Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 68



Sedangkan di lain tempat, Ara tengah berada di dalam mobil milik Jevan. Saat akan pulang dengan menggunakan angkutan umum, tiba-tiba saja sopir pribadi Jevan menghampirinya, dan mengatakan akan mengantarnya pulang. Jevan yang memberikan perintah.


Di tengah kekecewaannya, Ara masih sempat tersenyum. Dia tahu lelaki itu masih memerhatikannya. Lelaki itu masih peduli dengannya. Tapi, apa alasan sebenarnya Jevan menjadi berubah seperti sekarang?


“Pak, kalau nggak langsung pulang, dan mampir ke suatu tempat dulu, boleh?” tanya Ara.


“Memangnya Mbak Ara mau diantar ke mana?”


“Saya mau mampir ke makam Ibu saya sebentar.”


Sopir itu mengangguk. “Baik, saya antar ke sana.”


Sesampainya di pemakaman umum, Ara turun dari mobil dan meminta sopir itu untuk menunggunya di dalam mobil saja. Gadis itu berjanji dia tidak akan terlalu lama.


Ara jongkok, dan diam melihat nama sang ibu yang terdapat di batu nisan itu. Setetes air mata meluruh di pipinya, tapi gadis itu buru-buru menghapusnya.


“Ibu,” panggilnya pelan. “Maafin Ara kalau akhir-akhir ini, Ara jadi anak yang lemah. Maaf kalau ternyata Ara nggak bisa setegar itu melihat Ibu pergi.” Gadis itu tersenyum miris, dan kembali menghapus air mata yang jatuh di pipinya. “Setelah ini, Ara janji akan jadi anak Ibu yang kuat. Ara janji, nggak akan banyak nangis lagi. Ara janji, Bu. Karena itu, Ibu juga harus tenang di sana. Ara nggak apa-apa, Bu. Ara nggak apa-apa di sini sendirian. Ara akan jadi anak Ibu yang kuat. Maafin Ara, Bu. Kalau sampai akhir, Ara belum bisa buat Ibu bahagia.” Ara mengusap pelan nisan sang ibu. “Ara pulang dulu ya, Bu.”


Sementara saat Ara masih berada di area pemakaman sang ibu, Jevan mendadak gelisah. Dia belum mendapatkan kabar dari sang sopir mengenai keadaan Ara. Apa gadis itu selamat sampai rumahnya, atau bagaimana.


Jevan sudah mencoba menghubungi sang sopir, tapi ponselnya mati. Dan Jevan tidak mungkin menghubungi nomor Arana. Dia kan sedang menghindari gadis itu. Jadi, satu-satunya cara adalah menghubungi telepon rumah.


“Mbok, ini saya Jevan,” sapanya langsung saat sambungan telepon terhubung.


“Tuan Jevan? Iya, ada apa Tuan?”


“Ara ada di rumah?”


“Tidak, Tuan. Mbak Ara bukannya sedang mengirim makan siang ke kantor Tuan?”


Jevan berdecak mendengarnya. Sial. Jika begitu, ke mana gadis itu pergi?


“Kalau Ara sudah pulang, kamu segera telepon saya. Ingat, jangan sampai Ara tahu.”


“Baik, Tuan.”


Jevan meletakkan ponselnya di meja. Dia berdiri dari duduknya, dan melihat pemandangan lewat jendela besar di belakangnya. Di mana gadis itu? Apakah dia marah, dan berniat kabur?


Jevan berdecak, lalu menggeleng pelan. Kalau Ara berniat kabur, dia tidak akan mau diantar oleh sopirnya. Tapi, jika memang begitu, kenapa sampai sekarang gadis itu belum sampai rumah?


“Dua puluh menit, dua puluh menit, Je,” gumamnya kepada diri sendiri. Jika sampai waktu yang dia sebutkan tadi, Mbok Ijah belum juga memberi kabar, maka Jevan sendiri yang akan menelepon Ara, atau kalau perlu mencari keberadaan gadis itu.


“Sial!” umpatnya kasar sebelum akhirnya kembali pada ponselnya, dan langsung menghubungi nomor Ara. Bahkan belum ada satu menit, tapi lelaki itu terlihat panik luar biasa. Dia mungkin sudah lupa dengan perkataannya untuk tidak dekat-dekat dengan Ara. Karena kenyataannya, tidak mengetahui keberadaan gadis itu membuat Jevan hilang kendali.


“Kamu di mana!” sentaknya keras ketika sambungan telepon-nya dengan Ara sudah terhubung.


Sedangkan Ara yang tengah berada di dalam mobil untuk perjalanan pulang, sedikit terkejut mendengar teriakan Jevan barusan.


“Aku di mobil, Je,” jawabnya pelan.


Jevan masih belum puas. “Di mobil mau ke mana?! Kamu ngomong yang jelas, dong!”


“Mau pulang ke rumah kamu-”


“Jangan bohong, Arana. Bilang yang jujur sama aku,” katanya serius.


Ara makin merasa bingung di seberang sana. Berbohong bagaimana? Dia mengatakan yang sejujurnya.


“Aku nggak bohong, Je. Aku lagi di dalam mobil, mau pulang ke rumah kamu.”


Jevan diam mendengarnya. “Kirim fotonya!” suruhnya.


“Foto? Foto apa?” tanya Ara heran.


“Foto kalau kamu emang lagi di dalam mobil, dan dalam perjalanan pulang ke rumahku.”


