ARINDRA

ARINDRA
Chapter 97



Hans memindahkan barang-barang pribadinya dan para art di rumah Daddynya. Saat ini Hans, Hana dan Syara sedang duduk dk teras belakang dengan Abi dan Umi Hasan yang sudah kosong cukup lama. Mereka sementara tinggal di sana, karena rumah Hans sudah ada garis polisi untuk reka ulang kejadian.


Abi Hasan melihat Hans, Hana dan juga Syara. Hana masih sesekali menangis mengingat Mommy dan Daddynya, tak menyangka keluarga yang dibanggakannya kini hancur, sedangkan Hans menjadi sangat pendiam antara menyesal dan sedih atas meninggalnya Mommynya.


"Abi tau saat ini kalian sedang terpuruk. Maafkan Abi yang tak bisa membantu mencegah perbuatan Daddy kalian. Abi sangat menyesal, telah membiarkan Daddy kalian terus berada dalam kubangan dosa.


Daddy dan Abi dulu adalah sahabat, Abi juga dulu sama dengan Daddy dan juga Adam pemilik perusahaan Adam. Kami bertiga adalah sahabat, yang memiliki cita-cita menjadi orang kaya raya. Kami melakukan banyak hal, halal, haram kami hantam untuk mendapatkan tujuan kami.


Seiring perjalanannya, kami bertiga berhasil mendirikan perusahaan, tapi kemudian Abi mundur setelah Abi bertemu dengan Umi dan memutuskan berhenti dari dunia hitam yang selama ini kami jalani.


Abi dituntun oleh ayahnya Umi mendalami agama, dan kemudian meneruskan pesantren milik Ayahnya Umi. Abi berusaha menasehati Adam dan Wijaya, tapi keduanya keras kepala.


Perusahaan yang didirikan kami berkembang pesat, Adam dan Wijaya berebut posisi untuk menjadi orang yang paling tinggi kedudukannya. Akhirnya Adam kalah dalam perebutan itu, dan memilih mendirikan perusahaan.


Merasa tersaingi oleh perusahaan Adam, Wijaya melakukan upaya untuk menghancurkan Adam. Upayanya berhasil dan membuat Adam marah. Keduanya pun bermusuhan untuk saling menjatuhkan. Terakhir yang Abi dengar, Adam meninggal dunia bersama istrinya dan perusahaannya bangkrut.


Maafkan Abi, yang meninggalkan mereka untuk ketenangan Abi sendiri. Kini Abi malah kehilangan ke duanya"


Ucap Abi Hasan berkaca-kaca. Umi Hasan mengelus pundak suaminya itu.


"Maafkan Abi yang menjadi pengecut, dengan mengorbankan kalian. Malam itu, Wijaya menelpon Abi tepat saat malam di mana keesokan harinya Syara akan di khitbah.


Daddy kalian menelpon mengancam Abi jika Abi menolak menikahkan Syara dan Hans, maka dia akan menghancurkan pesantren, dan membongkar keburukan Abi di masa lalu.


Abi yang sangat mengenal Wijaya takkan pernah mundur untuk mendapatkan yang dia mau. Merasa takut, bukan ketakutan akan kehilangan nyawa Abi sendiri, tapi takut melihat anak-anak pesantren yang tak berdosa, melihat Umi.


Dan mengingat pesan Ayahnya Umi untuk menjaga, melindungi pesantren. Akhirnya bersedia meski mengorbankan kebahagiaan kalian. Maafkan Abi, maafkan Abi yang tak mampu berbuat banyak"


Ucapan Abi Hasan, membuat Hans, Hana, dan Syara menatap dengan pandangan tak percaya. Terutama Syara, yang ia tahu Abinya sangat baik dalam menjalankan agamanya, mendidiknya tapi tak pernah tau jika memiliki masa lalu yang tak kalah kelam dari Wijaya.


Syara memeluk Abinya dan menangis. "Maafkan Abi sayang, pada akhirnya kamu terluka oleh keputusan Abi"


Abi dan Umi Hasan tahu, jika semenjak Arindra muncul. Hans meski bersikap baik pada Syara, tapi hatinya telah terbagi dengan Arindra. Syara putrinya sering menangis, jika Hans pergi meninggalkannya untuk menemui Arindra.


