
Melihat Alex yang terdiam, membuat Arindra kemudian berkata lagi.
"Aku janji takkan merusak rencanamu, dan akan membantumu. Tapi jika kau menolak menceritakan yang sebenarnya tentangku. Maka akupun tak segan segan melakukan rencanaku. Kau tau, aku saat ini tak punya siapa-siapa. Jadi aku tak pernah takut, meski kemudian aku harus menjemput maut untuk kedua kalinya"
Alex menganga mendengar ucapan Arindra, Alex sadar wanita dihadapannya ini dari awal bangun seolah tak memiliki rasa takut. Ia mampu menaklukan dirinya bahkan Jenny, akhirnya mengasingkan diri darinya karena bingung menghadapi sikap kritis Arindra.
"Kakak mau membantuku?"
"Lebih tepatnya saling membantu"
"Deal"
Alex mengulurkan tangan tanda setuju. Arindra hanya melihat tangan itu, dan melirik Alex.
"Kau lupa aku tak mau menyentuh tangan itu"
Alex sadar atas apa yang dilakukannya.
"Yaa...ya.., kau menang. Kau memang bukan kakak angkatku"
Arindra tersenyum senang,
"Baiklah, akhirnya kau mengakuinya setelah banyak sandiwara yang kau katakan padaku. Sekarang ceritakan semuanya yang kau tahu tentangku, aku akan tahu jika kau berbohong"
"Hei kakak lupa, aku sudah telat untuk menemui paman"
"Temui pamanmu, atau aku telpon perusahaan Wijaya mengatakan jika aku masih hidup"
"Oke-oke, entah mengapa kau bisa selalu menang denganku"
"Hahaaa itulah hebatnya seorang Arindra, ayo cepat ceritakan. Semakin lama kau menyembunyikannya semakin lama jua kau tunda rencanamu itu"
"Baiklah, tapi lebih baik kita bicara di taman belakang. Agar lebih santai, bagaimana?"
"Oke, aku akan menyiapkan minum dan makanan tentunya"
"Good"
Alex menghubungi pamannya tidak jadi datang, setelah itu ia taman belakang di susul oleh Arindra. Mereka duduk berdua dan Alex mulai menceritakan awal masuk ke rumah sakit karena gosip Hansel yang menambrak seorang wanita, lalu ia mendekati dr. Dea dan menjadi dekat dengannya. Bagaimana ia berusaha mencari identitas Arindra, dan tak lupa peristiwa operasi yang membuat Arindra geram.
"Hanya itu yang kutahu kak, maaf jika aku membohongimu. Aku baru tau wajah kakak, saat aku diminta jadi team dokter untuk operasi kakak hingga saat ini, jadi jika dihirung hitungan bulan, kita baru kenal satu bulan lebih sedikit"
Ujar Alex yang mengakhiri ceritanya, Arindra terdiam. Mencerna cerita dan mengingat kembali rangkaian peristiwa yang dialaminya, meski hanya sedikit yang mampu ia ingat. Ia harus mencari potongan puzzle lainnya untuk menyatukan kisahnya yang sebenarnya.
"Jadi aku memiliki seorang putra"
Gumamanya pada diri sendiri, tak menyangka jika pemerkosaan itu menghasilkan sosok yang tumbuh di rahimnya. Yang tak pernah ia ketahui, bagaimana rasanya.
"Bahkan, bayi itu sangat tampan"
"Di mana dia tinggal sekarang?"
"Aku tidak tahu kak, kakak bisa berhubungan dengan dr Dea. Tapi kakak juga harus hati-hati padanya, bagaimanapun ia orang kepercayaan Tuan Wijaya"
"Sekarang aku tau, apa tujuanku bangun dari maut"
"Kak, kenapa kakak begitu mudah mengetahui jika kisahku dusta, apakah aktingku tidak cukup bagus hingga tak menyakinkanmu?"
Arindra tersenyum, dan meminum air tehnya.
"Kau cukup bagus dalam berkisah"
"Hanya cukup?"
Alex tak percaya jika dirinya hanya dinilai cukup oleh Arindra.
"Kau pandai membuat kisah layaknya penulis novel fiksi roman, tapi tak cukup menyakinkan untuk berakting. Wajah polosmu, tak cukup menutupi keraguan yang terpancar di matamu"
"Kau, tak bisakah sedikit saja berbohong untuk menyenangkanku. Setidaknya aku telah banyak membantuku"
Ucap Alex yang pura-pura kesal.
"Hahaa, lihatlah tampang bodohmu itu. Membuatku tertawa saja jika kau selesai berkisah tentangku"
"Hah kau ini, aku penasaran bagian mana yang membuatmu tak yakin padaku"
"Kau ingin tahu?"