Hening beberapa saat, sebelum akhirnya Jevan menerima pesan masuk yang memperlihatkan Ara tengah berada di dalam mobil. Tidak hanya itu, Ara bahkan juga mengirim foto sopirnya dengan jalanan di depannya.


Jevan menghelan napas lega melihat itu. Ara tidak sedang mencoba kabur darinya.


“Je,” panggil Ara dari seberang sana ketika Jevan hanya diam.


“Oke. Aku tutup.”


“Je, tunggu,” sela Ara cepat.


“Bekalnya. Kamu udah makan? Atau, kamu beli makanan di luar?” tanya gadis itu terdengar tidak percaya diri.


Jevan diam mendengarnya. Haruskah dia berkata jujur? Mengembuskan napasnya pelan, sebelum menjawab pertanyaan gadis itu.


“Sarah sibuk. Jadi, terpaksa aku makan bekal kamu!” katanya berusaha terdengar ketus.


Jevan tidak tahu saja, jika Ara di seberang sana tengah mengulum senyum. Dia bahkan tidak peduli dengan nada ketus yang Jevan berikan. Lelaki itu memakan masakannya, itu sudah cukup untuk Ara.


“Yaudah, selama bekerja, Je. Nanti kalau aku sampai rumah, aku kabari kamu.” Setelahnya sambungan telepon diputus oleh Ara begitu saja.


Jevan diam dan mengacak rambutnya kesal. Ara kembali menguasainya. Gadis itu benar-benar mengubah dunia Jevan.


***


Menjelang malam hari, Jevan pulang ke rumahnya. Saat memasuki rumahnya, di sana, di depan meja makan, Ara tengah menyambutnya. Memberikan senyuman manis miliknya. Jevan menatapnya lurus. Seandainya mereka baik-baik saja, maka sudah dipastikan jika saat ini Jevan akan segera membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Tapi, sayangnya dia tidak bisa.


“Kamu mau makan atau mandi dulu?” tanya Ara masih dengan senyuman miliknya.


“Mandi,” jawabnya singkat, sambil berjalan melewati Ara menuju ke arah kamarnya.


Melihat itu, Ara ikut berjalan mengikuti Jevan. Saat sampai di tangga, Jevan berhenti dan menoleh ketika merasa seseorang mengikutinya.


“Kamu ngapain?” tanyanya heran.


“Aku mau siapin baju kamu.”


Jevan menggeleng. “Aku bisa sendiri.”


Perlahan, senyuman di bibir Ara hilang. Gadis itu mengangguk, dan tidak lagi mengikuti langkah Jevan. Lelaki itu kembali dingin dan tidak tersentuh. Mengembuskan napas pelan, Ara memilih menunggu Jevan di meja makan.


Dering ponsel di saku piamanya, membuat gadis itu melihat layar ponselnya. Ada satu panggilan masuk dari Nicol. Tumben. Lelaki itu jarang menghubunginya, meski memiliki nomornya.


“Hallo. Ada apa, Mas?” sapa Ara lebih dulu.


“Jevan udah pulang?”


“Baru aja. Kenapa? Mas Nicol ada perlu sama Jevan? Nanti biar aku sampaikan.”


“Enggak, gue ada perlunya sama lo.”


Kening Ara mengerut heran. “Ada apa?”


“Jevan nggak lagi didekat lo kan, sekarang?”


Ara melihat ke arah tangga, memastikan jika Jevan masih berada di dalam kamar. “Iya, Jevan lagi mandi, Mas. Ada apa?” tanyanya penasaran.


“Lo merasa kalau sikap Jevan aneh sama lo, akhir-akhir ini?”


Ara mengangguk cepat, tapi saat tersadar, gadis itu menepuk pelan keningnya. Nicol tidak bisa melihat anggukannya. “Iya. Mas Nicol tahu dari mana?”


“Ini semua ada kaitannya sama permintaan Ibunya Jevan.”


Ara terlihat berpikir. “Pernikahan?” tanyanya memastikan.


“Iya.”


Gadis itu diam setelahnya. Jadi, karena itu. Karena itu sikap Jevan benar-benar menjadi dingin dan tidak tersentuh olehnya.


“Jevan belum siap menikah, Arana,” kata Nicol lagi ketika Ara hanya diam. “Kayaknya dia masih ingat sama pernikahannya dengan Natasya yang batal beberapa tahun lagi. Mungkin, dia trauma. Takut hal itu terulang lagi.”


“Terus aku harus gimana, Mas?” tanya Ara pelan. Jika memang benar begitu, setidaknya Ara harus melakukan sesuatu, kan?


“Gue juga nggak tahu apa yang harus lo lakukan. Tapi, seenggaknya sekarang lo tahu kenapa Jevan jadi berubah sikap ke lo. Bukan karena dia nggak peduli sama lo, Ra. Tapi, karena ketakutannya. Dia takut sama pernikahan.”


“Arana,” panggil Nicol lagi ketika Ara hanya diam.


“Ya?” sahut Ara pelan, gadis itu masih bingung apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


“Coba lo ngobrol berdua bareng Jevan. Tanya apa yang dia mau. Gue juga bingung sama sikapnya dia. Jangan menyerah buat Jevan, Ra. Kalau ada yang lemah di antara kalian berdua, harus ada salah satu yang bangkit. Kalian harus saling menguatkan, karena gue tahu Jevan butuh lo, begitu pun sebaliknya.”


“Iya, Mas. Nanti aku bakal ngobrol sama Jevan,” kata Ara sambil mengangguk, meski Nicol tidak bisa melihatnya.


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-