Sikap Hans juga tak sehangat dulu, Syara cenderung merasa sikap Hans hanya menjalankan kewajiban saja sebagai seorang suami pada Syara. Syara tak lagi merasakan gemerlap cinta di mata suaminya itu, berbeda saat dulu ketika saat ia masih mengejar cinta Syara.


"Abi tahu saat ini adalah saat terberat yang harus kalian jalani. Tapi ingatlah nak, tiada sesuatu yang berat jika semua dikembalikan pada Allah. Abi hanya mampu memberi nasehat dan mendoakan kalian, Abi yakin kalian mampu melewati ini semua.


Ingatlah nak, apa yang Abi sampaikan,


jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (Al-Baqarah: 45-46)


“Sesungguhnya Rasulullah saw apabila menghadapi suatu persoalan, beliau segera mengerjakan shalat“ (Hadist riwayat Imam Ahmad)


Bahkan disaat sulit ataupun perang sekalipun, Rosulullah sawmencontohkan kita untuk sholat.


Tak hanya itu, Ali bin Abi Thalib menuturkan keadaan Rasulullah saw pada perang Badar, “Pada malam berlangsungnya perang Badar, semua kami tertidur kecuali Rasulullah, beliau shalat dan berdo’a sampai pagi“.


Dalam riwayat Ibnu Jarir dijelaskan bagaimana pemahaman sekaligus pengamalan sahabat Rasulullah saw terhadap ayat ini. Diriwayatkan bahwa ketika Ibnu Abbas melakukan perjalanan, kemudian sampailah berita tentang kematian saudaranya Qatsum, ia langsung menghentikan kendaraanya dan segera mengerjakan shalat dua raka’at dengan melamakan duduk.


Kemudian ia bangkit dan menuju kendaraannya sambil membaca, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’“.


Perintah menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong ditempatkan dalam rangkaian perintah dzikir dan syukur.


“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah swt senantiasa bersama dengan orang-orang yang sabar“. (Al-Baqarah: 152-153).


Dalam kaitan dengan dzikir, menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong adalah dzikir. Siapa yang berdzikir atau mengingat Allah dengan sabar, maka Allah akan mengingatnya dengan rahmat.


Abi tahu ini tak mudah, tapi inilah jalan yang ditempuh Rosul kita jika menghadapi berbagai masalah yang dihadapi. Ia mengadukan segala resah dalam hatinya pada Sang Penguasa.


Abi harap, kita semua bisa meneladani kisah ini dan menjadikan sabar dan sholat menjadi kegiatan kita sehari-hari"


"Makasih Abi" Lirih Hans.


"Kemarilah nak"


Ucap Abi Hasan meminta Hans mendekatinya. Hans menurutinya, Abi Hasan memeluk Syara dan Hans. Umi Hasan kemudian memeluk Hana. Mereka kembali menumpahkan tangis untuk melegakan sesak yang ada di dada masing-masing.


"Syara putri Abi yang sholehah, Abi mohon maaf sekali lagi padamu nak. Jika Abi bisa mengulang waktu, maka sangat ingin Abi kembali ke masa lalu dan memperbaiki semuanya.


Namun sayangnya, sang waktu selalu meninggalkan kita meski penyesalan selalu datang pada akhirnya"


Abi mengelus kepala Hans dan Syara yang berada dalam pelukannya.


"Abi sangat menyayangi kalian, begitu juga dengan Fattah yang sudah Abi anggap cucu kandung Abi sendiri. Maka mulai hari ini, mari kita petunjuk pada Allah dengan sholat, agar kita dapat menentukan pilihan terbaik untuk ke depannya"


"Makasih Abi"


Lirih Hans yang mengeratkan pelukannya pada ayah mertuanya itu.


##############


Alhamdulillah chapter 97 done


love buat readers setia, tanpa semangat dari kalian author tak bisa sampai sejauh ini.


❤❤❤❤😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