
Perempuan itu segera duduk dengan tegap, begitu mengingat masih ada satu pertanyaan yang belum dia lontarkan kepada Nicol. “Rumahnya Jevan sekarang di mana?”
Nicol terkekeh. “Kenapa emangnya? Lo mau ke sana? Gue aja nggak boleh, apalagi lo,” ujarnya.
“Kenapa nggak boleh?” tanya Natasya bingung.
“Tanya aja sendiri sama orangnya.”
“Terus biasanya lo ketemu sama Jevan di mana?”
“Kantor. Gue sering bolak-balik ke kantornya dia. Selain di kantor, dia susah kalau diajak untuk ketemuan.”
***
Di saat Natasya tengah sibuk mencari tahu tentang Ara, Ara sendiri tengah duduk diam di ranjang kamarnya. Gadis itu tengah menunggu Jevan keluar dari kamar mandi.
Tidak berapa lama kemudian, Jevan keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya. Lelaki itu meraih celana yang sudah disiapkan Ara di ranjang, lalu memakainya di depan Ara, yang membuat gadis itu mengalihkan pandangan dengan cepat.
“Kenapa belum tidur?”
Ara mengintip. Saat menyadari Jevan sudah berpakaian lengkap, baru gadis itu menoleh ke arah Jevan.
“Nunggu kamu,” jawabnya.
Jevan menatap Ara lurus. “Sini,” katanya sambil merentangkan tangannya.
Ara tersenyum dan berhambur ke pelukan Jevan yang sudah merebahkan tubuhnya di ranjang. Tangan Jevan melingkari tubuh Ara dan memeluknya erat.
“Aku boleh tanya sesuatu?” tanya Ara.
“Apa?” Jevan bertanya sambil memejamkan kedua matanya. Dia menikmati waktu kebersamaannya dengan Ara seperti sekarang.
“Mbak Natasya itu sebenarnya siapa?”
Jevan mengurai pelukannya, dia memberikan tatapan tajam kepada Ara. “Aku udah bilang, aku nggak mau kamu sebut namanya lagi. Kenapa nggak dengerin perkataanku?”
Ara buru-buru menggeleng dan kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jevan. “Maaf,” gumamnya.
Jevan mengembuskan napas dan kembali memeluk tubuh Ara. “Aku nggak suka kamu membantah perkataanku. Aku suka gadis penurut, Ara.”
“Iya, maaf.”
Dalam diam, Ara kembali berpikir. Jevan dan Natasya pasti pernah memiliki hubungan. Melihat bagaimana marahnya Jevan saat ini, Ara menebak bahwa Natasya pasti pernah membuat Jevan terluka atau kecewa.
Menghela napas pelan, Ara kembali mencari posisi nyaman di pelukan Jevan. Biarlah dia tidak peduli. Lagi pula, Jevan juga tidak membiarkannya tahu sedikit pun. Ara yakin, kalau sudah waktunya, dia pasti juga akan tahu apa hubungan keduanya.
***
Saat pagi menjelang, Ara dan Jevan menjalani aktivitas mereka seperti biasa. Sesampainya di kantor, Ara langsung melakukan tugasnya, begitu pun dengan Jevan yang langsung menuju ruangannya.
Saat jam makan siang, kantor Jevan dihebohkan dengan kedatangan seorang model terkenal. Dia adalah Natasya Cyntia. Perempuan itu berpakaian modis dan berdandan cukup seksi, sehingga menarik perhatian beberapa karyawan lelaki yang tengah beristirahat.
Natasya berjalan ke arah lobi dan bertanya kepada resepsionis di sana. “Siang, Mbak. Saya mau bertemu dengan Jevan Smith, dia ada di ruangannya?”
Walau resepsionis itu seorang perempuan, dia tetap terpesona dengan kecantikan Natasya.
“Ada, Mbak,” jawabnya.
Natasya tersenyum. “Ruangannya di lantai berapa?”
Setelah mendengar jawaban dari resepsionis itu, Natasya berterima kasih dan segera berjalan ke arah lift.
Sesampainya di lantai yang disebutkan oleh perempuan tadi, Natasya berjalan menghampiri meja yang dia duga adalah meja sekretaris Jevan.
“Siang, Jevan di dalam?” tanyanya.
Sarah mendongak. Perempuan itu terkejut melihat kedatangan Natasya. “Mbak Natasya, kan?” tanyanya terdengar ragu.
Natasya hanya tersenyum dan mengangguk.
Sarah tersenyum lebar. “Ada, Mbak. Bapak di dalam,” katanya.
“Kalau gitu, saya masuk dulu, ya.” Natasya sudah meraih gagang pintu ruangan Jevan, tapi terhenti karena Sarah memanggil namanya.
“Mbak Natasya.”
Natasya menoleh. “Iya?”
“Mbak mau minum apa? Nanti saya suruh OB buat nganter ke sini.”
