Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 14



Nicol kembali terkekeh melihat kejadian di depannya itu. Dia beranjak berdiri dan berjalan ke arah Jevan. Nicol merangkul bahu Jevan yang terus saja memberikan tatapan tajamnya pada Ara.


“Udah makan, Bos? Kalau belum, gimana kalau kita makan bareng sama karyawan lo,” ujar Nicol santai tanpa beban. Ara menatap protes ke arah Nicol. Namun, gadis itu kembali menunduk saat Jevan malah memberikannya pelototan.


“Lo dokter di klinik, kan?” tanya Nicol pada Sean yang sedari tadi hanya terdiam.


Sean hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Ayo, Bos, kita makan bareng sama karyawan lo.” Nicol berucap sambil mendorong tubuh Jevan untuk duduk di samping tempat duduk Ara tadi, sementara dirinya duduk di samping Sean.


Jevan menatap Ara yang masih berdiri diam di tempatnya.


“Kenapa kamu masih di situ? Duduk!” perintah Jevan kepada Ara.


Perlahan, Ara mendongak, matanya bertatapan dengan mata tajam milik Jevan. Jevan mengisyaratkan Ara untuk duduk. Ara mengembuskan napasnya pelan, sebelum kembali duduk di tempatnya tadi.


“Makan! Makanan kamu masih banyak!”


Perkataan yang Jevan keluarkan, lagi-lagi membuat Ara mengerut takut di tempat dia duduk. Tangannya bahkan bergetar saat hendak meraih sendok dan garpu di depannya.


Nicol tersenyum puas. Dia memanggil pelayan untuk memesan menu untuknya dan juga Jevan.


“Jangan lama-lama,” kata Nicol kepada pelayan itu.


“Arana, kamu sakit lagi?”


Nicol menoleh ke arah Sean, lelaki itu tampak memberikan tatapan khawatirnya kepada Ara. Sedangkan Ara, gadis itu gelagapan sendiri mendengar pertanyaan Sean.


“Saya nggak apa-apa, Dok,” jawab Ara pelan.


“Benar kamu tidak apa?” Tangan Sean pun kini sudah berpindah ke kening Ara, untuk memeriksa suhu tubuh gadis itu.


Jevan tersenyum sinis melihat itu. Sedangkan Ara, gadis itu hanya bisa terdiam. Dia cukup terkejut dengan apa yang tengah dilakukan Sean sekarang. Perlahan, Ara menjauhkan keningnya dari sentuhan tangan Sean.


“Suhu tubuh kamu normal,” gumam Sean pelan. “Tapi, tadi kenapa tangan kamu gemeteran?” tanyanya lagi.


Jevan menatap tidak suka ke arah Sean. Dengan kesal, Jevan memukul meja di depannya, yang membuat ketiga orang di sana terkejut, termasuk Nicol. “Mana makanannya!” teriak Jevan jengkel.


Ara tahu Jevan marah bukan karena makanan, melainkan karena ulah Sean barusan. Lalu Ara harus melakukan apa? Tadi dia berniat pergi dari sini, tapi malah Jevan yang menahannya, kan?


Tidak berapa lama kemudian, pelayan datang sambil membawa makanan yang dipesan Nicol tadi. Pelayan itu meletakkan piringnya dengan takut-takut di depan Jevan.


“Arana, habiskan makanan kamu. Jangan terlihat kaku begitu, hanya karena Pak Jevan semeja dengan kita,” ujar Sean saat Jevan mulai memakan makanannya.


Jevan menoleh ke arah Ara yang masih diam dengan sendok di tangannya.


“Pak Jevan pasti lupa dengan Ara. Dia office girl yang waktu itu Bapak gendong sampai klinik,” jelas Sean lagi.


Jevan benar-benar merasa dongkol. Kenapa lelaki itu terlalu banyak bicara? Apa tadi yang dia katakan? Lupa? Bagaimana Jevan bisa lupa, kalau setiap hari dia dan Ara berada di ranjang yang sama?


Nicol terkekeh mendengarnya. “Jevan memang pelupa, maklum CEO sibuk, banyak kerjaan,” katanya menambahkan, yang disambut anggukan mengerti dari Sean.


