
Saat jam makan siang tiba, Jevan dengan terpaksa keluar dari ruangannya menuju restoran Jepang yang dimaksud sang ibu. Dia memang masih sangat enggan, tapi dia tetap tidak ingin membuat ibunya curiga.
Saat melewati lobi, lagi-lagi Jevan melihat Ara dengan bocah laki-laki yang dia lihat tadi. Jevan mengumpat di dalam hati. Apakah anak itu sengaja memancing pertengkaran dengan dirinya?
Jevan melangkah ke arah Ara dan lelaki itu. Dia berdiri beberapa langkah di depan keduanya. Ara menghentikan langkahnya, saat melihat sepatu hitam mengilap berdiri di depannya. Gadis itu mendongak, cukup terkejut melihat Jevan di depannya.
Sedangkan Adi menatap heran kepada Jevan. Dia masih baru bekerja beberapa hari di sini, wajar jika dia tidak tahu siapa pemimpin tertinggi perusahaan JS Group.
“Siapa, Mbak?” tanya Adi sambil berbisik pelan kepada Ara, tapi sayangnya Jevan masih bisa mendengar dengan jelas.
Jevan tersenyum sinis. Ara yang melihat itu menoleh panik ke arah Adi. Dia tidak mau terjadi pertengkaran di sini. Apalagi kalau sampai Jevan melontarkan amarahnya kepada Adi.
“Di, kamu makan siang aja duluan,” ujarnya.
“Kenapa? Memangnya Mbak Ara mau ke mana?” Rupanya lelaki itu belum juga bisa merasakan aura permusuhan yang sudah Jevan tunjukkan sedari tadi.
Ara menggigit bibir bawahnya gugup. “Udah, kamu balik ke ruang istirahat dulu. Nanti aku nyusul.”
Adi masih terdiam di tempatnya sambil menatap Ara bingung, lalu pandangannya tidak sengaja bertemu mata tajam milik Jevan.
“Mbak Ara ada urusan sama Bapak ini?” tanyanya sambil menatap berani kepada Jevan.
“Di, udah kamu balik sekarang.” Bahkan gadis itu setengah memohon.
Jevan tersenyum sinis, dia memanggil Adi ketika cowok itu hendak kembali berjalan ke arah ruangan khusus petugas kebersihan.
“Kamu tidak tahu siapa saya?”
Adi dengan polosnya menggeleng.
“Sepertinya saya harus lebih memperketat penyeleksian karyawan baru, atau saya harus mengganti beberapa orang bodoh yang menempati bagian HRD?”
Adi memandang Jevan dengan heran. Apa maksud perkataan lelaki di depannya ini?
“Lebih baik kamu tahu siapa saya, jika tidak mau keluar dari perusahaan ini.” Jevan beralih memandang Ara, memberinya tatapan tajam. “Ikut aku,” ujarnya.
Ara hanya bisa menghela napas pelan. Kenapa juga dia bertemu dengan Jevan di saat dirinya bersama dengan Adi? Saat Ara hendak melangkah mengikuti Jevan, tarikan di lengannya membuatnya berhenti. Ara menoleh ke arah Adi yang tengah menatapnya heran.
“Mbak Ara mau ke mana? Bapak yang tadi kelihatan nggak baik,” katanya.
Ara hanya meringis pelan. “Nggak apa. Kamu balik duluan aja, nggak usah nunggu aku.” Dia berucap sambil melepas pegangan tangan Adi.
Setelahnya Ara berlari kecil menyusul Jevan yang sudah jauh di depan. Jevan menuntun langkah Ara ke tempat parkir. Lelaki itu berdiri dengan tangan yang dilipat di depan dada di samping mobilnya, masih memandang Ara dengan tajam.
“Sesusah itu nurut sama apa yang aku bilang!” sentaknya keras, yang membuat Ara terkejut di tempatnya.
Gadis itu hanya menunduk dan menautkan kedua tangannya takut-takut.
“Maaf, Je,” gumam Ara pelan.