“Teh tanpa gula, boleh?”
Sarah mengangguk mantap. “Boleh, Mbak.” Perempuan itu sangat senang. Selama ini Natasya Cyntia adalah idolanya. Bagaimana cara perempuan itu berpakaian dan memoles wajahnya, membuat Sarah sangat mengidolakannya.
***
“Mbak, sini makan bareng,” kata Adi.
“Iya, kamu duluan aja,” jawab Ara sambil tersenyum.
Baru saja Ara akan meraih makan siangnya, telepon di ruangan itu berbunyi. Segera saja Ara mengangkatnya.
“Halo.”
“Iya, Mbak. Sebentar lagi diantar minumnya.” Ara pun menutup sambungan telepon itu.
“Siapa, Arana?” tanya Dewi.
“Mbak Sarah. Aku disuruh antar minum buat Bapak dan tamunya,” kata Ara.
“Ya udah biar aku aja yang buatin.” Dewi hendak berdiri, tapi Ara menggeleng.
“Nggak usah, Mbak. Mbak Dewi makan aja, biar aku aja yang buatin minum dan antar ke ruangan Bapak.”
“Beneran nggak apa-apa? Kamu kan belum makan.”
Ara tersenyum. “Nggak apa-apa, Mbak.”
Setelah membuatkan minum untuk Jevan dan tamunya, Ara segera berjalan ke arah lift untuk pergi ke lantai ruangan Jevan. Saat lift akan tertutup, seseorang menghentikannya.
“Sori.” Orang itu masuk ke lift dan menoleh ke arah Ara setelah lift itu naik. “Arana,” sapanya.
Ara menoleh dan hanya mengangguk sopan.
“Mau ke lantai berapa?” tanya orang itu.
“Mau ke ruangannya Pak Jevan,” jawab Ara.
“Samaan kita. Gue juga mau ke ruangannya Jevan,” kata orang itu yang tidak lain adalah Nicol. Lelaki itu memamerkan senyumannya kepada Ara. “Minuman buat gue, ya?”
Ara menggeleng. “Buat tamunya Bapak.”
“Siapa?” tanya Nicol dengan kening mengerut.
“Nggak tahu, Pak.”
Nicol terkesiap mendengar panggilan Ara untuknya. “Tadi lo manggil gue apa?” tanyanya tidak percaya.
Ara memandang heran kepada Nicol. “Bapak?” ulangnya.
Nicol mengembuskan napasnya kasar dan memandang Ara gemas. “Ra, gue nggak setua itu sampai lo panggil gue ‘bapak’. Gue masih muda kali,” ujarnya.
Ara hanya meringis. “Maaf. Habis saya nggak tahu harus panggil siapa.”
“Panggil Nicol aja. Gue santai, kok, orangnya.”
Ara menggeleng tidak setuju. “Nggak sopan. Kita kan baru kenal.”
“Ya udah, terserah lo, deh.”
“Mas Nicol gimana?” tanya Ara.
Nicol manggut-manggut. “Boleh juga.”
Keduanya keluar bersama-sama dari lift. Mereka berjalan menuju meja Sarah yang kosong. Ara berhenti di sana dan celingak-celinguk.
“Kayaknya si Sarah ke kamar mandi, deh. Masuk aja,” ujar Nicol.
Ara menatap bimbang ke arah pintu masuk ruangan Jevan. “Emm, nitip Mas Nicol aja gimana?” tanyanya.
Nicol menggeleng. “Enak aja. Lo pikir gue OB,” katanya.
Ara cemberut mendengarnya. “Ya udah, deh. Terpaksa masuk ke dalam.”
Keduanya berjalan ke arah pintu ruangan Jevan. Nicol yang berada di depan Ara terlebih dahulu meraih gagang pintu dan membukanya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Betapa terkejutnya Nicol ketika melihat adegan di depannya. Sedangkan Ara yang merasa Nicol tidak bergerak, segera mendorong tubuh lelaki itu untuk bergeser, memberikannya ruang untuk masuk ke dalam.
Nampan yang dibawa Ara jatuh begitu melihat hal apa yang membuat Nicol termenung.
Di sana, Jevan tengah duduk di kursi kerjanya dengan Natasya yang berada di pangkuannya. Mereka tengah berciuman dengan mesra.
Nampan Ara yang terjatuh, menimbulkan suara yang cukup keras di ruangan yang sunyi itu, membuat Jevan dan Natasya saling melepaskan diri. Jevan menyuruh Natasya bangun dari pangkuannya saat melihat keberadaan Nicol. Ekpresi Jevan terkejut.
Namun, Jevan lebih terkejut lagi saat melihat Ara yang tengah berjongkok memunguti pecahan gelas yang dia jatuhkan tadi.
Jevan mengumpat. Kenapa Ara harus melihat kejadian tadi?
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-