Suasana itu terasa sangat tidak menyenangkan untuk Ara. Makanan yang dia telan terasa hambar. Dia takut kepada Jevan. Ara yakin, sesampainya di rumah, Jevan akan memberikan hukuman untuknya.


“Kamu minum obat dengan teratur kan, Ra?”


“I-iya, Dok,” jawabnya pelan.


“Karena pekerjaan kamu berat, kamu harus makan yang banyak,” ujar Sean yang kini tengah memindahkan daging di piringnya, yang belum dia sentuh sama sekali, ke piring Ara.


Jevan menatap pria itu dengan sinis.


“Habisin,” kata Sean lagi.


Prang.


Jevan dengan sengaja melemparkan sendok yang tengah dia genggam ke piring di depannya, menimbulkan bunyi cukup nyaring. Ara bahkan sampai berjengit kaget di tempatnya.


“Kamu memang selalu begitu?” tanya Jevan kepada Sean.


“Maaf, Pak?” tanya Sean bingung.


“Kamu terlihat sangat memperhatikan Ara. Kamu pasti memperlakukan perempuan di sekeliling kamu begitu juga.”


Sean terkekeh. “Saya bukan lelaki yang suka mengumbar perhatian seperti itu, Pak. Saya memperlakukan Arana berbeda dengan gadis lain.”


Jevan mengggeram marah mendengarnya, sedangkan Nicol tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Sahabatnya itu tengah berusaha menahan emosinya. Jika Sean kembali memancing, Nicol tidak menjamin Jevan bisa menahan dirinya.


“Kenapa harus memperlakukan Ara dengan berbeda? Kalian kan tidak memiliki hubungan apa pun,” ujar Jevan berusaha menahan emosinya. Dia masih bisa dibilang berpikir jernih sekarang, tapi kalau Sean kembali mengeluarkan kalimat yang memancing amarahnya, Jevan tidak yakin dirinya tidak akan mengarahkan tinjunya ke wajah Sean.


“Sekarang memang belum, tapi sebentar lagi hubungan kami akan lebih jelas.” Lagi-lagi Sean berucap dengan percaya dirinya.


Ara menelan kunyahannya dengan susah payah. Dia ingin segera beranjak dari situ, tapi untuk sekadar menoleh ke arah Jevan saja, Ara tidak mempunyai keberanian.


“Kamu percaya diri sekali, memangnya Ara mau sama kamu?” Jevan menyelipkan nada mengejek di kalimatnya.


Kenyataannya Sean tidak merasa tersinggung. Lelaki itu malah terkekeh mendengarnya.


“Saya yakin Arana mau. Kalau pun Arana tidak mau, saya akan berjuang mendapatkan dia. Lagi pula, setelah saya perhatikan, Arana tidak sedang dekat dengan lelaki mana pun. Bukankah begitu, Arana?” tanya Sean sambil memfokuskan pandangannya ke arah Ara.


Ara, yang merasa ditatap, menoleh ke arah Sean yang tengah memandangnya sambil tersenyum. Gadis itu meringis tidak nyaman. Apalagi, dari arah sampingnya, Ara merasakan bahwa Jevan tengah memberikannya tatapan tajam.


“Saya sudah selesai, Dok. Saya mau balik bekerja dulu.” Ara buru-buru berdiri dari duduknya. “Mari, Pak,” sapa Ara kepada Jevan.


Namun sayangnya, Jevan tidak membiarkan Ara begitu saja. Dia mencekal lengan Ara dan menatap gadis itu sambil tersenyum dipaksakan.


“Kamu belum jawab pertanyaan dia, Ara. Jawab sekarang,” kata Jevan tajam.


Ara mengenali tatapan itu. Tatapan yang selalu diberikan Jevan ketika memaksa Ara untuk melakukan apa yang Jevan mau.


Ara menoleh ke arah Sean. “Maaf, Dok. Tapi Dokter Sean salah paham, saya sudah punya seseorang di hidup saya. Saya permisi.”


Jevan melepas cekalan tangannya dari lengan Ara sambil tersenyum puas. Apalagi, ketika melihat raut wajah terkejut di wajah Sean. Jevan terkikik geli dalam hati. Lihat kan, mau bagaimana pun keadaannya, Jevan tetaplah pemenangnya.


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-