
Weekend sudah berlalu, hari Senin ini Ara berangkat kerja seperti biasa. Jevan belum menghubunginya sampai saat ini. Terakhir Jevan menelepon adalah saat baru beberapa jam pria itu berada di rumah kedua orangtuanya. Ara tidak berani menghubungi lebih dulu, karena dia takut mengganggu waktu Jevan bersama keluarganya.
Ara berharap, dia bisa bertemu Jevan hari ini di kantornya.
Ara baru saja tiba di kantor, dia berhenti melangkah dan menoleh ke belakang, ketika mendengar seseorang memanggil namanya.
“Arana.”
Sean tengah berlari kecil menghampirinya. Ara menggigit bibir bawahnya gugup. Sejujurnya dia belum siap bertemu dengan Sean kembali. Dia takut lelaki itu akan bertanya mengenai perkataan yang dia ucapkan terakhir kali.
“Kamu baru datang?” tanya Sean ketika dia sudah berdiri di depan Ara.
“Iya, Dok,” jawab Ara. “Emm, saya buru-buru, sudah ditunggu Mbak Dewi. Saya permisi dulu, Dok.”
Saat Ara akan melangkah meninggalkan Sean, lelaki itu menghentikannya dengan menarik lengan Ara, yang membuat gadis itu berhenti melangkah.
“Jangan menghindari saya,” kata Sean.
Ara diam dan memberikan tatapan bersalah kepada lelaki itu.
“Lupakan obrolan kita saat bersama Pak Jevan dan rekannya. Kita bisa berteman kan, Ara?” tanyanya sambil memberikan senyuman menenangkan kepada Ara.
Alhasil senyuman itu menular kepada Ara. Gadis itu ikut mengangguk. “Iya, kita bisa berteman.”
Sean akhirnya melepaskan cekalan tangannya dari tangan Ara. “Kamu boleh lanjut bekerja.”
“Kalau gitu, saya permisi, Dok.” Ara meninggalkan Sean setelah memberikan anggukan sopan kepada lelaki itu.
***
Sampai siang hari pun, Ara belum mendapat kabar dari Jevan. Dia sebenarnya ingin tahu bagaimana keadaan lelaki itu. Namun, menelepon bukan jalan keluarnya.
“Arana, kamu dengar apa yang saya bilang?”
Ara tersentak dari lamunannya. Gadis itu segera berdiri dari duduknya dan menatap Dewi takut.
“Maaf, Mbak. Aku lagi nggak fokus tadi,” ujarnya.
Dewi mengembuskan napasnya. “Kamu gantiin Desi buat bersih-bersih di ruangannya Pak Jevan, soalnya Desi lagi beli makan siang buat orang HRD.”
Tanpa bantahan, Ara segera mengangguk. Ini kesempatan yang baik untuknya. Dia bisa bertemu dengan Jevan dan menanyakan bagaimana keadaan lelaki itu.
Ara segera berjalan ke arah lift dan menekan tombol di mana lantai ruangan Jevan berada. Sesampainya di sana, Ara berjalan dengan semangat ke arah meja Sarah, sekretaris Jevan.
“Permisi, Mbak,” sapa Ara, yang membuat Sarah mengalihkan pandangan dari layar komputer ke dirinya.
“Arana, ada apa?”
“Saya disuruh Mbak Dewi, buat bersih-bersih ruangannya Pak Jevan.”
“Oh, masuk aja. Pak Jevan nggak ada di ruangannya.”
Kening Ara mengernyit. Jevan tidak berada di ruangannya? Lalu, ke mana perginya lelaki itu?
“Memangnya Pak Jevan sedang menghadiri rapat di mana, Mbak?”
Sarah menggeleng. “Tidak ada rapat. Jadwal Bapak kosong hari ini sampai hari Rabu. Bapak sedang menghabiskan waktu bersama keluarganya.”
Ara terdiam mendengarnya. Jevan mengambil cuti, tapi tidak memberitahunya lebih dulu? Ara mencoba bersikap biasa saja. Namun, kenyataannya setelah mendengar hal itu, Ara merasa tidak suka. Entah mengapa dia merasa Jevan belum menganggap keberadaannya penting.
