dengan kelakuan Jevan, Ara akhirnya memberanikan melingkarkan tangannya di pinggang lelaki itu. Dia ikut membalas pelukan lelaki itu dengan erat.
“Ini mungkin sulit. Tapi, aku percaya kita bisa melewati ini. Aku memang nggak tahu apa yang sedang aku rasakan sama kamu sekarang. Tapi, yang aku tahu, aku mau kita tetap bersama. Apa pun caranya.” Walau Jevan berucap dengan pelan, Ara tetap mendengar nada kesungguhan yang lelaki itu ucapkan.
Ara hanya mengangguk dalam pelukan Jevan. Setelahnya, Jevan baru melepas pelukannya. Dia menatap Ara lurus.
“Mau ikut ke pantai atau tetap keliling vila?” tanya lelaki itu memastikan.
Ara menggeleng. “Aku mau keliling vila aja,” jawabnya.
Kini giliran Jevan yang mengangguk. “Ya udah, nanti kalau bosan, minta antar pelayan ke pantai, ya.”
“Iya.”
Setelah kepergian Jevan, Ara kembali duduk di kursinya tadi. Dia mengembuskan napasnya pelan. Salahkah kalau sekarang perasaannya kepada Jevan berubah? Salahkah kalau kenyataannya Ara telah mencintai lelaki yang akan bertunangan?
Ara meletakkan kepalanya di meja dengan lemas. Kenapa hidupnya sangat berlika-liku dan penuh drama seperti ini? Belum saatnya menyerah, tapi kenapa rasanya Ara sangat lelah?
***
Sementara di tempat lain, Nicol tengah duduk di depan Sarah yang tengah fokus mengerjakan pekerjaannya. Sarah sendiri mencoba mengabaikan keberadaan lelaki yang cukup tampan di depannya itu.
“Sar, udahan belum kerjanya?” tanya Nicol, karena sedari tadi, Sarah tidak mengeluarkan suaranya setelah kepergian Natasya.
“Masih lama, Bapak. Jangan ganggu saya, deh,” jawab Sarah dengan tatapan yang terus mengarah kepada laptop di depannya.
“Jevan kan nggak ada. Kamu santai aja.”
Kali ini Sarah menatap sengit ke arah Nicol. “Justru karena Pak Jevan nggak ada, kerjaan saya makin numpuk.”
Nicol terkekeh mendengarnya. “Ya udah dibuat santai aja. Mending kamu istirahat dulu. Temenin saya sarapan.”
“Enggak!” Sarah menolak dengan tegas.
“Saya belum sarapan.”
“Bodo amat.”
“Ada yang pengen saya tanyain juga ke kamu.”
“Sekarang kan bisa.”
“Tentang hubungan Jevan dan Arana.”
“Memangnya kenapa sama hubungan Pak Jevan dan Arana?”
“Kamu temenin saya sarapan, nanti kita ngobrol masalah mereka.” Nicol menatap Sarah yang tampak ragu dengan ajakannya. “Ini juga tentang Ibu Jevan.”
“Ibu Helena?” tanya Sarah memastikan.
“Memangnya Ibu Jevan ada berapa?” tanya Nicol gemas.
Sarah cemberut sambil melihat pekerjaannya yang masih menumpuk. Tapi, dia cukup penasaran dengan bosnya itu.
“Ya udah. Tapi, saya nggak bisa lama-lama.”
Nicol tersenyum senang, lalu berdiri dari duduknya. “Ayo.”
Sarah merapikan mejanya, lalu meraih tas dan ponselnya sebelum berjalan ke arah Nicol yang tengah menunggunya,
Lelaki itu mengulurkan tangannya ke arah Sarah, yang membuat gadis itu mengernyitkan dahi.
“Apa?”
“Gandengan.”
“Ogah.” Sarah berkata dengan ketus, lalu berjalan lebih dulu ke arah lift, yang membuat Nicol terkekeh pelan.
Kini keduanya telah sampai di sebuah restoran yang Nicol pilih. Keduanya duduk saling berhadapan di meja yang sudah penuh menu makanan.
Sarah tersenyum melihat itu semua sebelum dia mulai menyendok nasi dan lauk pauk lainnya. Nicol terkekeh pelan melihat kelakuan gadis itu. Tadi sok jual mahal tidak mau keluar bersamanya, giliran sudah melihat makanan seolah lupa dengan segalanya.
“Makanya jangan sok jual mahal,” ujar Nicol sambil mengisi piringnya dengan nasi dan mengambil lauk pauk yang lain.
Sarah yang tengah mengunyah makanan, hanya mencibir pelan ke arah lelaki itu. Mereka kemudian mengobrol di sela acara makan mereka.
“Jadi, ada apa di antara hubungan Pak Jevan dan Arana, dengan Ibu Helena?”
“Ibu Jevan nggak pernah tanya-tanya sesuatu sama kamu?”
“Misalnya?”
“Tentang Jevan gitu?”
Sarah terlihat berpikir, tapi sesaat kemudian dia menggeleng. “Ibunya Pak Jevan hanya pernah menyuruh saya untuk membatalkan jadwal Pak Jevan.”
“Buat apa?”
“Makan siang bareng Mbak Natasya.”
“Cuman itu?” tanya Nicol memastikan yang dijawab anggukan oleh Sarah.
“Beberapa hari yang lalu Ibu Jevan ngajak saya ketemu.”
“Terus?”
“Dia tanya masalah Jevan. Dia bilang Jevan berubah. Katanya, sebagai seorang ibu, dia merasa ada yang berbeda dengan Jevan. Jevan memang bersedia melaksanakan pertunangan dengan Natasya, tapi sepertinya Jevan tidak benar-benar menginginkannya. Itu yang dia bilang.”
“Pak Jevan emang nggak mau tunangan sama Mbak Natasya. Saya aja jadi nggak suka lagi sama Mbak Natasya setelah tahu sikapnya tadi,” ujar Sarah. “Terus Pak Nicol jawab apa?” tanyanya ingin tahu.
“Ya, saya bilang nggak ada yang berubah dari Jevan. Mungkin Jevan hanya terlalu lelah dengan pekerjaannya.”
“Dan Ibu Helena percaya?”
Nicol mengangkat bahunya. “Saya nggak yakin.”
“Terus kalau misal Ibu Helena tanya ke saya. Saya jawab apa?” Sarah berpikir, mungkin saja ibu Jevan nanti juga bertanya kepadanya, mengingat Sarah adalah sekretaris lelaki itu.
“Kamu jawab aja kayak saya. Bilang Jevan mungkin cuman lelah karena sibuk kerja. Saya juga mau kamu sembunyikan Arana dari ibunya Jevan. Kamu jangan bilang apa-apa. Biarkan Jevan yang menyelesaikan masalahnya sendiri.”
“Iya. Saya juga paham kalau masalah itu. Saya juga nggak tertarik mengurusi masalah orang lain.”
Nicol mengangguk puas. “Ya, memang tidak baik mengurusi urusan orang. Lebih baik mengurusi urusan kita.”
Sarah menatap ke arah Nicol dengan terkejut. Gadis itu menggeleng, lalu kembali memakan makanannya, mengabaikan perkataan Nicol yang melantur itu.
***
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-