
Ara memandang takut ke arah Jevan yang benar-benar tampak liar. Bagaimana ini? Dia harus melakukan apa? Apalagi, Sean tampak pasrah menerima pukulan Jevan. Bahkan di saat wajah lelaki itu sudah terluka di beberapa bagian, tapi dia hanya diam.
Ara menoleh ke arah Nicol yang masih berdebat dengan Sarah. Ara tidak boleh diam saja. Kalau begitu terus, Sean bisa kehilangan kesadarannya. Dengan keberanian yang terkumpul setengah, Ara berjalan ke arah Jevan, dan langsung memegang lengan lelaki itu.
“Berhenti, Je. Dokter Sean bisa pingsan kalau terus kamu pukuli,” katanya pelan.
Berhasil. Jevan menghentikan pukulannya. Dia menatap Ara dengan tajam. “Kamu belain dia?!” sentak Jevan marah.
Ara buru-buru menggeleng. “Bukan gitu. Tapi, kamu emang nggak boleh pukulin dokter Sean terus,” cicitnya pelan.
Bukannya tenang, Jevan malah tampak semakin marah. Dia melepaskan tubuh Sean dengan kasar, lalu berjalan ke arah Ara, dan meraih tangannya. Hendak membawanya menjauh, tapi suara pelan milik Nicol, menghentikannya.
“Jangan kasar dengan Arana.”
Nicol dan Sarah yang berdebat sejak tadi, berhenti, dan memusatkan pandangan ke arah Sean yang berusaha berdiri dengan tegak.
“Jangan sakiti Arana lagi, Pak,” katanya pelan.
“Sial! Apa urusannya sama lo!” Jevan hendak kembali berjalan ke arah Sean, tapi Ara dengan sekuat tenaga memegang tangannya.
“Saya mencintai Arana.”
Jevan bertambah marah. Dia melepaskan cekalan tangan Ara dengan keras, dan berjalan ke arah Sean, lalu mencengkram erat kerah baju lelaki itu.
“Pergi dari sini. Sebelum gue hajar lo lebih dari ini,” ujar Jevan dengan tegas, lalu melepaskan cengkraman tangannya.
Jevan kembali berjalan ke arah Ara, dan hendak membawanya ke kamar, tapi lagi-lagi perkataan Sean menghentikannya.
“Arana sudah tidak mempunyai orangtua. Kalau anda masih sering menyakitinya, dan tidak memperjelas hubungan kalian. Siapa lagi yang akan dia percaya di dunia ini?”
Ara termenung di tempatnya. Bagaimana tidak? Jika ini adalah kali pertama dia mendengar seseorang mempertanyakan hal itu di depannya. Sean. Lelaki itu terlihat begitu peduli terhadapnya. Dia sangat berbeda dengan Jevan. Sean begitu mengerti dan memperlakukannya dengan lembut. Sedangkan Jevan, walau baik, tapi kadang lelaki itu suka memaksa.
Jevan tersenyum sinis. “Terus menurut lo, yang pantas Ara percayai di dunia ini, itu lo?” Lelaki itu mengarahkan tatapan mengejeknya kepada Sean. “Bahkan dalam mimpi, lo nggak berhak membayangkan itu!”
Sean kembali mengarahkan pandangannya kepada Ara yang juga tengah menatapnya dalam diam. “Walau bukan saya orangnya. Tapi, Arana harus bahagia, dan orang itu jelas bukan Pak Jevan,” katanya dengan santai dengan tidak melepas pandangannya dari Ara sedikit pun.
Jevan menggeram marah, dia melepaskan tangan Ara dengan kasar, lalu menarik kerah baju Sean. “Sial! Lo gue pecat! Gue nggak mau lihat lo ada di kantor gue lagi!”
Kali ini Ara membiarkan. Dia masih menatap Sean dalam diam. Jujur saja, dia cukup tersentuh mendengar perkataan yang keluar dari mulut Sean tadi.
“Pak!” Sarah mengguncang bahu Nicol, bermaksud menyuruh agar memisahkan Jevan dari Sean.
Nicol akhirnya menurut. Dia maju dan berdiri di antara dua lelaki itu. Tangannya berusaha melepaskan tangan Jevan yang mencengkram erat kerah baju Sean.
“Udah, Je. Mending lo bawa Ara ke dalam. Biar gue yang urus Sean,” kata Nicol tenang.
Jevan masih memandang tajam ke arah Sean, sebelum melepas cengkramannya dengan kasar. Dia beralih kepada Ara yang tampak masih memandang ke arah Sean. Lelaki itu merasa semakin marah. Dia meraih tangan Ara, dan setengah menyeretnya untuk menaiki tangga menuju kamar mereka.
