
Ara sedang berkeliling mall bersama Sarah, dia hendak membeli kue untuk ulang tahun Jevan yang akan dilaksanakan hari ini. Tepatnya malam ini. Ara sudah menghubungi kedua orangtua Jevan, dia juga sudah menyiapkan kado untuk suaminya itu. Hanya sepasang sandal yang sama dengan miliknya. Ara tersenyum mengingat kado yang dia beli itu. Sederhana dan lucu. Semoga Jevan menyukainya.
“Ra, kamu nggak apa-apa?”
Ara menoleh ke arah Sarah yang bertanya kepadanya. Mereka sedang berada di salah satu toko kue.
“Memangnya aku kelihatannya kenapa, Mbak?” tanyanya bingung.
“Kamu kelihatan pucat.”
Ara mengernyitkan keningnya. Benarkah? Dari semalam, dia memang merasa kurang enak badan. Punggung dan pinggulnya terasa sakit. Tubuhnya juga terasa lemas tadi pagi. Tapi, Ara mencoba mengabaikannya. Mungkin saja ini efek kelelahan karena mempersiapkan pesta kejutan untuk Jevan.
“Badanku memang agak nggak enak, Mbak. Tapi, nggak apa-apa, kok. Mungkun cuman kecapekan aja,” ujar Ara sambil tersenyum.
Sarah mengangguk. “Kalau udah nggak kuat bilang. Kita istirahat aja. Kalau kamu pingsan, aku nggak akan kuat gendong,” katanya sambil tertawa yang membuat Ara tersenyum mendengarnya.
“Mau kue yang mana, nih?” tanya Sarah lagi.
Ara mengedarkan pandangannya ke arah jejeran kue tart yang ada di sana. Dia menunjuk kue coklat yang terdapat buat ceri di tengah-tengahnya.
“Itu aja, Mbak,” katanya.
Sarah mengangguk. “Yaudah beli. Habis itu kita pulang. Sebelum Pak Jevan pulang lebih dulu.”
Ara mengangguk setuju mendengarnya.
***
Ara tengah membantu Mbok Ijah untuk memasak beberapa makanan untuk pesta kejutan Jevan nanti sore. Sebenarnya kepalanya sedikit pusing, tapi Ara kembali mencoba mengabaikannya. Dia tidak mau membuat kacau pesta kejutan yang sudah dia persiapkan ini.
“Arana.”
Gadis itu menoleh dan menemukan Ibu Jevan tengah berjalan menghampirinya. Ya. Orangtua Jevan baru saja tiba beberapa menit yang lalu.
“Ibu perlu sesuatu?” tanya Ara sambil berjalan mendekat.
Ibu Jevan diam, dengan pandangan yang mengarah lurus ke arah Ara. “Kamu nggak apa-apa?”
Kening Ara mengerut mendengarnya. “Saya baik-baik aja, Bu. Memangnya kenapa?”
“Tadi sekretarisnya Jevan bilang, kamu pucat. Setelah saya lihat sendiri, kamu memang kelihatan sakit. Kamu benar nggak apa-apa?”
Ara mengangguk. “Saya baik-baik saja, Bu.”
“Kamu udah makan?”
Ara meringis mendengarnya. “Selesai ini saya makan,” jawabnya.
Ibu Jevan berdecak. “Sekarang, Ara. Kamu harus makan. Kamu kelihatan pucat. Lebih baik kamu istirahat di kamar, biar saya yang membantu memasak.”
Ara menggeleng. “Saya nggak apa-apa, Bu.”
Ibu Jevan akhirnya hanya bisa mengembuskan napas pelan. “Ya sudah, kalau badan kamu terasa nggak enak, bilang sama saya.”
“Iya, Bu.”
Setelah ibu Jevan pergi, Ara memilih masuk ke dalam kamarnya. Sekadar mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Pusingnya semakin menjadi, Ara tidak ingin pingsan dan membuat heboh semua orang.
Gadis itu mengambil minyak kayu putih, dan mengusapkannya di pinggang dan kakinya. Saat tengah asyik dengan kegiatannya, ponselnya yang berada di nakas berdering, membuatnya meraih benda itu.
“Ara,” sapa Jevan dari seberang sana.
