Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 79



Ara menyusul Jevan yang berada di dalam kamar. Gadis itu melihat Jevan yang tengah diam dengan tangan yang mengepal, tengah berdiri di samping jendela besar di sana.


“Aku nggak suka, Ara.”


Gadis itu begitu terkejut ketika Jevan tiba-tiba berucap setelah dia menutup pintu kamar. Ara masih diam di tempatnya, sebelum Jevan membalikkan badan dan berjalan ke arahnya.


“Aku nggak suka kamu dekat dengan lelaki mana pun. Aku nggak suka kamu berbicara dengan mereka. Aku nggak suka berbagi, Ara,” katanya terlihat frustasi.


Ara diam, dia menarik tangan Jevan untuk duduk di ranjang. “Aku juga nggak suka dibagi, Je. Aku milik kamu.” Gadis itu berucap begitu lembut.


Jevan menatap Ara sungguh-sungguh. “Tapi yang dikatakan lelaki sialan tadi benar, Ara. Belum ada ikatan resmi di antara kita.”


“Lalu?” tanya Ara sengaja.


“Menikahlah denganku, Ara.”


Ara diam mendengarnya. Dia memang ingin mendengar ajakan menikah dari Jevan, tapi tidak di saat lelaki itu terlihat begitu emosi karena perkataan Sean tadi. Ara hanya takut, jika Jevan tidak serius dengan perkataannya.


“Je, kamu bilang gitu karena sekarang kamu lagi emosi,” ujar Ara sambil mengulas senyum tipis.


“Kamu nggak mau nikah sama aku?” tanya Jevan sambil memandang Ara tidak suka.


“Bukan gitu. Jujur, ungkapan yang barusan kamu bilang. Aku sangat ingin mendengarnya dari dulu. Tapi, kamu sendiri yang bilang. Kamu belum siap, Je. Kamu masih takut dengan ikatan pernikahan. Aku nggak mau memaksa kamu.”


Jevan meraih kedua tangan Ara, dan menggenggamnya erat. “Ada yang lebih buat aku takut, Ara. Melihat kamu dengan lelaki lain. Melihat kamu yang bisa saja dimiliki oleh lelaki lain. Dua hal itu lebih menakutkan dari pada pernikahan.”


“Tapi, aku nggak mau kamu menikahi aku karena keterpaksaan, atau hanya karena emosi sesaat kamu aja, Je. Aku ingin menikah sekali seumur hidup. Karena bagiku, pernikahan bukan hal main-main.” Ara mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.


Jevan mengangguk. “Aku juga, Ara. Pernikahan bukan hal main-main. Itu alasan kenapa aku begitu takut dengan hal itu sebelumnya. Aku nggak mau memilih pasangan yang salah.”


Ara diam mendengarnya. Dia tidak tahu harus berkata apa.


“Ara,” panggil Jevan lagi sambil mengangkat dagu Ara untuk melihat ke arahnya. “Jadi istriku, ya,” katanya dengan begitu lembut.


“Kamu serius, kan?” tanya Ara kembali, yang dijawab Jevan dengan anggukan kepala.


Ara mengembuskan napasnya pelan, sebelum kemudian mengangguk. “Aku mau.”


Jevan tersenyum lebar. Dia menarik Ara ke dalam pelukannya dan menjatuhkan kecupan-kecupan ringan di kepala gadis itu.


“Ibu pasti bakal senang dengar berita ini,” katanya yang disambut kekehan oleh Ara dan dirinya sendiri.


***


Paginya, Ara berangkat kerja dengan senyum lebar yang terpasang di wajahnya. Kemarin malam, saat kedua orangtua Jevan pulang. Lelaki itu langsung mengatakan niatnya untuk menikah dengan Ara.


Tentu saja renspon yang diberikan oleh orantua Jevan sangatlah baik. Apalagi, Ibu lelaki itu. Dia sangat senang dan antusias. Ibu Jevan bahkan mengatakan, jika dia yang akan mengurus segalanya tentang pernikahan mereka.


Ara turun dari angkot, dan hendak menyebrang jalan. Paginya memang baik-baik saja. Tapi, Ara merasa ada yang mengikutinya sedari tadi. Namun, di saat menoleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa. Jadi, gadis itu memutuskan untuk mengabaikannya.


“Pagi, Mas Nicol,” sapanya ketika memasuki kedai dan melihat Nicol yang berada di meja kasir.


“Pagi. Senang banget yang bentar lagi mau nikah,” ujar Nicol sambil melemparkan tatapan menggoda kepada Ara.


Ara tersipu mendengarnya. “Mas Nicol tahu dari mana?”


“Jevan udah ngomong panjang lebar sama gue semalam.” Lelaki itu berdiri dan menghampiri Ara. “Selamat ya, Ra. Semoga lancar-lancar sampai hari H.”


Walau itu masih terkesan jauh, tapi Ara tetap mengaminkannya di dalam hati. Setelahnya gadis itu bekerja seperti biasa. Saat jam makan siang, Sarah menghubunginya.


“Ada apa, Mbak?”


“Pak Jevan ngajak kita makan siang bareng. Aku, kamu, sama Pak Nicol.”


Ara tersenyum mendengarnya. “Di mana, Mbak?”


“Di restoran sea food didekat kantor, Ra. Yang kalau jalan cuman lima menit.”


“Tapi, jam makan siang gini di sana rame, Mbak. Jevan nggak apa-apa antre?”


Terdengar kekehan dari seberang sana. “Pak Jevan udah telepon sebelum datang, dia udah pesan meja buat kita.”