“Lo cari mati, man,” kata Nicol saat Jevan dan Ara sudah menghilang dari pandangan mereka.
Sean mencoba tersenyum tipis mendengarnya. “Saya hanya ingin menyatakan perasaan saya. Memendam terlalu lama itu tidak baik,” jawabnya kalem.
“Dokter Sean bawa mobil? Atau perlu saya panggilkan taksi?” tanya Sarah yang merasa prihatin melihat keadaan Sean sekarang.
“Tidak perlu. Saya bawa mobil,” jawab Sean sembari tersenyum.
“Maaf ya, Dok. Pak Jevan emang gitu kalau menyangkut Arana.” Gadis itu benar-benar merasa bersalah. Bagaimana pun dia harus meminta maaf atas nama Jevan, karena lelaki itu bosnya.
“Em, kalau begitu, saya obatin lukanya bagaimana?”
Ekhem.
Nicol berdeham cukup pelan begitu menyadari jika Sarah terlihat sangat memerhatikan Sean. Bahkan gadis itu sama sekali tidak memedulikan keberadaannya.
“Kalau saya tetap di sini. Bukannya sembuh, malah bisa tambah sakit,” ujar Sean sembari terkekeh pelan. Lelaki itu berjalan keluar bersama dengan Sarah, sementara Nicol mengekor dari belakang.
Sarah dan Nicol tetap berada di sana, sampai mobil yang dikendarai Sean menghilang dari pandangan mereka. Sarah hendak masuk ke dalam, tapi perkataan yang Nicol lontarkan, membuatnya berhenti melangkah.
“Kamu perhatian sekali dengan lelaki tadi.”
Sarah menatap heran kepada Nicol. “Dokter Sean?”
“Ya.”
Sarah mengangkat bahunya acuh. “Dia habis digebukin Pak Jevan. Jelas saya peduli. Kalau dia sampai laporin Pak Jevan ke polisi, gimana? Saya juga yang repot kalau atasan saya masuk penjara.” Setelahnya, gadis itu berjalan masuk meninggalkan Nicol yang merasa kesal mendengar jawabannya.
Sementara di lain tempat, tepatnya di dalam kamar. Jevan dan Ara masih saling mendiamkan. Sedari tadi, keduanya tidak ada yang mengeluarkan suara sedikit pun.
Ara duduk di tepi ranjang sambil memainkan kedua tangannya. Sedangkan Jevan tengah duduk diam di sofa sambil memandangi Ara tajam. Lelaki itu masih tampak begitu marah karena ulah Sean tadi.
Jevan berdecak, sebelum akhirnya bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Ara, yang membuat gadis itu mendongak ke arahnya.
“Kamu mau?!” tanyanya dengan tidak santai.
Kening Ara mengerut. “Mau apa?” tanyanya heran.
“Menikah dengan lelaki tadi.” Jevan menampilkan ekspresi datar, tapi siapa yang mengetahui kalau di dalam hati lelaki itu tengah ketar-ketir.
Bagaimana tidak, Sean menawarkan komitmen seumur hidup dengan lantanganya. Sedangkan dirinya? Jevan bahkan tidak menjamin dia bisa seberani apa yang dilakukan Sean tadi.
“Kamu mau?” tanya Ara balik, yang membuat Jevan mengerutkan keningnya.
“Mau apa?”
“Melihat aku menikah sama dokter Sean.”
Rahang Jevan mengetat, kedua tangannya kembali terkepal erat. Sial. Bahkan hanya dengan mendengarnya, rasanya dirinya seolah terbakar. Dia tidak akan rela melihat Ara bersanding dengan lelaki lain.
Ara tersenyum tipis, dan berdiri dari duduknya. Gadis itu menangkup wajah Jevan menggunakan kedua tangannya.
“Kalau kamu nggak mau, kenapa tanya aku? Je, walau jujur aja aku sempat tercengang dengan apa yang dikatakan dokter Sean. Tapi, aku nggak akan bisa mengubah hatiku gitu aja.” Tangan Ara mengusap lembut pipi Jevan, yang membuat lelaki itu merasa tenang seketika.
“Aku mencintai kamu,” bisik Ara lembut sambil memberanikan diri mengecup pelan bibir Jevan, yang membuat lelaki itu terkejut.
Ara melepaskan tangannya dengan wajah yang bersemu. Dia berjalan keluar kamar, meninggalkan Jevan yang masih sangat terkejut karena ulahnya barusan.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-