"Kau bercita-cita menjadi aktor begitu, jika gagal balas dendam pada musuhmu"
"Rekomendasi yang bagus, aku rasa itu bisa dipertimbangkan"
"Baiklah, dengarkan baik-baik. Kau masih ingat saat pertama kali aku terbangun dari sadar atau terbangun dari tidur setelah koma"
"Iya aku ingat"
"Apa yang kau ceritakan padaku?"
"Tentang ambisimu pada Tuan Wijaya"
"Bukan tentang Wijaya, kau menceritakan seuatu yang mengerikan, tentang kebakaran rumah, tentang kematian orang tuamu yang sadis, dan mengingatkan ku kembali tentang peristiwa yang kualami"
"Lalu..."
Alex tak mengerti letak kesalahannya.
"Kau seorang dokter, tentunya kau belajar tentang psikologi. Apakah dibenarkan seseorang yang koma setelah berbulan-bulan lamanya, baru sadar kemudian langsung kau menceritakan kejadian-kejadian mengerikan seperti itu, ditambah kejadian tentangku yang harusnya kau membantuku melupakan itu"
Deg...
Alex sadar kini apa kesalahannya, dulu ia begitu berambisi untuk membuat Arindra cepat membenci keluarga Wijaya, namun ternyata ia salah.
"Kau selalu bilang, begitu dekat denganku, kau bahkan mengatakan tahu benar semua seleraku. Tapi apa yang kau tunjukkan padaku, kau bersikap kita benar-benar dekat. Tapi fakta mengatakan sebaliknya, seseorang yang koma dan amnesia sepertiku takkan menghilangkan selera bahkan kebiasaan yang selama ini dilakukannya.
Pada dasarnya hati yang akan menuntunnya, mendekatkan dia pada orang-orang yang memang pernah dekat dengannya. Asal kau tau, bahkan nama Arindra sangat asing bagiku"
Alex baru tersadar atas apa yang dikatakan Arindra. Arindra benar, sifat alamiah seseorang akan terbawa meski ia lupa ingatan sekalipun. Tetap ia akan sulit mengubah seseorang jika orang itu tak mau mengubah dirinya sendiri.
"Ya, seperti yang kau bilang. Wajahku polos, bahkan aku masih polos tentang kehidupan"
"Haha aku tak mengatakan kau sepolos itu Lex, kau masih sangat muda. Perjalananmu panjang, jika kau belajar dengan tekun kau bisa lebih sukses dari sekarang"
"Apa artinya aku sudah sukses menurutmu saat ini?"
"Kau seorang dokter, pemilik sebuah perusahaan, wajahmu juga tampan, lalu apa lagi yang membuatmu tak percaya diri hemm"
"Entahlah, aku saat ini hanya ingin fokus pada tujuan awalku hingga mempertemukanmu. Aku ingin kematian orang tuaku tisak sia-sia jika sudah melihat Wijaya hancur"
"Kau benar, rasa kehilangan itu memang menyakitkan. Entah mengapa aku merasa hatiku sangat sakit semalam, aku merasa kehilangan sosok yang berarti dalam hidupku. Tapi aku tidak tahu, apakah sosok anakku ataukah sosok yang lain"
"Aku kagum padamu kak, meski baru sebentar kita bersama. Tapi kau begitu tenang, dan cenderung percaya diri dalam menghadapi segala sesuatunya"
"Mungkin, karena aku sudah berurusan dengan maut. Membuat rasa takutku hilang, kepanikanku berkurang"
Alex dan Arindra tertawa bersama, menikmati waktu santai mereka sebelum perjuangan masing-masing dimulai.
"Lalu apa rencana kakak selanjutnya?"
Arindra terlihat berfikir sejenak, dan meletakkan tehnya.
"Aku ingin tahu keberadaan anakku, seperti apa wajahnya. Apakah masih hidup atau tidak, setelah itu baru aku akan menentukan langkah apa yang harus kuambil"
"Jika anak itu tiada?"
"Aku tidak ingin berandai-andai, aku seorang ibu saat ini. Tentunya sangat berharap bisa hidup bersama anakku"
"Baiklah, temui dokter Dea. Aku tau kebiasaan-kebiasaannya. Bisa jadi dokter Dea adalah kunci dari segala rahasia kehidupan kakak. Ingat dia berjanji akan membantumu, tagih saja janjinya. Aku rasa dia sangat mengenali wajahmu, meskipun kau tak pernah melihatnya"
"Baiklah, terima kasih karena kau sangat membantuku?"
"Kapan kakak berencana menemuinya?"
"Besok, lebih cepat lebih baik, tolong bantu aku untuk mendapatkan identitasku"
"Apakah kakak tidak keberatan dengan identitas baru yang kuberikan?"
"Arindra Adam Smith?"
Alex mengangguk, dijawab anggukan yang sama oleh Arindra. Arindra tak peduli dengan identitas barunya, yang pasti saat ini ia hanya ingin segera tahu keberadaan putra yang tak diketahuinya itu.
##########
Alhamdulillah chapter 54 donee