“Maaf. Maaf. Maaf. Kamu selalu ngomong itu ke aku. Tapi kenyataannya apa? Kamu selalu mengulangi kejadian yang membuat aku marah!”
Ara hanya diam. Dia tahu Jevan tidak suka melihatnya dengan lelaki lain. Namun, dia tidak menyangka bahwa lelaki itu bisa semarah sekarang.
“Kamu mau aku kurung di rumah? Nggak aku perbolehkan keluar tanpa seizinku?!”
Ara spontan menatap Jevan dengan matanya yang berkaca-kaca. Gadis itu menggeleng pelan. Dia tidak suka jika hanya disuruh berdiam diri di dalam rumah, tanpa melakukan kegiatan apa pun.
“Maaf, Je. Aku nggak mau dikurung di rumah. Aku janji nggak akan mengulangi lagi,” katanya sambil berusaha menahan tangisnya. Tidak mungkin dia menangis di sini. Di tempat parkir. Bisa saja para pegawai Jevan yang lain akan melihat, dan mereka akan lebih curiga dengan hubungan yang terjalin antara dirinya dan Jevan.
Sementara Jevan sendiri terdiam begitu melihat wajah Ara sekarang. Dia kembali mengumpat di dalam hati, saat amarahnya menghilang hanya dengan melihat gadis itu hendak menangis. Ara benar-benar sudah menguasai tubuh Jevan, hatinya, dan juga akal sehatnya.
Jevan mengembuskan napasnya pelan, lalu tanpa Ara duga, lelaki itu meraih tubuh mungil Ara ke dalam pelukannya. Memeluknya erat. Ara sendiri hanya diam dengan tubuh kaku di dalam pelukan Jevan.
“Je.” Ara berusaha melepaskan pelukan Jevan di tubuhnya, tapi lelaki itu malah semakin mempereratnya.
“Diam, Ara. Kamu buat aku bingung,” bisiknya pelan.
Walau merasa heran dengan perkataan Jevan, Ara tetap berusaha melepaskan pelukan lelaki itu. Mereka sekarang di tempat parkir. Ara tidak mau menimbulkan gosip lagi.
“Ini di tempat parkir kalau kamu lupa, Je.”
Namun, tampaknya Jevan tidak peduli. Dia tetap mempererat pelukannya di tubuh Ara. Lelah berusaha, akhirnya Ara diam dan pasrah. Mereka berpelukan cukup lama, hingga dering ponsel Jevan berbunyi, yang membuat lelaki itu melepas pelukan mereka. Ara bersyukur untuk itu.
Jevan mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Panggilan dari sang ibu. Dia bahkan hampir saja lupa dengan makan siangnya bersama kedua orangtuanya dan Natasya, gara-gara rasa cemburunya yang luar biasa kepada Ara.
Lelaki itu memilih tidak mengangkat panggilan sang ibu. Jevan mematikan dan kembali mengantongi ponselnya ke dalam saku jasnya. Dia beralih memandang Ara yang sedari tadi mencuri pandang ke arahnya.
“Kamu balik kerja. Aku ada urusan. Kalau kamu macam-macam, kamu tahu bukan kamu saja yang akan menerima akibatnya, tapi orang itu juga. Paham, Ara?” tanya Jevan sambil memandang Ara dingin.
Ara hanya mengangguk beberapa kali.
“Ya udah, sana makan siang.”
Tanpa disuruh dua kali, Ara segera membalikkan badan dan berjalan masuk ke kantor. Setelahnya, Jevan baru masuk ke mobil dan menyuruh sopirnya yang sedari tadi sudah standby, untuk mengemudikan mobil ke restoran Jepang itu.
Tanpa keduanya sadari, sedari tadi ada orang yang memperhatikan mereka dari awal hingga mobil Jevan keluar dari area perusahaan. Seseorang yang masih mengenakan jas dokter itu cukup terkejut melihat semua adegan yang terjadi antara Ara dan Jevan.
Sean.
***
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-