“Iya. Kamu udah mau pulang?”
“Ini baru mau bilang. Aku mau makan malam di luar sama teman. Jadi, pulangnya telat. Kamu nggak apa-apa kan di rumah sendiri?”
Ara termenung mendengarnya. Jevan makan malam di luar, dan pulang terlambat? Lalu, bagaimana pesta kejutan yang telah Ara persiapkan?
“Emm... Kalau misal, kamu jangan ikut, gimana?” tanyanya pelan.
Lama hanya hening yang terdengar, sebelum suara Jevan kembali menyapa Ara. “Nggak bisa, Ara. Memangnya kenapa, sih? Aku juga nggak pernah pulang terlambat biasanya. Aku juga jarang ngumpul sama teman-temanku. Lagi pula, nggak akan terlalu malam pulangnya, kok.”
Mendengar penjelasan Jevan yang panjang lebar itu, membuat Ara terdiam. Jevan terdengar kesal, dan Ara tidak berani membantahnya. “Yaudah, kamu hati-hati di jalan.”
“Iya, aku tutup telepon-nya.” Setelahnya, sambungan telepon terputus begitu saja.
Ara menatap ponselnya dengan mengerucutkan bibirnya. Lalu, sekarang bagaimana dengan pesta yang sudah dia persiapkan? Memang bukan pesta besar, tapi tetap saja butuh perjuangan.
Gadis itu mengusap air mata yang tiba-tiba saja meluruh di pipinya. Dia tidak pernah merasa semellow ini sebelumnya. Ara memilih bangkit dari duduknya, dan berjalan keluar kamar.
Langkahnya menuntun Ara untuk sampai di kolam renang. Tempat yang sudah disulap sedemikian rupa, hingga terlihat begitu indah dan cantik. Tapi, sayangnya Jevan malah memilih makan malam di luar.
“Ara, kenapa lesu gitu?” Sarah berjalan menghampirinya dengan kening mengerut.
Ara menyunggingkan senyuman tipisnya. “Itu, Mbak... Kata Jevan barusan, dia makan malam sama teman-temannya. Jadi, kemungkinan pulangnya malam. Nggak mungkin semua orang menunggu Jevan sampai datang,” ujarnya pelan.
Sarah menatap Ara dalam diam. Dia tahu gadis itu pasti kecewa. Tapi, dia juga tidak bisa melakukan apa pun.
“Ada apa?”
Kedua gadis itu menoleh dan menemukan ibu Jevan tengah berjalan ke arah mereka. “Ada apa?” ulangnya.
“Itu, Bu, kata Ara, Pak Jevan sedang makan malam bersama temannya. Jadi, kemungkinan pulangnya malam,” ujar Sarah.
Ibu Jevan berdecak. “Anak itu memang selalu seenaknya. Biar saya telepon. Kamu sudah menyiapkan semua ini, dia malah makan malam di luar,” ujarnya sambil mengeluarkan ponsel dari tas kecil yang dia bawa, tapi Ara buru-buru menahannya.
“Jangan, Bu,” ujarnya.
“Kenapa?”
“Jevan mungkin butuh waktu sama teman-temannya. Saya nggak apa-apa. Karena nggak mungkin Ibu sama yang lain nunggu sampai malam, nggak apa-apa kalau Ibu dan yang lain pulang duluan,” jelasnya.
Sontak saja hal itu tidak disetejui oleh ibu Jevan. “Nggak bisa begitu, Arana. Jevan tidak menghargai usaha kamu mempersiapkan pesta ini.”
Ara menggeleng dan menyungginggkan senyuman tipis. “Saya nggak apa-apa, Bu. Jevan begitu, karena dia tidak tahu kalau saya mempersiapkan pesta kejutan untuk dia.”
Mendengar itu, ibu Jevan akhirnya hanya bisa mendengus, dan memilih mengangguk. Dia sudah membalikkan badan, hendak berjalan ke arah sang suaminya, ketika seruan Sarah terdengar.
“Ara!”
Ketika menoleh, ibu Jevan memelototkan matanya, Ara jatuh pingsan dengan Sarah yang tidak begitu kuat menahan beban tubuhnya.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-