“Memangnya Pak Jevan tidak memberitahu kamu?” tanya Sarah lagi ketika melihat ekspresi terkejut di wajah Ara.
Ara menatap Sarah sambil meringis pelan. Memangnya dia siapa sampai Jevan harus repot-repot memberitahunya lebih dulu.
“Kalau begitu, saya bersihin ruangan Pak Jevan dulu, Mbak,” kata Ara, tidak menjawab petanyaan Sarah tadi.
“Iya, silakan.”
***
Sementara di lain tempat, di resort terbaik di Pulau Bali, Jevan tengah menikmati sarapan paginya bersama kedua orangtuanya dan Natasya. Ibunya memang licik. Dia sengaja menyuruh Jevan pulang agar Jevan bisa bertemu kembali dengan Natasya dan menghabiskan waktu berdua dengan gadis itu.
“Setelah sarapan, ajak Natasya jalan-jalan, Je. Dia kan baru sampai di Indonesia beberapa hari yang lalu,” kata ibu Jevan semangat.
Jevan berhenti memakan sarapannya, menatap sebal ke arah sang ibu. “Jevan capek, Bu. Mau istirahat.”
“Kamu dari kemarin tidur mulu, kok bisa capek? Justru karena sudah meluangkan waktu, kamu harus menggunakannya dengan baik.”
“Bu-” Perkataan Jevan terhenti ketika sang ayah memberikan kode lewat matanya, untuk menuruti kemauan sang ibu.
Jevan menghela napas pelan, sebelum akhirnya menyudahi sarapannya.
“Kamu mau ke mana?”
Jevan menatap sang ibu kesal. “Katanya disuruh jalan-jalan?”
“Tapi, habiskan dulu makanan kamu.”
“Tante, nggak apa-apa. Jalan-jalannya sekarang aja.” Natasya juga ikut menyudahi sarapannya. “Kalau gitu, Natasya pergi dulu Om, Tante.”
Jevan berdiri dari duduknya dan berjalan keluar restoran diikuti Natasya di belakangnya.
Ibu Jevan menatap keduanya dengan senang. Matanya berbinar memancarkan kebahagiaan.
“Mereka cocok kan, Yah?” tanya ibu Jevan sambil menoleh ke arah sang suami yang masih saja asyik dengan sarapannya.
“Hmm,” ayah Jevan hanya menyahut dengan dehaman.
“Ibu mau Natasya jadi mantu ibu, Yah.”
“Jangan terlalu memaksa, Bu. Yang menikah nantinya Jevan, kalau dia tidak suka, Ibu tidak boleh memaksa.”
Ibu Jevan menatap sang suami cemberut. “Ayah nggak mendukung ibu sekarang?”
“Kapan ayah tidak mendukung Ibu? Hanya saja, sekarang Jevan sudah dewasa. Ayah yakin dia bisa menentukan pilihannya sendiri.”
***
Jevan mengajak Natasya jalan-jalan di bibir pantai didekat resort yang mereka tempati. Bukan mengajak. Lebih tepatnya, Natasya yang mengikuti ke mana Jevan melangkah.
Berjalan di bibir pantai seperti ini, mengingatkan Jevan kepada gadis yang sudah sangat dia rindukan. Ara. Gadis itu pasti sekarang sedang bertanya-tanya, kenapa dia belum kunjung pulang.
Ingin rasanya Jevan menelepon Ara dan mendengar suara gadis itu. Namun, Jevan harus mengubur dalam-dalam keinginannya. Pasalnya, dia masih harus berada di Bali beberapa hari lagi. Kalau dia menelepon Ara dan mendengar suara gadis itu, Jevan tidak yakin dirinya mampu menahan diri untuk membeli tiket pulang.
“Awas, Je. Di depan kamu ada istana pasir,” ujar Natasya sambil memegang lengan Jevan, yang berjalan tanpa melihat ke depan.
Jevan menatap ke bawah. Memang benar ada istana pasir, dan seorang anak kecil tengah menatapnya dari kejauhan. Jevan lalu melirik tangan Natasya yang masih bertengger di lengannya.
“Lepas,” ujarnya terdengar tajam.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-