Ara semakin tersenyum lebar. “Yaudah, Mbak. Aku bilang ke Mas Nicol dulu.”


“Eh, Ra, tunggu.”


“Ada apa?”


“Kata Pak Jevan, kamu berangkatnya sama Pak Nicol aja.”


“Iya.”


“Yaudah, sampai ketemu di sana.”


“Iya, Mbak.”


Ara berjalan menaiki tangga, karena Nicol tidak ada di sini. Gadis itu mengetuk pelan pintu di depannya itu, sebelum kemudian seruan dari dalam terdengar.


Ara membuka pintu, dan masuk ke dalam.


“Ra, ada apa?”


“Sekarang?”


“Iya,” jawab Ara sambil mengangguk.


“Gue masih ada janji sama orang kopi, sih. Katanya bentar lagi datang.”


“Oh, gitu. Yaudah aku duluan, nanti Mas Nicol nyusul, ya.”


“Bentar. Emang tempatnya di mana?”


“Di restoran sea food dekat kantor, Mas. Yang selalu ramai itu.”


Nicol terlihat berpikir. “Lo nggak apa-apa ke sana duluan? Sendirian?”


Ara terkekeh. “Iya, nggak apa-apa, Mas. Aku udah gede, kok.”


“Kalau ada apa-apa telepon gue. Urusan gue beres sama orang itu, gue langsung nyusul.”


“Iya. Aku duluan ya, Mas.”


“Hati-hati, Ra.”


Ara keluar kedai dan menyebrang jalan. Lagi-lagi dia merasa ada yang mengikutinya, tapi gadis itu berusaha mengabaikannya. Mungkin ini efek karena dia sering menonton film luar saat berada di rumah orangtua Jevan.


Ara sampai di restoran yang ramai itu. Dia segera berjalan ke kasir, dan mengatakan apa yang diajarkan oleh Sarah tadi.


“Mbak, meja atas pesanan Bapak Jevan.”


“Mbak silakan naik ke lantai dua. Sudah ada yang datang, Mbak.”


Setelah mengucapkan terima kasih, Ara menaiki tangga menuju lantai dua. Di pojok ruangan, Sarah tengah melambaikan tangan dengan semangat ke arahnya.


“Kamu sendirian?” tanya Jevan saat menyadari tidak ada Nicol di sekeliling gadis itu.


Ara duduk di samping Jevan. “Iya, aku duluan. Mas Nicol masih ada janji, sebentar lagi dia juga ke sini.”


Jevan berdecak kesal. Dia mengamati tubuh Ara dengan seksama. “Kamu nggak apa-apa, kan? Nggak ada yang luka, kan?”


Ara terkekeh pelan, dan melepaskan tangan Jevan di tubuhnya. “Aku nggak apa-apa. Buktinya aku sampai di sini. Kamu berlebihan, Je.”


Jevan mendengus melihat tingkah Ara. Gadis itu tidak tahu saja ada bahaya yang sedang mengintainya.


“Makanannya belum datang?” tanya Ara saat tidak melihat makanan di meja.


“Kamu udah lapar?” tanya Jevan.


Ara hanya menampilkan cengirannya.


Sarah terkekeh mendengarnya. “Sebentar lagi juga datang, Ra. Tahan sebentar.”


Ara hendak bangkit dari duduknya, tapi tertahan oleh Jevan yang memegangi tangannya.


“Mau ke mana?”


“Ke toilet.”


“Toiletnya di bawah, Ra,” kata Sarah.


“Iya, Mbak. Aku tahu.”


“Aku temani.” Jevan hendak beranjak berdiri, tapi Ara menahannya.


“Ngapain? Aku bisa sendiri, Je. Lagi pula aku nggak ke mana-mana. Cuman mau pipis, doang.”


“Sarah kamu yang temani Ara,” suruh Jevan kepada Sarah, tapi lagi-agi Ara menggeleng.


“Nggak usah, Mbak. Jevan berlebihan. Aku bisa sendiri, kok.” Gadis itu menatap Jevan yang tampak hendak protes kepadanya. “Aku serius. Aku cuman mau pipis bentar, abis itu balik lagi.”


Jevan mengembuskan napas pelan, tapi akhirnya membiarkan Ara ke kamar mandi sendirian. Semenjak kedatangan Natasya, pikiran Jevan selalu tidak tenang. Dia takut terjadi sesuatu dengan Aranya.


Ara menuruni tangga, baru saja turun satu tangga, tiba-tiba saja seseorang mendorongnya, dan membuatnya jatuh berguling hingga tangga terakhir. Semuanya terkejut melihat itu. Apalagi, seseorang yang mendorong Ara itu segera berlari keluar resto.


Ara tidak sadarkan diri di tangga paling bawah. Sedangkan Nicol yang baru saja datang, merasa heran melihat kerumunan orang di bawah tangga. Karena penasaran, Nicol ikut melihat apa yang terjadi.


Lelaki itu membulatkan matanya melihat Ara tidak sadarkan diri. Dia segera menepuk-nepuk pelan pipi gadis itu, namun Ara belum juga terbangun. Dia segera meraih ponsel dan menelepon nomor Jevan.


Sementara di lantai atas, semuanya mendengar suara gaduh dari lantai bawah.


“Ada apa?” tanya Jevan kepada Sarah.


“Nggak tahu, Pak. Bentar saya lihat dulu.” Sarah beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah tangga.


Dering ponselnya, membuat Jevan meraihnya dan melihat nama Nicol terpampang di layarnya.


“Lo di ma-”


“ARA PINGSAN DI BAWAH!”


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-